Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 57. Kabar Bahagia


__ADS_3

Zahra menggeleng pelan. "Sudah tidak apa-apa yah." jawab Zahra. Mendengar itu, Leon pun kembali menggendong sang istri ke meja makan.


"Mau ke meja makan lagi? Apa ke kamar istirahat?" tanya Leon lembut.


"Ke kamar aja Yah..." sahut Zahra.


Mbok Imah yang melihat Zahra muntah-muntah, dia malah terlihat bahagia. Karena itu, mengingatkan pada dirinya saat hamil. Muncullah Leon dari balik pintu kamar mandi, dia membawa Zahra ke dalam kamar mereka. Zalfa yang juga khawatir dengan keadaan Bunda nya, langsung mengakhiri makanannya yang belum habis. Dia jadi lupa petuah dari Zahra, bahwa makanan harus di habiskan. Di luaran sana, banyak yang membutuhkan makan dan kita malah membuang-buang nya tidak menghargai sama sekali.


Mbok Imah pun turut serta pergi ke kamar Tuannya, menemani nona kecil Zalfa. "Mbok Unya kenapa?" tanya Zalfa polos kepada mbok Imah.


"Sayang! Unya Afa baik-baik saja. Biasanya kalau wanita seperti itu lagi hamil, dan sebentar lagi Zalfa akan punya dede bayi." tutur Mbok Imah, mbok sangat yakin kalau nyonya muda Zahra hamil. Walaupun Zalfa kurang paham dengan pembicaraan pelayan. Tapi dia ngerti kalau dede bayi, karena dia pun sering bermain itu.


Mendengar dede Bayi, sontak membuat Zalfa kegirangan. "Hore...Afa punya dede bayi!" ucap nya gembira.


"Nona,,,hati-hati!" peringat mbok Imah yang melihat Zalfa loncat-loncat tiada henti.


Karena mbok mengingatkan Zalfa, dia pun berhenti melompat-lompat kayak katak. "Hehehe....Afa bahagia Mbok." ujar si kecil.


Leon pun sampai di kamarnya, ia segera membaringakan tubuh kecil istrinya di kasur dengan pelan-pelan. Lalu dia mengambil handphone miliknya. Menghubungi dokter pribadinya untuk memeriksa keadaan Zahra.


Drt...Drt...Drt....


Panggilan tersambung, Setelah lawan panggilan nya terjawab.


[Hallo,,,ada yang hisa saya bantu Tuan?] jawab di seberang sana.


[Hmm,,,cepat datang ke rumah ku dalam waktu 10 menit.] perintah Leon tegas.


[What! Saya masih di rumah sakit, lagi banyak pasien yang harus saya tangani. Siaap yang sakit? Terdengar dari suara kamu baik-baik saja.] kata dokter itu berani.


[Datang atau kamu kehilangan pekerjaan mu.] ujar Leon datar.


[Baik-baik! Aku akan datang dalam waktu sepuluh menit.] ucap nya menggerutu kesal.

__ADS_1


[Bagus! Pilihan yang sangat tepat.] Leon pun langsung mengakhiri panggilan itu. Dia tidak tahu saja, lawannya di sana pusing tujuh keliling gara-gara perintahnya.


Dia langsung menghampiri Zahra yang terbaring lemah di atas ranjang. Sementara mbok dan juga Afa baru masuk ke dalam kamar Leon dan Zahra.


"Unya...." teriak Zalfa melihat sang ibu terbaring tak berdaya. Afa lantas berlari ke arah kasur. "Afa hati-hati sayang!" peringat Leon, ia langsung menangkap tubuh si kecil.


"Kok putri Deddy kelihatan nya bahagia? Ada apa hemm?" tanya Leon lembut selvari mencubit gemas pipi gembul Zalfa.


"Kata Mbok Imah, Afa akan punya dede bayi. Karena Unya hamil." jawab Zalfa polos. Sementara Leon dan Zahra saling bertatap muka yakin tak yakin dengan penuturan sang putri.


Zahra pun menerawang ke beberapa hari sebelumnya, dan sampai saat ini dia belum datang bulan. 'Apa yang di katakan Zalfa benar ya?' batin Zahra.


Sedangkan Leon yang juga baru sadar langsung tersenyum dan mencium kening sang istri bertubi-tubi. Melihat semua orang bahagia, ia pun tersenyum. 'Tapi bagaimana kalau hanya masuk angin biasa? Aku tidak mau mengecewakan harapan mereka.' batinnya. Ia pun langsung murung.


Leon yang melihat itu, jadi penasaran. "Sayang kenapa hem? Kelihatannya kamu tidak bahagia ya? Apa jangan-jangan kamu tidak mau mengandung anak ku?" tanya Leon.


Zahra yang mendengar kalimat itu, gegas menggeleng kan kepala. "A-aku takut mengecewakan harapan kalian? Kalau nanti di test tapi hasilnya tidak sesuai bagaimana?" cicit Zahra sendu.


"Kok bicaranya tidak di saring sih, kan ada Zalfa." ucap Zahra sambil mencubit lengan Leon kesal.


"Hehehe...lupa Yank!" ujar Leon tidak merasa bersalah.


"Emang kamunya aja tidak tahu tempat Yah." kata Zahra. Sementara si kecil tertawa bahagia melihat orang tuanya seperti itu. Sangat lucu, mereka yangbtidak terima di ketawain Zalfa. Serempak saja mereka menggelitik perut si kecil. Zalfa pun tertawa terbahak-bahak karena ulah kedua orang tuanya.


Tok...Tok...Tok...


Mbok Imah mengetuk pintu kamar majikannya. Sontak mereka semua berhenti menggelitik dan tertawa.


Leon paham siapa yang datang, maka dari itu dia langsung menyuruh masuk saja ke dalam kamar nya.


"Masuk!" suruh Leon.


Cklek...

__ADS_1


Pintu kamar terbuka, nampak lah mbok Imah dan dokter Rina. Mereka langsung masuk ke dalam. Setelah mengantar dokter Rina, mbok Imah langsung undur diri.


"Tuan siapa yang sakit?" tanya dokter Rina.


"Menurut mu siapa?" tanya balik Leon tajam. Nyali dokter langsung ciut, takut dengan Tuannya. Zahra yang kasihan dengan dokter itu langsung menegur sang suami.


"Ayah...!" peringat Zahra. Leon langsung diam, dia sangat penurut kepada Zahra. Apapun kata sang istri pasti ia lakukan, meskipun itu bertentangan dengan sekalipun dengannya.


"Iya bund...enggak lagi deh!" ucap Leon tersenyum hangat. Leon kembali ke samping sang istri, yang sudah duduk bersandar di kepala ranjang.


"Kenapa masih berdiri, cepat periksa istri ku." ujar Leon dingin. Sementara dokter Rina terlihat shock, pupus sudah harapannya menjadi pendamping Leon. Ternyata dia sudah memiliki istri.


"I-is-tri..." katanya tergagap. Melihat reaksi dokter itu, Zahra jadi memicingkan mata. Dia tahu betul dengan mimik kecewa dari wanita ber jas dokter itu.


Rina pun berusaha terlihat baik-baik saja, meskipun dalam hati mengumpat tidak berhenti. Rina mulai mengecek kondisi istri dari Tuannya.


"Nyonya, kapan terakhir kali ada mendapatkan menstruasi? Seperti nya anda hamil. Untuk lebih jelas anda periksa aja dengan alat ini. Dan saya akan merekomendasikan dokter obgyn terbaik." tutur dokter Rina. Lalu dia memberikan alat test pack. dan memberikan kartu nama dokter itu.


"Iya,,,sebenarnya terakhir saya datang bulan sebelum menikah dengan Mas Leon. Jadi, saya fikir begitu juga. Karena akhir-akhir ini juga mood saya tidak menentu dan sering pusing." kata Zahra mencoba menjelaskan sesuatu yang dia rasakan.


"Ooh...kalau begitu saya pamit dulu! permisi Tuan dan Nyonya." dokter Rina pun langsung keluar dari kamar itu. Dia tak mampu saat melihat tatapan Leon yang penuh cinta kepada istrinya. Sementara Leon acuh tak acuh, dia langsung membawa Zahra ke kamar mandi.


"Sayang! Mau aku bantu?" tanya Leon.


"Tidak Ayah, Bunda bisa sendiri." ia pun langsung mengecek sesuai petunjuk. Setelah itu ia mneunggu hasil dari test pack yang di gunakan.


Zahra pun terharu melihat dua garis biru di alat itu, dia menangis bahagia. Dia pun keluar dari kamar mandi menghampiri Leon.


"Sayang bagaimana?" Zahra pun memperlihat kan test pack itu.


"Alhamdulillah..." ucap Leon meneteskan air mata. Ia memeluk erat tubuh istrinya.


*****.....*****

__ADS_1


__ADS_2