
"Baiklah,,,saya akan menjaganya dengan baik!" sahut Leinard kepada Kanaya.
"Yaudah kalau begitu! Kami keluar dulu ya. Istirahat yang cukup bestie, jaga calon ponaan kami dengan baik." ujar Raina.
Para sahabat Kaira pun keluar, meninggalkan mereka berdua di dalam kamar Kanaya.
"Sayang...aku bahagia banget! Ini kado terindah dari Allah swt buat kita." ucap Leinard penuh haru. Kaira sangat bahagia, melihat suaminya yang begitu antusias.
"Iya Mas! Alhamdulillah,,,Allah swt ngasi kita kepercayaan menjadi orang tua!" timpal Kaira.
"Mas gimana ya reaksinya Uma dan Mommy! Kalau tahu di perut aku ada kehidupan cucu mereka." tanya Kaira mengingat mama mertua dan ibu kandungnya yang begitu menanti kehadiran cucu mereka. Meskipun pernikahan mereka belum genap tiga bulan.
Kaira duduk bersender di headboard, ia tampak lemas. Karena tenaga yang ia miliki terkuras tadi saat muntah. "Mas Leinard...!" panggil Kaira kepada sang suami.
"Apa Yang? Kalau kamu butuh sesuatu katakan saja. Jangan sungkan-sungkan Hmm..!" ucap Leinard sembari mencium punggung tangan sang istri tiada henti.
"Aku...pengen es dawet!" ucap Kaira tersenyum merekah sampai barisan gigi yang tersusun rapi terlihat.
"Baiklah! Apapun untukmu Baby." ujar Leinard.
"Mas Lei, kita beli sambil pulang aja. Biar enggak bolak-balik, aku juga pengen istirahat." ucap Kaira. Leinard mengangguk setuju.
Leinard berdiri dari tepi kasur, lalu ia membantu sang istri turun dari kasur dengan hati-hati. "Mau aku gendong tidak?" tanya Leinard.
"Iya enggak mau lah Mas! Nanti apa kata orang. Aku tidak mau, maluu tahu!" tutur Kaira. Karena Kaira bersi keras tidak mau, Leinard pun menyetujuinya. Lalu ia memapah sang istri hati-hati ke mobil yang sudah siap di depan rumah sakit. Menanti kehadiran sang majikan.
Pak Lukman membuka pintu mobil, lalu setelah itu Kaira masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.
"Yang awas kepalanya terbentur!" peringat Leinard. Ia dengan sigap menaruh tangan di pinggiran pintu mobil bagian atas, agar kepala sang istri tidak terbentur.
__ADS_1
"Maaf Mas Lei!" ucap Kaira, ia sadar tadi kurang fokus karena sedikit pusing. Untung saja ada suami yang sigap seperti Leinard. Leinard tersenyum melihat ke arah sang istri.
"Enggak apa-apa Sayang! Kalau masih pusing bilang, jangan di tahan-tahan seperti itu. Hmm...!" ujar Leinard kepada sang istri. Setelah ia turut serta duduk di samping Kaira. Lalu ia mendekap Kaira dengan erat, membawa ke dalam pelukannya yang hangat. Leinard mengelus kepala Kaira yang tertutup hijab dengan penuh kasih sayang.
Pak Lukman yang melihat itu, ikut tersenyum bahagia. Ternyata di balik wajah dingin nan tegas majikannya, terdapat kehangatan yang hanya ia berikan kepada orang yang sangat dia cintai. 'Anda begitu beruntung Nyonya! Memiliki suami yang perhatian.' batin pak Lukman.
Mata Kaira yang tidak sengaja melihat ke arah pak Lukman dari pantulan cermin, seketika ia sangat malu karena kepergok bermesraan. Sedangkan Pak Lukman langsung mengalihkan pandangannya fokus ke jalan.
"Mas Leinard lepas! Malu ada pak Lukman." tutur Kaira kepada sang suami. Leinard yang hanya fokus kepada Kaira, tiba-tiba mendongakkan kepala melihat ke arah pak Lukman dengan tatapan tajamnya. Sehingga membuat pak Lukman langsung keringat dingin. 'Aduh nyonya...mati aku!' batin Pak Lukman.
"Pak Lukman tidak melihat kan..?" tanya Leinard datar. Seketika rasanya kerongkongan pak Lukman tercekat.
"T-t..tidak Tuan!" ucap Pak Lukman gugup.
"Kamu dengar sendiri kan Baby! Pak Lukman tidak melihat apapun. Dia hanya fokus ke jalan dan mengemudi dengan baik. Hanya itu saja." ucap Leinard sembari mempertahankan Kaira yang sedari tadi pengen lepas dari rengkuhan sang suami. Walaupun sebenarnya Leinard tahu, pak Lukman tadi curi-curi pandang ke arah mereka. Leinard yang tidak ingin di bantah dengan apapun, membuat Kaira hanya bisa menerima dan pasrah saja mendapat perlakuan yang manis dari sang Suami.
"Mas jangan lupa es dawet." peringat Kaira. Lalu Kaira semakin membenamkan wajahnya di dada bidang milik Leinard. Karena bau parfum manly yang di gunakan Leinard mampu meredam rasa mual Kaira.
"Pak Lukman! Jangan sampai kelewatan orang yang jual es dawet." perintah Leinard kepada supir pribadi Kaira.
"Baik Tuan." jawab Pak Lukman patuh.
.
.
.
Sementara itu, Juno mengantar Raina dan Alina kembali ke apartemennya. "Beneran kamu udah mendingan." tanya Juno kembali memastikan keadaan Raina.
__ADS_1
"Iya, Alhamdulillah udah mendingan. Lagian ini cuma pusing doang, enggak terlalu sakit kok." sahut Raina.
Juno mengernyitkan kedua alisnya, ia tak menerima Raina yang rasanya menyepelekan rasa sakit. "Kalau baru parah, terus mau mati! Baru kerumah sakit begitu." ujar Juno datar penuh penekanan.
Mendengar perkataan Juno, Membuat Raina merinding. Seketika ia merasa atmosfer dalam mobil ini berubah menjadi dingin. Ia memberanikan diri melihat ke arah Juno, lewat cermin depan. "Yaaa,,,enggak gitu juga. Maksudnya itu,,," kata Raina sembari memutar otaknya untuk berfikir, kalimat apa yang cocok agar tidak menimbulkan kesalah pahaman dengan manusia tukang paksa ini.
Juno masih diam dan terus melihat ke Raina, menanti jawaban calon istrinya. Raina semakin gugup, di tatap seperti itu. Tambah membuat otak nya sulit berfikir dan blank.
"Itu apa...?" tanya Juno yang tidak sabar.
"Emm...karena penyakit ku tidak terlalu parah! Jadi jangan terlalu khawatir berlebihan seperti itu." sahut Raina.
"Emang salah kalau saya khawatir sama calon istri?" tanya Juno lagi.
"Iya,,,E-enggak juga sih. Tapi yang berlebihan itu kan tidak baik." kata Raina setengah gugup. Karena Juno yang rasa-rasanya terus menginterogasi dirinya.
Fyuh....!
Juno membuang nafasnya pelan. Ia tak mau lagi mendebat Raina yang keras kepala, walaupun apa yang dia katakan sebenarnya benar adanya. "Ya sudah, semoga kamu cepat sembuh." pasrah Juno.
"Iya...terimakasih." jawab Raina tulus. Sedangkan sedari tadi, Alina menjadi pendengar yang baik untuk mereka. Dia hanya memperhatikan keduanya saja. 'Mereka sungguh sangat lucu, orang yang satunya kekeh tidak mau di bantah! Tapi yang satunya malah sebaliknya, yaitu keras kepala. Semoga kalian benar-benar berjodoh.' harapan Alina di dalam batinnya.
"Ingat ya! Satu minggu lagi acara pernikahan kita. Aku harap kamu cepat sembuh dan beraktifitas seperti sebelumnya." kata Juno lagi.
"Iya...do'ain aja yang terbaik. Eh! Ngomong-ngomong mau kok sekarang banyak bicara ya. Tidak seperti biasanya." ujar Raina yang sudah sadar dengan Juno yang sedikit lebih banyak bicara sekarang.
"Tidak juga, biasa aja!" sahut Juno yang membantah ucapan Raina.
"Terserah kamu..." ucap Raina pasrah. Ia kembali memilih berhenti berbicara, daripada meladeni Juno tang tidak mau ngaku.
__ADS_1
*****.....*****