
Kaira langsung tegang, dengan kedatangan suaminya. Dia sebisa mungkin menepis rasa ingin membalas pelukan hangat yang begitu ia rindukan dalam satu minggu terakhir ini.
Kaira merajuk, dirinya tak mengucapkan sepatah katapun. Dia merasa kesal dengan suaminya yang tidak memberikan kabar barang semenit pun.
"Hai sayang,,,suami pulang loh! Bukannya disalamin atau di cium, tapi di ambekin." kata Leinard.
Lalu Kaira memandang wajah suaminya, ia tersenyum sampai gigi yang tersusun rapi menampakkan deretannya. Kaira mengangguk-angguk kan kepala, menyetujui ucapan Leinard. Tapi tangannya tidak diam, ia turut andil dalam melampiaskan kekesalannya kepada sang Suami.
"Bukannya di cium atau disayang! Malah akunmau melakukan sesua-tu." ujar Kaira sembari mencubit perut sixpack milik Leinard, senyumnya tak hilang dari bibir mungilnya.
"Aww...Aww...Sayang! Tega banget sama Suami sendiri." ucap Leinard meringis sembari mengelus-ngelus bekas cubitan tangan mungil yang putih mulus punya Kaira.
"Biarin...Orang suaminya tidak ingat kalau memiliki istri di rumah! Buktinya tidak ngasi kabar." skak Kaira. Dia mengerucutkan bibirnya karena kesal banget sama kang suami yang tak peka. Leinard yang gemas melihat istrinya seperti itu, membuat dirinya tak tahan ingin segera melahap habis keindahan yang di miliki Kaira.
Dengan cepat ia melahap bibir yang membuat dia tak mampu menjaga iman. Karena sepertinya bibir itu, memberikan isyarat agar cepat di sesap oleh pemiliknya.
Saat dirasa Kaira kehabisan nafas, dia segera melepaskan pangutannya di bibir Kaira. Kaira yang kehabisan oksigen, ia sebanyak mungkin meraup dengan kasar.
"Mas Leinard bukannya minta maaf karena tidak ngasi kabar? Malah mau bunuh istrinya sendiri." canda Kaira sembari memalingkan muka, ia tak mau Leinard melihat gurat merah yang muncul di kedua pipinya.
"Jangan berbicara seperti itu!" ucap Leinard datar, dia tak suka mendengar Kaira berbicara demikian, karena dunianya sudah ia temui. Dua tak tahu lagi jika itu benar-benar terjadi, sanggupkah ia hidup?.
Kaira yang mendengar nada datar dari suaminya langsung menciut, spontan saja dirinya langsung memberi jarak dengan suaminya. Dia tahu kalau salah berbicara.
"Maaf..." cicit Kaira, dengan mata yang sudah menganak sungai. Dia tertunduk, takut untuk melihat wajah tampan suaminya yang akan marah.
Leinard merengkuh tubuh kecil Kaira, ia sadar ucapannya yang keluar tadi dengan nada tinggi. Ia merapatkan tubuh Kaira sampai tak tersisa jarak di antara mereka. Tetesan air mata itu, membasahi kedua pipi Kaira. Dia merasa de javu, mendapat bentakan tak terduga dari si akang suami. Padahal beberapa saat sebelumnya saling berciuman, semenit kemudian pula mendapatkan bentakan.
"Maaf,,,maafkan Mas!" ujar Leinard mengecup hangat kening Kaira. Karena Kaira juga sadar diri, karena memancing emosi suaminya. Dia segera mengangguk setuju, tanda menerima permintaan maaf Leinard. Di seumur hidupnya, hanya di hadapan Kaira dia menyebut kata maaf. Benar-benar perubahan luar biasa bukan? Cinta yang positif.
"Maaf kan Kai juga mas, karena sudah memancing emosi kamu!" ujar Kaira merasa bersalah. Tak seharusnya dia kekanak-kanakan seperti itu.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu minta maaf sayang,"
"Tapi ma-" ucapan Kaira terhenti karena suaminya menggendong tubuh itu, terganti dengan suara lengkingan dari Kaira.
"Aghhhh..." teriak Kaira, dia lekas memegang kedua pundak Leinard kuat. Sementara sang suami hanya mampu menampilkan senyuman manis yang ia miliki.
Dia membaringkan tubuh Kaira di ranjang perlahan-lahan, lalu Leinard kembali menegakkan tubuhnya. Kedua tangannya bersedekap sembari memperhatikan Kaira yang terbaring dengan lekat. Tanpa mengucap sepatah katapun, ia berbalik hendak meninggalkan Kaira.
"Mau kemana?" tanya Kaira polos, karena tak biasanya Leinard anggurin Kaira.
Dia menoleh ke arah Kaira dan tersenyum.
"Kangen yaa! Hayo...ngaku?" goda Leinard.
"Bukannya di jawab!" balas Kaira. Ia menoleh ke arah manapun, asal jangan ke arah Leinard.
"Aku mau mandi dulu sayang."
"Dasar kang suami..." gumam Kaira sembari tertawa renyah.
.
.
.
Sementara di kediaman Leon, Zahra mengintimidasi suaminya yang pulang bau alkohol. Dia tak terlalu bodoh, sampai tak bisa membedakan bau alkohol.
"Mas Leon dari mana? Kok pulangnya telat?" tanya Zahra lembut namun tegas dalam menekan kata-katanya.
Leon jadi gugup, dia harus bisa mencari alasan yang masuk akal. Jangan sampai ia keceplosan dengan kebenarannya.
__ADS_1
"Emm,,,aku ada pertemuan sama client di club sayang! Dia yang meminta tempat seperti itu." ucap Leon beralasan, tapi ia tak mampu berbicara dengan menatap mata indah Zahra. Membuat Zahra yakin ada yang di sembunyiin sama suaminya.
"Oooh,,," kata Zahra mencoba percaya.
"Yaudah mas Leon mandi dulu gih." suruh Zahra sembari membuka jas yang dikenakan suaminya. Tiba-tiba gerakan tangannya terhenti. Leon mengernyitkan dahi heran dengan raut muka istrinya.
"Sa-sayang,,,kamu kenapa?" tanya Leinard yang tak mengerti dengan situasi ini. Membuat jantung nya berdebar-debar. jangan-jangan Zahra tahu bahwa dirinya berbohong. Leon jadi tampak gugup.
Karena melihat suaminya yang tak tahu, dia menarik tangan Leon agar mengikutinya. Dia membawa ke depan cermin yang full body, lalu menunjukkan bekas bibir yang tercetak terang dengan warna merah menyala di kerah bagian kanan Leon.
Deg...!
Leon terkejut dengan tanda itu, fia mencova kembali mengingat yang terjadi di club nya tadi.
"Bicth...!" umpatnya saat mengingat sesuatu.
"Ma-mas..." kata Zahra tergagap, seketika air matanya menganak sungai. Mendengar makian yang Leon ucap kan, padahal jelas-jelas itu bukan ditujukan pada Zahra. Melainkan pada ****** yang tadi menabrak dirinya. Tapi Zahra menganggap makian itu ditujukan kepadanya.
Sesaat tubuh Zahra rasanya tak bertenaga, ia berpegangan ke ujung nakas untuk menahan tubuh nya yang akan luruh. Air mata mengalir di pipi mulus Zahra. Dia duduk di tepian kasur. Leon sadar dengan ucapannya, ia segera duduk di samping Zahra dan merengkuh dirinya. Zahra tak memberontak, dirinya hanya menangis dalam pelukan Leon.
"Hai,,,hai sayang! Kata itu bukan untuk kamu! Tapi, untuk orang yang menabrak aku tadi di club." ucap Leon jujur. Zahra tak merespon, dia semakin menenggelamkan kepalanya di dada bidang milik Suaminya.
"Udah ya, jangan nangis lagi. Sumpah! Perkataan tadi bukan untuk kamu." ujar Leon lagi meyakinkan Zahra. Kemudian ia menangkup wajah Zahra, dan memberikan Ciuman penuh kasih sayang bertubi-tubi.
"Beneran...Tidak ada yang lain kan?" tanya Zahra mendongak kan kepala, Melihat ke arah Leinard. Menatap kedua bola mata yang hitam legam seperti kegelapan malam.
"iya sayang! Tidak ada yang lain. Hanya dirimu seorang dan satu-satunya istriku." kata Leon, kemudian menempelkan bibirnya di bibir milik Zahra. Sebelum berlangsung lebih lama, Zahra mengakhiri kegiatan itu.
"Sana mandi! Dan,,,kalau bisa bajunya mas Leon di buang saja. aku tidak mau ada bekas bibir orang lain di bajunya mas." ucap Zahra.
"Baiklah sayang!" dia pun berlalu ke kamar mandi, dan melemparkan semua yang melekat di tubuhnya ke dalam tempat sampah.
__ADS_1
*****.....*****