Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 97. THSM


__ADS_3

Ceklek...


Leinard membuka pintu kamar tamu yang di tempati sang istri. Ketika pintu terbuka, tampak lah siluet Kaira yang terbaring meringkuk di atas kasur, kedua bahu kecilnya pun bergetar menandakan dia sedang menangis.


Hati Leinard di buat sakit, melihat sang istri menangis karenanya. Jika saja waktu bisa di ulang kembali, dia tidak akan memilih jalan ini. Walaupun kebesaran nya sangat takut saat mengatakan siapa dirinya sebenarnya, dia akan tetap memilih untuk jujur.


Leinard pun duduk di tepi ranjang menatap punggung istrinya, dengan sedih. "Sayang..." panggil Leinard begitu lembut. Jika saja dia tidak malu, ia akan membiarkan air matanya luruh.


Namun sang istri tak bergeming, tetapi saat suara bariton suaminya menginterupsi kembali barulah dia berbalik. "Sayang, Putra kita haus, dia pengen *****. A-aku mohon jangan marah lagi. Kasian Baby, dia sangat sedih melihat kedua orang tuanya seperti ini. Aku janji, akan menjelaskan semuanya." Tukas Leinard, dia tidak tahan melihat Kaira mendiamkan nya seperti ini.


Kaira berbalik, kearah sang suami. Mata indahnya tampak sembab, karena menangis terlalu lama. Kaira menyungging kan senyuman tipis kearah Leinard, lalu dia duduk bersandar di kepala ranjang. Meskipun Kaira begitu kecewa dengan Leinard, dia tak mau egois dan melihat anaknya kelaparan. Dia juga ingin mendengar suami nya mengatakan hal yang sebenar nya.


"Kemarikan Baby Athaf," pinta Kaira. Setelah dirinya menghapus sisa air matanya.


Leinard pun memberikan Putranya, ke dalam gendongan istrinya.


Cup!


Cup!


Dia memberikan dua kecupan manis, di kedua mata sembab Kaira. "Sorry, jangan menangis lagi sayang! Hati aku sangat sakit melihat nya." Leinard berkata dengan jujur. Kedepan nya, ia tak mau melihat sang istri menangis lagi, kecuali itu tangisan bahagia.


"Aku juga minta maaf, sudah meninggikan suara di depan Mas Leinard tadi. J-juga mengabaikan, Mas." Cicit Kaira dengan suara parau nya.

__ADS_1


"Nggak kok, kamu tidak salah sama sekali. Kamu tidak perlu minta maaf," sanggah Leinard. Dia semakin merasa bersalah kepada sang Istri, karena tidak jujur dari awal.


Baby Athaf tersenyum manis, sembari menduselkan kepalanya di dada sang Mommy, dia ikut merasakan kebahagian di antara kedua orang tuanya yang sudah berbaikan.


"Makasih banyak, Son. kamu memang yang terbaik." Bisik Leinard di telinga sang putra, dia tersenyum begitu lebar.


"Berbicara apa sama, Baby Athaf?" Kaira penasaran dengan apa yang di katakan suaminya kepada sang putra, yang tampak bahagia.


"Rahasia laki-laki dong, Sayang." Jawab Leinard sekena nya. Lalu ikut merebahkan diri di samping Kaira. Memeluk pinggang ramping Kaira begitu posesif. Meski Kaira telah melahirkan buah hatinya, tubuh wanitanya ini tak berubah banyak. Hanya seksi dan menggoda baginya.


"Mas, kok tidak kembali ke kantor? Padahal tadi katanya ada meeting? Tapi kok malah nggak pergi?" Kaira melemparkan berbagai pertanyaan saat melihat Leinard memilih ikut berbaring di samping nya.


"Ya Allah... satu-satu dong Sayang! Kau bingung harus menjawab yang mana duluan." Protes Leinard kepada sang istri. Tetapi, Dia begitu senang karena Kaira-nya sudah kembali. Kaira yang ceria dan mudah tersenyum.


"Tidak, tidak sama sekali, Sayang. Sudah ada Juno kok yang menghandle rapatnya. Jadi, aku disini saja. Aku malas kembali ke kantor dan berkutat dengan tumpukan laporan." Di akhir kalimat nya, membuat kedua alis Kaira bertaut. Leinard yang tahu dirinya salah berkata, segera meralat ucapan nya.


"B-bukan begitu maksudnya, Aku bersyukur dengan segala nya. Tapi, izinkan aku istirahat sebentar saja, Aku sungguh lelah. Apalagi akhir-akhir ini kita sering begadang, iya kan?" Kedua pasang mata indah itu bertemu di udara, dengan Leinard yang menggoda sang istri. Kaira yang malu, segera mengalihkan pandangan nya. Namun, tidak dengan jemari lentik nya, dia mencubit dada bidang suaminya.


"Aww... Sayang sakit sekali. kok suka banget sih menindas Suaminya sendiri!" gerutu Leinard cemberut, sampai-sampai bibir seksinya bisa di kuncir kuda.


Melihat sang Suami yang sedang merajuk, membuat Kaira tersenyum lebar, emang ya! kelakuan suaminya ini nggak ada duanya. "Yaudah gih, tidur istirahat," ucap Kaira sembari mengelus rambut hitam pekat Leinard, yang menguarkan bau harum yang menenangkan baginya. Tanpa menjawab ucapan Kaira, Leinard semakin membenam kan wajah nya di samping Kaira.


*****

__ADS_1


"Mas, Zeo! Kok dari tadi nempelin Alina mulu sih!" protes Alina. Karena ruang gerak nya yang terbatas. Di karenakan sang suami memeluk dirinya begitu erat dari belakang. Saat ini dirinya berada di dapur, membuat makan siang untuk mereka.


"Ya, nggak apa-apa lah Sayang. Aku kan nempelin Istri sendiri." Jawab Zeo yang tak mau di salahkan.


"Cih, awas saja kalau berani. Baru tadi malam pecah telor, sekarang sudah ngomongin istrinya orang. Emang ya, laki-laki buaya" Ujar Alina kesal.


"Apa sayang?" goda Zeo pura-pura tidak mendengar.


"Ups..." Alina menutup mulutnya rapat-rapat, saat menyadari ucapan apa yang telah keluar dari bibir indahnya. Seketika wajahnya sangat merah, karen malu. Bisa-bisanya dia keceplosan seperti ini, kan jadi malu-maluin.


"Apa, hmm? Aku tidak mendengar loh Sayang?" goda Zeo. Ia begitu suka melihat perubahan wajah istrinya, yang seperti ini. Tampak sangat cantik dan menggemaskan. Sedangkan Alina hanya diam saja, dia berusaha fokus dengan pekerjaan nya. Yang sebentar lagi akan masak, tinggal menunggu ayam goreng nya matang.


"Sayang, kalau kamu se menggemaskan ini, jangan salahkan aku. Jika menu makan siang kita akan berubah!" tekan Zeo karena dirinya pun sebenarnya sudah tak tahan. Tapi dia mengerti, perut kelaparan istrinya.


Mendengar ucapan Zeo barusan, membuat tanda peringatan di otak cantik nya, agar berhenti. Jika tak mau, membuat apa yang dikatakan Suaminya terealisasikan. Bukan nya menolak ajakan suami, tetapi dia perlu mengisi tenaga nya terlebih dahulu sebelum di garap Zeo. Apalagi mengingat hal semalam, sungguh Alina di buat tak berdaya oleh suaminya sendiri.


"Mas Zeo, isi tenaga dulu ya!" pinta Alina memohon. Zeo yang melihat itu, tidak bisa menyembunyi kan senyuman menawanya. Yang hanya dia perlihatkan untuk Alina seorang.


"Tentu, Sayang. Aku kan suami pengertian," jawab Zeo membangga kan dirinya sendiri. Alina yang melihat itu, memutar bola matanya jengah. Nggak berubah, emang itulah ciri seorang Zeo.


"Loh, kok respon nya seperti itu sih? Aku pending makan siangnya beneran loh?" ancam Zeo, sembari menaik turunkan kedua alisnya. Yang Alina tahu, apa yang di ucapkan suaminya ini, bukan sekedar ancaman saja. Jadi, dia memilih aman.


****....****

__ADS_1


__ADS_2