
"Yaudah, kalau kalian yang jaga Alina, kami akan kembali." ujar Leinard kepada Sean.
"Iya, kalian tenang saja! Aku sama Kanaya pasti menjaga Alina." sahut Sean.
Mereka pun berpelukan, cupaka-cupiki sebelum mereka benar-benar kembali. "Kay, kami pulang dulu ya! Titip Alina." ujar Kaira sebelum ia melangkahkan kaki nya pergi.
"Tentu..." jawab Kanaya. Mereka pun mulai beranjak meninggalkan Kanaya dan Sean, yang masih betah berdiri di depan pintu. Berjalan, beriringan dengan tangan yang saling bertautan. Alangkah indah nya, jika cinta dan mrncintai karena Allah swt.
"Yang, go juga yuk!" ajak Sean pada sang istri.
"Ihh, ngajak nya Ya Allah! Emang nya mau kemana Pak?" canda Kanaya sembari tersenyum ke arah Sean.
"Ohh...mulai berani ya...?" ucap Sean dengan gemas, ia pun menggelitik pinggang ramping istrinya. Karena ia tak bisa menahan diri lagi, tangannya seakan bergerak dengan sendirinya.
"Hahaha...Hahaha, ampun Abi! Ku mohon berhenti," ucap nya tak kuasa menahan tawa. Orang-orang yang melewati koridor yang ada mereka, menjadi penonton dan ikut bergembira dengannya.
"Enggak dengar..." kata Sean pura-pura seakan tak mendengar rengekan sang istri.
"Please..." ucap Kanaya dengan wajah yang memerah. Tangannya menggenggam perut yang terasa kram, akibat terus tertawa. Sean yang mendengar permohonan dari Kanaya, langsung menghentikan kegiatannya. Ia membawa Kanaya dalam pelukan hangatnya, mengelus perut rata Kanaya dengan lembut.
"Mangkanya, jadi orang tu jangan nakal." ujar Sean.
"Yeah, Abi mah. Lagian orang bercanda juga, tapi balasannya enggak tanggung-tanggung!" gerutu Kanaya pada Sean.
__ADS_1
"Iya-iya, Aku minta maaf." kata Sean mengalah. Ia pun menggenggam tangan mungil Kanaya, lalu mengajak kembali ke ruangannya untuk istirahat. Karena sang istri pun, tampak sangat kelelahan.
Kanaya hanya mengangguk patuh, tanpa membantah sedikit pun. Mengikuti langkah demi langkah Sean. Karena ia pun sangat lelah, waktu istirahat nya sedikit.
*
*
*
Sedangkan Raina dan Juno, berada di dalam mobil. Yah, mereka berada di jalan akan pulang. Tapi, Raina heran! Mereka tidak melewati jalan seperti biasanya untuk kena apartment Raina. Melainkan entah kemana? Ia pun tidak tahu, karena Juno yang sedari tadi hanya diam dan tidak memberitahu kan tempat yang akan mereka tuju.
'Eh, mas Juno mau kemana sih? Katanya pengen pulang, tapi kok malah ngambil jalan lain. Jadi tidak cepat pulang dong, malahan tambah jauh dan memakan waktu yang lebih lama.' batin Raina bertanya-tanya sendiri. Karena ia pun masih segan dan gugup. Dirinya tidak berani membuka pembicaraan lebih dulu, ia akan bicara, apabila Juno yang mengajak nya berbicara terlebih dahulu.
'Berasa kayak kuburan, enggak sih?' batin Raina menjerit di hatinya. Ia tak punya keberanian untuk mengatakannya, apalagi kalau melihat wajah datar Juno, ia tambah kicep.
'Ya Allah...nih orang kagak pekaan banget!' pikirnya sembari melirik ke arah Juno, yang fokus nyetir.
"Ada apa? Kalau ada yang mau di bicarakan, katakan saja? Tidak usah curi-curi pandang seperti itu." kata Juno pada akhirnya, ia sangat gemas dengan wajah malu-malu tapi mau yang Raina tunjukkan tanpa sadar. Bukannya Juno tidak mengetahui atau cuek dengan apa yang dilakukan Raina, hanya saja ia pengen tahu! Sampai kapan Raina kuat menahan omongan yang akan ia lontarkan. Tapi, dari tadi di tunggu-tunggu! Eeeh, tidak ngomong-ngomong juga. Karena Juno yang tidak sabaran, ia pun langsung berbicara saja.
Bukannya nyahut, yang ada Raina di buat malu. Karena ketahuan, curi-curi pandang ke arah Juno. Ya, walaupun sah-sah saja bagi mereka, tapi teta saja dirinya sangat malu. Sampai-sampai, semburat rona merah muncul ke permukaan kedua pipinya.
"Kenapa, hmm?" tanya Juno lagi yang tidak mendapatakan Raina menjawab pertanyaan nya. Sungguh, Juno dibuat sangat gemas dengan tingkah laku sang istri. Rasa-rasanya dia pengen segera membawa Raina ke dalam kamar dan mengeksekusi sang Istri.
__ADS_1
"E-enggak kok Mas," jawab Raina gugup.
"Beneran? Bukannya tadi seperti penasaran akan kemana? Tapi tidak berani ngomong." tebak Juno tepat sasaran. Membuat Raina tambah kikuk di buatnya.
Raina yang tahu suaminya ngerti, tapi pura-pura tidak tahu! Ia pun langsung menyemprot Juno. Ingat ya, bukan semprotan baygon untuk nyamuk, tapi memyemprot dengan amarahnya, karena merasa telah di bodoh-bodohi.
"Dasar Kang Misua!!! Membuat istri berpikiran kemana-mana." semprotnya langsung tidak tanggung-tanggung. Seakan stok suaranya ia keluarkan semua. Bukan nya marah, tetapi Juno malah tertawa terbahak-bahak.
Tak ingin berkendara dengan tawa yang belum usai, Juno pun menepikan mobilnya di pinggir jalan yang tidak terlalu ramai dengan pengguna jalan nya. Raina hanya di buat mengernyitkan dahi karena heran, apalagi yang akan di lakukan suaminya?. Untung saja suaminya, kalau orang lain udah ia cincang. Karena menguji kesabarannya terus-menerus.
"Ekspresinya biasa aja, Sayang. Jangan kayak orang linglung seperti itu." ujar Juno terkekeh geli.
"Ish, ini gara-gara kamu tahu! Yang membuat aku terus-menerus bertanya-tanya!!" kata Raina kesal.
"Hehehe, iya maaf deh. Aku enggak ada maksud begitu kok. Sayang, kita itu mau pulang kerumah baru kita, makanya beda arah dari biasanya." tutur Juno. Sedangkan Raina di buat tidak fokus oleh panggilan romantis dari suaminya. Ia di buat melayang sepertinya karena kata 'sayang' yang di ucapkan Juno barusan.
Tak terasa senyuman merekah terbit dari bibir manisnya, yang membuat kecantikan Raina berkali-kali lipat lebih meningkat. Sedangkan Juno, di buat terpesona dengan senyuman manis khas sang istri.
"Cantik nya, istriku." gumamnya sembari mengelus pipi putih itu.
"Jadi, fiks ya! Aku manggil kamu dengan sebutan Sayang! Gimana, mau enggak?" ujar Juno lagi.
Idih, malu-maluin banget suaminya! Pekek nanya segala lagi. "Terserah, Mas Juno saja." sahut Raina.
__ADS_1
Juno tak membalas ucapan Raina, dirinya membenarkan dengan anggukan dari kepalanya. Ia pun kembali menghidupkan mesin mobilnya, lalu menginjak pedal gas untuk kembali melanjutkan tujuannya. Ia menjalankan mobil, dengan kecepatan sedang. Ia tidak mau membuat Raina takut.