Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 6. Berkunjung ke rumah sakit JM Mahmud


__ADS_3

Leinard orang yang anti sekali ke rumah sakit, walau itu keadaan parah sekalipun. Ia tak sudi masuk ke rumah sakit. Ia memiliki trauma saat kecil di rumah sakit. Sehingga di benci apapun yang berbau rumah sakit. Dia benci dengan bau obat-obatan yang menyeruak masuk ke indra penciumannya. Tapi sekarang, kakinya malah menapaki lantai rumah sakit. Ini bukan Dia banget. Siaaun yang tahu, pasti ngomong hal yang sama.


Waktu kecil, Leinard di culik oleh seorang musuh Deddynya. Tak lain Ialah ayah dari Xaron. Ia menyekap Leinard kecil, di dalam gudang rumah sakit. Menyiksa tanpa mandang bulu, Membuat ia kelaparan hampir mati. Untung saja Leinard berhasil melarikan diri, tak sampai di bunuh. Dia keluar dari gudang, saat para penjaga tengah berpesta. Hingga tak ada yang menyadari Leinard kecil melarikan diri. Leinard berlari walaupun tk memiliki tenaga yang cukup, ia hanya ingin pulang ke rumah Deddy dan Mommynya. Di jalan Leinard bertemu dengan gadis kecil, Dia melihat tempat air yang bertengger di kantung tas nya. Gadis kecil cantik yang mengenakan hijab putih melihat itu, ia mengambil tempat minumnya menyodorkan ke arah laki-laki yang terlihat pucat. Leinard segera mengambil dan menengguk nya hingga tandas.


"Ngucapin do'a dulu, baru minum. Bismillahirrahmanirrahim." ucapanya sambil berlalu dari hadapan Leinard yang kehausan.


Saat Leinard masuk ke dalam rumah sakit, Ia tampak di sambut oleh seluruh pekerja rumah sakit. Yang masuk shif pagi. Mereka membungkukkan badannya 90 derajat. Sikap hormat para pekerja, merupakan bentuk penghormatan mereka kepada sang pemilik rumah sakit ini.


Disinilah Leinard berada, menunggu seseorang yang masuk shif siang. Di ruangan sekelas hotel bintang lima, di lantai paling atas rumah sakit. Yang jarang sekali di tempati sang pemilik. Dari sekian lama, baru sekarang Ia duduk bersender di sofa ruangannya. Karena Leinard pemilik rumah sakit ini, So Dia bisa berbuat apa saja yang ia inginkan. Termasuk Dia yang akan memaksa dokter Kaira untuk mengganti perban di lukanya.


'Seharusnya aku merubah jam shif siang, ini masi kurang 20 menit' batinnya. Sambil memperhatikan jam Rolex yang melingkar imdah di pergelangan tangannya. Ia sangat mengutamakan penampilan. Membuat dirinya selalu perfect di setiap saat.


Di tempat lain, setelah menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim. Kaira siap-siap berangkat ke rumah sakit, ia berangkat lebih awal karena ada laporan yang belum di selesaikan.


Kaira mengambil mukena yang sudah dilipat, ia memasukkan ke dalam tas, beserta alat make up ala kadarnya. Jika ia bertemu dengan sahabatnya, Dia akan melepas cadar. Saat keluar ruangannya ia kerap memakai masker, kecuali di ruang lingkup rumah sakit ia mengenakan cadar. Kaira berjalan ke luar dari kamarnya, langsung ke ruang tengah. Ia mendapati Abba dan Umma sedang bercengkrama di sana.


"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarkatuh. Abba, Umma." salam Kaira kepada kedua orang tua yang sangat ia sayangi.


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarkatuh!" jawab mereka bersamaan.

__ADS_1


"Loh, kai kok udah siap-siap? Kan masih kurang 49 menit tan sayang!" tanya Umma fatimah, sembari menampilkan senyum terbaiknya untuk sang putri.


"Iya Umma, Kai harus berangkat! Soalnya kan ada laporan yang belum Kai selesain." jawabnya jujur.


"Ooohh...kalau di jalan hati-hati ya nak, kalau di kasih amanah juga harus di jaga dengan baik. Jangan sampai mengecewakan." kata Abba Farukh. Menasihati putrinya.


"Siaap!" ucap nya sambil hormat pada sang Abba, layaknya seorang Tentara yang hormat pada atasannya.


"Kai berangkat dulu yaaa,,,Assalamualaikum!" salam Kaira kepada kedua orang tuanya. Sambil menyalami tangan orang tuanya satu persatu. Kaira bejalan hingga tubuhnya hilang di balik pintu. Ia mengeluarkan sepeda motor matic di samping rumahnya. Ia menghidup kan sepeda dan melaju keluar kompleks. Membelah jalanan yang ramai dengan pengendara. Cuaca yang begitu terik, karena sudah siang. Membuat para pengguna jalan cepat-cepat lampu hijau, biar segera melaju.


Setelah menempuh perjalan 13 menit, akhirnya Kaira sampai di rumah sakit. Setelah memarkirkan sepeda, ia langsung berjalan masuk ke dalam rumah sakit.


"Siang dr. Kaira" sapa resepsionis, saat Kaira melewati lobby. Karena yang berjaga di bagian administrasi itu beda keyakinan dengan Kaira.


Kaira langsung menuju ruangannya di lantai 3. Lantai tiga tempat ruangan dokter beserta kamar inapnya, sedangkan di lantai 2 tempat pasien rawat inap dan ruangan operasi. Sedangkan di lantai satu bagian administrasi, musholla, kantin rumah sakit dna juga ruangan lab.


"Misi tidak boleh gagal, kita harus berhasil menyelundupkan senjata itu. perketat penjagaan di markas, jangan sampai lengah musuh mau bermain-main dengan kita" ucap nya dingin, penuh dengan ketegasan. Dialah Leinard Julio Maxim Mahmud. Orang terkaya di Negara ini. Seorang CEO di perusahaan JM group. Yang bekerja di bidang properti, sofrwear dan rumah sakit. Kegigihan dalam bekerja membuat namanya melejit di baik di dunia bisnis maupun di anggota mafia. Ia sangat di takuti di dunia hitamnya.


"Baik Tuan..!" sahut di seberang sana.

__ADS_1


Tuuut...tuuut...


Suara panggilan yang terputus di keduanya.


Tok...tok...tok


Suara pintu di ketuk. Mendengar itu Leinard menarik sudut bibirnya tersenyum. 'Sepertinya Dia sudah datang' gumamnya dalam hati.


Leinard melangkahkan kakinya ke arah pintu, di depan pintu sudah ada sahabatnya yang menjabat sebagai kepala rumah sakit. Siapa lagi kalau bukan Sean Danupraja. Seorang dokter spesialis jantung. Namun sayang dunia pekerjaan bertolak belakang dengan kisah percintaannya. Ia tak pernah sukses saat menjalin kisah cinta dengan wanita, pasti ia yang akan tersakiti.


"Aku heran sama kamu! Kok bisa sampai segitunya cari Dia kesini, begitu berarti kah Dirinya? menunggu satu jam lebih. Bukan kamu banget?" kata Sean. Dia yang tak bisa tahan, saat melihat wajah sahabat nya untuk memberondong berbagai pertanyaan yang berlalu-lalang di kepalanya.


"Nggak usah terlalu lebay kayak gitu, biasa aja." jawab nya ngeles. Ia tak habis pikir dengan Sean, sebegitu perhatian kah dirinya? Sampai-sampai hal ini pun tak luput darinya. Ia beruntung sekali memiliki sahabat-sahabat yang begitu sayang padanya.


"Ayoo!"


"Kemana?" tanya Sean sok polos.


"Keruangannya dokter Kaira! Emangnya mau kemana lagi. Untung hari ini mood ku bagus, jadi kamu nggak bakalan aku cincang." katanya acuh. Leinard sudah tak sabar banget pengen ketemu dokter Kaira. Yaa, karena mengingat pahatan mata lentik dokter cantik itu membuat jantung Leinard berdegup kencang. Ia benar-benar percaya bahwa cinta pandangan itu benar adanya.

__ADS_1


Sean hanya tersenyum pepsodent, mendengar penuturan Leinard. Mereka berjalan menuju lift, untuk turun ke lantai tiga. Karena disana letak ruangan dokter Kaira.


\*\*\*\*\*.....\*\*\*\*\*


__ADS_2