Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 15. Bunda(Unya) untuk Zalfa


__ADS_3

Melihat kebingungan Zahra, Sean membuka suara lagi.


"Kalau orangnya datang, mendingan kamu tanya langsung saja." ucap nya.


Begitupun dengan teman-temannya, ikut bingung.


"Kalau gitu, kita pulang aja yuk. Sekarang hampir isa, nanti telat nyampek rumah. Sholatnya juga ikutan telat dong." ajak Kaira kepada sahabatnya. Mereka mengangguk setuju semua. Namun kaira takut membalikkan tubuhnya, dia tahu siapa yang berdiri di belakang nya.


Mereka semua berdiri dari kursi, mengambil tas masing-masing. Cupaka-cupiki sebentar and siap untuk pulang.


"Kamu pulang sama aku! Tidak ada penolakan!" tegas Leinard. Kaira barbalik menghadap Leinard.


"Tidak usah, nanti saya merepotkan Anda


Lebih baik saya pesan taksi online aja." Kaira berusaha menolak tawaran Leinard.


"Anda mendengar saya tadi bilang apa kan Nona! Tidak ada penolakan." melihat Leinard yang beraksi, Juno mengulum senyum. 'Ternyata ada juga wanita yang tidak jatuh pada pesona tuannya, padahal di luaran sana banyak yang menghinakan dirinya sendiri. Agar Leinard menyentuh mereka'.


Kaira hanya mampu mencebikkan bibir nya di balik cadar. Karen aia tak mampu menolak. 'Dasar laki-laki suka memaksa!' umpatnya. Kaira mengekor di belakang Leinard dengan jarak lima meter. Sean dan Juno melihat itu, terkekeh geli.


"Juno, kamu pulang sendiri!" ujar Leinard, dia dan Kaira berjalan meninggalkan mereka. Tawa Juno langsung hilang.


"Dasar Boss sialan!" makinya. Begitu pun dengan Sean. Ia melenggang pergi, tak lupa ia mengapit ujung hijab Kanaya agar ikut mengekor di belakangnya. Tinggallah Juno dan dua teman Kaira.


"Li, aku juga pulang yaa, jangan bekerja terlalu keras. Nanti aku bantu deh buat laporannya." kata Raina. Ia tahu betul kalau Liana bekerja seperti apa. Makan siang sering terlewati begitu saja, karena pekerjaan yang tak kunjung selesai. Ia beranjak dari tempatnya, namun terhenti. Karena seseorang memegang tali tas jinjing nya.


"A-aku ikut, anterin aku pulang." ujar Juno.


"Kan ada taksi online, kamu bisa pesan kan? Atau kamu nggak punya uang ya? Nanti aku aja deh yang bayar." tanya Raina, dengan ekspresi menyelidik ke arah Juno.

__ADS_1


"WHAT! apa kamu bilang, saya tidak punya uang. Yang benar saja Nona! Saya bisa kok membeli cafe ini." ucap Juno angkuh. Raina yang mendengar itu, memutar bola matanya jengah. Juno yang merasa di ledek, tambah kesal jadinya. Dia langsung menggapai kunci mobil di tangan Raina. Berjalan meninggalkan si pemilik mobil.


"Astaghfirullahal adzim...Hai! Tunggu. Kamu tidak boleh satu mobil dengan saya." teriak Raina, ia berjalan cepat kearah mobil, di dalam sudah ada Juno yang duduk di bangku pengemudi. Raina membuka pintu mobil belakang, karena tak mau bersebelahan dengan Juno. Juno yang melihat itu bersuara.


"Kenapa duduk di belakang! Saya ini bukan supir kamu. Duduk di depan." ujar Juno tegas. Mengisyaratkan dirinya bukanlah seorang supir. Raina yang mau menjawab, hanya bisa menelan kata-kata nya begitu saja. Ia tak mampu melihat tatapan tajam yang di layangkan Juno. Mau tak mau, akhirnya dia pindah juga ke depan.


"Sedari tadi kaya gitu, nggak akan ada drama kan." ujar Juno sewot. Ia tak mau kalah dari wanita yang ada di sampingnya itu.


'Idih, ini cowok kok nyebelin banget.' batin Raina. Raina hanya diam tak bersuara, ia lebih memilih melihat apa yang mereka lalui di jalan.


Leinard dan Kaira sampai di depan rumahnya, sebelumnya Kaira minta di antar ke rumah sakit. Karena sepeda motor nya yang ada di sana. Namun Leinard bersih kukuh mengantar Kaira kerumah. Kaira kesal pada tindakan Leinard, alhasil dia tak berbicara sama sekali di dalam mobil.


Saat masuk ke kompleks perumahan, Leinard bertanya pada Kaira.


"Rumah mu yang warna apa?" ia berusaha sabar menghadapi Kaira, yang mendiami dirinya sedari tadi. Walau dia geram sendiri. walaupun Leinard sebenarnya tahu rumah Kaira, tapi dia tetap bertanya.


"Warna ungu" sahutnya. Leinard menghentikan mobilnya tepat di depan rumah yang ditunjuk Kaira.


"Saya tidak di ajak masuk kedalam?"


"T-tidak usah, lagian sekarang sudah malam. Mendingan kamu pulang aja." jawab Kaira. Leinard tak menggubris ucapan Kaira. Dirinya tetap melangkah ke arah pintu. Tepat di ambang pintu ia berdiri, melihat pria paruh baya lengkap mengenakan peci dan surban yang bertengger indah di bahu kanannya.


"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarkatuh, Abba." ucap Kaira kikuk, ia merasa bersalah sama Abba. Di antar oleh laki-laki yang bukan mahromnya. Tak lupa ia mencium telapak tangan Abba nya. Hal yang sama pun dilakukan Leinard.


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarkatuh." jawab Abba mengembangkan senyumnya.


"Abba, ini...teman Kai." ucap nya ragu-ragu.


"Oooh, kamu mau tidak ikut Abba ke masjid?" tanya Abba melihat ke arah Leinard. Dia yang tak pernah melaksanakan kewajiban sebagai orang muslim, hanya tertera di KTP saja. Dengan berat hati Leinard mengiyakan Abba. Karena ia jauh banget dari Allah SWT dan sering melanggar perintahnya. Apalagi dirinya seorang mafia.

__ADS_1


"Masuk dulu nak, nanti Abba pinjamin baju koko dan sarung." ujar Abba lembut. Membuat Leinard senang, seperti nya dia akan tambah giat mau ngegaet anak perawan Abba.


"Kai, sana bilang ke Umma suruh ambilin baju Abba."


Kaira langsung masuk ke dalam rumah, mencari sosok sang Umma. Ia melihat ke arah dapur, ternyata ibunya berkutat di dapur untuk membuat makan malam.


"Assalamualaikum Umma." sembari melangkah mendakati Ummanya.


"Waalaikumsalam sayang, baru pulang? Ketemu Abbba tidak?"


"Iya Umma, ketemu di ada di depan sama temannya Kai, Abba nyuruh Kai bilangnke Umma suruh di ambilkan baju koko dan sarung. Di tambah peci ya Umma." ujarnya


"Loh ada teman kamu nak, sejak kapan putri Umma berteman dengan lawan jenis, Hmm." tanya Umma.


Zahra sekarang berada di dalam apartemen nya yang sederhana dan rapi.


"Ini rumahnya Unya. Bagus banget Unya." ucap Zalfa kecil. Zahra pikir, Zalfa tak akan nyaman berada di apartemen nya. Nyatanya asumsi Zahra salah, malah sebaliknya Zalfa tampak bahagia.


Zahra berjongkok, menyamakan tinggi badannya dengan Zalfa.


"Iya sayang, ini apartemen Unya. Semoga Zalfa suka ya! Kalau Zalfa sering senyum kayak gini, cantik nya makin nambah tau." kata Zahra memegang kedua pundak mungil itu penuh kasih sayang. Binar mata yang begitu bahagia terpancar nyata.


"Kalau gitu, Afa akan terus tersenyum agar cantik terus kayak Unya. Jangan tinggalin Afa Unya. Jangan kayak Mommy, yang tidak mau ketemu Afa lalu ninggalin Afa sama Deddy." ujar si putri kecil dengan mata yang berkaca-kaca.


Hati Zahra terenyuh, melihat Zalfa yang seperti ini. Gadis kecil yang malang. Zahra merengkuh tubuh mungil itu, di bawa dalam pelukan hangat uangnya miliki. Ia tak tahan membendung air matanya, sehingga luruh lah melewati pipi mulusnya.


"Afa dangar Unya ya sayang, Unya hanya untuk Zalfa. Berdo'a lah sayang meminta kepada Allah SWT, agar Unya bisa bersama dengan putri kecil Unya." Tubuh kecil itu bergetar menangis dalam dekapan hangat sang bunda.


"Afa akan selalu berdo'a sama Allah SWT, agar Unya hanya untuk Afa." ujarnya. Meskipun di umur 3,5 tahun, Afa mengerti dengan lingkungan sekitarnya. termasuk menginginkan kehadiran sosok seorang ibu, dalam hidupnya.

__ADS_1


"Kalau gitu, Afa tidak boleh nangis lagi. Janji" zahra mengangkat jari kelingkingnya tersenyum cerah menatap Zalfa. Anak kecil ini pun, ikut menautkan jari Kelingkingnya.


*****.....*****


__ADS_2