Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 60. Huru-hara.


__ADS_3

"Iya-iya mas,,, aku percaya kok sama kamu." ucap Kaira kepada sang suami.


"Emang seharusnya gitu, Baby!" ujar Leinard tersenyum lega. Mereka pun sama-sama tersenyum bahagia.


Sementara di bagian luar, tepatnya di samping masjid. Ada seseorang yang melaporakan kegiatan yang berlangsung kepada sang atasan. Ia terus memberikan informasi-tentang personil Black Eagle itu, baik dari hal-hal yang membahagiakan mereka.


"Tuan, acara pernikahan asisten ketua mafia Black Eagle sedang berlangsung." ucapnya memberikan informasi.


"Bagus, buat kekacauan...!" perintah Xaron kepada anak buahnya.


"Baik Tuan, akan saya lakukan." jawab nya tegas dengan senyum licik tercetak di sudut bibirnya.


Tuuut...


Panggilan pun berakhir di antara keduanya. "Akan ku buat kalian berteriak ketakutan..." ucapnya percaya diri.


Karena dirinya sudah memakai baju resmi, dia tinggal masuk kedalam. Ia pun memiliki kartu akses masuk, karena dapat dari salah satu tamu undangan yang sudah ia bayar.


Lalu ia masuk ke dalam masjid, menunjukkan kartu nya. Matanya langsung mencari sosok Leinard. Dia melihat tawa orang itu sersenyum mengejek. "Nikmatin lah hari kalian, sebelum ajal menjemput." gumam nya kepada diri sendiri.


Anak buah Xaron itu tambah mendekat ke arah mereka. Dari belakang Sniper itu, ada Alina. Ia melihat gerak gerik mencurigakan dari tempatnya, ia pun melangkahkan kaki ke arah mereka.


Melihat situasi aman, ia pun lekas menjalankan rencananya. Sebelum orang lain mengetahui keberadaannya.


Mata Alina membulat sempurna, saat orang tersebut mengeluarkan pistol dari balik jas yang di dikenakan oleh orang itu.


Sementara Leinard tak menyadari itu, ia terlalu asik memandangi istrinya yang tiada henti tertawa.


Alina berjalan cepat ke arah sahabatnya itu, karena tak mungkin baginya berteriak dan membuat situasi kacau. Namun, harapan tak sesuai dengan kenyataan. Sebelum dia memberi tahu, orang itu sudah melesatkan timah panas ke arah Kaira. Sontak saja Alina berlari sekuat yang ia mampu, untuk melindungi Kaira dan calon ke ponakannya. Ia sudah tak memikirkan keselamatannya sendiri, yang Alina ingin kan hanya menyelamatkan Kaira.


Dor....!

__ADS_1


Suara tembakan yang memekak kan telinga, para tamu undangan langsung melihat ke sumber suara.


"Akh...!" Alina luruh di dalam dekapan Kaira. Darah segar langsung mengucur dari bahu kanan Alina.


"Alina...." teriak Kaira histeris. Melihat sahabat rasa saudaranya tumbang dalam pelukannya. Nafas Leinard seketika terhenti, ia fikir Kaira lah yang terkena tembakan itu.


Tapi ternyata, sahabat Kaira yang mengorbankan diri demi istrinya. Dia sudah berhutang nyawa, kepada Alina.


Kanaya pun berlari ke arah mereka. Air mata para sahabat Alina mengucur deras, berlomba untuk membasahi pipi masing-masing.


Kanaya seketika tak bisa berfikir, untuk sesaat. Saat melihat darah Alina, ia segera sadar.


"Hentikan pendarahannya...!" teriak Kanaya lantang. Karena tak ada yang apapun di sekitar mereka, Kanaya langsung melepas hijabnya begitu saja. Dia masih mengenakan ciput kepala yang mampu menutupi aurat di bagian kepala.


Sedangkan Sean tergesa-gesa untuk menyiapkan mobil untuk membawa Alina ke rumah sakit.


Zeo langsung membopong tubuh Alina yang tak berdaya, ke dalam mobil yang sudah Sean siapkan. Zahra dan Raina masuk ke dalam mobil bersama Kanaya dan juga Sean.


"Sialan...kenapa sampai kecolongan!" geram Leinard. Ia pun memberikan kode kepada para pengawalnya untuk menangkap orang yang ingin bermain-main dengannya. Ia pun memeluk Kaira dengan erat, istrinya masih sangat shock dengan kejadian barusan.


Di tengah ke riuhan yang terjadi, mata tajam Juno melihat ke sumber kekacauan itu. Ia melihat seseorang yang akan pergi, setelah melakukan misinya. Ohhh, tidak semudah itu. Apalagi orang yang terkena tembakan itu wanita yang akan jadikan pendamping masa depan sahabat nya.


"Akan ku buat kalian membayar mahal, telah merusak acaraku." geram Juno. Ia segera pergi meringkus sniper suruhan dari Xaron.


Begitupun dengan anak buah mereka, sama-sama mengejar penembak jitu itu. "Tak akan ku beri ampun kalian pedebah...!"


makinya.


Dorr....!


Satu timah panas melesat mengenai betis sniper itu, sehingga membuat ia tak bisa lari lagi. Darah segar keluar. Dengan kemampuan hebat Juno, tak butuh lima menit Ia bisa melumpuhkan musuh nya.

__ADS_1


"Bawa dia ke markas!" perintah Juno tegas kepada pengawalnya.


"Baik, Tuan...!" jawab mereka serentak.


Mereka pun segera membawa orang itu ke markas Black Eagle. Dimana orang akan merasa enggan untuk hidup, dan lebih memilih meminta kematian datang lebih cepat.


Juno langsung bergegas pergi, ia mengendarai mobilnya dengan cepat ke rumah sakit. Dimana tempat Alina di rawat, dan juga istrinya berada.


Sedangkan di ruang UGD, Sean dah juga Kanaya berusaha menyelamatkan Alina. Kanaya, tak pernah membayangkan akan mengobati sahabat nya sendiri. Dengan derai air mata, ia terus melakukan tugasnya dengan baik. Sean yang paham dengan kondisi istrinya, dia hanya mampu menenangkan saja.


"Pasrahkan sama Allah SWT, Yank. Kita berdo'a dan berusaha melakukan yang terbaik." ujar Sean. Kanaya mengangguk lemah, dan fokus lagi.


Sementara di luar ruangan UGD, ada Leinard, Kaira, Raina, Zeo, Zahra dan juga Leon. Menunggu dengan was-was, mereka terus memandangai pintu. Menunggu Sean dan Kanaya yang menangani Alina.


"M-mas, gimana jika Alina tidak terselamatkan? Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri....ga-ra-gara aku, Alina jadi begini." ucap Kaira menangis sesegukan di dalam pelukan Leinard.


"Suuut, Sayang! Dengerin mas. Semua ini, bukan gara-gara kamu. Kita tidak ada yang menginginkan seperti ini, kita berdo'a saja untuk keselamatan Alina. Jadi berhenti menyalahkan diri sendiri, Okey." hati Leinard tak kuasa melihat istrinya seperti ini. Hatinya sakit, seperti teriris. Melihat bulir bening Kaira dan sahabatnya yang lain, menganak sungai. Terjun tiada henti, membasahi pipi mereka. Dalam hati Leinard bersumpah akan membalas perbuatan mereka.


Sementara Zahra tak bersuara, hanya air mata yang terus berlomba jatuh dari pelupuk matanya. Sudah satu jam lebih, tapi belum ada sampai sekarang tanda-tanda Sean dan Kanaya ke luar.


"Kok lama ya, Yah?" tanya Zahra yang tak sabar, ia tak pernah lepas melihat ke pintu ruangan Alina.


"Sabar Sweety,,,,semua akan baik-baik saja. Hm!" ujar Leon menenangkan Zahra. Dari pintu masuk ada Juno yang tergesa-gesa berjalan ke arah mereka. Dia melihat istrinya menangis tertunduk di kursi. Bahunya bergetar karena menangis, ia pun langsung mendatangi Raina. Memeluk erat tubuh istrinya, memberikan kekuatan untuk Raina.


Melihat kedatangan Juno, perhatian Leinard dan Leon langsung tertuju padanya. Juno yang mengerti dengan tatapan temannya, hanya mengangguk. Membenarkan apa yang mereka maksud.


Ceklek....


Pintu ruangan Alina terbuka, disna ada Sean dan Kanaya yang baru saja keluar dari ruangan Alina.


*****.....*****

__ADS_1


__ADS_2