Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 33. Masalah


__ADS_3

Drrttt...drrttt....


Suara dering handphone dengan logo apple digigit milik Leinard, bunyi itu mampu membuyarkan keromantisan yang tercipta diantara kekasih halal itu.


"Ish...ganggu saja. Awas saja jika tidak ada sesuatu hal yang penting! Akan kupenggal kepalanya." Leinard geram dengan suara alat komunikasi yang terus berbunyi.


Kaira tersenyum dengan riang, melihat kelakuan absurd Leinard. Sungguh suami yang mempunyai pribadi yang ganda.


"Sayang enggak boleh gitu, angkat saja! Siapa tahu ada hal yang penting ingin di sampaikan." ucap Kaira memperingati Leinard agar segera mengangkat benda canggih luar biasa itu.


Dengan berat hati Leinard mengangkat handphone miliknya, ia beranjak pergi menjauh dari Kaira. Ia berjalan ke arah taman yang luas nan asri, disana ada banyak sekali bunga yang berwarna warni.


"Halo." kata Leinard datar.


"Tu-tuan..!" sapa Juno dari seberang sana, nyalinya menciut mendengar suara datar dan dingin Tuannya. Jika dalam mode seperti ini, ia menjadi takut untuk mengutarakan apa yang akan ia sampaikan.


"Ada apa?" tanya Leinard to the point. Ia kesal waktu berharga sama istrinya terganggu.


"Emm...!" Juno jadi bimbang apa yang harus ia katakan sekarang, Juno berfikir ucapan apa yang sekiranya tepat ia utarakan. Agar tak mendapat amukan Tuan singa itu.


"Katakan dengan benar Juno, jika informasi yang kamu berikan tidak penting? Maka bersiaplah kehilangan kepalamu!" ucapnya tegas tak terbantahkan. Membuat Juno bergidik ngeri di tempatnya yang jauh dari pandangan lawan bicaranya.


Juno menarik nafas dengan kasar, ia harus segera melaporkan informasi yang di dapat dari bawahannya yang ia percaya di kantor cabang.

__ADS_1


"Begini tuan, ada gerogot kecil di perusahaan. Kecurangan yang dia lakukan begitu besar, dia menggelapkan dana perusahaan." ucap Juno dengan suara yang tegas, Juno merasa lega karena sudah memberitahu informasi yang ia peroleh beberapa belas menit yang lalu.


Leinard yang mendengar itu tersenyum tipis, senyuman yang sangat mengerikan tampil di ujung bibir nya yang seksi. Membuat siapa saja yang melihat, pasti langsung ketakutan setengah mati.


"Rupanya ada yang mau bermain-main denganku! Baiklah, aku menerimanya dengan sukarela. Sudah lama juga aku tak memperlihat kan jiwa iblisku!" ujarnya dengan pandangan yang tajam, kilatan amarah dari dirinya bermuara begitu saja kepermukaan. Ia sadar dengan dirinya bak iblis, manusia yang tak memiliki kata ampun untuk siapapun yang menghianatinya.


Juno yang mendengar itu, langsung mengerti langkah apa yang selanjutnya akan ia lalukan. Karena dia paham betul, dengan sifat boss nya.


"Kita akan berangkat satu jam lagi." dia langsung menekan gagang telepon berwarna merah, mengakhiri pembicaraan dengan sang asisten. Juno merasa kesal, karena Leinard tak mendengarkan dirinya lebih lanjut. Tapi apalah daya? Dia tak akan mampu berkata-kata, karena dia masih sayang dengan nyawanya sendiri. Andaikata ia memiliki stok nyawa banyak, tanpa berfikir lagi, ia akan mengumpat terang-terangan di depan boss nya.


Leinard melangkah masuk kembali kebawah sang istri, yang masih setia duduk di sofa. Kaira membaca buku majalah yang berada di meja yang tepat di depannya.


"Sayang..." kata Leinard, dia duduk di sebelah Kaira. Melingkarkan tangannya memeluk pinggang ramping Kaira. Ia bersender di bahu kecil milik istrinya.


"Iya mas, ada apa? Kok mukanya kayak gitu? Tidak mengenakkan banget kalau di pandang." ujar Kaira sembari mengelus punggung tangan yang melingkar di perutnya.


"Sayang,,,mas harus pergi. Ada masalah di anak cabang perusahaan mas yang ada di Sidoarjo. Satu jam lagi, kami akan berangkat kesana." kata Leinard. Dia mendongak melihat ke arah Istrinya, dia pengen melihat ekspresi muka Kaira yang sudah tak mengenakan cadar. Jika Kaira tak mengijinkan, dia tak akan berangkat kesana.


Kaira memperlihatkan senyuman manis yang ia miliki. Leinard yang melihat itu, membuat hatinya bergemuruh. Perasaan tak ingin meninggalkan istri tercintanya semakin menjadi.


"Enggak apa-apa mas, Kai disini kan tidak sendiri. Ada mbok dan yang lainnya." kata Kaira, senyuman di bibirnya tak hilang sedikitpun. Leinard tidak mengharapkan kalimat itu yang keluar dari mulut manis istrinya.


"Sayang, bukannya nahan suami pergi. Malah di iyain aja. Emang kamu nggak mau ikut gitu? Sekalian aja bulan madu." kata Leinard.

__ADS_1


"Mas Leinard kan mau kerja, masa iya aku ikut. Nanti pekerjaannya nggak kelar-kelar. Bukannya aku senang mas pergi, tapi di kantor mas Leinard ada banyak sekali karyawan. Tentu saja mereka menggantungkan hidup di pekerjaan mereka. Karena itu, mas Leinard harus menyelesaikan masalah di perusahaan dengan cepat. Agar tak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." ucapnya panjang lebar memberikan pengertian pada sang suami yang salah mengartikan maksud dari ucapannya.


Tambah cinta..!" ujar Leinard terharu dengan pikiran sang istri yang sampai kearah sana. Ia tambah mengeratkan pelukan yang tak di lepaskan dari tadi. Padahal dirinya fine-fine aja, jika sampai apa yang di ucapkan istrinya itu terjadi. Itu tak akan berpengaruh apapun baginya, dia tak akan jatuh miskin.


"Mas mungkin akan sedikit lama disana! Karena masalah itu cukup serius." ucap Leinard tidak ikhlas mengutarakan kata "lama".


"Tidak apa-apa mas, Kai akan jaga diri baik-baik kok disini. Tidak usah khawatir, insyaa Allah semua akan baik-baik saja." kata Kaira meyakinkan Leinard, agar tak khawatir. Ia melihat raut wajah penuh kekhawatiran dalam diri Leinard.


"Daripada disini terus, mendingan kita berkemas. Barang-barang apa yang akan dibawa ke sana nantinya. Sisa waktunya tinggal 50 menit lagi sebelum kebrangkatan mas Leinard." ucap Kaira. Ia berdiri memberikan tangannya ke depan Leinard, agar pria yang masih duduk di sofa menerima uluran tangannya.


Dengan senang hati Leinard menerima uluran tangan Kaira, ia lantas berdiri. Lalu kaira menarik tangan itu, supaya mengikuti langkah nya yang menuju kamar utama di mansion mewah milik Leinard. Leinard tersenyum lebar di belakang Kaira, tentunya dia akan menggagalkan niat awal wanita polos yang berstatus Istrinya. Dia memilih rencana yang lebih mengasikkan saja, yaitu menunggang kuda. Dia tak perlu membawa apapun, semuanya sudah tersedia. Apalagi dia akan berangkat dengan Juno, akan mudah baginya untuk melakukan apapun.


Mereka sampai di kamar utama, Kaira langsung berjalan ke arah walk in closet. Sedangkan Leinard, menutup pintu kamar rapat-rapat. Tidak lupa ia mengunci pintu kamar yang berwarna coklat susu itu. Ia segera menyusul istrinya ke walk in closet.


Dia melihat Kaira yang hendak menata pakaian ke dalam koper. Lalu dia ikut berjongkok di depan Kaira.


"Sayang kamu tak perlu melakukan itu! ada hal yang lebih penting, harus kita lakukan. Kita akan berpisah sebentar lagi, jadi manfaatkan waktu yang tersisa." ujar Leinard memegang kedua tangan putih mulus sang istri.


"Bukannya ini yang lebih penting mas?" tanya Kaira dengan penasaran.


"Hmm,,,sayangnya bukan itu, tapi ada hal lain!" kata Leinard semakin membuat Kaira penasaran.


"Apa?" tanya Kaira lagi.

__ADS_1


"Main kuda-kudaan sayang." ucapnya di telinga Kaira.


*****.....*****


__ADS_2