Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
69. THsM


__ADS_3

Juno pun melepaskan kungkungan nya dari sang istri, sebelum dirinya benar-benar berdiri dan melepaskan kungkungan dari tubuh kecil istrinya. Ia menyempatkan diri mencium kening Raina penuh dengan cinta. Raina yang menerima ciuman tak terduga dari suaminya tertegun, mengerjap-ngerjapkan kedua bola matanya, di tambah lagi dengan rona merah yang langsung muncul kepermukaan. Membuat dirinya tambah cantik.


Sementara Juno, menyunggingkan senyuman nya melihat hal itu. Sebelumnya, ia tidak pernah menyukai apapun tentang wanita, baik itu dari sikap dan apapun yang berkaitan dengan perempuan! Karena baginya wanita itu sangat menyebalkan dan merepotkan.


Namun, semenjak mengenal sang istri, cara berfikirnya pun tidak demikian. Malahan sekarang, Dia sangat menyukai apapun yang berkaitan dengan pasangan nya. Karena kedatangan Raina di hidupnya mampu mengubah hari-harinya yang menoton jadi berwarna.


"Mau di tambah lagi? Kok tidak bangun-bangun?" tanya Juno. Membuyarkan pikiran Raina yang sudah pergi ke awang-awang, berkelana entah kemana.


"Hah...?" sahut nya kebingungan. Raina yang mendapatkan hal tak terduga dari sang suami, jadi linglung. Rona merah langsung muncuat ke permukaan kulit kedua pipinya yang mulus. Karena bagaimana pun, ini kali pertama baginya mendapatkan perlakuan yang seperti itu, dari lawan jenisnya. Sungguh, jantung Raina di buat berdetak dua kali lebih cepat, dari saking gugupnya


"Ya Allah, kok lupa. Katanya mau mandi? Apa mau di mandikan?" canda Juno ke arah sang istri. Raina lekas menggelengkan kepalanya, enak saja pikir Raina emang dirinya anak kecil yang harus dimandikan, apalagi dalam keadaan sehat wal afiat seperti ini, tentunya ia akan menolak mentah-mentah. Usulan Juno yang tidak menguntungkan bagi nya.


Sebelum Juno kembali, menyerang dirinya, ia lekas bangun dari kasur empuk itu. Duduk bersender sebentar, guna mengembalikan kesadaran nya yang masih setengah-setengah. Juno memperhatikan pergerakan dari sang istri, ia masih tak menyangka bisa mempersunting gadis cantik, yang saat ini sudah menjadi istrinya, mahrom nya, serta rumah untuk tempatnya kembali.


Padahal kalau di pikir-pikir, dirinya sangat buruk. Tetapi, Allah swt begitu sayang padanya sehingga menghadirkan sosok wanita sholehah yang mampu membwanya kembali ke jalan yang benar. 'Subhanallah,,,Aku benar-benar tidak percaya, sehingga bisa di titik sekarang.' Batin Juno, sembari memandangi wajah cantik istrinya yang menoleh ke arah kanan. Agar Juno tak melihat wajahnya, yang memerah seperti kepiting rebus.


Raina tahu, bahwa sang suami tiada henti memandangi wajahnya. Ia pun jadi salah tingkah sendiri, karena tatapan mata suaminya yang tak mau lengang darinya.


"Oh, C'mon Mas! Jangan seperti ini!" ujar Raina, tapi ia masih enggan untuk memalingkan wajahnya ke arah Juno. Ia tidak berani melakukan itu, karena malu.

__ADS_1


Juno semakin iseng, malah dirinya kembali merapatkan tubuhnya ke Raina. Lalu, ia menarik dagu istrinya agar menghadap ke arahnya. Pandangan mata mereka bersirobrok, kedua bola mata mereka memandang dengan penuh cinta. Raina dan Juno tertegun sejenak, saling mengagumi sati sama lain. Sesaat kemudian ia melancarkan aksinya. "Fyuhh... Istri Aku kok cantik banget ya! Jadi pengen di umpetin mulu, biar tidak dilihat orang lain. " Juno meniup wajah Raina pelan, tersenyum manis sekali ke arah sang istri. Membuat kadar ketampanan suaminya berkali-kali lipat bertambah.


Raina yang mendengar itu mencebikkan bibir ranumnya, Namun, tak ayal sudut bibirnya merekah karena tersenyum. Dengan cepat, Raina merubah mimik mukanya menjadi kesal, agar Juno tak melihat wajahnya yang merona. "Mas, kamu lagi bohongin Aku yaa! Udah jelas-jelas bangun tidur, ya jelek lah. Pasti bau juga kan?" tanya Raina kepada sang suami. Mata indahnya memicing ke arah Juno. Karena menurutnya sang suami sudah berbohong pada dirinya.


"Emm...." Ucap Juno sengaja menggantung omongannya. Namun, sebelum sang suami melanjutkan terlebih dahulu. Raina berbicara lebih dahulu.


"Di tambah lagi, saat tidur ileran. Pasti di wajahku udah berbentuk peta kan, Mas? Hayoo, ngaku? Aku enggak bakalan marah kok, kalau emang faktanya kayak gitu. " kata Raina sembari menunduk malu. Bukannya Juno kesal karena perkataannya tiba-tiba di potong, tetapi ia malah tertawa melihat tingkah lucu Raina, menurutnya.


"Hahaha...Sayang! Kamu ada-ada aja. Kok sampek mikirnya begitu? Apa jangan-jangan sudah keseringan kayak begitu? Makanya sadar...!" ucap Juno. Ia kembali menggoda Raina yang tambah menunduk kan kepalanya.


"Tuh kan, emang beneran!" cicit Raina. Rasa-rasanya ia pengen ngurung diri di kamar mandi, karena ia sangat malu kepada sang suami. Terlebih dengan wajahnya yang awut-awutan.


"Ya enggak lah Sayang! Di mata Aku itu, kamu wanita paling cantik. Apalagi kalau bangun tidur kayak gini, cantiknya makin nambah. Kalau menurut Aku sih, wanita cantik itu saat bangun tidur seperti ini, karena terlihat natural banget." Ujar Juno jujur. Ini menurut pandangannya, kecantikan sang istri tiada duanya.


"Gombalan nya receh amat, Bang." kata Raina sembari menatap ke arah Suaminya. Ia benar-benar luluh, mendengar omongannya Juno. Meskipun dengan kata-kata yang seperti itu, ya sudahlah! Namanya juga cinta. Kata yang sederhana itu, jadi terasa spesial.


"Idih, siapa yang ngegombal, Neng? Abang beneran tahu. Jujur dari hati yang paling dalam." timpal Juno lagi, karena Raina yang meragukan kata-katanya.


"Hehehe,,,Ups sorry. Iya deh, enggak ngegombal. Yaudah buruan pindah, Aku mau ke kamar mandi bersih-bersih dulu. Kalau kelamaan disini sama kamu takut khilaf." canda Raina, lalu ia beranjak dari ranjang. Raina pun lekas ngacir pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


"Kalau beneran khilaf kenapa? Orang udah halal juga. Bebas lah, tidak takut dosa. Yang ada mah ladang pahala terus." balas Juno sedikit mengeraskan suaranya. Agar Raina mendengar ucapannya.


"Khilafnya nanti malem aja...!" suara Raina terdengar keluar dari kamar mandi. Karena ia berteriak dari dalam.


"Khilafnya nanti malem aja...!" suara Raina terdengar keluar dari kamar mandi. Karena ia berteriak dari dalam. Juno yang mendengar jawaban konyol dari sang istri, malah terkekeh geli. Emang kelakuan istrinya ini ada-ada saya, yang membuatnya tak bisa menahan tawa.


"Ternyata seru juga ya nikah, kalau tahu begitu dari dulu aja Aku nikah." Gumam Juno pada diri sendiri. Sembari menatap pintu kamar mandi, dimana istrinya berada.


*


*


*


Di kediaman Leinard, di ruang kerja.


Kaira berdiri tepat di belakang tempat duduk Leinard. Beberapa menit yang lalu ia masuk menemui sang suami. Yah, sehabis shalat maghrib tadi, Leinard langsung pergi ke ruang kerja, untuk menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk. Apalagi, saat ini asistennya sedang manis-manis nya merasakan pernikahan. Jadi, ia tidak mau menganggu dan memberatkan Juno, untuk masalah pekerjaan yang bisa ia tangani.


*****.....*****

__ADS_1


__ADS_2