Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 93. THSM


__ADS_3

Tampak dari kejauhan, wanita yang mereka tunggu-tunggu berjalan kearah nya. "Mingkep dong, Bro! Nggak malu tuh iler kelihatan orang banyak." Goda Leon yang melihat Zeo saat tidak berkedip melihat istrinya. Dengan polosnya, Zeo menghapus sesuatu yang di maksud Leon, namun nyatanya tidak ada.


Kecantikan para wanita itu, mampu menghipnotis tamu undangan. Leinard yang melihat itu, membuat dia bergegas menghampiri sang istri. Dasar pria posesif.


"Dasar Leon....!" geram Zeo yang di buat malu, karena dirinya sebagai bahan tertawaan.


"Sabar Bro, ini kan hari spesial, jadi tidak boleh marah..." ledek Sean sembari tersenyum.


Alina pun, sudah berdiri tepat di depan sang suami. Mc mengarahkan dirinya untuk mencium punggung tangan sang Suami, dan Zeo pun langsung mencium kening Istrinya.


Sorakan dan tepuk tangan riuh, dari tamu undangan. Membuat Alina sangat malu karena nya. Dengan cepat dia menjaga jarak dari sang suami.


"Cie... Cie... Yang lagi malu," goda teman-teman nya. Membuat kedua mempelai salah tingkah.


"Deddy bangga Nak, sama kamu. Kamu bisa memiliki istri baik dan cantik seperti bidadari." Ucap sang Deddy sembari memeluk putra semata wayang nya, sedangkan Mommy nya memeluk menantu mereka. Alina jadi begitu canggung, pasal nya baru dua hari kemarin dia berkenalan dengan ibu mertuanya ini.


"Mommy, titip Zeo ya Nak. Kalau nakal, kasih tahu Mommy saja biar nanti Mommy kasih pelajaran." Ucap Mommy Sarah, dengan pelukan yang masih tertaut.


Mendengar perkataan sang Mommy seperti itu, membuat dia sedikit malu. Emangnya dia anak kecil, yang ada dirinya bisa memproduksi...


"Mom... Jangan membicarakan hal tidak penting," tegur Zeo kesal. Apalagi sedari tadi, dirinya terus saja digoda ini dan itu.


"Mommy kan bener!" sahut sang Mommy yang tidak aku kalah dengan anaknya.

__ADS_1


"Haish, kalian ini... Sudah-sudah jangan bertengkar! Mendingan kalian sana ke atas pelaminan dan menyalami tamu undangan." Ujar Deddy Fatah, kedua mempelai itu pun mengangguk dan tersenyum manis. Karena perdebatan dengan sang Mommy membuat Zeo lupa.


Zeo menggandeng tangan sang istri, membawa ke atas pelaminan. Dan menyalami para tamu undangan.


Beberapa jam telah berlalu, kedua nya sekarang berada di dalam kamar. Tampak sekali wajah lelah dari Alina, yang duduk di pinggir ranjang dengan gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya.


Bagaimana tidak lelah, begitu banyak tamu undangan yang memberikan doa dan ucapan selamat kepada mereka. Sementara itu, Zeo sudah di kamar mandi sekitar 15 menit yang lalu.


Tidak berapa lama, tampak lah wajah segar Zeo yang baru keluar dari kamar mandi. Senyuman mengembang dari bibir seksinya, saat melihat Alina yang sudah menjadi milik nya. Kebahagiaan membuncah dari relung hatinya, karena Allah swt, menghadirkan gadis cantik itu di dalam hidupnya.


Zeo pun mendekat kepada Alina. Dan berjongkok di depan sang istri yang memijat-mijat pergelangan kakinya. Tangan besar milik Zeo pun mengambil alih, apa yang di kerjakan istrinya. Dia duduk dengan nyaman di samping Alina, di letakkan kaki gadisnya di atas pahanya dan memijat dengan nyaman.


Sedangkan Alina di buat susah bernafas, karena kelakuan tiba-tiba suaminya. "M-Mas! Tidak usah. Aku bisa sendiri..." kata Alina dengan suara pelan, sembari menarik kakinya, namun nihil. Zeo tidak membiarkan itu terjadi. Tangan besar miliknya, terus saja memijat dengan nyaman.


"Kenapa hmm?" tanya Zeo pura-pura tidak tahu dengan wajah malu sang istri. Dia tahu saat ini, wanita yang baru saja menyandang status istrinya ini sangat malu. Kentara sekaliwajah merah sang istri yang melebihi tomat masak, di balik make up nya yang natural.


"Haha... Haha... Istriku kok lucu sekali," tawa Zeo tidak bisa dia tahan lagi, saat melihat tingkah lucu istrinya.


Alina yang merasa aneh dengan suaminya pun, memberanikan diri mengangkat kepalanya dan pandangan mereka pun bertemu. Mengerutkan kedua alisnya, karena masih melihat Zeo yang tak berhenti tertawa. "Mas Zeo kenapa tertawa?" tanya Alina dengan wajah yang heran.


"Karena kamu!" sahut Zeo pelan di samping telinga Alina, membuat sang istri mengerjapkan kedua mata nya, mendengar kalimat yang tidak pernah dia duga. Dengan cepat dia mendorong dada Zeo, agar memberi celah antara mereka yang beberapa detik lalu di kikis oleh Zeo.


Zeo mengalah dan memberikan ruang untuk Alina, melihat ada kesempatan untuk nya pergi. Dengan cepat dia berdiri, dan segera pergi. Namun, tangannya du cekal Zeo, membuat urung niatnya yang hendak lari ngacir.

__ADS_1


"Biar aku bantu, Sayang!" ucapnya.


"Hah?!" tanpa menjawab Alina, Zeo pun membawa Alina duduk di kursi meja rias. Membuka satu persatu pernak pernik yang ada di hijab Alina. Sang istri tampak begitu malu, karena ucapan absurd Zeo. Otak cantik dan polos nya di buat traveling dan berpikir keras.


"Kenapa? Salah ngira ya?" goda Zeo, dia sangat suka sekali menggoda istrinya ini. Wajah Alina yang terlihat malu-malu begitu menggemaskan baginya.


"Ihh, apaan sih Mas!" meskipun iya, Alina tak akan mungkin mengatakan nya bukan. Mau di taruh dimana mukanya.


"Sayang! kamu kok diem aja sih? perasaan yang paling banyak berbicara itu kan kamu?" tanya Zeo, yang tidak tahan dengan kebungkaman sang istri.


"Apa? jadi Mas Zeo pikir aku begitu cerewet?!" tanya Alina dengan nada tang tidak terima. Enak saja di bilang seperti itu, diakan imut dan menggemaskan.


"Lah, emang iya Sayang. Aku lihat dari tadi kamu diem mulu sih!" ucap Zeo membenarkan ucapan nya.


"Haish Mas Zeo! kok nggak peka sama sekali sih. Aku ginikan karena malu..." jawab Alina dan langsung beranjak dari hadapan Zeo untuk membersihkan diri.


"Ternyata seindah ini ya orang menikah! kenapa tidak sedari dulu aja aku menikah." Gumam Zeo sembari senyum-senyum sendiri seperti orang kurang akal.


Selagi Alina di dalam kamar mandi, Zeo menyiapkan kamar dengan baik. Baik itu dari sesuatu yang bisa mengganggu mereka, dengan kedua handphone dia silent. Dirasa semuanya sudah siap, dia pun duduk di sofa menunggu sang istri yang sedang mandi.


Saat bau sabun menyeruak ke indra penciuman nya, fokus Zeo terahlihkan. Dia melihat sang istri yang sangat mempesona, meskipun baju yang di kenakan Alina hanya baju rumahan lengan pendek dan panjangnya sebetis.


Gluk...

__ADS_1


Sang istri benar-benar menguji iman Suaminya yang setipis tisu. Sungguh dengan pemandangan Alina yang tidak mengenakan hijab saja, kecantikan nya sudah luar biasa dimata Zeo.


"Ehem... M-mas Zeo kok natap Aku seperti itu?" tanya Alina dengan malu-malu. Zeo tak menjawab ucapan sang istri, melainkan senyuman yang penuh makna.


__ADS_2