
Pertengkaran yang terjadi tadi, terasa tidak pernah terjadi. Mereka kembali tertawa bersama, dan menghabiskan malam yang indah.
*****
Pagi yang cerah menyapa bumi dengan ceria. Sebagaimana keceriaan yang melanda Kaira dan Leinard. Di pagi ini, dia sudah sibuk dengan Baby Athaf. Mengurus sang buah hati, dengan penuh kasih sayang. Si kecil terlihat sangat tampan dan wangi, karena sudah di mandikan Kaira saat petang tadi.
Kaira memberikan Baby nya asi dan menidurkan anaknya yang hampir terlelap.
"Sayang..." panggil Leinard sembari membawa dasinya. Mendengar suara Deddy nya, mata sikecil pun terbuka kembali dan merengek.
"Say..." Leinard kembali memanggil Kaira penuh cinta, tapi mendapat isyarat untuk diam dari sang istri. Dia yang mengerti tidak boleh rame, langsung terdiam. Karena tidak mau mengganggu tidur pagi anaknya.
"Putra Deddy ternyata sangat ngantuk ya!" ujar Leinard setelah dirinya ikut berbaring di samping Baby Athaf.
"Iya Deddy, aku sangat mengantuk." sahut Kaira menirukan suara anak kecil. Hati kecil Leinard sangat bahagia, mendengar ucapan Kaira yang menyebut dirinya seorang Deddy. Tak pernah dia bayangkan, akan bergelar Deddy di usianya saat ini. Padahal dulu, di tidak menginginkan pernikahan karena dunia yang dia geluti. Namun sekarang, dia dengan rela meninggalkan dunia bawah tanah nya, sejak memperistri Kaira.
"Baby Athaf, jangan buat Deddy iri begini dong! Nanti kalau tidak bekerja kamu sendiri yang susah." Leinard protes kepada anaknya pelan, karena membuat dirinya menginginkan hal yang sama.
Pluk!
Kaira memukul bahu Leinard, setelah sadar dengan ucapan suaminya yang mengarah ke hal-hal dewasa.
"Aww... Sayang sakit tahu! Kok Mas di pukul sih," kata Leinard mengaduh kesakitan dan tidak menerima karena dirinya dipukul. Meskipun pukulan Kaira tidak ada apa-apa baginya, tapi Leinard tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
"Yah, lagian sih Mas Leinard bicaranya ngelantur. Di depan Baby Athaf lagi," protes Kaira. Enak saja, otak suci anaknya mau di cemari dengan ucapan-ucapan unfaedah suaminya ini. Kaira tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Ck! Sayang kamu ini apaan sih. Anak kita tidak akan mengerti juga," sahut Leinard tidak mau kalah. Mendengar ucapan suaminya, Kaira melototkan mata tidak terima.
"Pokok nya nggak boleh!" sanggah Kaira. Dia pun bangun, memindahkan putranya ke dalam box tidur si kecil. Dirinya harus mengurus bayi besarnya, agar berhenti berbicara.
Selesai menidurkan buah hatinya, Kaira pun kembali mendekat kearah sang suami. Lalu mengulurkan tangan kecilnya, meminta Leinard segera bangun.
__ADS_1
Dia pun mengikuti istrinya, dan duduk di tepi ranjang. Kaira mengambil dasi yang ada di genggaman Leinard. Setelah nya, dia memasang kan dasi di kerah baju Leinard.
Dasi terpasang begitu rapi, lalu Kaira memasang jas suaminya. Menepuk-nepuk pelan pundak Leinard, agar terlihat rapi. Beribu-ribu kali, Kaira di buat terhipnotis dengan ketampanan wajah sang suami. Dilihat dari segi manapun, Leinard sangatlah tampan.
Mengingat ketampanan wajah Leinard tang tidak ketulungan, membuat Kaira dilanda api cemburu. Karena sang suami pasti di kelilingi gadis-gadis yang cantik dan seksi.
Leinard yang melihat perubahan wajah sang istri jadi heran, perasaan beberapa menit yang lalu Kaira tampak bahagia. Tapi sekarang, wajah cantik istrinya diliputi mendung yang entah darimana datangnya.
"Kenapa, hmm?" tanya Leinard lembut, menatap dengan dalam mata indah milik Kaira.
"Mas Leinard, sangat tampan." Jawab Kaira seadanya, tapi bagi dia ucapan istrinya tidak nyambung. Nanya apa, jawaban nya apa.
"Hah?!" tanya nya tambah bingung.
"Iya Mas, kamu terlalu tampan untuk aku yang biasa saja, aku merasa..." ujar Kaira merendah.
Cup!
Seketika ucapan Kaira berhenti, karena tindakan suaminya yang tiba-tiba mencium dirinya.
"Aku merasa insecure saja, karena memandang wajah tampan mu. Pasti, di luar sana banyak banget wanita yang deketin kamu." Tutur Kaira jujur.
"Ehm... Jadi ceritanya kamu cemburu karena aku sering bertemu dengan wanita saat bekerja. Kok kamu kurang percaya diri, sih Sayang! Biasanya kan kamu tidak seperti ini." Kata Leinard.
Tanpa menjawab ucapan Leinard, Kaira hanya berputar saja, di depan Leinard. "Lihat kan, Mas! Aku gemoy...!" cicit Kaira pelan.
Leinard mengulum senyum melihat tingkah Istrinya, sangat menggemaskan. "Ish... Mas Leinard kok malah senyum-senyum seperti itu." Ucap Kaira memanyunkan bibir nya.
Cup!
LAgi dan lagi, Leinard hanya memberi Kaira ciuman. Saat Leinard akan mencium nya kembali, dengan cepat kedua tangannya menutup rapat-rapat bibirnya.
__ADS_1
"Stooop, Mas!" ujarnya samar-samar karena bekapan tangan nya sendiri.
"Mas-mu ini nggak akan berhenti mencium kamu, jika aku mendengar ucapan seperti tadi." ucap Leinard tersenyum smirk, menikkan satu alisnya.
"Gimana? Mau lanjut ngomong yang tadi? Apa kita berhenti saja?" tanya Leinard memepet tubuh kecil istrinya ke dinding.
Kaira mengangguk patuh, dengan ucapan Leinard. Dia tak mau jika terus-terusan dicium saat berbicara.
"Bagus, gadis yang patuh." Leinard mengusap pelan surai hitam panjang milik Kaira. "Sayang... Dengar ini ya! Di mataku kamu wanita tercantik, yang sudah menawan seluruh hati Mas. Jadi, bagaimana mungkin, aku bisa melirik wanita lain, sedangkan dirumah saja melebihi bidadari." Ucap Leinard serius.
Mendengar ucapan suaminya, Kaira mengangkat wajahnya, menatap dalam mata yang penuh kelembutan, mencari kebohongan di dalam nya. Sayang nya, Kaira tidak menemukan itu sama sekali. Dia sangat beruntung, dicintai laki-laki seperti Leinard.
"Terimakasih banyak!" Kaira berucap sembari bulir bening turun dari matanya. Leinard menautkan kedua alisnya, menatap heran.
"Sayang, hai... Kamu kok malah nangis?" Leinard bertanya dengan nada khawatir.
"Kenapa, hmm?" tanya nya lagi. Namun, Kaira tidak menjawab. Dia malah memeluk suaminya dengan erat, dia sangat bersyukur Leinard hadir di dalam hidupnya.
"Aku terharu mendengar ucapan Mas Leinard barusan. Aku mencintai Mas..." aku Kaira pada akhirnya.
"Haha... Haha... Aku kira apa sayang! Aku sampai takut banget tahu, lihat kamu yang tiba-tiba menangis seperti itu."
"Maas... Kok tidak di jawab?!" rengek Kaira.
Leinard tersenyum lebar, memperlihatkan gigi putih yang rapi. "Aku juga sangaat mencintaimu, Nyonya Mahmud." Ucap Leinard di telinga Kaira lembut.
Kaira melonggarkan pelukannya, lalu menatap Leinard kembali. "Mas kok tidak pergi ke kantor?" tanya Kaira.
"Ya, nggak bisa ke kantor lah Sayang." Jawab Leinard menggoda.
"K-kenapa?" tanya Kaira heran.
__ADS_1
"Karena ada orang yang memeluk ku begitu erat, takut di tinggal pergi..." kembali lagi Leinard menggoda istrinya, menaik turunkan alisnya.
"Hehe... ya maaf Mas!" Kaira pun melepas pelukan nya.