Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 84. THSM


__ADS_3

Setelah mendapat kan pesan dari Zahra, Kanaya segera bergegas keruangan Kaira. Ia sudah tidak sabar ingin melihat bayinya Kaira. Sungguh ia sangat bahagia, apalagi dengan keadaan nya yang belum hamil juga sampai sekarang. Membuat ia sangat antusias, dengan kelahiran ponakan nya. Meskipun sudah berbagai cara ia lakukan, tapi semuanya masih belum membuahkan hasil.


Apa lagi, ketika sang mertua bertanya-tanya dengan kehadiran buah hati mereka. Meskipun kata Sean, ia tak apa-apa, biar bisa pacaran dulu. Lagian, usia pernikahan mereka pun belum genap satu tahun. Namun,tetap saja! Kanaya merasa sangat sedih.


Tanpa menunggu sang Suami, Kanaya langsung saja ke ruangan Kaira, dengan seulas senyum yang tak pernah luntur dari permukaan bibirnya. Membayangkan betapa lucunya Bayi Kaira nantinya.


Namun, saat sampai di depan pintu ruangan Kaira, ia malah melihat keluarga besar itu ada di luar semua, berjalan ke arah ruangan Kaira. Kanaya pun tidak jadi untuk mengetuk pintu, ia mengarahkan kakinya mendekati mereka.


"Assalamualaikum, Umma, Tante, dan semuanya..!" Kanaya sembari mengecup takzim punggung tangan semuanya.


"Wa'alaikumsalam, Nak! Kamu baru dateng ya?" tanya Umma Fatimah sembari mengajak Kanaya untuk duduk di kursi tunggu, di depan ruangan Kaira.


"Iya, Umma! Kanaya baru selesai memeriksa pasien tadi. Dan bertepatan dengan itu juga, pesan dari Zahra masuk! Katanya Kaira beru selesai melahirkan. Maka dari itu, Kanaya cepat-cepat deh kesini." Tutur nya dengan senyuman manisnya.


"Ohh,,,iya! Zahra sama yang lain kemana?" tanya nya, karena tidak melihat batang hidung sahabat nya itu.


"Mereka udah pamit tadi, Apalagi suaminya terus mengajak sang istri pulang, supaya bisa istirahat katanya." Papar Umma kepada Kanaya.


"Hmm, kalau itu mah! nggak usah ditanya lagi. Dia itu, sangat posesif." Tutur nya, mengingat tingkah laku suami sahabat nya itu.


"Terus Umma, gimana dengan anaknya Kaira? Dia sehat kan...?" Emang pada dasar nya Kanaya tidak sabaran, ia mencecar Umma dengan berbagai pertanyaan.


"Ooh, Iya Nak. Alhamdulillah, bayinya Kaira selamat dan sangat sehat, tanpa kekurangan apapun. Dia juga sangat tampan, sama seperti Deddy nya. Tapi sayangnya, Umma belum sempat menggendong, cucu Umma karena Deddy nya." Aku Umma dengan lesu, padahal ia sangat ingin menggendong cucu nya tadi.


"Loh kenapa? Umma tidak menggendong Baby nya? Kan sayang Umma..." ujar Kanaya yang ikut menyayangkan itu.

__ADS_1


"Iyalah Nak! Orang Baby nya suruh di kasih asi dulu sama dokternya. Tadinya sih mau nungguin Kaira saja di dalam, tapi Deddy nya posesif banget! Tidak membiarkan kita di dalam untuk melihat Kaira dan putranya." Ujar Mommy Ranty menimpali dengan wajah kesalnya.


"Ha...ha...ha..." Sedangkan Kanaya, di buat tertawa mendengar cerita dari wanita paruh baya itu. 'Maa syaa Allah, beruntung banget ya punya mertua modelan begini.' batin Kanaya terharu dengan mereka.


"Kamu kok ketawa, Nak? Tidak lucu loh itu! Umma sama besan Umma aja kesal, tapi kok aneh ya! Nak Kanaya malah ketawa." Dumel Umma kepada teman anaknya itu. Yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.


"He..he...he...! Maaf, maaf, Umma! Bukan maksud Kanaya seperti itu. Hanya saja ekspresi Umma sama Tante Ranty abisnya lucu banget. Kanaya aja sampai di buat nggak tahan pengen ketawa..." Ujar nya merasa tidak enak hati, tertawa dia atas penderitaan orang lain.


Melihat Umma yang hanya diam, membuat Kanaya semakin tidak enak hati. "Umma, Tante Ranty! Sekali lagi, Kanaya minta maaf ya,,Please! Kanaya benar-benar minta maaf..." katanya lagi bersungguh-sungguh.


"Ha..ha..ha, " tawa keduanya yang sudah berhasil menggoda Kanaya.


"Ish,,,Umma sama Tante Ranty...." rajuk nya. Kanaya yang tadinya ingin segera bertemu dengan ponakan nya, jadi lupa! Karena ke absurd tan keduanya.


Sedangkan di dalam kamar, Leinard terus saja menggoda sang istri. Sebenarnya, ia sama sekali tidak lupa nama putra pertama mereka. Hanya saja, Leinard suka melihat wajah Istrinya yang cemberut seperti itu.


"Mas, yang bener dong....! Masa iya, sama nama anak sendiri lupa sih! Kan aneh ya.. " kata Kaira lagi, untuk yang ke sekian kali nya. Dan jawaban sang suami pun selalu sama. Membuat iya jengkel.


Leinard malah ketawa, melihat sang istri merajuk. "Menggemaskan...." celetuk Leinard, tanpa tahu siatuasi dan kondisi.


"Ish,,,gemas apaan? Yang ada kesel tahu...!" Kaira kembali fokus lagi, ke wajah mungil si kecil.


"Sayang! Deddy kok tega banget yaa? Masa nama anak Mommy yang tampan ini Dia lupa? Haish...Haish...benar-benar Deddy yang buruk." Kata Kaira sembari mengelus pipi, anaknya yang sangat lembut.


"Sayang....! Kok kamu tega sih. Masa pikiran anak kamu yang masih kecil, di kasih pemikiran jelek tentang Deddy nya." Rengek Leinard tidak terima. Mana mau Dia di katakan, Deddy yang buruk. No!!.

__ADS_1


"What?! Mas bilang apa tadi? Anak aku. Cuma anak aku?!!" tanya nya lagi tak terima.


'Loh, kok jadi seperti ini sih?' batin Leinard. Saat melihat kucing betina nya ngamuk.


"Nggak, Sayang! Maksud aku itu, anak kita. Yah, anak kita." Ucap Leinard, mempertegas 'Anak Kita.'


"Haish....! Pintar ngeles."


"Udah-udah! Kamu nggak mau tahu, siapa nama anak kita?" tanya Leinard, mengalihkan pembicaraan mereka.


"Iya,,,iya! Namanya siapa, Mas?" tanya nya antusias.


"Namanya...Athaf Julio Maxim Mahmud. Nama panggilan nya Baby Athaf, saja." Ujar nya. Kaira yang mendengar itu, langsung berbinar, nama untuk putranya sangat bagus.


"Gimana ,Sayang?." tanya Leinard, meskipun wajah sang istri tampak bahagia. Tetap saja, dirinya ingin mendengar langsung pendapat sang istri.


"Bagus kok, Mas. Aku suka, dan tentunya Baby Athaf juga." Jawab nya, sambil mencium pipi putra nya. Begitu pun dengan Leinard, ia juga mencium pipi sang putra penuh haru. Bagaimana tidak? Sekarang ia sudah menjadi seorang Deddy.


"Sayang, mendingan kamu istirahat juga, biar aku yang menjaga kalian." Ujar Leinard, ia mengambil sang buah hati, yang tertidur di gendongan sang Istri. Lalu, memindahkan anaknya pada Box bayi di sebelah brangkar sang istri.


Kaira yang memang perlu istirahat, hanya mengangguk patuh, mendengar ucapan sang suami. Leinard pun membantu, membaringkan Kaira. Menarik selimut, sampai batas dada. Lalu mencium kening sang istri, penuh dengan cinta.


"Aku sangat mencintai Sayang! Wanita hebat, Ibu dari anak-anakku. Terima kasih banyak, sudah mau melahirkan Baby Athaf." Tak terasa, air mata Leinard mengalir dari kelopak matanya, menyentuh dan membasahi pipi sang istri.


Tangan Kaira terulur, menghapus buliran bening itu. "Aku juga sangat mencintai Mas, Deddy terbaik untuk anak-anak kita." Ujar Kaira, sembari menyatukan kening mereka.

__ADS_1


__ADS_2