
Setelah kepergian mobil Leinard, barulah Kaira kembali masuk ke dalam. Sebelum dia menaiki tangga, suara pelayan menghentikan langkah nya. "Nyonya," panggil Bi Darmi. Saat melihat majikannya yang baru kembali.
"Iya, Bi Darmi! Ada apa?" tanya Kaira sopan. Dia pun berhenti tepat di depan Bi Darmi.
"Ini, Nyonya! Ada paket untuk anda. Penjaga menemukan ini saat membuka gerbang pagi tadi." Ujar Bi Darmi sembari menyerahkan kotak itu ke tangan Kaira. Kaira pun menerima, walaupun dia merasa heran. Kaira jarang sekali berbelanja online.
"Paket ini benar untuk saya, Bi? Perasaan aku tidak membeli apapun. Siapa pengirim nya ya?" Kata Kaira penasaran.
"Bibi juga kurang tahu, Nyonya! Mungkin ini paketan dari Tuan untuk nyonya Kaira." Bi Darmi berpikir positif. Meskipun terasa janggal.
"Masa iya sih, Bi. Kalau Mas Leinard biasanya ngasih langsung. Yaudah deh, paket nya aku bawa ke atas aja ya, Bi." Pamit Kaira sembari pergi dari hadapan Bi Darmi.
*****
"Bagaimana? Kamu sudah melakukan apa yang saya perintahkan?" tanya Xaron kepada salah satu anak buahnya.
"Sudah, Tuan. Saya melakukan sesuai dengan perintah anda." Jawab pengawal Xaron patuh.
Mendengar itu, seringai licik terbit dari bibirnya. "Bagus, aku sudah tak sabar mengetahui bagaimana reaksinya." Kata Xaron mengerikan. Dendam nya kepada Leinard membuat dia melakukan segala cara, untuk menghancurkan Leinard.
"Aku pastikan akan menghancurkan Leinard sampai tak tersisa!." Amarah Xaron meluap-luap. Dengan kedua tangan nya, yang mengepal erat.
"Anda tenang saja, Tuan. Kali ini pasti rencana kita berhasil. Apalagi, sekarang Leinard tidak pernah aktif lagi di dunia gelap nya." Ujar salah satu pengawal lagi, kepada Xaron.
"Tentu saja, kali ini kita harus berhasil. Aku tidak mau tau bagaimana pun, Leinard harus mati di tangan ku. Jika tidak, kalian yang akan menanggung semua resikonya!" semua pengawal tampak takut, mendengar ucapan Tuan nya. Jika mereka gagal, maka nyawa merekalah yang menjadi taruhan nya.
Drttt!
Ponsel Xaron berdering, tanda panggilan masuk ke handphone nya. Dia pun merogoh ponsel, dari saku celana nya.
Dia tersenyum, melihat nama seseorang yang menghubungi dirinya. Dengan cepat dia menggeser icon hijau, untuk menjawab panggilan itu.
__ADS_1
"Hallo... Ada hal penting apa yang ingin kamu sampaikan" tanya Xaron dengan tenang. Dia senang karena memiliki patner untuk membinasakan musuh nya.
"Hmm, tentunya hal yang membuat kamu senang." jawab orang di seberang sana.
"Ck! Jangan berbasa basi, katakan saja apa yang kamu tahu!" pinta Xaron tidak mau bertele-tele. Ya, memang seperti itulah dirinya.
"Selalu seperti itu,,," dia pun menceritakan rencana nya, yang akan menyingkirkan Leinard. Dia senang karena bisa bersekutu dengan seorang Xaron yang terkenal sangat licik.
"Bagus, Galelo."
Tuuttt...
Xaron mengakhiri panggilan mereka secara sepihak.
*****
"Dokter... Dokter..." panggil salah satu perawat yang satu bangsal dengan Kanaya. Dia tampak begitu panik. Dia menghampiri Sean yang baru saja keluar dari ruang operasi. Nafas nya, ngos-ngosan! Membuat dia harus menjeda ucapan nya sebelum berbicara lebih lanjut.
"Maaf, Tuan. I-itu... Istri anda pingsan!" ujar nya setelah mengatur nafas nya dengan baik.
"Hah?!" Sean terkejut mendengar ucapan orang itu.
"Nona Kanaya pingsan, setelah memeriksa pasien nya," ujar nya lagi.
"Dimana dia sekarang?" tanya Sean yang tampak khawatir.
"Nona Kanaya ada di ruang obigyn!" jawab nya, mendengar itu Sean pun langsung pergi dari hadapan perawat itu, tanpa mengucap apapun lagi.
Dengan berjalan tergesa-gesa, dia masuk ke ruang obigyn. Tanpa mengetuk pintu, Sean langsung menerobos masuk. Bertepatan dengan itu, Kanaya siuman.
"Sayang!" panggil Sean dengan lembut, tangan nya mengusap kepala Kanaya penuh kasih sayang.
__ADS_1
Kanaya tersenyum manis, melihat suaminya yang terlihat begitu khawatir. "Sayang, kamu kenapa kok pingsan? Apa yang sakit, hmm?" tanya Sean lagi, karena tidak mendapat jawaban dari Istrinya.
Kanaya menggelengkan kepalanya pelan, "Aku baik-baik saja, Abi. Mungkin, karena terlalu kecapean jadinya begini," ujar Kanaya pelan, dengan wajah sayu nya.
"Haish, Sayang! Lain kali, kamu harus mendegarkan aku. Kamu tahu, saat aku mendengar kamu seperti ini, duniaku rasanya berhenti. Aku mohon, tidak ada lain kali, hmm!" kata Sean lagi. Dia pun mencium wajah sang istri tanpa ada yang dilewati.
Sean tidak peduli dengan keberadaan, dokter Dinda yang menangani Istrinya. Yang dia lihat, hanya Kanaya seorang.
Hingga deheman dokter itu, menyadarkan dirinya. Bukan hanya mereka yang ada di ruangan ini, melainkan sosok wanita yang sudah berumur. "Ehm..."
Sean menjadi sangat malu, karena sudah memperlihatkan kemesraan mereka sehingga membuat jadi salah tingkah. "Maaf, dokter." Ujar nya, setelah menghentikan aktivitas yang sangat menyenangkan baginya.
"Tidak apa-apa kok, Tuan. Saya mengerti!" sahut dokter Dinda, diakan pernah muda. Jadi, tahulah bagaimana bahagianya mereka saat mendengar berita kehamilan.
"Makasih dokter, terus bagaimana dengan keadaan istri saya?" Sean bertanya keadaan istrinya.
Wanita itu pun tersenyum, "Selamat ya, Tuan! Istri anda tengah hamil muda saat ini, saya sudah melakukan usg, tadi. Nona kaya hamil sudah 5 minggu," Dokter Dinda pun menyerahkan hasil usg itu ke tangan suami pasien nya. Sedangkan Sean dan Kanaya di buat terperangah! Tak tahu harus mengekspresikan wajah seperti apa. Yang pasti mereka sangat bahagia.
Tak terasa air mata Sean mengalir begitu saja, dia melihat calon buah hatinya, yang tidak hanya satu tapi dua. Ya, ini dua. Penantian mereka selama ini, akhirnya terbayar juga dengan kehamilan sang istri. 'Makasih Ya Allah...' batin Sean. Dia sangat bahagia sekali.
Sean pun memeluk Kanaya yang masih terbaring lemah, dia tak malu memperlihat kan tangis bahagianya di depan dokter Dinda. "Sayang, kamu hamil, kamu tahu? baby nya ada dua. kamu mengandung bayi kembar." Bisik Sean di telinga Kanaya. Sedangkan Kanaya hanya menangis saja, dai sangat bahagia akhirnya Allah swt, memberikan mereka kepercayaan untuk menjadi orang tua.
"A-abi,,,kamu beneran kan? tidak lagi membohongi aku?" tanya Kanaya tidak percaya. Takut nya ini hanya mimpi, karena dari saking pengen nya dia dapet momongan.
Cup!
Sean mencium kening istrinya, begitu lembut dan dalam. "Bagaimana? kamu masih mengira ini mimpi?" Sean bertanya lagi, dengan senyuman menawan nya. Tanpa menjawab ucapan sang Suami, tangis Kanaya semakin kencang. "Terima kasih banyak, Ya Allah..." kata Kanaya lirih di sela-sela tangis nya. Dengan telaten, tangan kekar Sean menghapus air mata Kanaya.
"kalau begitu, saya akan menuliskan resep dan vitamin untuk Nona Kanaya. Anda bisa menebus nya , Tuan." kata dokter Dinda, lalu pergi dari hadapan mereka.
*****.....*****
__ADS_1