
Dengan kecepatan yang sangat cepat Juno mengemudikan mobil, menyalip beberapa mobil yang tampak sedikit padat di jalan raya. Juno tidak peduli dengan itu, saat mendengar kata perintah dari Tuannya maka akan ia lakukan, termasuk seperti saat ini. Di dalam otak Leinard, hanya penuh dengan pikirannya tentang keselamatan sang istri. Apa yang terjadi sampai sampai istrinya harus di bawa ke rumah sakit?.
Beberapa lama kemudian, akhirnya mobil mereka sampai di rumah sakit. Dengan cepat Leinard turun dari mobil, tanpa menunggu sang Asisten membukakan pintu, ia langsung saja pergi ke sana.
"Dimana istri saya? Apa yang terjadi? Kenapa Kaira bisa sampai seperti ini?" Cecar Leinard kepada ketiga sahabat Kaira yang menunggu, di kursi tunggu di depan, setelah dirinya berdiri di hadapan Mereka.
"Kami juga belum tahu! Bagaimana pekembangan Kaira di dalam sana? Kita tunggu saja dokter nya keluar." Ujar Raina, menjawab pertanyaan Leinard padanya.
Leinard pun duduk dengan gusar di bangku tunggu yang ada, ia bersebelahan dengan asisten nya. Ia meremas rambut nya frustasi, mendengar istrinya yang seperti ini, membuat jantung nya seakan berhenti berdetak.
"Juno, cari tahu apa yang terjadi sama Nyonya mu, tuntas sampai ke akar-akarnya, Aku tidak mau tahu! bawa dia ke markas." Titah Leinard dengan suara datat tidak terbantahkan. Ia sudah lama sekali untuk menahan diri agar tidak berkecimpung lagi di dunia gelapnya, tapi keadaan membawa dirinya harus melakukan itu. Karena ia tidak akan pernah melepaskan orang yang sudah mengusik dirinya, apalagi orang-orang yang paling ia cintai. Leinard tak akan pernah melepaskan orang itu dengan mudah, ia akan memberantas sampai habis.
"Baik, Tuan!" Sahut Juno dengan tegas. Ia pun mendekap istrinya sekali lagi, lalu berdiri hendak pergi.
"Aku pergi dulu Sayang, Assalamualaikum..." Pamit Juno pada sang istri, Yang sedari tadi menangis sesegukan. Sampai-sampai mata indah istrinya ini sembab.
__ADS_1
"Iya, Mas! Kamu hati-hati yah, Waalaikumsalam." Jawab Raina, ia tahu Suaminya mendapat kan tugas dari Tuan nyaLeinard, jadi ia tak banyak bertanya lagi. Apalagi pikirannya sekarang hanya berisi dengan bagaimana keadaan sahabat nya itu? Yang sedang berjuang di dalam sana untuk bertahan.
Dengan wajah yang sudah memerah karena menahan gejolak amarah di dalam dirinya, namun, rasa khawatir yang terpancar dari raut wajahnya lebih mendominasi. 'Aku janji Sayang, tidak akan melepaskan mereka dengan mudah. Akan kubuat mereka merasakan apa yang kamu rasakan saat ini, akan kubuat mereka memohon kematian mereka sendiri, daripada hidup lebih panjang dan menghirup udara lebih lama lagi!.' Batin Leinard bersuara. Yah, tangan nya sendiri yang akan mencabut nyawa orang yang sudah bermain-main dengan nya.
Apalagi saat ini sang istri hamil besar, membuat dirinya tambah kalut. Ia takut akan terjadi sesuatu yang buruk kepada istri dan calon anaknya, jika saja itu itu terjadi, ia tidak akan memaafkan orang itu. Satu jam berlalu, tanda tanda dokter akan keluar dari ruangan Kaira tak ada sama sekali, hal itu mampu membuat hati seorang Leinard tambah gelisah, bagaimana tidak? Pikiran nya sudah yang aneh-aneh, sehingga membuat ia tidak bisa berpikir dengn tenang dan rasional.
Tak berapa lama kemudian, dokter pun keluar dari ruang rawat Kaira. Leinard dan sahabat Kaira langsung saja berdiri dari tempat duduknya. Lalu mereka menghampiri dokter itu.
"Keluarga pasien?" tanya sang dokter yang melihat Leinard dan teman-teman Pasien mendekati dirinya.
"Iya dok, saya Suaminya." Jawab Leinard kepada sang dokter dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran. Ia sudah tidak sabar mendengar kabar istrinya.
"Tuan Leinard lebih baik ikut ke ruangan Saya, nanti Saya akan menjelaskan disana lebih rinci." Jawab dokter itu, ia langsung saja mengetahui laki-laki pengusaha di depannya ini, siapa yang tidak akan tahu dengan seorang Leinard Julio Maxim. Karena Ia tidak mungkin memaparkan keadaan pasien dengan keadaan yang seperti ini.
"Baiklah dok," sahut Leinard dengan mengangguk kan kepalanya. Lalu ia pun mengikuti langkah sang dokter yang membawa ia menuju ruangan dokter itu.
__ADS_1
*****
Sedangkan di sisi lain, tampak mobil hitam yang di kendarai oleh Mommy Ranti dan Deddy Ervan meluncur dengan kecepatan diatas rata-rata.
"Pokok nya Deddy harus mencari tahu! Apa yang terjadi sebenarnya kepada menantu kita, sampai-sampai membuat dirinya seperti ini." Ujar Mommy Ranti dengan tegas, ia terus saja berbicara seperti itu, dengan air mata yang tak mengering. Karena sedari tadi Dia terus saja mengucurkan cairan putih bening itu.
"Iya, Sayang. Kamu tenangin diri dulu, Aku pasti kok mencari tahu semuanya, dan Aku tidak akan melepaskan nya!. Sekarang berhenti nangis ya, Aku yakin menantu kita akan baik-baik saja, Dia itu perempuan yang kuat." Bujuk Deddy Ervan kepada sang istri, karena Ia pun tak rela melihat air mata istrinya berlinang.
"Gimana mau berhenti Deddy?! Sedangkan menantu Mommy terbaring sakit di sana," cetusnya dengan kesal, bisa-bisa sang Suami menyuruh dirinya berhenti menangis. Sedangkan itu jalan satu-satunya yang membuat ia lebih tenang. Ia tidak peduli dengan apapun saat ini, apalagi Kaira sudah ia anggap putrinya sendiri, jadi Mommy Ranti semakin tidak bisa menahan diri untuk tidak bersedih dan menangis.
Mendengar ucapan sang istri seperti itu, membuat Deddy Ervan tidak bisa berkata-kata lagi, ia membiarkan istri nya melakukan apa yang ia inginkan. Orang Tua mana yang tidak sekalut Mommy Ranti saat melihat anak menantu nya terbaring lemah dan sakit. Pasti orang tua manapun melakukan hal yang sama, bisa jadi lebih dari itu.
Tak berapa lama, akhirnya mereka sampai di rumah sakit tempat Kaira di rawat. Dengan lekas Mommy Ranti turun dari mobil, kebetulan di pintu masuk ia ketemu dengan besannya, Abah dan Juga Umma nya Kaira. Mereka pun berjalan bersama-sama.
Tampak para orang tua Kaira dan juga orang tua Leinard berjalan dengan tergesa-gesa ke arah teman-teman Kaira yang duduk di kursi tunggu. Ya, Leinard sudah memberitahukan keadaan sang istri kepada ayah mertua dan juga Mommy nya. Dan setelah mendapat kan kabar buruk tentang menantu kesayangan nya itu, membuat Mommy Ranti menangis tiada henti. Sepanjang perjalanan tadi, ia terus saja menitikkan air mata saat mengingat keadaan menantunya yang di kabarkan masuk rumah sakit, apalagi dalam kondisi hamil besar seperti itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum,,," salam Mereka kepada sahabat dari anak nya, yang duduk dengan mata yang sembab.
*****.....*****