
"Sayang....!" panggil Leinard pada Kaira.
"Apa Mas Leinard?" sahut Kaira. Memiringkan tubuh nya sedikit ke arah Leinard.
"Lusa kan hari pernikahannya Juno, kamu mau datang apa tidak?" tanya Leinard mengalihkan perhatian Kaira dari kejadian tadi.
"Mas Leinard kok nanya kayak gitu! Ya dateng lah. Orang sahabat Kai juga!" ucap Kaira merasa pertanyaan sang suami itu tidak perlu.
"Hmm,,,kamu udah beli hadiah enggak buat teman kamu itu?" tanya Leinard lagi.
"Belum sempat beli aku Mas Leinard, Menurut kamu cocoknya ngasih hadiah apa ya mas?" tanya Kaira mengetuk-ngetuk jari telunjuk nya di dagu yang tertutup masker sembari berfikir keras.
"Baby! Ngasih hadiah aja segitu banget mikirnya. Mereka kan pengantin baru nantinya, jadi mereka butuh banget waktu berduaan. So! Kita kasih tiket bulan madu saja. Bagaiman? Mau tidak?" kata Leinard.
"Iya juga ya! Okey boleh itu aja. Tapi ngomong-ngomong kamu kok fikirannya langsung kecantol ke honeymoon ya Mas? Kenapa tidak hadiah yang lain? Hayoo,,,ngaku pasti mikirnya terus ngecangkul!" tutur Kaira sambil menebak-nebak isi pemikiran Leinard yang pasti menjurus ke satu titik itu.
"Kamu mah Yank, kok ikut-ikutan bicara ke arah sana. Ya, enggak juga sih! Aku itu lihat dari pengalaman kita aja. Soalnya aku tidak mau jauh-jauh terus dari kamu, pengennya yah nanem. Biar cepat ada debay nya!" kata Leinard berbicara tanpa dosa. Sedangkan Kaira yan gemas dengan Leinard langsung menjewer telinganya.
"Ihh,,,mesum banget tahu enggak sih! Tidak malu apa berbicara seperti itu. Kan ada pak Lukman yang ikut mendengar!" ujar Kaira gemas.
"Aww...aww! Sakit Baby. Itu kan emang kenyataannya Yank, masa aku salah ngomong kayak gitu." tutur Leinard sambil memegang telinganya yang memerah. Sungguh telinganya tidak sakit, ia hanya malu sama pak Lukman yang melihat dirinya di jewer seperti itu.
Pak Lukman yang di sebut-sebut namanya, hanya diam tidak berani bersuara. Melihat pasangan halal itu, membuat fikiran pak Lukman bernostalgia saat bersama istrinya. Sayang, sang istri di panggil ke pangkuan sang maha kuasa terlebih dahulu.
"Udah ah! Jangan bicara itu terus. Lalu bagaimana dengan hadiah nya? Enaknya mereka kemana ya mas bulan madunya?" tanya Kaira kembali.
"Teman kamu itu, sukanya suasana yang bagaimana?" ujar Leinard.
"Kalau Raina sih orang nya enggak pilih-pilih! Dia juga suka tempat-tempat yang eksotis gitu. Waktu kami masih belum nikah, kami pengen liburan ke Bali" ucap Kaira.
__ADS_1
"Yaudah kalau begitu Honeymoon ke Bali aja! Sekalian kalau kita mau liburan juga." kata Leinard sembari tawar-menawar kepada Kaira. Barangkali pingin ke sana juga, kan bisa bulan madu massal sembari ngajak yang lain.
"Yeee, itu mah maunya kamu Mas. Aku kan masih hamil muda jadi enggak boleh bepergian jauh-jauh." ucap Kaira kepada Leinard.
"Iya...iya Baby! Terserah kamu saja aku ngikut." ucap Leinard.
Tak terasa mobil mereka memasuki mansion, jarak tempuh yang jauh tidak terasa sama sekali. Dari saking asyik nya mereka mengobrol. Mereka baru sadar saat pak Lukman mematikan mesin mobil.
"Sudah sampai ya?" tanya Kaira polos.
"Ya iyalah Sayang! Mobilnya kan jalan." ucap Leinard tertawa, lucu sekali. Lalu beranjak turun terlebih dahulu. Ia pun memutari mobil membuka pintu.
"Ngeselin tahu....!" ujar Kaira ngambek. Sebenarnya ia malu karena di ketawain Leinard. Kaira turun dari mobil, tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Yah,,,yah kok ngambek Yank!" ujar Leinard mengikuti langkah kecil sang istri.
"Sayang....maafin aku! Aku enggak maksud bikin kamu ngambek, aku ketawa karena melihat kamu ngegemesin. Beneran deh!" ucap Leinard meyakinkan Kaira kedua tangannya pun menelungkup menjadi satu di depan dada.
Karena Kaira belum bereaksi apapun, Leinard memeluk tubuh sang istri dari belakang. Tiba-tiba cairan bening jatuh mengenai tangan Leinard yang mendekap perut Kaira. Ia pun membalik tubuh sang istri agar menghadap ke arahnya.
Buliran bening itu, sudah menganak sungai dengan derasnya. Leinard pun kembali memeluk Kaira, membawanya kembali dalam dekapan hangat miliknya. Kaira menumpahkan kekesalannya menangis tersedu-sedu. Sampai kemeja yang dikenakan oleh Leinard basah membentuk sebuah peta.
"Hei...Sayang....!" ujar Leinard lembut.
"J-jangan bi-cara dul-u,,,aku masih pengen kayak gini." sahut Kaira tergugu. Leinard pun menurut tidak banyak bertanya atau apapun lagi, yang ia lakukan mengelus pundak bergetar sang istri.
Tidak lama kemudian, Kaira mendongakkan wajahnya melihat ke arah sang suami. Tapi tetap enggan berbicara. "Kenapa hemm?" tanya Leinard sambil mengusap rintik buliran bening itu.
"A-aku malu..." jawab Kaira.
__ADS_1
"Malu sama pak Lukman...?" tanya Leinard lagi. Kaira menggelang kan kepala nya. Kedua alis Leinard terangkat jadi satu 'terus dia malu sama siapa? Sampai nangis seperti itu' batin Leinard.
"Malu sama kamu Mas." cicit Kaira pelan, tapi tetap masih terdengar jelas oleh sang suami. Apalagi, Leinard memiliki pendengaran yang tajam.
"Kok sama Mas sih Baby? Kamu tidak usah malu seperti itu, kita ini satu okey! Malah aku suka sama kamu yang ngegemesin seperti itu." kata Leinard.
"Masa sih! Aku pikir kamu malah ilfil sama aku mas?" ujar Kaira.
"Ya enggak mungkin lah Yank! Kamu ini ada-ada saja. Aku tidak pernah berfikir seperti itu, malahan aku tambah jatuh cinta setiap harinya." tutur Leinard. Kata-kata itu, mampu membuat sang istri malu. Hingga rona merah muncul di permukaan kedua pipi Kaira yang putih nan mulus.
"Udah ahh!" ucap Kaira salah tingkah. Lalu melepas pautan tangan mereka. Ia berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam mansion, meninggalkan Leinard yang menahan tawa. Karena takut sang istri kembali tersinggung, jika ia tertawa. Leinard pun menyusul Kaira masuk ke dalam.
.
.
.
Di sisi lain, Leon baru pulang bekerja. Ia masuk ke dalam rumah yang terlihat sangat sepi, hanya ada kepala pelayan berdiri disana menunggu sang majikan datang. Ia heran, kemana sang istri gerangan? Biasanya Zahra yang menanti dirinya.
"Mbok Imah, nyonya kemana?" tanya Leon pada si Mbok.
"Nyonya ada di kamarnya Tuan! Dia kurang enak badan dan wajahnya sangat pucat." sahut mbok Imah.
"Sejak kapan nyonya sakit mbok? Tadi kan sebelum aku berangkat dia baik-baik saja."
"Setelah menjemput nona Zalfa Tuan, kepalanya pusing! Hampir jatuh saat turun dari mobil tadi." ucap Mbok jujur. Padahal tadi Zahra berpesan jangan bilang ke suaminya, biar Leon tidak khawatir. 'Maaf ya Nyonya, saya ngomong sama tuan muda. Biar nyonya cepat di bawa kerumah sakit.' batin mbok, ia sungguh khawatir dengan kondisi nyonya mudanya.
*****.....*****
__ADS_1