Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 30. Tempat tinggal Baru


__ADS_3

Jam tiga pagi, Kaira sudah bangun. Hanya 1 jam waktunya istirahat, akibat ulah suaminya.


"Enghhh..." lenguh Kaira saat bangun, dia duduk terlebih dahulu. Mengumpulkan kesadarannya, lalu berdo'a.


"Alhamdulillahil adzi ahyana ba’da ma amatana wa iliahin nusyur." Kaira mengusap wajah. dengan kedua tangannya. Dia melihat ke arah suami yang masih terlelap dengan indah. Kaira berdiri ingin membersihkan diri.


"Awwss..."ringisnya kesakitan. Leinard terbangun mendengar suara Kaira.


"Sayang! Kamu kok udah bangun? Subuh masih lama." Leinard langsung duduk bersender di hearboard mengumpulkan kesadarannya.


"A-aku mau shalat sunah!" ucapnya gugup, ia membelakangi sang suami. Leinard berdiri, dia menggendong istrinya ke kamar mandi. Dia tak tega melihat Kaira yang kesakitan seperti itu.


"Mas! Turunin. Kai malu sama kamu!" ujarnya membenamkan wajah yang merah bak tomat yang sudah masak.


"Masa malu, sama suami sendiri." kata Leinard tak sungkan-sungkan lagi.


Leinard mendudukkan Kaira pelan-pelan di kursi kecil berbahan karet, yang ada di kamar mandi. Karena di kamar mandi hanya ada bak air, dan alat-alat mandi seadanya. Beda halnya dengan kamar mandi Leinard yang super lengkap dan mewah.


"Biar aku yang mandiin kamu yaa?" putus Leinard melihat wajah letih istrinya. Pipi mulus itu langsung menampilkan ronaerah di kedua pipinya, meskipun di antara mereka tak ada yang perlu di tutupi lagi, tetap aja Kaira teramat malu sama suaminya. Spontan ia menggelengkan kepala.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri!" ujarnya. Karena pada dasarnya Leinard tukang paksa. Mau tak mau Kaira hanya pasrah menerima perlakuan manis dari suami. Dengan telaten Leinard mengguyur tubuh sang istri. Lagi-lagi, Kaira di buat tercengang akan perbuatan Leinard padanya.


"Makasi mas Leinard" ucap Kaira tulus. Dia sangat bersyukur Allah swt, memberikan imam yang sayang dan menerima apapun keadaannya. Mendengar itu, Leinard hanya mengulas senyum menawan untuk sang istri.


"Mas Leinard enggak mau mandi? Setengah jam lagi loh!" kata Kaira mengalihkan perhatian Leinard padanya.


"Baiklah. Mas mandi dulu!"

__ADS_1


Setelah suaminya kembali masuk ke kamar mandi, ia segera mengenakan pakaiannya. Lantas ia menggelar sajadah untuk menunaikan ibadah sunah.


Selesai membersihkan diri, Leinard segera keluar kamar mandi. Ia tersenyum melihat istrinya yang melantunkan ayat suci alquran begitu merdu.


"Masya Allah..." gumamnya tersenyum lebar. Leinard pun segera berbenah diri, dia ingin melakukan hal yang sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allah swt.


Pagi menyapa, langit tampak cerah menawan. Keluarga kecil sedang sarapan pagi bersama. Menikmati makanan, tanpa ada yang berbicara. Semua sibuk mengisi perut masing-masing, agar cacing yang bersemayam tidak demo kepada pemilik perut.


Selesai makan, Abba dan Leinard berbincang di teras depan rumah.


"Abba, Leinard sama kaira nanti siang pamit pulang. Karena pekerjaan saya tidak bisa di tinggal lama-lama!" ujar Leinard menyampaikan keinginannya.


"Iya nak, Abba ngerti kok! Kalau pengusaha itu memang super sibuk, tapi ingat! Jangan pernah tinggalkan shalat." ucap Abba.


"Insyaa Allah! Saya akan ingat pesan Abba!" kata Leinard pagi. 'Bagaimana jika Abba tahu? aku juga mempunyai pekerjaan di luar pikirannya. Aku tak bisa untuk memikirkan hal itu, suatu hari nanti aku bakal cerita Ba. Tapi tidak sekarang." kata batinnya miris, dengan pekerjaan sesungguhnya yang ia geluti juga.


"Kalau gitu, saya ke dalam dulu ya Ba. Mau bilang ke Kaira, agar mempersiapkan apa yang ingin ia bawa pulang."


"Sayang! Nanti kita akan pulang ke rumah. Tapi kamu tidak usah membawa banyak barang, hanya barang yang paling penting saja." ia duduk di sebelah Kaira yang duduk melantai di karpet merah sembari menonton acara yang berlangsung di tv.


"Tidak terburu-buru ya mas! Kai masih pengen disini." rengek nya pada sang suami.


"Sayang maaf ya! Mas itu harus kerja. Kasian Juno juga yang menghandle pekerjaan mas. Kan kamu bisa jenguk Abba dan Umma kesini." ujar Leinard memberikan sedikit pengertian untuk istri kecilnya. Karena ia yakin, Kaira sedikit banyak merasa berat untuk meninggalkan orang tuanya. semua hal itu, juga akan berlaku bagi orang di luaran sana. Saat mereka akan berpisah, walaupun dalam satu kota. seperti yang di rasakan Kaira saat ini.


"udah sayang! enggak usah manyun gitu dong, bikin aku gemas aja. mau berakhir di ranjang itu? Apa tersenyum? Muka kamu kalau kayak gitu tambah cantik. Nanti takut khilaf, enggak jadi yang pulang." candanya.


pipi itu langsung bersemu merah.

__ADS_1


"kita pulang aja!" finalnya.


"Maaf ya mas, kalau Kai kelihatan egois. Kai tidak kepikiran kesana, yaudah kalau gitu! Kai mau siap-siap aja. Kita pulangnya sekarang, biar Mas Leinard nanti bisa istirahat." ucapnya lagi.


Kaira lantas mempersiapkan barang-barang nya yang akan di bawa ke rumah barunya. Setengah jam berbenah, akhirnya semua barang Kaira di koper berwana peach dengan ukuran sedang.


"Sayang sudah selesai?" Tanya Leinard melihat istrinya yang merapikan hijab di depan cermin.


"Alhamdulillah, sudah selesai kok mas. Gimana mau berangkat sekarang apa nanti?" tanyanya.


"Baiklah! Kita pulang sekarang aja!" ajak nya pada Kaira. Lalu Leinard mengambil koper Kaira, ia akan memasukkan ke bagasi mobil terlebih dahulu, sebelum pamit kepada Abba dan Umma. Di depan rumah kecil berwarna ungu itu, terparkir mobil mahal ferarri milik mafia besar. yang sekarang sudah memperisti wanita sholehah.


Leinard kembali, setelah selesai menaruh barang sang istri. Mereka menemui kedua orang tua Kaira.


"Abba, Umma! Kami pamit pulang. Insyaa Allah nanti kami sering main kesini, kalau pekerjaan saya dan Kaira tidak terlalu padat." ujar Leinard kepada Abba.


"Iya nak, Abba titip Kaira. Tolong jaga dia, bimbing putri Abba ke jalan Allah." ujar Abba. Berat rasanya dia melepas Kaira, namun beliau ikhlas. Karena putri kecilnya sekarang sudah tanggung jawab suami.


"Kai ikut mas Leinard. Umma ,Abba! Jaga diri Umma. Jangan sampai kecapean." Kaira tak mampu mehanan cairan bening yang meleleh dari bola mata indahnya. Mereka berpelukan perpisahan.


"Manut sama suami ya nak, selagi itu dalam kebaikan. Taatlah kepadanya, setelah engkau taat kepada Allah swt dan rasulnya." nasihat


Umma kepada putri semata wayangnya.


Mereka masuk ke dalam mobil ferrari mahal milik sang suami. Mereka berkendara selama 40 menit, mobil itupun melewati jalan yang di tumbuhi pohon rindang. Di ujung jalan berdiri bangunan kokoh yang amat luas dan mewah. Itulah tempat tinggal barunya sekarang.


"Mas Lei, kok banyak sekali penjaga. Aku pikir kita akan tinggal sama Deddy dan Mommy." ujarnya.

__ADS_1


"Enggak sayang! Kita akan tinggal disini. Hari-hari kita, akan tertulis indah dalam bangunan itu." tunjuk Leinard pada mansionnya.


di depan pintu utama, banyak para maid yang berjejer.


__ADS_2