
"Assalamualaikum, Cinta!" gumam Leinard dengan lembut pada sosok wanita yang terbaring lemah di atas brangkar. Ia pikir sang istri tengah tertidur. Setelah selesai melalukan operasi caesar tadi. Tetapi, sang istri malah membuka kedua matanya, dan menatap kearah nya dengan lemah. Sungguh Leinard tak mampu melihat tatapan sang istri yang seperti itu, membuat hatinya ikut sakit. Tatapan sendu dan penuh penyesalan itu.
"Loh Sayang, kamu tidak tidur? Kenapa hmm?" tanya nya lembut kepada Kaira, setelah ia berada tepat berada di samping sang istri. Ia begitu paham dengan dengan perasaan sang istri. Belum sempat Kaira menjawab pertanyaan Leinard, orang tua serta teman-teman nya masuk ke dalam. Mereka langsung menghampiri Kaira. Sementara Leon, tidak ikut untuk menjenguk Kaira. Karena ia tahu bahwa istri teman nya itu, tak pernah menampakkan wajahnya, untuk yang bukan mahromnya. Ia duduk berdiam diri di kursi tunggu, sembari melihat email yang masuk dari asistennya. Yah, daripada ia duduk berdiam diri nggak jelas! lebih baik memanfaatkan waktu nya untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Agar nanti di rumah, ia tak lagi sibuk dengan laporan ataupun berkas lainnya.
"Alhamdulillah Nak, kamu sudah sadar." Ujar Umma dengan bahagia melihat senyuman di bibir pucat putrinya.
"Alhamdulillah Umma, Kai baik-baik saja," jawab Kaira dengan lemah, sembari menampilkan senyum nya yang manis. Kaira pun teringat dengan perutnya yang rata, kemana Baby nya?.
"Mas...!"panggil nya dengan suara parau.
"Apa Sayang? Kamu pengen minum?" tanya Leinard perhatian. Tapi, sang istri malah menggelengkan kepalanya dengan lemah. Karena dirinya masih sangat lemah, untuk berbicara panjang lebar.
Tangan Kaira pun bergerak menyentuh perutnya, pergerakan itu tak lepas dari pandangan suaminya. Leinard pun seketika dibuat paham, maksud dari istrinya.
"Baby...." belum sempat Leinard menjelaskan, seorang perawat pun datang membawa buah hati mereka.
"Assalamualaikum..." salam perawat itu, lalu ia masuk membawa bayi Kaira.
"Syukur Alhamdulillah, Anak ibuk baik-baik saja, dan tentunya ia memiliki paras yang sangat tampan. Tolong ibu memberikan Asi pertaman untuknya," kata dokter itu, sembari memberikan bayi yang baru saja hadir kedunia itu, kedalam dekapan Kaira yang sudah duduk bersender di bantu sang suami.
"Terimakasih banyak, dokter!" ucapnya dengan binar senyum bahagia.
"Sudah menjadi tugas saya, Nyonya! Kalau begitu, saya pamit undur diri." Ucap dokter itu lagi.
Pandangan Leinard pun jatuh kepada semua orang yang ada di dalam ruangan Kaira, mereka mengerti dengan maksud tatapan itu. Yang menyuruh mereka untuk segera keluar karena istri nya akan menyusui sang putra. Mereka pun perlahan beranjak dari sana, namun sebelum mereka keluar masih menyempatkan untuk mencium Baby nya Kaira dan Leinard.
"Apa nyonya butuh bantuan saya?" tanya sang dokter, sebelum ia benar-benar meningalkan ruangan Kaira.
"Tidak perlu dok, insya Allah saya bisa." Ujar nya sopan, sedangkan ia sendiri sudah tak sabar ingin segera memberikan Asinya untuk sang putra.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu! Kalau ada apa-apa tinggal panggil saya, Nyonya." Ucap nya lagi, agar Kaira tak kesulitan ketika membutuhkan bantuan.
"Hmm, baiklah dok! Sekali lagi, terimakasih banyak." Kata Kaira lagi.
Sementara Leinard, hanya menjadi pendengar yang baik saja sedari tadi. Tampak wajah datar dan dingin nya saja, sehingga membuat dokter itu takut setengah mati. Yah, begitulah dirinya! Meskipun di dalam hatinya ia tiada henti bersyukur kepada Allah SWT. Andai saja tidak ada dokter itu, pasti air matanya luruh tak terbendung.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Nyonya. Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." jawab mereka bersamaan.
"Masyaa Allah, putra nya Mommy tampan sekali." Puji Kaira sembari mengelus pipi bayi nya. Begitu pun dengan Leinard, hatinya tak kalah membuncah karena saking bahagia. Tangan nya pun terulur, membelai pipi halus nan lembut itu, dengan linangan air mata yang sudah berderai.
"Tampan sekali ya, Mas! Mirip banget dengan Deddy nya." Ucap Kaira sembari mulai menyusui buah hatinya. Meskipun awalnya Ia sangat kegelian, meskipun begitu! Ia membiasakan diri. Untuk anaknya tercinta.
"Sangat tampan," gumamnya tanpa mengalihkan pandangan nya sedetik pun. Ada haru yang sangat luar biasa, menyeruak didalam hatinya, melihat sang anak yang begitu damai.
"Aamiin..."
Drt...Drt...Drt...
Bunyi handphone genggam milik Leinard, yang bergetar di dalam sakunya celananya. Dengan segera, ia merogoh benda pipih itu, dan melihat nama si penelpon dari layar Handphone nya.
"Sayang, aku angkat dulu yah!" pintanya kepada sang istri.
Lantas Kaira pun menganggukkan kepalanya, "Iya Mas, angkat gih.." suruh Kaira.
Cup
Leinard mengecup kening sang istri,penuh dengan cinta. Setelah itu, ia pun pergi untuk mengangkat panggilan itu. Panggilan yang sangat ia tunggu-tunggu sedari tadi. Siapa lagi? Kalau bukan asisten kepercayaan nya.
__ADS_1
Dengan segera Leinard, menggeser icon yang berwarna hijau itu.
[ "Hallo..." ] Ucap sang asisten dari seberang sana.
[ "Hmm, kenapa? Apakah kamu sudah menemukan siapa pelakunya?" ] tanya Leinard langsung to the point. Ia tak mau berlama-lama, karena ingin segera menghampiri kedua orang yang sangat ia cintai.
[ "Sudah Tuan, dan sekarang para bodyguard kita sedang mengintai nya. Setelah tertangkap saya akan langsung membawa nya ke markas." ] Ujar Juno.
[ "Hmm, tentu! Memang itu yang harus kamu lakukan." ] katanya tegas, dengan amarah yang sudah di ubun-ubun. Dirinya sungguh tidak sabar ingin mengeksekusi orang yang sudah bermain-main dengan nya.
[ "Baik, Tuan. Saya sudah mengirim video bukti pelaku itu. Silahkan Tuan cek sendiri." ] Katanya lagi.
[ "Oke, nanti akan Aku lihat." ]
Tuuut...
Leinard memutuskan panggilan sepihak, tanpa menunggu penjelasan asisten nya lebih detail lagi. Sungguh, dirinya ingin cepat-cepat menghampiri Istri dan Anaknya.
Leinard pun kembali, keruangan Kaira. Ia melihat sang istri yang menatap bayi nya yang sudah tertidur dengan tenang dan nyaman.
"Baby nya udah bobok sayang? Kenapa kamu tidak istirahat juga?" tanya Leinard dengan lembut, sembari mengusap kepala istrinya yang tertutupi hijab instant itu.
"Masih ingin memandangin Baby nya, Mas! Lihatlah, ia begitu damai. Oh iya, kamu udah punya nama belum untuk Anak kita?" Tanya Kaira, sesaat teringat sang suami belum juga membahas nama anaknya.
"Iya dong Mommy, masa iya Deddy belum memikirkan. Aku sudah jauh-jauh hari mikirkan itu, tapi aku takut! nanti kamu tidak setuju." Ujar nya melemah.
"Loh, kok jadi pesimis gitu, Mas! Apapun nama yang Mas berikan nanti, pasti Aku setuju kok. Pasti Baby nya juga, kan Deddy nya yang ngasih nama." Ujar nya sembari menaik turunkan alisnya.
Mendengar itu, Leinard pun tersenyum cerah. Sampai-sampai memperlihatkan giginya yang mempesona.
__ADS_1