Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 50. So sweet Masker miring


__ADS_3

Mereka pun memilih makanan dan minuman sesuai keinginan masing-masing. Tak lupa pula mereka memilih makanan berat seperti roti. Setelah di rasa mereka cukup memilih Juno membayar semua makanan itu, tapu jangan kira pak uanganya yah. Tentu saja itu milik si bos Leinard.


"Ayo buruan! Aku sungguh tidak tahan di sini. Apalagi dengan wanita jelalatan seperti mereka." ajak Juno untuk segera pergi dari kantin.


Mereka pun langsung pergi begitu saja, saat Juno selesai membayar makanan yang mereka beli. Tanpa menoleh ataupun menghiraukan perkataan mereka yang mendamba.


"Kamu tahu mereka di mana?" tanya Sean kepada Juno. Apakah di ruangan Kanaya atau ruangan milik Kaira. Juno yang ditanya hanya mengendikkan kedua bahunya, tanda tidak tahu juga. Lalu pandangan mereka mengarah kepada Leinard yang sedari tadi diam dengan pandangan datarnya.


"Ngapain lihatin aku sampai begitu? Aku juga tidak tahu mereka dimana!. Mendingan tanya aja langsung. Goblok kok du pelihara! Handphone kamu mau di gunakan apa?" tutur Leinard kepada mereka. Mereka memutar kedua bola matanya malas. 'Ku kira berubah nih si Boss, ternyata tetap aja tidak peka!' batin Juno.


"Berhenti membatin yang jelek-jelek, kalau tidak mau kehilangan kepala kalian!" ucap Leinard dingin.


Gluk....!


Mereka berdua meneguk salivanya dengan susah payah, berarti bos nya ini dalam mode marah dan serius. Sean pun menitipkan makanan yang ia pegang kepada Juno sebentar, guna mengirim pesan kepada sang istri. Ia tak mau mendebat Leinard lagi, baik itu dalam batinnya atau di ucapkan langsung kepada orangnya. Sembari menunggu balasan dari sang istri, ia mengkepo dengan sang Leader. Karena tak biasanya Leinard terlalu khawatir seperti ini.


"Kamu kenapa sih? Aku pikir-pikir, kamu banyak pikiran sekali. Apa jangan-jangan kalian lagi perang dingin?" tanya Sean yang berusaha mengerti perasaan sahabatnya.


"Tadinya sih, iya! Tapi sekarang sudah aman. Yang jadi pemikiran aku, kenapa sampai sekarang Xaron beserta anak buahnya tidak ada pergerakan! Apa dia tak mau lagi lahan itu?" ujar Leinard jujur kepada dua manusia yang bersamanya. Itulah yang mengganjal dalam benak Leinard akhir-akhir ini.


"Iya juga yaa! Tapi kalau menurut ku sih tidak mungkin. Aku tahu betul, bagaimana liciknya seorang Xaron." jawab Sean.


"Kamu benar, mendingan kita selalu waspada aja! Takutnya di saat lengah mereka menyerang kita. Apalagi sekarang kalian sudah berkeluarga, jadi mereka tahu titik kelemahan kalian dimana." ucap Juno menimpali omongan Sean.


Leinard mengangguk setuju dengan pemikiran mereka. Karena yang dia tahu pun begitu, Xaron tidak akan mudah untuk menyerah dan mengambil apapun milik Leinard. Karena Xaron selalu menyukai hal yang sama dengan Leianard, itu sudah sedari dulu tidak pernah berubah.


"Aku hanya takut! Dia tahu keberadaan istriku! Kalian tentu saja bisa menebak apa yang akan dilakukan pedebah itu!" kata Leinard geram sampai gigi-giginya bergemelatuk.


Ting....!


Akhirnya mereka sampai di ruangan milik Kanaya. Yah, info dari Sean yang mengirim chat kepada Kanaya.


Sean pun mendorong handle pintu ruangan sang istri. Mereka langsung masuk tanpa mengucapkan salam. Sontak membuat mereka langsung kaget, pasalnya Kaira melepas masker yang di kenakan. Para Sahabatnya pun langsung memeluk Kaira, agar orang lain tidak melihat wajahnya. Mereka siap menjadi tameng, untuk melindungi wajah cantik Kaira agar tidak kelihatn, Sekalipun itu Sean dan Juno. Karena Leinard baru berada di ambang pintu, enggak mungkin pula baginya menerobos teman-teman sang istri, yang berusaha melindungi Kaira.


"Berbalik...!" ucap Leinard tegas kepada kedua sahabatnya itu. Ia tak mau, kalau sampai mereka melihat wajah cantik milik sang istri.

__ADS_1


Kaira lekas memasang kembali maskernya. Dari saking tergesa-gesa sampai miring. Para sahabat Kaira yang paham, lantas memberi jalan kepada suaminya Kaira. Leinard yang melihat itu, langsung mendekati Kaira dan membenahi.


"Miring sayang...!" ucap Leinard sembari tangannya bekerja memperbaiki masker yang miring.


"Ehem...ehem! Hati neng jadi meleleh abang!" goda Alina.


Kaira yang mendengar godaan Alina seketika langsung malu, semburat merah muncul di kedua pipinya yang tertutup masker. Tapi Leinard masih mampu melihat itu dengan jelas. "B-biar aku sendiri aja Mas!" ucap Kaira gagap dari saking malunya. Mereka yang melihat itu tersenyum.


"Kok jadi kamu yang malu sih Kai, suami kamu loh itu! wajar banget perhatian!" ujar Raina agar Kaira tidak salah tingkah sendiri.


"Yang ada mah, Neng Alina ngiri! Soalnya enggak ada yang ngasih perhatian!" goda Kanaya balik. Mendengar itu, Alina langsung sebal. Karena memang apa yang di katakan Kanaya benar adanya.


Kairanyang melihat itu mendekat, memeluk Alina erat. "Jodoh Alina kan belum di perkenankan bertemu dengannya, jadi kitalah yang perhatian sama si bawel ini." kata Kaira. Para lelaki di sana, di buat kagum dengan persahabatan mereka. Yang sama seperti saudara kandung saja.


Mereka pun memilih makanan dan minuman sesuai keinginan masing-masing. Tak lupa pula mereka memilih makanan berat seperti roti. Setelah di rasa mereka cukup memilih Juno membayar semua makanan itu, tapu jangan kira pak uanganya yah. Tentu saja itu milik si bos Leinard.


"Ayo buruan! Aku sungguh tidak tahan di sini. Apalagi dengan wanita jelalatan seperti mereka." ajak Juno untuk segera pergi dari kantin.


Mereka pun langsung pergi begitu saja, saat Juno selesai membayar makanan yang mereka beli. Tanpa menoleh ataupun menghiraukan perkataan mereka yang mendamba.


"Kamu tahu mereka di mana?" tanya Sean kepada Juno. Apakah di ruangan Kanaya atau ruangan milik Kaira. Juno yang ditanya hanya mengendikkan kedua bahunya, tanda tidak tahu juga. Lalu pandangan mereka mengarah kepada Leinard yang sedari tadi diam dengan pandangan datarnya.


"Ngapain lihatin aku sampai begitu? Aku juga tidak tahu mereka dimana!. Mendingan tanya aja langsung. Goblok kok du pelihara! Handphone kamu mau di gunakan apa?" tutur Leinard kepada mereka. Mereka memutar kedua bola matanya malas. 'Ku kira berubah nih si Boss, ternyata tetap aja tidak peka!' batin Juno.


"Berhenti membatin yang jelek-jelek, kalau tidak mau kehilangan kepala kalian!" ucap Leinard dingin.


Gluk....!


Mereka berdua meneguk salivanya dengan susah payah, berarti bos nya ini dalam mode marah dan serius. Sean pun menitipkan makanan yang ia pegang kepada Juno sebentar, guna mengirim pesan kepada sang istri. Ia tak mau mendebat Leinard lagi, baik itu dalam batinnya atau di ucapkan langsung kepada orangnya. Sembari menunggu balasan dari sang istri, ia mengkepo dengan sang Leader. Karena tak biasanya Leinard terlalu khawatir seperti ini.


"Kamu kenapa sih? Aku pikir-pikir, kamu banyak pikiran sekali. Apa jangan-jangan kalian lagi perang dingin?" tanya Sean yang berusaha mengerti perasaan sahabatnya.


"Tadinya sih, iya! Tapi sekarang sudah aman. Yang jadi pemikiran aku, kenapa sampai sekarang Xaron beserta anak buahnya tidak ada pergerakan! Apa dia tak mau lagi lahan itu?" ujar Leinard jujur kepada dua manusia yang bersamanya. Itulah yang mengganjal dalam benak Leinard akhir-akhir ini.


"Iya juga yaa! Tapi kalau menurut ku sih tidak mungkin. Aku tahu betul, bagaimana liciknya seorang Xaron." jawab Sean.

__ADS_1


"Kamu benar, mendingan kita selalu waspada aja! Takutnya di saat lengah mereka menyerang kita. Apalagi sekarang kalian sudah berkeluarga, jadi mereka tahu titik kelemahan kalian dimana." ucap Juno menimpali omongan Sean.


Leinard mengangguk setuju dengan pemikiran mereka. Karena yang dia tahu pun begitu, Xaron tidak akan mudah untuk menyerah dan mengambil apapun milik Leinard. Karena Xaron selalu menyukai hal yang sama dengan Leianard, itu sudah sedari dulu tidak pernah berubah.


"Aku hanya takut! Dia tahu keberadaan istriku! Kalian tentu saja bisa menebak apa yang akan dilakukan pedebah itu!" kata Leinard geram sampai gigi-giginya bergemelatuk.


Ting....!


Akhirnya mereka sampai di ruangan milik Kanaya. Yah, info dari Sean yang mengirim chat kepada Kanaya.


Sean pun mendorong handle pintu ruangan sang istri. Mereka langsung masuk tanpa mengucapkan salam. Sontak membuat mereka langsung kaget, pasalnya Kaira melepas masker yang di kenakan. Para Sahabatnya pun langsung memeluk Kaira, agar orang lain tidak melihat wajahnya. Mereka siap menjadi tameng, untuk melindungi wajah cantik Kaira agar tidak kelihatn, Sekalipun itu Sean dan Juno. Karena Leinard baru berada di ambang pintu, enggak mungkin pula baginya menerobos teman-teman sang istri, yang berusaha melindungi Kaira.


"Berbalik...!" ucap Leinard tegas kepada kedua sahabatnya itu. Ia tak mau, kalau sampai mereka melihat wajah cantik milik sang istri.


Kaira lekas memasang kembali maskernya. Dari saking tergesa-gesa sampai miring. Para sahabat Kaira yang paham, lantas memberi jalan kepada suaminya Kaira. Leinard yang melihat itu, langsung mendekati Kaira dan membenahi.


"Miring sayang...!" ucap Leinard sembari tangannya bekerja memperbaiki masker yang miring.


"Ehem...ehem! Hati neng jadi meleleh abang!" goda Alina. Karena Sean dan Juno kepo, tanpa menunggu perintah Leinard. Mereka langsung berbalik begitu saja.


Kaira yang mendengar godaan Alina seketika langsung malu, semburat merah muncul di kedua pipinya yang tertutup masker. Tapi Leinard masih mampu melihat itu dengan jelas. "B-biar aku sendiri aja Mas!" ucap Kaira gagap dari saking malunya. Mereka yang melihat itu tersenyum.


"Kok jadi kamu yang malu sih Kai, suami kamu loh itu! wajar banget perhatian!" ujar Raina agar Kaira tidak salah tingkah sendiri.


"yang ada mah, Neng Alina ngiri! Soalnya enggak ada yang ngasih perhatian!" goda Kanaya balik. Mendengar itu, Alina langsung sebal. Karena memang apa yang di katakan Kanaya benar adanya.


Kairanyang melihat itu mendekat, memeluk Alina erat. "Jodoh Alina kan belum di perkenankan bertemu dengannya, jadi kitalah yang perhatian sama si bawel ini." kata Kaira. Para lelaki di sana, di buat kagum dengan persahabatan mereka. Yang sama seperti saudara kandung saja.


"Emang sudah keburu ke pelaminan apa! Yuadah barengan ama gue deh akadnya." ucap Raina.


"Yeah, mentang-mentang mau nikah...!" ujar mereka kompak. Raina ketawa cengengesan. Saat kedua matanya bertemu pandang dengan kedua mata Juno, ia malu sendiri. 'Kok bisa ya, mulut aku sendiri membawa petaka!'batin Raina setelah sadar dengan ucapannya sendiri. Juno yang melihat mimik muka Raina yang menurutnya lucu sekali, di buat gemas sendiri di tempatnya.


'Andai sudah sah! Sudah ku habisi kamu sayang!' batin Juno.


"Jangan berfikiran yang macam-macam Juno, halalin dulu!" kata Sean yang mengerti dengan otak-otak kaum lelaki. Mereka langsung melongo mendengar perkataan Sean.

__ADS_1


*****.....*****


__ADS_2