Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 103. THSM


__ADS_3

"Assalamualaikum..." salam teman-teman Kaira. Bibi tersenyum dengan manis, melihat sahabat majikan nya itu. Karena dialah yang membukakan pintu.


"Waalaikumsalam..." jawab Bibi, dengan senyum yang mengembang di bibir keriputnya.


"Kaira nya ada Bi?" Kanaya bertanya, karena tidak melihat kehadiran Kaira disana.


"Ada kok Nona, beliau ada di dalam kamar. Akrena tadi, Taun Muda baru saja bangun tidur siang." Jawab Bibi ramah.


"Silahkan masuk! Nyonya sudah mempersiapkan makanan banyak sekali, untuk menjamu nona-nona." Tukas Bi Darmi lagi, agar mereka tidak hanya berdiri di depan pintu saja.


"Makasih banyak, ya Bi." Jawab Alina seraya mengangguk kan kepalanya. Mereka pun masuk ke dalam rumah Kaira, lalu duduk di sofa yang ada di ruang tamu, dan meletak kan bingkisan yang mereka bawa di meja kaca yang di tengah sofa. Ruangan itu, tampak luas dan sangat bersih. Di tambah lagi, dengan interior ruangan yang sangat indah, membuat mata mereka termanjakan dengan baik.


"Assalamualaikum, Aunty-aunty cantik." Salam Kaira, dengan menirukan suara anak kecil, setelah dia tak jauh dari tempat sahabat nya.


"Waalaikumsalam," jawab mereka bersamaan. Kaira pun, melangkahkan kaki nya untuk mendekat. Lalu, dia duduk di single sofa, sembari memangku Baby Athaf yang masih diam karena baru bangun tidur.


Kanaya pindah duduk, agak mendekat ke Kaira. Lalu, tangan nya mengelus lembut rambut Baby Athaf. "Hei, ponakan nya aunty yang tampan!" sapa nya, pada bayi laki-laki yang tampak tampan dan gemoy itu.


Bayi yang berumur 4 bulan itu, tersenyum saat merasakan tangan Kanaya mengelus kepalanya. Bayi Athaf, mengukurkan tangannyinta di gendong. Kanaya pun, tersenyum manis melihat ke antusiasan bayi Athaf.


Kanaya mengambil alih, Baby Athaf. Menggendong dan menimang-nimang nya. "Apakah Baby Athaf sangat rindu sama Aunty? Kita kan udah lama nggak ketemu!" ucap Kanaya seraya menepuk-nepuk pelan bokong baby Athaf. Bayi Athaf.


"Cie... Cie, yang mau jadi Mama Muda, antusias sekali. Simulasi ya, Bund?" goda Raina kepada sahabat nya itu.


"Ma syaa Allah, emang bener? Kanaya sudah isian?" tanya Kaira terkejut sekaligus takjub, mendengar berita bahagia ini. Dia ikut bahagia, akhirnya sahabat nya ini akan menjadi orang tua juga.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Kai. Sean junior sudah ada di dalam perut ku. Aku sudah tak sabar, menunggu kehadiran nya di tengah-tengah kami." Jawab Kanaya. Semuanya sangat bahagia, pada akhirnya kesabaran wanita itu bebuah manis juga.


"Alhamdulillah, ya. Semoga saja, di perut ku juga akan launcing Baby Zeo," harap Alina sembari tersenyum, membayangkan perut nya membuncit. Dan tangisan anaknya nanti, akan meramaikan rumah mereka.


"Aamiin. Sabar aja lagi, Alina. Baru juga menikah, masih anget-anget nya loh. Kemana-mana enak, bisa pacaran terus." Zahra menimpali ucapan mereka.


"Bodo ah! Aku juga sangat ingin memiliki bayi imut dan lucu." Sahut nya kekeh.


"Yaudah, banyak berdoa kalau begitu! Minta sama Allah swt, supaya cepat di kasih momongan." Ujar Raina.


"Ohh, iya! Aku lupa lo, mau nawarin kalian ini. Ayo di makan kuenya," ucap Kaira menawari roti kering, yang ada di dalam toples kaca, di atas meja, karena saking asyiknya mengobrol dengan para sahabat ini.


"Santuy aja lagi, kita kan baru bertemu. Jadi, bawaan nya pengen cerita mulu." Kata Zahra.


"Tapi, aku sudah lapar. Bany Juno, sudah meronta-ronta kelaparan." Aku Raina, sembari mengelus perut buncit nya.


"Yee, kayak rumah sendiri aja," gurau Kanaya.


"Mas bodoh, kan emang iya. Kita saudara," mereka semua pun berjalan ke arah meja makan. Disana tampak hidangan lezat, tertata rapi, memenuhi meja makan.


"Wahh, banyak sekali. Aku sudah tidak sabar mencicipi nya." Seru Raina, lalu dia mengambil tempat duduk di sebelah Zahra.


"Kaira, kamu kok susah-susah sih! Bikin makanan sebanyak ini. Aku jadi tidak enak, membuat kamu repot." Ujar Zahra, memandang kepada Kaira.


"Haish! Kalian kayak sama siapa saja. Tidak repot sama sekali kok. lagian ya! Aku di bantu sama Bibi tadi," Kaira menjawab sembari menata piring kosong di depan teman-temannya.

__ADS_1


Mereka pun, mengisi piring masing-masing, dengan makanan yang mereka inginkan. "Ayo dimakan!" kata Kaira.


Kanaya pun, memimpin untuk membaca doa sebelum makan, selesai itu mereka langsung menyantap makanan lezat itu dengan hening. Karena tidak ada lagi, di antara mereka yang berbicara. Semuanya, fokus pada makanan masing-masing.


***


Seusai melakukan penerbangan yang cukup melelahkan. Akhirnya mereka sampai, dan saat ini berada di markas. Datang bukannya langsung bisa istirahat, tetapi mereka langsung mengatur strategi untuk melumpuhkan lawan. Karena dia tahu, lawan nya kali ini sangat licik. Jadi, tentunya dia pun harus melakukan hal yang sama. Setelah menjelaskan panjang lebar, Leinard pun bertanya kepada Mereka. "Bagaimana? Apakah sudah mengerti?" tanya nya, dengan datar nan dingin. Laki-laki itu, tampak dingin sekali.


Sedangkan para sahabat nya, hanya mengangguk kan kepala saja. Pertanda, mereka memahami apa yang di sampaikan Leinard.


"Bagus, jika seperti itu! Kita akan melakukan penyerangan sehabis sholat subuh. Tetapi, nanti malam, kita harus hadir untuk mendatanagi perjamuan dengan Tuan Galelo,"


"Tentu saja, kita harus datang. Mana mungkin aku mau melewati hal menarik ini," jawab Zeo, dengan senyuman smirk nya. Membuat jiwa tampan nya, jadi lebih menyeramkan kan. Lagi dan lagi, sahabat nya mengangguk setuju.


Baiklah kalau begitu, kalian harus istirahat untuk memulihkan tenaga, bukan? Tentunya kita harus memberikan kejutan untuk para cecunguk itu. Rasanya akan hambar, jika tidak membuat sedikit kebaikan." Kata Leinard dengan tegas. Ya, kebaikan yang di maksud, bukanlah hal yang sesungguh nya! Melainkan kekacauan yang akan ia ciptakan.


"Aku sangat setuju, aku pun ingin melepas rindu dengan istriku." Sahut Zeo, lalu berdiri dan beranjak ke kamar nya sendiri. Di dalam markas, Mereka memiliki ruangan pribadi, dan tentunya mewah dan berkelas.


"Cih! Bucin" ledek Sean.


"Emang aku pikirin, tapi nggak apa-apa sih, itukan memang benar. " Aku Zeo dengan bangga, emang agak lain laki-laki yang baru dua bulan terakhir itu menyandang status suami dari Alina.


"Pandai sekali kamu menggoda! Padahal dirinya pun sangat bucin. Jadi budak cinta Istrimu." Tukas Leo menimpali, ucapan Mereka.


"Hei, Bung! jangan meledek. Karena pada akhirnya kita sama. Para lelaki, yang sangat mencintai Istrinya." Timpal Juno, yang melihat teman-teman nya ini saling meledek satu sama lain.

__ADS_1


"Biarlah, suka-suka mereka mau apa. Yang penting kita kembali ke kamar masing-masing, untuk istirahat. Seperti nya, akupun akan melakukan hal yang sama." Aku Leinard, lalu melenggang pergi terlebih dahulu dari sana. Dan diikuti teman-teman nya.


__ADS_2