Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 21. Meyakinkanmu (Sean&Kanaya)


__ADS_3

Di sisi lain, ada mobil hitam milik Sean, menuju pelataran rumah yang sederhana. Rumah minimalis yang bercat putih di kelilingi pagar kayu yang di cat dengan warna yang senada. Itulah rumah Kanaya Meisita Ningrum. Orang yang duduk di sebelahnya saat ini. Ia begitu mencintai Kanaya, tapi cintanya tak pernah mendapatkan respon dari Kanaya. Mobil


Sean berhenti di depan rumah Kanaya. Kanaya pun bergegas turun dari mobil, ia tak nyaman dengan situasi seperti ini. Apalagi tadi sempat bertengkar kecil di taman dengan Sean.


"Terimakasih banyak pak, anda berkenan mengantarkan saya sampai rumah." kata Kanaya mengawali pembicaraan saat ini. Ia berdiri di samping mobil sembari membungkukkan badannya sedikit.


"Tak masalah" balas Sean sekenanya. Ia membuka seatbelt dan turun dari mobil. Ia berjalan ke arah Kanaya, lalu berdiri tepat di sampingnya.


"Kamu tidak mempersilahkan orang yang sudah mengantar kamu masuk?" tanya Sean.


"Apa bapak berkenan singgah di gubuk saya?" Kanaya merendah di depan Sean. Ia berharap Sean mengatakan tidak ingin mampir, Namun perkiraannya salah. Karena itulah yang di tunggu-tunggu Sean dari tadi.


"Iya saya mau kok, singgah di rumah kamu." kata Sean tegas, tandanya ia tak menginginkan penolakan sama sekali. Kanaya yang mendengar itu segera berjalan di depan Sean dengan lunglai. Dengan sangat terpaksa ia mengajak Sean smampir ke rumahnya.


Sampai di depan pintu, Kanaya langsung memutar kenop pintu. Karena ia tahu ibunya pasti di dalam rumah, makanya pintu rumahnya jarang di kunci.


Saat pintu terbuka lebar, langsung memperlihatkan kursi yang sederhana terbuat dari kayu. Empat kursi berjejer rapi, dan di tengah-tengahnya ada meja kecil dengan bahan yang sama pula.


"Mari masuk pak," kaka Kanaya kepada atasannya. Sean langsung melangkahkan kakinya masuk de dalam rumah. Dia duduk di kursi tunggal, lalu menyampirkan jas nya di samping kanan kursi. Ibu Devi yang mendengar suara dari depan segera beranjak pergi ke arah suara.


"Assalamualaikum,,,bu" salam Kanaya. Kepada ibunya. Sembari mencium punggung tangan wanita paruh baya yang sangat ia sayangi.


"Waalaikumsalam,,,nak," jawab ibu sembari melirik ke arah Sean yang duduk di kursi itu.


"tumben pulang telat hari ini?. Biasanya enggak seperti ini putri ibu," tanya bu Devi sembari membelai pucuk kepala anaknya penuh cinta.


"Maaf ya bu, aku pulang telat! Tadi lupa yang mau ngabarin ibu," jawab Kanaya cengengesan memperlihatkan gigi gingsul cantiknya.


"Iya enggak apa-apa kok, tapi kalau lain kali jangan ya!" nasihat bu Devi.


"Iya bu," jawab Kanaya yang merasa bersalah kepada ibunya karena tidak memberikan kabar.

__ADS_1


"Nak buruan sana tamunya jamu, kasian kan kalau tidak di jamu dengan baik." titah ibu Devi kepada putrinya. Walaupun sebenarnya bu Devi kaget kedatangan tamu, tapi ia lebih kaget lagi dengan tamu yang berjenis Adam ini. Karena bu Devi tahu banget anaknya, Kanaya mana mau temenan sama lawan jenisnya.


"Iya bu, nanti aku bikinin yaa. Tapi sebelum itu aku mau nyimpen tas sekalian cuci wajah. Setelah itu baru aku bikinin minumannya, gimana bu?" tanya Kanaya.


"Iya, tapi jangan lama-lama nak! Kasian nanti teman kamu," ujar bu devi. Lalu dia ngambil alih duduk tepat di depan Sean. Sean langsung merasa grogi dan canggung, karena calon mertua ada di depannya saat ini. Padahal kalau ketemu sama musuhnya dia tidak pernah seperti itu, apalagi operasi. Dia biasa aja, tanpa ekspresi.


Kanaya dan ibunya hanya tinggal berdua, karena sang Ayah meninggal dunia. Tepatnya dua tahun yang lalu, pada saat itu Kanaya baru kerja dua hari di rumah sakit. Karena ibu Devi seorang ibu rumah tangga, jadi Kanaya yang bekerja untuk kebutuhannya dan sang ibu.


Suasana di ruang keluarga hening, bu Devi memperhatikan Sean sejak dia duduk. Hal itu tambah membuat Sean semakin canggung. bu Devi uang paham akan situasi ini, ia berusaha membuat Sean nyaman dengan mengawali pembicaraan yang ringan.


"Nama kamu siapa Nak?" tanya bu Devi.


"Sean bu," jawab Sean tersenyum kecil.


"Kamu seorang dokter juga?" tanya bu Devi lagi, sembari melihat ke arah jas dokter yang tersampir di pinggir kursi.


"Iya bu! Kanaya juga sering membantu saya dalam melakukan operasi," kata Sean. Perlahan rasa canggung itu hilang, karena ibu Kanaya yang pandai menempatkan diri dan ramah.


"Saya kenal sama putri ibu sudah satu tahun yang lalu," Sean begitu senang mendengar kalimat terakhir ibu calon mertuanya, dia merasa beruntung karena dia laki-laki yang pertama kali di bawa kerumah Kanaya. Yaa, walaupun sebenarnya dia yang memaksa kesini.


"Ibu, sebenarnya saya jatuh hati sama putri ibu, dan ingin meminangnya untuk di jadikan istri saya." kata Sean, akhirnya dia bisa melontarkan kalimat yang sedari tadi ingin ia ucapkan. Ibu Devi yang mendengar perkataan tegas Sean membuat hatinya menghangat, karena ketegasan laki-laki ini.


"Ibu mendukung dengan niat baik nak Sean, tapi ibu tak memiliki hak untuk itu. Ibu pasrahkan sama Kanaya, di ayang akan menentukan itu keputusannya sendiri. Karena dia yang akan menjalani bahtera rumah tangga itu! Tapi ibu minta tolong sama nak Sean jaga putri ibu dengan baik. Karena pada dasarnya seorang raja akan mampu meratukan permaisurinya, begitu pun sebaliknya. Hanya orang hina yang mampu menghinakan orang lain." tutur ibu Devi penuh kelembutan dan kebijakan.


"Terimakasih bu, saya akan mengingat nasihat ibu. Do'a kan saya bu! Agar bisa seperti yang diharapkan." ujar Sean mengembangkan senyumnya yang manis.


Selang berapa menit, Kanaya datang membawa dua gelas teh hangat dan satu piring brownis coklat, di atas nampan yang dia bawa. Dia sedikit penasaran dengan perbincangangan dua orang yang duduk itu, karena yang sedikit dia dengar tadi namanya di bawa-bawa.


Orang yang berbeda usia itu tampak akrab, meskipun baru pertama kali bertemu. Kanaya menaruh nampan itu di atas meja, lalu menata makanan itu tepat di depan Sean. Penampilan Kanaya tampak lebih sederhana, dia mengenakan rok plisket, tunik hitam polos dan hijab instantnya, namun tak mengurangi kecantikan dari wanita itu. Sean terus memandang ke arah Kanaya yang duduk di sebelah ibunya.


"Karena Kanaya sudah disini, tidak apa-apa ya nak Sean ibu tinggal ke dapur? Ibu belum menyelasaikan masakan siang ini." tanya bu Devi. Mendengar itu, Sean langsung mengalihkan atensinya dari Kanaya.

__ADS_1


"Iyaa bu," jawab Sean santai. Meski dia ketahuan curi-curi pandang ke arah Kanaya. Ibu segera beranjak dari tempatnya menuju dapur. Ia sengaja memberikan waktu untuk Kanaya dan Sean, membicarakan masalah mereka.


Ruang keluarga menjadi sunyi, karena mereka tak ada yang membuka suara. Kanaya merasa tak nyaman dengan situasi seperti ini.


"Di minum pak teh nya! Nikmati juga kuenya. Maaf pak, karena itu adanya." kata Kanaya.


Sean tak membantah Kanaya, dia langsung mencomot kue itu satu potong dan memakannya sampai habis. Menengguk tehnya sedikit demi sedikit sembari melirik ke arah Kanaya.


"Kanaya...kamu mau enggak jadi istri aku?" tanya Sean langsung to the point.


"Hah...? Ja-jadi istri bapak?" tanya Kanaya.


"Emangnya mau jadi apa lagi?" tanya Sean tak sabar.


"Bapak mah, kalau bercanda jangan kelewatan. Membuat saya senam jantung aja" ujarnya polos.


"Aku serius! Aku ngajak kamu menikah. Umur aku sudah 30 tahun, udah matang. Terus mama nyuruh aku cepetan nikah juga kok." kata Sean.


Mendengar itu, seketika wajah Kanaya berubah serius.


"Pak kita itu tak sederajat! Tabir penghalang antara kamu sama aku jauh benget. Aku tak sampai hati, jika nanti anda di olok-olok oleh orang lain. Belum tentu juga keluarga bapak mau sama saya!" kata Kanaya, ia mengeluarkan apa yang menjadi beban pikirannya selama ini, yang membuat ia tak pernah merespon Sean.


"Dengar ya Kay, yang menjalani rumah tangga itu kita, bukan mereka. Kita yang tahu


Pasti bukan mereka, karena kita yang melewati. Jadi kumohon! Jangan dengarkan kata orang lain, dan Mama aku tak pernah memandang status atau kasta orang lain. Yang penting kamu baik, dan bisa ngurus keluarga dengan baik, itu saja. Stop berfikir sesuatu yang tak mungkin. Oke!" kata Sean mencoba meyakinkan Kanaya.


Kanaya mencerna apa yang di katakan Sean ada baiknya.


'Aku tak perlu memikirkan sesuatu yang tidak pasti' kata batin Kanaya, yang mencoba meyakinkan hatinya.


*****.....*****

__ADS_1


__ADS_2