Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
45. Laura Berulah


__ADS_3

Walaupun kepala Kiara sedikit pusing, dia tetap berangkat ke kantor dan pergi bekerja. Karena sudah berjanji sama sang suami. Setelah dia selesai dan rapi, dia turun ke bawah. Kaira membawa tas kerjanya sembari menenteng jas kebanggaan, yaitu jas dokter.


"Assalamualaikum Bik,,,sudah selesai bekalnya ya bi?" salam Kaira. Sedangkan Bibi tersenyum cerah kepada sang majikan yang ramah.


"Waalaikumsalam,,,Iya Nyonya," sahut Bibi. Bibi pun menyodorkan makan siang yang ada di tas mini khusus tempat makanan, yang akan di bawa oleh Kaira.


Kaira menerima tas mini yang berisi makan siang sang suami. "Bi, Kai berangkat dulu yah." ucap Kaira. Ia pun mencium punggung tangan wanita yang sudah setengah abad itu. Kaira menganggap Bibi seperti orang tuanya sendiri. Bibi begitu terharu dengan ketulusan Kaira.


"Nyonya hati-hati di jalan..." peringat bibi sebelum melepas kepergian majikannya.


"Iya Bik, makasi yah..!" ujar Kaira sembaris tersenyum, meskipun senyum itu tertutup dengan cadar. Tapi Bibik bisa menangkap ketulusan seorang Nyonya Leinard.


Setelah pamitan kepada Bibi, Kaira melenggang pergi ke luar. Di depan pintu dia sudah di tunggu oleh sang supir. Saat melihat nyonya mendekat ke arah pintu, supir menunduk hormat. Supir yang sudah berumur 47 tahun itu, ialah Pak Lukman.


"Tidak usah seperti itu pak!" kata Kaira yang merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa nyonya, itu kan tanda penghormatan saya kepada majikan." ujar Pak Lukman yang selaku supir.


"Tapi saya kurang nyaman pak Lukman, lain kali tidak usah membungkuk seperti itu." kata Kaira tetap kepada pendiriannya.


Pak Lukman pun hanya bisa mengiyakan permintaan Kaira. "Baiklah Nyonya..." ujar Pak Lukman pasrah. Ia bangga dengan Tuan rumah yang baik hati ini.


"Ya udah! Mendingan sekarang kita langsung berangkat aja pak. Biar tidak semakin siang!" ucap Kaira. Pak Lukman mengangguk setuju dengan ucapan Kaira. Pak Lukman lantas membuka pintu mobil belakang, agar nyonya Kaira langsung masuk. Tanpa susah-susah membuka pintu mobil. Kaira masuk ke dalam mobil BMW berwarna hitam keluaran terbaru itu, yang sengaja di belikan oleh sumainya. Agar dia tidak memakai sepeda motor lagi saat akan pergi bekerja.


Di sisi lain, tepatnya di kantor Leinard. Ada seseorang wanita yang sangat seksi memasuki kantor Leinard. Yah! Dia adalah mantan pacar Leinard yang masih terobsesi dengan sang Tuan Muda. Dia berjalan berlenggak-lenggok ke arah resepsionis yang berjaga.


"Ruangan Tuan Leinard dimana..?" tanya Laura dengan angkuh. Dia mendongak kan dagu dengan sombong di depan petugas resepsionis itu.


"Maaf! Anda siapa yaa?" tanya resepsionis itu sopan. Pasalnya tadi sang tuan berpesan jika ada wanita yang bertanya ruangannya suruh langsung masuk aja.


"Kamu tidak tahu siapa saya?" tunjuk Laura pada dirinya sendiri. Si petugas resepsionis hanya diam saja mendengarkan, walaupun sebenarnya di dalam hati dia jeng dengan kelakuan tamu di depannya ini.


"Dengar ini baik-baik ya! Saya ini Laura Sebastian, calon nyonya pemilik kantor ini." ujar nya angkuh.

__ADS_1


Karena si petugas enggan berlama-lama dengan wanita itu. Dia pun langsung memberi tahu ruangan sang persdir. "Anda langsung naik ke lantai 45 aja bak." ucap resepsionis.


"Apa? Kamu bilang saya apa tadi." tanya Laura yang tidak terima di panggil dengan sebutan mbak-mbak.


"M-mbak..." kata si petugas takut-takut.


"Emang kamu fikir aku nikah sama kakak kamu, Dengar ya! Mulai sekarang panggil saya calon Nyonya Leinard." ujar Laura percaya diri. Dia yakin Leinard masih sangat mencintai dirinya. Laura pun langsung berjalan meninggalkan meja resepsionis, sementara si petugas hanya menggelengkan kepala tidak habis fikir. Ada yah, orang sepercaya diri seperti itu.


Laura menuju lift umum, untuk naik ke lantai atas. Dia kesal karena tak bisa memakai lift khusus petinggi kantor. Dengan cepat ia masuk ke dalam lift, dan memencet tombol lift ke lantai paling atas.


Ting....!


Suara pintu lift terbuka, Laura segera keluar dari lift itu. Di lantai atas hanya ada dua ruangan, ruangan yang paling besar khusus untuk CEO. Sedangkan ruangan yang lebih kecil milik sekertaris Juno. Di atas pintu pun, sudah jelas tertulis papan nama ruangan itu. Laura berjalan terus menyusuri koridor sampai ia berada tepat di depan pintu ruangan Leinard. Dia tersenyum bahagia, dia pun merapikan penampilannya sebelum masuk ke dalam ruangan Leinard. Kebetulan sang asisten menunggu nyonya muda di bawah, ia baru saja turun. Jadi Laura semakin leluasa menemui Leinard, karena tidak ada orang yang akan menghentikan dirinya.


Setelah nyonya Kaira duduk di jok belakang, Pak Lukman langsung menghidupkan mobil dan meninggalkan mansion mewah itu. Pak Lukman melajukan mobil membelah jalanan kota yang ramai, beliau membawa mobil dengan kecepatan sedang menuju kantor Tuannya.


Di dalam mobil, Kaira lebih memilih membaca buku. Daripada dirinya duduk diam menunggu sampai kantor. Sampai tidak terasa mobil yang sudah memasuki halaman kantor. Dia pun turun, Juno yang tahu itu Nyonya mudanya segera menghampiri Kaira.


"Nyonya, Anda sudah ditunggu oleh Tuan di ruangannya. Mari saya antar!" ucap Juno hormat. Kaira mengangguk setuju. Mereka pun berjalan menuju ruangan Leinard. Para Karyawan bertanya-tanya dan iri, siapa gerangan yang bersama asisten Tuan Leinard itu.


.


.


.


Ceklek....!


Tiba-tiba pintu terbuka, Leinard yang menyangka itu Kaira. Dia sengaja tidak melihat ke arah orang yang masuk ke dalam ruangannya. Tapi aneh, bau parfum yang menyengat masuk ke indera penciumannya. Setahu Leinard, Kaira tidak memakai parfum saat ke luar rumah. Dia hanya akan memakai saat mereka ada di dalam kamar saja.


Leinard pun mengalihkan pandangannya, yang semula fokus ke berkas-berkas yang ia selesaikan. Di mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk melihat berkas.


Deg....!

__ADS_1


Leinard menatap dengan tajam, kearah wanita yang sangat dia benci. menatap ke arah nya pun sekarang jijik.


"Ngapain kamu kesini? Siapa yang nyuruh kamu masuk?!" sarkas Leinard kepada wanita itu. Yang tidak lain adalah mantannya sendiri.


Laura yang baru pertama kali mendapatkan bentakan dari Leinard, dia jadi spechlees. Dia sebisa mungkin menghilangkan rasa terkejut yang menghampiri.


"Sayang...aku itu kangen banget sama kamu! Kita kan udah beberapa bulan ini enggak ketemu! So, sekarang aku datang menemui kamu." kata Laura percaya diri. Dia berjalan ke arah Leinard.


"Stop..! Kamu punya nyali banget menampakkan diri kamu disini!" kata Leinard sarkas. Leinard tetap duduk tak bergeming dari tempatnya.


"Kok kamu gitu sih! Aku ngaku salah karena selingkuh sama Reygan. Tapi aku cintanya sama kamu aja, aku hanya mengisi rasa sepiku dengan dekat dengan dia." Kata Laura mencoba menjelaskan sesuatu yang pernah ia lakukan, tapi tidak sebenarnya.


"Omong kosong! Kamu kira aku bodoh Laura. Sekarang juga pergi dari sini." titah Leinard tegas. Leiard yang melihat Laura tetap di tempat, ia pun memilih pergi. Ia berdiri dari kursi kebesarannya berjalan meninggalkan ruangan. Saat bertepatan di samping Laura. Wanita itu, langsung berhambur memeluk tubuh Leinard. Bersamaan, dengan itu pula pintu di buka oleh seseorang tak lain adalah nyonya muda.


Ceklek....!


Pintu ruangan terbuka. Tampak di sana Kaira dan Juno.


Deg....!


Kaira tertegun melihat pemandangan didepannya, bekal makan siang untuk sang suami jatuh ke lantai begitu saja. Leinard pun ikut membeku ditempatnya.


"M-mas...." kata Kaira, air mata wanita bercadar itu langsung hilir mudik melewati mata dan berembes membasahi cadar yang ia kenakan.


Sadar dengan panggilan istrinya, ia langsung mendorong Laura keras. Tidak peduli wanita itu akan terjatuh atau gimana, yang ia ingin menghampiri istrinya.


Sementara Laura terhuyung keras ke lantai, bokong nya mencium kerasnya lantai yang dingin. "Sayang,,,kamu kok tega sih sama aku!" dia seperti tidak punya malu.


Kaira yang mendengar orang lain memanggil suaminya dengan sebutan spesial 'sayang' membuat hatinya sakit.


"S-a-sayang...!" ucap Kaira meniru panggilan wanita seksi itu. Dia pun berbalik pergi meninggalkan tempat yang membuat hatinya seperti teriris. Dia berlari menuju lift danbturun ke bawah.


"Kaira....! Tunggu...!" teriak Leinard, Kaira tidak menggubris panggilan Leinard. Dia terus berlari dengan deraian air mata.

__ADS_1


*****.....*****


__ADS_2