Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
49. Berobat kepada Sahabat.


__ADS_3

"Yaudah ayok kita berangkat," ajak Juno kepada Raina.


"Iyah, aku masuk dulu ya mau ganti baju!" ucap Raina kepada Juno.


"Enggak usah, lagian kamu cantik kok pakai baju itu." ungkap Juno jujur. Raina yang mendengar dirinya di puji sama orang datar kayak jalan tol ini, tersenyum tipis. Wajah nya merah merona menahan malu.


"Enggak! Aku mau ganti, kalau nanti ada yang ngejek gimana? Nanti aku malu-maluin kamu." kata Raina kekeh dengan keinginannya.


"Tidak akan ada yang berani ngejek kamu, kalau ada ya bilang sama aku! Nanti biar aku yang ngurus." ucap Juno.


"Ayo...!" ajak Juno lagi.


"Sek Mas Juno...!" sahut Raina, ia segera berdiri hendak ke kamar.


"Jalan sendiri! Apa aku gendong?" kata Juno penuh ancaman kepada Raina.


"Tuh kan...ngancem lagi!" ucap Raina lesu.


"Kamunya sih enggak mau, harus di ancem dulu baru ikut!" sahut Juno tanpa dosa.


"Iya-iya,,,aku manggil Alina dulu! Puasss!" ucap Raina. Sebelum Raina pergi ke dapur, Alina sudah kembali ke ruang tamu.


"Ini teman kamu! Yaudah buruan. Tidak ada alasan atau apapun itu!" final Juno. Mereka pun ngikut saja kepada Juno karena tidak ingin berdebat lagi. Apalagi kepala Raina tambah pusing saja. Akhirnya mereka sampai di basement apartemen, lalu masuk ke dalam mobil milik Juno. Karena ia tidak membiarkan Raina dan Alina mengendarai mobilnya sendiri.


Setelah menempuh perjalanan kisaran waktu 35 menit, mereka sampai di rumah sakit besar milik keluarga Leinard. Lalu mereka turun dari mobil, Alina langsung memainkan gawainya untuk menghubungi teman-temannya yang bekerja di sini.


Drrrt....Drrrt....


Suara nada dering handphone milik Kanaya bergetar.


"Ish, siapa sih ganggu aja!" gerutu Sean jengkel. Karena ia tidak bisa melanjutkan aksi yang menyenangkan bagi Sean. Yaitu modusin sang istri.


Kanaya mengulum senyum, melihat wajah masam Sean.


"Abi, enggak boleh kayak gitu!" peringat sang istri kepada suaminya. Yah, Kanaya dan Sean, memanggil sebutan abi dan umi saat mereka berdua saja.


Kanaya melihat nama Alina tertera di layar handphonenya, membuat ia langsung cemas. Karena takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan kepada Raina.


Mereka berjalan bertiga di koridor rumah sakit, sedangkan Alina sembari menelfon Kanaya.

__ADS_1


"Halo,,,Assalamualaikum Lin!" [Kanaya] mengucapkan salam kepada Alina.


"Waalaikumsalam Kay..kamu dimana?" [Alina]


"Ada di ruangan suamiku!" [Kanaya]


"Ohh, sibuk enggak. Kami ada di rumah sakit nih...!" [Alina]


"Ya Allah,,,Raina sakitnya tambah parah ya?" [Kanaya]


"Engga kok, Alhamdulillah mendingan sih. Tinggal pusing dikit doang, Tapi karena Juno yang maksa mau enggak mau ya harus ke rumah sakit


"Loh kok bisa! Emang kalian kenal sama temannya Mas Sean? Dimana?. Kok aku baru tahu ya...!" [Kanaya]


"Udah-udah! Nanya aja nanti sama Raina, aku juga enggak tahu kok. Tiba-tiba aja muncul di depan pintu, mendingan kamu sekarang kesini deh. Jemput kami!" [Alina]


"Iya-iya, yang sabar yaa! Ada di mana?" [Kanaya]


"Ada di koridor lantai 2, cepetan ya bestie!" [Alina]


"Siap-siap bawel...!" [Kanaya]


"Assalamualaikum...!" [Alina]


Tuuuut.....Tuuuut....


Panggilan berakhir antara Kanaya dan Alina.


Kanaya langsung menoleh ke arah suaminya yang sedari tadi duduk memperhatikan saja.


"Abi, aku mau ke lantai dua dulu ya! Sahabatku ada disana. Dia lagi sakit, aku jemput ya!" ucap Kanaya kepada sang suami.


"Yaudah ayo! Aku ikut." ujar Sean. Kanaya mengangguk, lalu berdiri dari kursinya.


"Ayo Umi, biar cepat selesai!" kata Sean tidak sabaran.


"Abiii, kok ngomongnya kayak gitu. Sahabat aku loh itu! Kayaknya pengen cepat-cepat mereka pulang!" kata Kanaya tidak terima dengan omongan Sean barusan.


"Ya,,,iyalah Umiku tercinta, biar enggak ganggu kita. Kok kamu enggak peka sih! Suami pengen mesra-mesraan juga." sungut Sean melihat istrinya biasa aja.

__ADS_1


"Udah-udah...ayo buruan!" kata Kanaya menarik lengan sang suami. Mereka masuk ke dalam lift menuju lantai bawah, dimana sahabatnya menunggu.


Selang beberapa menit, kahirnya Kanaya dan Sean menemukan keberadaan sahabatnya. Yang duduk di meja tunggu menanti sepasang kekasih halal itu.


"Alhamdulillah ketemu juga, Aku cari-cari tahunya di sini." kata Kaira yang sudah berada tepat di depan mereka. Sementara Sean dan Juno langsung salaman dsn berpelukan.


"Hehehe,,,sorry! Habisnya lama kan jadi pegal berdiri terus. Mendingan duduk disini nunggu kalian." sahut Alina.


"Kamu gerak cepat juga ya! Udah bosen ya lama menjomblo!" goda Sean kepada Juno.


"Iyalah,,,emang cuma kamu bisa! Aku malah lebih cepat." ucap Juno sembari melirik ke arah Raina yang duduk sedari tadi mendengarkan sahabatnya berbicara. Ia bangga sekali mengatakan akan mempersunting Raina.


"Uhuk...uhuk!" Raina pura-pura batuk. Karena lirikan mata Kanaya dan Alina yang mengintimidasi dirinya.


Mereka semua tertuju kepada Raina yang menutup mulut dengan punggung tangannya. Raina tampak salah tingkah sendiri. "Ngapain lihatin aku..?" tanya Raina kepada mereka.


Mereka serentak menggeleng kepala. Tambah membuat Raina malu. "Ihh, kok jadi begini sih! Mau di obatin enggak sih, pusing ini kepala." ucap Raina judes.


Leinard bertanya-tanya, kok bisa asistenya ikut bergabung di sana. Leinard berjalan mendekati Juno dan Sean. Ia menetap datar ke arah sang asisten.


"Raina tambah parah ya?" tanya Kaira penuh ke khawatiran kepada sahabatnya yang hidup sebatang kara.


"Enggak juga kok! Pawangnya aja yang berlebihan." ucap Alina tanpa dosa.


"Ihh,,,apaan sih Alina!" kata Raina menyangkal jawaban Alina.


"Stop! Jangan di berondong dengan pertanyaan dulu. Aku tahu kok kita sama-sama penasaran, tapi tolong di skip dulu. Kita harus mengobati Tuan Putri dulu ya bestie!" ujar Kanaya.


"Kamu kok disini? Siapa yang sakit?" tanya Leinard kepada Juno.


"Yeah, lagian kamu sih enggak kepoin si jalan tol! Ketinggalan berita kan." bukannya Juno yang menjawab malah Sean. Dengan senyuman lebar miliknya. Hal itu mampu membuat Leinard tambah kepo, ia mengernyitkan kedua alisnya.


"Emang udah bergerak sejauh mana?" tanya Leinard yang sudah mengerti alur pembahasan mereka.


"Minggu depan nikah!" jawab Juno singkat.


"WHAT...! Patut diberi upplause." ujar mereka ikut bahagia dengan kemajuan Juno. Mereka tidak tahu saja cara apa yang di gunakan Juno, coba tahu pasti mereka akan membanting tubuh kekar milik Juno.


Sedangkan kaum Adam tidak ikut ke dalam ruangan Kanaya. Karena mereka ke kantin rumah sakit membelikan makanan dan minuman untuk kaum Hawa.

__ADS_1


PErsonil mereka kurang lengkap karena tak ada Leo dan Zeo di tengah-tengah mereka. Pengunjung kantin di buat heboh, saat melihat tiga laki-laki tampan berjalan menuju stand kantin.


"Dasar manusia, lihat yang mulus aja langsung lupa sama yang ada di rumah!" ujar Sean mencibir. Saat mata wanita-wanita itu, menatap lapar ke arah mereka. Sedangkan Leinard dan Juno acuh saja, karena baginya itu tidak penting sama sekali.


__ADS_2