Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 20. Kedatangan Keluarga Mahmud.


__ADS_3

Sean dan Kanaya, makan berdua di taman. Mereka tak bersuara, memilih menyibukkan dengan makanan mereka masing-masing. Kanaya bahagia, walau hanya makan dengan Sean. Karena baginya, peristiwa seperti ini tak akan terulang lagi.


Dia hanya bisa mengagumi, tapi tak bisa memiliki. Itu menurut Kanaya. 'Tapi kan! yang menentukan takdir itu Allah SWT. Apalagi kalau soal jodoh, jadi tidak usah pusing. Kanaya kalau emang di itu jodoh kamu, enggak bakal kemana' batin Kanaya yang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


'Yaa tapi kan tetep aja, harus ada usahanya' batin Kanaya lagi.


"Hai! Lagi mikirin apasih? Dari tadi bengong aja!" kata Sean.


"Tidak kok," elak Kanaya, enggak mungkin kan dia cerita, mikirin calon masa depannya.


"Ooh, kalau gitu kita mau lanjut jalan-jalan apa pulang?" tanya Sean.


"Mendingan kita pulang aja, istirahat. Kamu pasti capek juga kan? habis ngoperasi tadi." ucap Kanaya lagi.


"Ayoo!" Sean berdiri mengajak Kanaya pergi dari taman kota. Sean sebenarnya capek juga, tapi apapun itu demi Kanaya akan ia lakukan, termasuk waktu istirahatnya.


Setelah mendengarkan jawaban Kaira minggu lalu, Leinard bertekad melamar Kaira. Ia menyuruh kedua orang tuanya melamar Kaira untuknya.


Sore Leinard sudah pulang kerja, ia sengaja pulang lebih awal untuk mempersiapkan acara kunjungan keluarganya nanti malam ke rumah Kaira. Leinard masuk ke dalam dan bertemu Mommy nya di ruang keluarga.


"Sore Mom," sapa Leinard.


"Son, kamu itu yah! Bukannya ucapin salam. Tapi malah bilang sore Mom," kata Mommy mengikuti kata-kata Leinard tadi.


"Untung aja Lainard sapa mom, daripada tidak sama sekali." kata Leinard santai.


"Son! Kamu kok enggak tahu sopan santun sama sekali!!" teriak sang Mommy. Sedangkan Leinard melenggang masuk ke dalam kamarnya.


"Ke kamar aja, Mommy nanti tidak mau datang ke rumah Kaira!" ancam Mommy. Seketika langkah Leinard terhenti, ia berbalik berjalan ke arah sang Mommy, lalu duduk di sampingnya.


"Mommy kayak anak kecil aja," tutur Leinard.


"Terserah Mommy lah, siapa suruh kamu main masuk ke kamar aja, tidak nanya apa-apa," kata Mommy.


"Aku mau bersih-bersih dulu mom, baru nanti nanya-nanya persiapan nanti malem. Oh iya mom, aku lupa belum memberitahu Abba Farukh, kalau kita mau berkunjung ke rumahnya malam ini!" untung saja dia ingat, coba enggak keluarga Abba pasti kaget, mereka tiba-tiba dateng.


"Gimana sih kamu Leinard, hal sepenting ini lupa! Mommy tidak mau tahu, kabarin keluarga Kaira sekarang juga." kata Mommy tidak terbantahkan.

__ADS_1


"Iya,,,iya mom, Leinard Kabarin kok. Mommy tenang aja ya! Tidak usah banyak pikiran. Kalau gitu, aku ke atas dulu mom." lalu dia berdiri pergi ke kamar.


Setelah selesai shalat isa, keluarga Mahmud siap-siap di kediamannya. Mereka akan berangkat sebentar lagi.


Waktu begitu cepat berlalu, mereka sudah ada di dalam mobil menuju rumah Kaira. Menempuh perjalanan sekitar 45 menit. Akhirnya mereka sampai.


Keluarga Abba sudah menanti di depan pintu, mereka tak perlu repot-repot lagi mengetuk pintu, karena sudah terbuka lebar-lebar.


"Assalamualaikum..." ucap keluarga Mahmud bersamaan.


"Wa'alaikumsalam..." ucap Abba Farukh sembari berjabat tangan dan berpelukan.


"Silahkan masuk, maaf sebelumnya emang seperti inilah keadaan rumah kami. Seperti gubuk," ucap Abba Farukh merendah.


"Tidak masalah Pak, Kami pun demikian," kata Deddy ikut merendah.


"Anda bisa saja Pak," sahut Abba tersenyum jumawa. Umma Fatimah dan Kaira pun menyediakan makanan dan minuman di meja. Setelah itu, mereka ikut bergabung di sana. Kaira duduk di samping Umma, di sofa paling pojok. Dia menunduk terus, karena malu, sedangkan Mommy tersenyum hangat melihat gelagat calon menantunya yang sangat baik. 'Aku jadi tidak sabar, pengen cepat-cepat buat ngehalalin hubungan mereka' batinnya. Biasanya di sini Leinard lah yang tidak sabar, tapi ini malah kebalik.


"Gini Pak Farukh, maksud tujuan kami datang kesini ingin melamar putri bapak untuk anak saya Leinard," Deddy mengutarakan maksud tujuan kedatangan mereka ke kediaman Abba.


"Makasih sebelumnya, saya terima maksud baik Anda, apa yang membuat anda berkenan dengan putri Abba, sedangkan nak Leinard tak melihat wajah putri Abba?" tanya Abba Farukh.


Leinard yang di tanya seperti itu, membuat jantungnya tambah berdetak dua kali lipat.


"Saya mencintai putri Abba karena akhlaknya Abba, dia juga baik, pandai menjaga pandangan dari kaum laki-laki," ucap Leinard tegas. Karena itulah yang ia rasakan. Mommy tercengang mendengar kata-kata putranya. Karena baru kali ini, dia berbicara begitu bijaksana dan sopan. Mommy tambah melebarkan senyumannya, melihat perubahan drastis sang putra, keinginannya tambah menggebu-gebu.


"Baiklah kalau begitu! Abba perkenankan engkau melihat wajah putri Abba, saat nanti melihat wajah putri Abba kamu berubah pikiran, dengan keputusanmu di awal. Nak Leinard bisa berbicara nanti," ujar Abba.


"Nak, bukalah penutup wajah mu!" perintah Abba.


Tangan yang semula bertengger nyaman di atas pangkuan, kini mengayun ke udara. Ia membuka cadarnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar Kaira membuka cadarnya. Kini cadar itupun terlepas dari tempatnya.


Leinard yang melihat wajah Kaira dengan jelas, tak mampu mengedipkan mata. Melihat kecantikan wajah calon istrinya. Kata dari Leinard untuk Kaira saat ini 'Sangat Cantik'. Melihat wajah terpana putranya, Deddy Leinard pun pura-pura terbatuk.


"Uhuk....uhuk." mendengar suara batuk Deddynya Leinard langsung tersadar, dia melihat ke arah Deddynya yang menahan tawa karena kelakuannya.


'Memang tak salah pilih!'batin Mommy kegirangan. Kaira lantas memasang kembali cadarnya.

__ADS_1


"Gimana nak Leinard?" tanya Abba lagi.


"Saya mau memperistri anak Abba!" ujar Leinard tegas.


"Alhamdulillah...!" seru Abba.


"Kalau sudah begitu, kita sebaikanya langsung membicarakan pernikahan mereka saja giman?" saran Umma Fatimah.


"Saya setuju jeng," celetuk Mommy. Umma Fatimah pun tersenyum, melihat respon antusias dari calon besan.


"Gimana kalau bulan depan saja. Abba Farukh dan keluarga, keberatan apa tidak?" ucap Deddy.


Sebelum Abba, bicara Mommy langsung nyeletuk kembali.


"Tidak Ded, seminggu dari sekarang aja gimana?" putus Mommy.


"Lebih cepat sih, lebih baik Mom." ujar Leinard menanggapi. Memberikan dukungan penuh terhadap usulan Mommy tercinta. Dalam hati ia bersorak ria.


"Kami sih, terserah keluarga bapak Mahmud aja." ucap Abba.


"Apa tak terlalu keburu ya jeng, takut nya Anda kuwalahan nanti ngurus semuanya." timpal Umma Fatimah.


"Tidak sama sekali kok jeng, malahan saya seneng banget," kata Mommy tersenyum hangat.


"Kalau gitu, di tetapkan minggu depan aja," ucap Deddy. Semuanya mengangguk setuju, lebih-lebih Leinard orang paling antusias.


Menit berlalu, sampailah keluarga Mahmud berpamitan pulang. Dari kediaman Abba Farukh. Tak lupa mereka berjabat tangan dan saling melontarkan senyuman dan pelukan hangat, melepas kepergian mereka.


"Kami pulang dulu ya jeng, sampai ketemu lagi," ucap Mommy sembari melepas pelukannya.


"Iya jeng, hati-hati di jalan." balas Umma.


"Assalamualaikum...!"


"Waalaikumsalam...!" jawab mereka bersamaan.


Deddy sekeluarga beranjak pergi meninggalkan rumah Abba, dengan gembira.

__ADS_1


*****.....*****


__ADS_2