
Setelah rapi, Kaira pun keluar drai kamar meraka. Lalu menuruni anak tangga satu per sepatu, dengan sangat hati hati. Kalimat sang Suami begitu menancap di hatinya, membuat ia harus berhati-hati dengan betul. Agar tidak terjadi sesuatu yang tak ia inginkan. Di depan pintu utama, ada supir pribadi yang sudah menunggu kedatangan nya sedari tadi.
"Anda sudah siap Nyonya?" Tanya nya, saat melihat majikannya sudah berdiri di sampingan nya.
"Iya pak!" jawab Kaira, sembari menganggukkan kepalanya dengan sopan.
"Baiklah, silahkan Nyonya!" Ia mempersilahkan Nyonya muda nya agar berjalan terlebih dahulu, Namun! Kaira menolak itu. Karena Dirinya yng merasa tal enak hati.
"Tidak pak, terima kasih. Anda saja berjalan lebih dulu." Tutur nya dengan sopan kepada supir pribadinya. Sang supir pun di buat merasa tidak nyaman, bagaimanapun ia harus menghormati Nyonya mudanya. Laki -laki yang sudah lanjut usia itu tak bergeming di tempatnya, ia takut untuk bergerak barang selangkah pun. Kaira yang melihat itu jadi paham, di balik cadar nya ia tersenyum.
"Tidak apa-apa, Pak!"
Mendengar ucapan Kaira yang kembali berbicara seperti itu, membuat Pak Supir berjalan terlebih dahulu! Kaira pun ikut berjalan di belakang nya dengan jarak yang lumayan jauh. Sampai di dekat mobil ia langsung membukakan pintu mobil untuk Nyonya Mudanya.
"Silahkan, Nyonya!" serunya sopan.
"Iya, Makasih Pak!" Sahut Kaira. Lantas Wanita bercadar itu masuk ke dalam mobil, Lalu Pak Supir itu pun menutup pintu mobil. Gegas ia masuk dan duduk di tempat kemudi, karena takut membuat Kaira menunggu. Selesai memasang sabuk pengaman, ia langsung menghidupkan mobil, dan melaju membelah jalanan yang ramai dengan pengguna jalan.
Hati ibu hamil itu, tampak bahagia. Terlihat dari matanya yang sipit karena terus tersenyum. Yah, Kaira sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sahabat nya dan bercanda gurau bersama seperti di masa lalu.
Kaira mengambil handphone genggam miliknya, lalu mengetik di layar canggih miliknya.
"Assalamualaikum, bestie Aku udah mau nyampek nih! Tunggu di depan pintu masuk yah," Kalimat yang di ketik Kaira.
"Ok"
"Siap, siap!"
__ADS_1
"Yups"
"Sudah, stay di tempat nih."
Begitulah balasan demi balasan dari temannya, membuat notifikasi dari benda pipih nan canggih itu tak berhenti bergetar. Kaira hanya tersenyum saja, karena Dia pun sudah tahu kalau yang membuat ramai seperti itu teman-temannya.
Tak berapa lama, mobil itu pun berhenti di depan mall terbesar, dan benar saja! Di sana sudah berdiri teman-temannya dengan menampilkan senyuman yang merekah.
Tanpa menunggu Pak supir untuk membuka pintu mobil, Kaira pun sudah turun terlebih dahulu. Bumil itu sudah kangen berat dengan sahabat-sahabat nya. "Assalamualaikum..." Salam Kaira dengan antusias, saat ia sudah berada di dekat teman-teman nya.
""Waalaikumsalam..." Jawab Mereka kompak, mereka pun berpelukan dengan erat, meleburakan rasa rindu masing-masing.
"Akhirnya yah, kita bisa kumpul-kumpul lagi. Dari sekian lama di agendakan, ehh! Baru terlaksana hari ini." Ujar Raina setelah melepaskan pelukannya.
"Iya bener benget! Aku rindu tahu sama kalian semua. Tapi, malah nggak ada waktu untuk bertemu saja. Melebihi orang penting saja, tidak memiliki waktu untuk bersama" Timpal Zahra dengan nada merajuk.
"Yaudah yuk! Kita mendingan masuk. Dari tadi disini tidak enak di lihatin sama orang," Ajak Kaira, ia pun menggandeng tangan Raina mengajak ke dalam.
"Ayok!"
Mereka pun berjalan masuk ke dalam, dengan di selingi canda gurau dari Alina, yang membuat mereka hanya tersenyum geleng-geleng kepala. Melihat tingkah sahabat nya yang satu itu, tidak berubah sedikitpun.
"Eh, Eh Tunggu dulu! Kita ngapain dulu nih? Kalau langsung duduk, makan dan cerita saja kayak nya kurang seruh deh." Celetuk Kanaya. Ia sudah mendambakan momen- momen dimana mereka sering belanja bareng sampai-sampai lupa waktu. Dan tentu saja, Mama Kanaya akan marah-marah mengingat kan mereka karena terlambat pulang. Namun, setelah mereka semua sudah punya kehidupan masing-masing, Ia akui sangat merindukan dengan suasana yang seperti itu.
"Nah! Bener banget tuh. Lebih baik kita belanja dulu, menghabiskan uang Suami-suami kita." Jawab Raina antusias, dengan senyuman manis yang terbit dari bibir mungil nya. Jika saja Suami posesif nya tahu, pasti Juno tidak akan membiarkan itu terjadi. Karena senyuman indah itu hanya di peruntukkan unutknya saja.
"Haish! Jangan boros-boros. Beli yang perlu saja, kasian tahu! Suami kalian kerja banting tulang, tapi di pergunakan kepada hal yang tidak penting. Beli yang di perlukan saja." Kaira yang bijak mengingatkan teman-temannya. Yah, meskipun Dia menjadi Nyonya Muda Maxim, Keluarga yang paling kaya dan berpengaruh tidak sekalipun ia menghambur-hamburkan uangnya.
__ADS_1
"Iya, Aku setuju banget. Bagaimana pun, kita tidak boleh menghambur-hamburkan uang. Kita harus pandai menggunakan nya dengan baik." Zahra sependapat dengan Kaira. Walaupun para Suami mereka tidak akan pernah melarang dan mempermasalahkan itu. Malah, mereka akan sangat senang.
"Iya, iya! Kita akan beli hal yang wajib-wajib saja. Ok," Kata Raina pada akhirnya.
"Ck! Enak banget punya Suami, ada yang nafkahin. Lah gue, mau belanja pakai uang siapa?" Tanya Alina dengan wajah yang di buat menekuk.
"Haha...Haha...." Mereka semua tertawa, melihat temannya yang satu itu, di tekuk wajahnya dengan memelas.
"Makanya, nikah dong." Ujar Raina menanggapi ucapan Alina.
"Ih, ngeselin!! Ini juga udah mu nikah kok. Awas saja kalau kalian tidak memberikan kado yang banyak." Ucapnya tanpa sadar. Karena kesal di ketawain, di tempat umum lagi. Untung saja sahabat, kalau bukan teman nya! Sudah dipastikan mereka akan di jadikan capcay. Sungut Alina.
"WHAT!!" Mereka semua di buat terkejut, dengan pengakuan tiba-tiba yang terucap oleh Alina.
"Apa Kamu bilang? Mau menikah? Sama siapa? Kok nggak cerita?" Tanya Kanaya menghujani Alina dengan berbagai pertanyaan.
"Hah! Apa?" Ujar Alina tak sadar dengan ucapannya sendiri.
"Kumat deh," Ledek Zahra. Beberapa detik kemudian, Alina ingat dengan apa yang ia katakan. Membuat ia cengengesan ke arah sahabat nya yang sudah menatap dirinya dengan intens. Menunggu penjelasan Alina. Namun, dirinya seolah-olah tak peduli.
"Hahaha, nanti aja deh ceritanya. Mendingan sekarang kita belanja, kasih gue gratisan." Ucapnya tanpa dosa, menaik turunkan kedua alisnya, menggoda teman-temannya. Ia malah mengembangkan senyuman nya, seolah-olah tak peduli dengan rasa penasaran teman-temannya. Padahal dirinyalah yang sudah membuat sahabat nya itu mati penasaran. Karena ulahnya.
"Hedeh, sengaja nih anak. Yaudah deh, nanti saja kita yang menginterogasi Dia." Ujar Kanaya. Karena ia keusilan Alina.
Jangan lupa ulasannya yah, Readers!🤗
*****.....*****
__ADS_1