
Juno pun kembali diam, ia memfokuskan diri ke jalan. Ia begitu bahagia, karena akan mempersunting istri yang begitu baik dan cantik.
Sungguh Alina di buat penasaran dengan pertemuan mereka. Kok sampai bisa, ke tahap yang serius padahal baru ketemu. Sedangkan ia sebagai sahabat tidak pernah mendengar temannya ini bercerita tentang spesies laki-laki.
"Emmm...Rai kepala kamu udah enggak begitu pusing ya?" tanya Alina khawatir.
"Iya mendingan kok Lin! Udah enggak sakit lagi." jawab Raina tersenyum ke arah sahabatnya. Untuk meyakinkan Alina, emang sih sakit. Tapi kan, pusing nya tinggal sedikit aja.
"Syukur deh kalau gitu!" ucap Alina sembari memeluk sahabatnya. Alina kadang mendongak, seperti akan berbicara sesuatu. Namun, wajah ragu-ragunya lebih kentara.
"Kenapa? Kalau mau mengutarakan sesuatu bilang aja, enggak usah malu-malu tapi mau gitu. Biasanya juga asal ceplas-ceplos nih." kata Raina yang paham gelagat Alina, yang tidak bisa sabar dengan apa yang ia kepoin.
Ditanya seperti itu, Alina ketawa cengengesan. Karena ketahuan oleh Raina.
"Paham betul nih! Kalau udah tahu kenapa enggak langsung ngomong aja. Nunggu aku bertanya dulu? Atau emang tidak mau berbicara!" ujar Alina pura-pura marah, Karena Raina yang tidak mau bercerita dan terbuka lagi dengannya.
"Yeah,,,enggak gitu juga kali. Emang menurut aku sih, tidak ada yang perlu di omongin." kata Raina.
"Kok begitu!" sahut Alina menggerutu kesal kepada Raina tak terima.
Raina yang melihat Alina kekeh pengen tahu, akhirnya pasrah dan mengiyakan permintaan Alina. "Yaudah! Nanti aja deh kalau sampai apartemen, Aku ceritain semuanya. Gimana puas!" tanya Raina di akhir kalimatnya.
Alina tertawa penuh kemenangan, ia langsung mengangguk antusias dengan ucapan Raina. "Bestie gue banget nih..." ujarnya.
"Kenapa harus nunggu sampai di apartemen, kalau disini bisa cerita?" tanya Juno. Sebenarnya dia pun penasaran, apa yang akan Raina ceritakan kepada temannya yang sedari tadi menempel di tubuh calon istrinya itu. Karena tak tahan, Juno pun menegur gadis yang sedari tadi ngoceh tidak jelas itu.
"Kamu bisa tidak sih duduk aja, enggak usah nempel berpelukan kayak gitu!" sungguh Juno tidak suka Raina di peluk oleh siapapun, meskipun itu temannya.
Mendengar itu, Alina langsung melepas pelukannya yang sedari tadi. 'Posesif banget nih calon pak su Raina, belum juga jadi suami udah segitunya. Apalagi jadi suami! Bisa-bisa enggak ketemu dong' batin Alina.
Juno yang tahu Alina membatin, tak mengubris lagi. Terserah dia mau berkata apa! Yang penting Raina tetap akan menjadi miliknya.
__ADS_1
Mobil mahal Juno pun masuk ke basement apartemen Raina. Lalu mereka turun dari mobil. Juno mengantar mereka sampai di depan apartemen, Karena dia harus kembali ke kantor.
"Aku langsung pulang ya!" ujar Juno
"Iya! Terimakasi sudah mengantar kami sampai ke sini." ucap Raina tulus.
"Hmm...Assalamualaikum." salam Juno lalu pergi melenggang ke kembali ke mobil.
"Hahaha...Buset dah itu orang! Kadang serem, kadang datar kayak dinding." Alina mengomentari Juno yang sudah tidak terlihat lagi oleh pandangan mereka.
"Tadi aja ada orangnya takut, malahan nurut banget. Kayak kerbau di cucuk hidungnya!" timpal Raina.
"Bener juga sih, gue takut lah! Orang nya aja kayak begitu. Gimana enggak takut coba." sahut Alina. Mereka pun masuk ke dalam apartemen Raina.
.
.
.
"Pak Lukman berhenti!!" ucap Kaira bersemangat. Ia langsung bugar saat melihat pedagang itu. Pak Lukman pun berhenti secara mendadak.
"Ya Allah nyonya, enggak bilang-bilang mau berhenti. Untung saja tidak ada kendaraan di belakang." ucap Pak Lukman.
Pak Lukman tak sadar bahwa dirinya mengeluh karena perintah nyonya muda yang tiba-tiba. Leinard tidak terima, lalu ia melotot kearah pak Lukman.
"Pak Lukman! Kalau kamu bosan bekerja bilang. Biar tidak aku cari supir lain saja!" ucap Leinard tajam. Pak Lukman sadar dengan omongannya.
"M-maaf Tuan! Saya salah!" ujar Pak Lukman takut-takut.
"Hmm.." jawab Leinard datar.
__ADS_1
"Kenapa sayang...?" tanya Leinard kepada sang istri dengan suara yang lembut. Tanpa menjawab, ia hanya menunjuk ke arah pedagang kaki lima di pinggir jalan itu.
"Jangan bilang kamu mau beli es dawet di penjual itu!" ujar Leinard. Karena tebakan suaminya benar, Kaira lantas tersenyum begitu senang.
"Ayo...!" ajak Kaira ingin turun dari mobil. Ia menarik lengan sang suami, agar megikutinya.
"No! Enggak boleh Baby. Di sana pasti kotor, aku bisa kok beliin kamu di tempat yang lebih baik. Di pedagang seperti itu pasti tidak
higienis!" tutur Leinard. Dia enggak mau terjadi apa-apa kepada istri dan anaknya.
Mata indah Kaira langsung berkaca-kaca mendengar Leinard yang melarang dirinya. Mimik wajahnya langsung sendu, tak lama kemudian cairan bening merosot dari pelupuk matanya. Leinard yang melihat itu tak kuasa, ia ingin menghapus jejak air mata itu. Namun, Kaira langsung menepis tangan Leinard.
"Enggak usah! Pokoknya aku mau beli di sana. Kalau kamu enggak mau ikut! di sini saja, biar aku yang turun beli sendiri" ucap Kaira sembari menggelengkan kepala.
"Hei Baby...dengerin dulu!" kata Leinard sembari memegang bahu Kaira yang bergetar karena menangis. Akhirnya Kaira melihat ke arah Leinard dengan genangan air mata yang masih berembun.
Tangan Leinard terulur, lalu mengusap air mata itu. "Jangan nangis lagi, aku enggak mau melihat ini. Okey! Kita akan beli." putus Leinard. Seketika senyum cerah merekah dari Kaira. Rasa kecewa nya hilang seketika, Karena sang suami mengalah. sungguh mood ibu hamil gampang berubah.
Lalu Leinard dan Kaira turun dari mobil, sang suami menggandeng tangan Kaira. Mereka berjalan beriringan, sebelum duduk di bangku kayu yang panjang Leinard memperhatikan sekitarnya. Lalu dia tertegun, mata tajamnya menangkap sosok yang mencurigakan di balik mobil pembeli lainnya. Ia pun langsung mengeraskan rahangnya. 'Brengsek...!' batinnya.
"Mas ayo duduk!" ajak Kaira kepada suaminya yang mematung berdiri. Karena panggilan dari Kaira, Leinard tersadar. Ia langsung tersenyum ke arah Kaira, agar tidak curiga dengan wajahnya yang tiba-tiba dingin dan mengintai.
"Hmm..." lalu mereka duduk.
Penjual es dawet pun menghampiri mereka.
"Maaf Neng, mau pesan berapa ya?" tanya penjual es ramah.
"pesan dua aja mang!"sahut Kaira tidak kalah ramahnya. Lalu mereka menunggu si penjual yang membuat es dawet segar di sore hari. Sedangkan Leinard terus melihat ke sekitarnya, melihat si penguntit masih ada apa enggak.
*****.....*****
__ADS_1