Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part62.


__ADS_3

"Assalamualaikum Warahmatullah...." salam sang imam, tanda berakhirnya shalat dzuhur yang mereka kerjakan. Tak lupa mereka berzikir dan di tutup dengan do'a yang di panjatkan kepada sang pencipta alam dan se isinya.


Selesai shalat, para wanita merapikan mukenah nya masing-masing. Setelah itu, mereka langsung kembali ke ruangan Alina. Sepanjang koridor Mereka berjalan sembari bercengkrama satu sama lainnya. Dari obrolan yang ringan sampai dengan obrolan yang membuat mereka tertawa.


Sementara, Raina dan Juno langsung pergi ke kantin. Untuk membeli makan siang buat mereka, sebenarnya sih! Makan siang yang telat.


'Makasih yaa Rabb, atas nikmat yang engkau berikan kepada kami. Dengan bidadari yang engkau hadirkan dalam hidup kami, membuat kami kembali dan bertobat kepada Mu.' batin Leinard. Dia sangat bersyukur, karena dengan Kaira berada di sisinya bisa sampai ke titik ini.


Leinard memandang ke arah wanitanya, yang memiliki wajah cantik tapi tersembunyi rapat- rapat di balik cadar itu. Ia menatap penuh dengan cinta ke Kaira. Hatinya yang semula gelap bagai malam tanpa cahaya bulan ataupun cahaya lainnya. Hanya ada gelap, gelap, dan kegelapan yang menyelimuti. Namun sekarang, hitam legam itu berangsur-angsur menghilang. Di gantikan dengan cahaya iman yang terus di pupuk. Sedikit-demi sedikit perbuatan- perbuatan yang tidak baik, ia lepas dan tidak lagi di jalankan. Namun, ada saja ujian untuk nya, yang mengharuskan memakai dunia gelapnya lagi.


"Hei,,," senggol Leon ke lengan kanan Leinard, yang sedari tadi memandang ke arah istrinya tersenyum cerah.


"Apaan sih? Ganggu aja! Kalau ngiri bilang aja?" ujar Leinard sewot. Karena dia di ganggu Leon dari pandangan yang menyejukkan mata, lalu turun ke hati. Membuat Leinard tambah hari jadi tambah klepek-klepek sama sang istri.


"Ehhh,,,enak aja! Ngapain aku ngiri sama kamu? Yang ada aku geli, melihat kamu yang seperti itu. Melihat kamu yang senyum-senyum seperti orang gila!" kata Leon dengan wajah geli.


"Enak aja loe ngatain gue gila, Ohh bosan hidup kamu yah! Dasar teman laknat! Sini loe jangan kabur..." teriak Leinard yang geram dengan Leon. Sementara, Leon yang merasa nyawa nya terancam cepat ngacir terlebih dahulu. Tapi, Leinard tak akan membiarkan Leon pergi begitu saja. Ia pun ikut berlari mengejar teman gesrek nya itu.


Sedangkan Sean hanya geleng-geleng kepala dengan senyum yang merekah di bibir yang sedikit tebal tapi seksi itu, melihat tingkah kedua temannya yang tak malu dengan umur yang sudah menua. Namun, main kejar-kejaran seperti itu. Tapi, sikap dan perilakunya sungguh kekanak-kanakan.


"Semoga aja encok...!" gumam Sean terkekeh geli. Kanaya yang tidak terlalu jauh jaraknya dengan Sang suami, mendengar dengan jelas apa yang di gumam kan Sean.


"Abi...." panggil Kanaya sambil melotot ke arah Sean. Bukannya merasa bersalah, Sean malah tambah tertawa nya. Sampai-sampai memegang perut nya yang sedikit sakit karena tertawa.

__ADS_1


"Biar aja Umi, ngitung-ngitung nambah pemasukan." jawabnya enteng.


"Yaudah kalau kamu mau makan uang kayak gitu! Jangan ngajak-ngajak aku. Lebih baik aku kelaparan, dari pada memakan makanan yang di beli dari hasil yang begituan." ujar Kanaya kesal. Lalu melanjutkan langkahnya kembali.


Sean yang tahu istrinya ngmbek, ia pun lekas mengejar sang istri yang kesal. "Umi,,,Umi..." panggil Sean. Tapi, tidak di iddahkan sama sang istri.


"Dosa loh, mengabaikan panggilan suami." ujar Sean sedikit kencang, untung saja di tempat mereka berpijak lengang manusia nya, jadi tak mengganggu kenyamanan orang lain. Ia pun mengeluarkan jurus andalannya. Ketika Kanaya sudah mode ngambek kayak gitu. Karena ia tahu, sang istri nya tak akan mampu berkutik jika diingatkan seperti itu. Dasar Suami, menang sendiri,,,wk,,,wk.


Kanaya pun langsung menghentikan langkahnya. Sean yang melihat itu tersenyum, membuat kedua sudut bibirnya terangkat sempurna. Sang istri pun berbalik, melihat ke arah Sean.


"Ck! Si tukang ngencem!" ucapnya memanyunkan bibir mungil nya yang semerah cerry.


"Mana ada aku ngancem, emang begitu kok!" kata Sean berkilah.


"Hehehe...enggak kok Umi ku tersayang. Aku tadi itu bercanda, mana tega aku begitu sama teman-teman ku." ucap Sean, lalu menautkan tangan kanan ke tangan kiri sang istri. Mereka pun jalan kembali, menuju ruangan Alina menyusul yang lain.


Sedangkan, Kaira dan Zahra di buat gemas setengah mati dengan kelakuan suami mereka.


"Mas Leinard..." panggil Kaira kencang. Begitupun, juga dengan Leon. Zahra memanggil suaminya.


"Deddy..." panggil nya. Langkah yang semula cepat kayak angin terhenti seketika. Zahra pun menghampiri sang suami, ia pun berjinjit langsung menjewer kuping kiri Leon.


"Aww....aww bund! Lepas sakit,,," ujar Leon menjerit, sebenarnya sih tidak sakit sama sekali. Tapi, malu ini loh, yang di liatin sama yang lain. Sianga jantan yang menakutkan, tunduk di kaki si betina yang cantik.

__ADS_1


"Biarin! siapa suruh lari-lari? Enggak malu apa sama umur? Apa lagi sudah mau punya baby dua, tapi kelakuannya kayak adek nya Zalfa." ucap nya gemas menjewer tiada henti.


"Hehehe,,,spontanitas Bund! Lagian tuh, Leinard yang salahin. Dia kok yang ngejar aku duluan." ajar Leon menunjuk kearah Leinard yang masih meringis sembari mengelus-ngelus telinganya yang memerah karena sakit.


"Sudah-sudah, kalian itu sama-sama salah. Main kejar-kejaran tidak tahu tempat." sambung Kaira.


"Ayo buruan kita ke ruangan Alina..!" ajak Leinard. Agar terhindar dari amukan sang istri. Mereka pun berjalan beriringan, tangan Leinard bertengger indah di pinggang Kaira. Sementara, Leon menyatukan tangan sang istri, di bawa dalam genggamannya yang besar.


"Mas, tangannya. Jangan di situ, malu tahu! Tuhan dilihat orang-orang." ucap Kaira sembari menyingkirkan tangan kekar Leinard.


"Biarin aja sayang! Mereka tak berani membicarakan kita." jawab Leinard cuek.


"Tapi kan...." ujar Kaira hendak membantah ucapan Leinard.


"Di pinggang atau..." balas Leinard sembari mengelus-ngelus pinggang itu pelan.


"Iy-iya..." pasrah Kaira, agar Leinard berhenti menjadi-jadi.


"Good girl, begitu dong. Kan tambah cantik kalau jadi penurut." ujar nya sambil mencapit ujung hidung yang tertutup cadar.


Tak lama, mereka sampai di ruang rawat VVIP Alina. Di dalam sana, ada sosok laki-laki yang duduk di kursi. Siapa lagi kalau bukan Zeo. Dengan raut yang khawatir, ia terus memandangi wajah pucat Alina. Meskipun begitu, kecantikan yang di miliki gadis itu tak luntur sedikit pun. Ia seperti putri tidur yang menanti kedatangan sang pangeran.


Bro, mendingan kamu bersih-bersih dan shalat. Alina biar kami yang menjaga dulu." ucap Leinard di samping Zeo.

__ADS_1


__ADS_2