
Jam 05.00 Wib.
Leinard sampai di mansion, kali ini dia mengendarai mobil nya sendiri. Karena kasihan juga, dengan sekretaris nya. Apalagi, Istri Juno, Raina tengah hamil tua. Yang artinya sebentar lagi akan melahirkan buah hati mereka, karena itu Leinard mengurangi pekerjaan Juno. Dia tahu, bagaimana seorang istri harus di prioritas kan, Leinard sudah melalui itu semua.
Dia turun dari mobil, dengan baju yang sedikit kusut, serta wajah lelah nya terlihat begitu jelas. Leinard berjalan, sembari membawa tas kerjanya. "Assalamualaikum..." salam Leinard saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam..." jawab wanita paruh baya, yang tak lain adalah Bi Darmi. Kening Leinard mengekerut, melihat Bi Darmi yang menyambut nya, bukannya sang istri.
"Loh, Bi Darmi! Nyonya kemana?" Leinard bertanya, Namun pandangan nya menyapu seluruh ruangan. Dia mencari sosok tang istri yang sangat dia rindu. Walaupun hanya berpisah beberapa jam saja, bagi Leinard itu sangatlah lama.
Bi Darmi tersenyum melihat gelagat Tuan nya ini, yang memperhatikan seluruh sudut ruangan. "Nyonya Muda, ada di taman belakang! Tuan. Nyonya Kaira, disana bersama Tuan Muda, melihat keindahan taman di sore hari." Tutur Bi Darmi sopan.
Leinard mengangguk, mendengar jawaban pelayan nya itu. "Hmm, baiklah Bi. Makasih banyak, aku akan menemui istri-ku." Kata Leinard, lalu benar benar pergi dari hadapan Bi Darmi.
"Wah, Tuan Leinard kelihatan sekali bucin sama Nyonya! Nggak mau jauh-jauh lagi. Cinta memang memabukkan," ujar wanita tua itu, dia geleng geleng kepala melihat tingkah Leinard yang jarang sekali di perlihatkan. Hanya karena Kaira, Tuan nya bisa bertingkah seperti itu.
"Assalamualaikum, Makmum!" salam Leinard setelah berada di hadapan istri nya, yang tengah duduk memangku sang putra.
"Waalaikumsalam, Mas Leinard." Jawab Kaira tersenyum manis, membuat sang suami tak bisa melewatkan hal indah ini, dari Istrinya.
Seketika rasa lelah, Leinard hilang. Melihat Istri dan Anaknya. Inilah obat terbaik bagi Leinard, untuk menghikangkan capek nya. Bahkan, dia seperti mendapat kan energi baru, membuat dia semangat.
Leinard duduk, tepat di samping sang Istri. Kaira pun langsung mencium punggung tangan suaminya penuh ketakziman. Leinard pun membalas hal yang sama, todak berakhir di situ saja. Melainkan kening dan kedua pipi istrinya pun, tidak ia lewatkan sama sekali.
"Maaf, ya Mas! Tadi aku tidak menyambut kepulangan mu." Kata Kaira sesal, dia lupa dengan waktu karena saking asyiknya membawa Baby Athaf bermain.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Sayang! Mas ngerti kok. Lagian, kamu kan menemani putra kita." Sahut Leinard, yang tidak bisa melihat wajah bersalah Kaira.
"Makasih banyak, Mas."
"Haish, kamu tidak perlu berkata seperti itu. Ya kan Baby?" sang putra hanya tertawa menanggapi ucapan Deddy nya.
Kaira pun tersenyum menanggapi ucapan suaminya, "Mas, mandi gih!" tukas Kaira.
"Hmm, baiklah! Aku juga mau main sama Baby Athaf. Pasti, putra kesayangan-nya Deddy kangen banget, kan?" ujar nya, sembari menoel-noel pipi gembul Putranya. Sebelum pergi, Leinard mencium keduanya penuh dengan kasih sayang. Setelah itu, barulah dia pergi ke kamar untuk membersihkan diri.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka, lalu Leinard masuk ke dalam kamar. Dia tersenyum, saat melihat baju ganti yang telah disiapkan sang Istri, di atas ranjang.
"Benar-benar Istri yabg perhatian!," gumam Leinard. Ia pun meletakkan tas kerjanya di meja yang ada di kamar mereka. Atensinya teralihkan dengan paket yang masih terbungkus dengan rapi, seperti nya sang Istri lupa akan keberadaan barang itu.
Akhirnya Leinard menemukan, apa yang ia cari. Dia pun kembali dan duduk di sofa dengan nyaman. Mata Lenard membulat sempurna, melihat isi dari paket itu. Amarah dan rasa terkejut, bercampur menjadi satu. Dia mengepalkan tangan nya erat sampai baku tangan nya memutih.
Berisi
"****! Brengsek!" Leinard berteriak dengan amarah yang meluap-luap. Untung saja, Kaira ada di bawah jadi, dia tidak tahu apa yang terjadi dengan nya. Mata tajam Leinard, kembali melihat teror yang di tujukan kepada istrinya. Tulisan tulisan dengan tinta merah, yang akan membuat siapa saja melihat pasti ketakutan.
"Akan ku hancurkan kamu, Xaron!" geram Leinard lagi. Dia membenci hal ini, kenapa harus orang-orang yang ia sayangi? Kenapa tidak langsung kepadanya saja!.
Leinard mengambil ponsel nya, lalu menghubungi seseorang, yang tak lain adalah Juno.
__ADS_1
Panggilan pun terhubung, setelah Juno menerima. Leinard pun langsung membicarakan tujuannya. "Juno, siapkan semuanya, mari kita akhiri." Kata Leinard tegas tak terbantahkan, suara nya pun syarat akan amarah.
"Baik, Tuan." Jawab Juno, sebenar nya dia sangat penasaran, kenapa Leinard tiba-tiba berbicara seperti itu? Padahal yang ia tahu, atasan nya ini sudah vakum satu tahun terakhir.
Tuuut...
Panggilan terputus, Leinard menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskan nya perlahan lahan. Dia tahu, semuanya tidak akan semudah itu, apalagi dia sangat tahu Xaron seperti apa orang nya, sangat licik.
Tak mau sang Istri tiba-tiba masuk, dan melihat semuanya. Leinard segera membuang ke tempat sampah, di gunting-gunting nya kertas sampai menjadi potongan kecil, agar tak terlihat.
"Aku harus segera menyelesaikan nya," gumam Leinard lagi. Setelah itu, barulah dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia tak mau membuat Kaira menunggu lama, karena hal ini.
Lima belas menit berlalu, Leinard pun keluar dari kamar mandi, dengan wajah yang lebih fresh. Dia berjalan ke arah ranjang, dan mengambil baju yang telah di siapkan Istrinya. Dengan cepat ia mengenakan bajunya, lalu turun ke bawah menemui istri dan putranya.
"Sudah selesai? Biasanya tidak sesingkat itu." gumam Kaira, yang melihat Leinard berjalan kearah nya.
Leinard berjalan dengan gagah, menghampiri mereka, senyuman di bibirnya, membuat wajah nya terlihat lebih tampan. Kaira di buat terpesona dengan ketampanan suaminya, tak pernah bosan dia memandang maha karya Tuhan nya. Ucapan syukur terus mengalir dari Kaira.
"Tampan nya..."
Senyuman Leinard tambah lebar, mendengar sang Istri memuji dirinya. Padahal apa yang ada pada dirinya, hanyalah titipan Allah swt.
"Sayang..." panggil Leinard dengan lembut. Lalu, dia memeluk pinggang ramping Istrinya dengan erat.
"Kenapa, Mas?" tanya Kaira heran dengan tingkah Leinard, kenapa Suaminya tiba-tiba seperti itu. Leinard hanya menggeleng kan kepala saja, walaupun hati dan pikiran nya tak lagi singkron saat ini. Teror tadi, mampu menyita pikiran nya.
__ADS_1
"Sayang, seperti nya aku akan melakukan perjalanan bisnis. Kamu tidak apa-apa kan, kalau aku tinggal, tidak lama kok!" ujar Leinard kepada sang Istri.
*****