
Ceklek....!
Bunyi pintu kamar Leinard terbuka. Leinard memasuki kamar yang sudah akhir-akhir ini jarang di tempati. Karena dirinya uang lebih memilih tinggal di apartemen miliknya. Ia melangkah kan kaki masuk ke kamar mandi, sebelum istirahat ia ingin menyegarkan tubuhnya terlebih dahulu.
Leinard menanggalkan pakaian mahal yang melekat pada tubuh atletisnya. Ia memasukkan baju ke dalam keranjang kotor di dekatnya. Dia mandi di bawah guyuran sower. Tak butuh waktu yang lama, hanya 15 menit saja. Ia selesai dengan ritual mandinya. Ia keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk saja, yang di lilitkan di perut sixpacknya. Jika saja kaum hawa melihat pemandangan yang seperti ini, pasti mereka ileran.
Drrrttt....drrrttt....
Suara telephone gengngam yang bergetar di atas nakas. Leinard lantas menghampiri nakas mengambil handphone miliknya. Menekan gagang hijau itu, telephone tersambung.
[Juno] "Hallo..."
[Leinard] "Hmm..!"
[Juno] "Ada hal penting yang perlu saya sampaikan!"
[Leinard]. "Besok saja, kita bicarakan di kantor, sekarang aku mau istirahat."
[Juno] "baiklah, besok saj-a."
Tuuut...tuuut...
Panggilan di akhiri Leinard, tanpa mendengar kan Juno. Sungguh hari ini dia begitu lelah. Entah apa yang ia lakukan, padahal urusan kantor di handle oleh asisten nya. Juno hanya bisa mengumpat Boss nya.
'Dasar Boss kasmaran! Dia tidak tahu penderitaan gue di kantor.' Dia begitu geram kepada mantan kekasih Leinard yang sering ke kantor.
Leinard merebahkan tubuhnya di kasur king size miliknya, menarik selimut yang begitu lembut digunakan. Kedua tangannya ia jadikan bantal menengadah melihat langit-langit kamar. Ingatannya kembali pada bulu mata yang lentik nan hitam itu, siapa lagi kalau bukan Kaira. Ia tersenyum ketika mengingat hal itu. Dia seperti anak ABG saja, yang baru merasakan cinta. Selang beberapa menit, matanya pun tertutup rapat. Dirinya tertidur lelap.
Matahari terbit dari ufuk timur, pertanda pagi sudah datang, menyapa makhluk hidup yang ada bumi. Semua orang bergegas bangun, untuk melakukan aktifitas masing-masing. Begitu pun dengan Kaira. Sekarang Kaira mengemudi motor matic menuju rumah sakit, sekarang jam kerjanya pagi.
Menit berlalu, ia sampai di rumah sakit. Sekarang tidak ada jadwal operasi. Maka dari itu dia akan mengecek pasien nya.
__ADS_1
Juno pagi-pagi sudah berada di kediaman keluarga Mahmud, Dia akan membangun kan Boss nya yang kaya kebo. Karena pagi ini, ia harus menghadiri meeting dengan koleganya. Juno bergegas ke lantai dua, dari saking terbiasa dan sudah menjadi tugas wajib baginya untuk membangun kan sang Boss.
Kreeeek.....
Pintu kamar terbuka, Juno terkejut tidak mendapati si Boss di atas kasurnya. Biasanya jam segini, Boss nya masih bergelung dengan bantal dan selimutnya. Juno melangkahkan kakinya ke kamar mandi, tak mendapatkan sosok yang ia cari.
"Ehhheemm."
Juno langsung membalikkan tubuhnya. Dia melihat Boss nya yang sudah rapi. Juno tercengang, 'apa si Boss kebo ini mendapatkan jackpot? Dia begitu bersemangat hari ini!' batinnya.
"Jangan seperti wanita! Memaki di hanya di dala hati." ketusnya.
"T-tidak Tuan." ujar Juno, dia ketangkap basah ngedumel dalam hatinya. Leinard tentu saja bisa menebak dengan mudah. Dia sangat fasih sekali dengan ekspresi seperti itu.
"Daripada mood ku rusak! Mendingan kita cepat berangkat. Jangan bengong di situ, kayak tidak punya kerjaan aja! Kamu mau makan gaji buta?"
"WHAT...!" hanya kata itu yang mampu Juno ucapkan. Dan kata selanjutnya hanya sampai di tenggorokan nya saja.
'Dasar Boss LACNUT!' makinya.
"Apa jadwal ku hari ini?" tanyanya kepada asistennya.
"Hari ini jadwal Tuan tidak terlalu padat, hanya meeting dengan Lentera group dan menandatangi beberapa proposal saja." ujar Juno lugas.
"Sore nanti teman-teman ingin bertemu, kamu mau datang apa tidak? Leon sudah mengirimkan alamatnya. Dia juga nanti akan membawa anaknya, aku begitu merindukan putrinya." kata Juno panjang kali lebar. Sedangkan Leinard hanya mengangguk saja.
Kanaya pagi-pagi sekali sudah ada di rah sakit, ia berkutat dengan alat-alat kebersihan. Karena Tuan galak menyuruh dia membersihkan ruangannya. Dirinya sudah memiliki kunci ruangan atasannya. Yah, sebelum kemarin dirinya meninggalkan Kanaya dia memberikan kunci ruangannya.
Kaira berjalan ke pantry rumah sakit, dia menemukan Kanaya duduk di kursi yang ada disana. Ia meneguk satu gelas besar air putih. Kanaya tak sadar dengan kehadiran Kaira.
"Calon istri, lagi kecapean yaa. Hayo! Ngaku hmm." goda Kaira.
__ADS_1
Byuur...!
Air keluar dari mulut Kanaya, dia kaget Kaira ada de sebelahnya. Air mengenai hijab instant yang di kenakan Kanaya. Untung saja dia tidak tersedak sampai mengeluarkan air mata.
"Kairaaa! Bisa nggak sih jangan ngagetin kayak gitu. Kalau kesedak terus mati muda gimana? Mana belum nikah lagi, kan belum ngerasain surga dunia." Kanaya asal ceplos saja. Dia tak tahu bukan hanya dia dan Kaira yang ada disana, tetapi atasannya juga.
Kaira tergelak mendengarkan perkataan absurd sahabatnya ini.
"Yaudah, ayo kita nikah sekarang juga!". Ujar Sean menimpali perkataan Kanaya.
"Apa...!"
"Tuh, di ajakin nikah. Buruan gih datang ke pak KUA. Biar tidak keburu mati muda." goda Kaira lagi. Pipi kaira merah, dia blushing mendengar godaan Kaira. Kanaya malu, terlebih lagi Sean mendengar perkataannya tadi. Dia ingin membenamkan wajah nya saja, dimanapun itu. Yang penting tidak terlihat. Sean berlalu dari pandangan kedua wanita itu, bibirnya tak henti merekah. Sean suka melihat wajah malu-malu Kanaya.
Sudah lama dia menaruh hati kepada gadis itu, tapi Kanaya hanya menganggap nya lelucon saja. Karena menurutnya dia tak akan bisa bersanding dengan orang seperti Sean. Siapa yang tak akan jatuh cinta padanya?, Kanaya sebenarnya juga merasakan hal yang sama seperti Sean. Tetapi Kanaya sadar diri dan membatasi hatinya untuk tidak berharap lebih. Karena yang sakit nanti pasti dirinya.
Sean tak tahu, apa yang membuat Kanaya menolak dirinya. Tapi dia tak pernah menyerah, Sean selalu positif thingking.
Kaira yang mengtahui soal sahabatnya ini, hanya bisa menasihati dan mendukung apapun pilihan Kanaya.
"Mendingan kamu jujur sama hati kamu Kay, biar tidak seperti ini. Jodoh itu kan sudah ada yang ngatur, tinggal kita saja yang membuka atau memberikan kesempatan. Kepada siapapun yang mencoba mengetuk pintu hatimu. Beri dia kesempatan. Kasian Dia yang ngejar-ngejar kamu. Tapi ingat yaa, jangan pacaran, mendingan langsung dihalalin aja."
"Entahlah Kai, aku pasrahkan sama Allah SWT aja. Aku meminta jodoh yang terbaik menurut pilihan-Nya kok. Tapi aku takut, jika hati ku menerima dia. Bagaimana dengan keluarganya. Kami itu berbeda! Aku takkan mampu menembus kasta mereka." ujarnya lesu, mata Kanaya berkaca-kaca.
Kaira memeluk erat sahabatnya itu,
"Sabar...sabar." gumamnya.
"Jangan melow gitu dong, kan aku jadi pengen nangis juga. Udah tidak usah sedih-sedih lagi. Ada Allah kok, oh iya! Nanti ngumpul yuk? Rindu tau nggak ketemu ama bestie." kata Kanaya, dia sengaja mengingatkan Kanaya lagi, agar sahabatnya ini tidak bersedih lagi.
Sean yang tak jauh melangkahkan kaki dari mereka, mendengar semua yang di katakan gadis pujaannya itu.
__ADS_1
'Kamu tenang aja sayang kalau cuma itu. In syaa Allah kamu yang akan kujadikan bidadari surgaku' ujar Sean membatin.
*****.....*****