Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
70. THsM


__ADS_3

Kaira menoel-noel bahu suaminya, yang fokus dengan dokumen yang ia pelajari. Kenapa suaminya sefokus itu sih sama pelerjaannya? Sampai-sampai dirinya sendiri lupa waktu.


"Mas, ayo cepetan turun! Dedek bayi udah lapar banget ini." Ajak Kaira pada Leinard. Sedari tadi ia meminta Leinard makan, Nmaun tak kunjung makan juga. Sampai sekarang sudah lewat dari jam makan malam. Untung saja dia tadi nyemmil makanan berat, jadi tidak telalu lapar-lapar amat.


"Sabar sebentar sayang, nanggung! Ini lagi tinggal sedikit doang kok. Hmm." jawab Leinard. Hanya tersisa satu lembar lagi, maka, ia akan menyelesaikan pekerjaannya.


"Hmm, Baiklah." Sahut Kaira pasrah. Tangannya yang semula menoel-noel bahu Leinard, kini berubah menjadi pijatan di kedua sisi bahu milik suaminya.


"Kamu tidak lelah ya, Mas? Dari tadi kerja mulu, emangnya perut kamu tidak lapar?" tanya Kaira. Lembar terakhir pun di tutup, dokumen itu sudah selesai Leinard pelajari. Lalu, ia menarik kedua tangan Kaira yang bertengger di kedua pundaknya. Membawa tubuh wanita itu ke pangkuannya.


Setelah mendarat sempurna di pangkuan suaminya, Kaira langsung mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami. Senyuman manis, tak luntur dari dari bibirnya. Begitupun juga dengan Leinard. "Ternyata istriku ini, cerewet ya." kata Leinard mencapit gemas ujung hidung mancung Kaira. Kemudian tangan, tangan Leinard beralih ke perut istrinya yang sudah buncit. Karena karena kandungannya yang sudah memasuki bulan ke-5.


Usapan-usapan melingkar yang di berikan Leinard, membuat Kaira jadi nyaman berlama-lama dengan posisi yang seperti ini. Kaira meresapi, apanyang dilakukan suaminya dengan mata terpejam. "Kasihan, Debay nya ya! Harus menunggu Deddy nya selesai kerja. Pasti lapar sekali ya, Sayang?" tanya Leinard penuh sesal. Karena pekerjaannya ia sampai melupakan makan malam, apalagi sang istri yang berbadan dua.


Kaira, yang mendapatkan pertanyaan begitu, membuka kedua bola mata indahnya. Bulu mata yang lentik alami itu, mengerjap-ngerjap melihat ke arah mata Leinard yang hitam legam, seperti malam. Saling memandang satu sama lain, membuat mereka tiada henti saling mengagumi. "Tidak juga, Mas. Tadi kan kami makan roti, jadi tidak terlalu lapar. Dedek bayinya juga paham kok, kalau Deddy nya lagi sibuk berkerja." Ucap sang istri, kepada Leinard.


Mendengar kalimat bijak dari Kaira, membuat Leinard tambah cinta kepada istrinya. Biasanya, kalau wanita lain, memilih ngambek dan uring-uringan. Karena suaminya yang tidak perhatian, serta lebih memilih pekerjaannya. "Terima kasih, ya Sayang! Aku bersyukur banget punya istri yang pengertian seperti kamu. Emang benar, pilihan seorang Leinard tak pernah salah." Ujar Leinard dengan tangan yang masih setia mengelus perut Kaira. Sedangkan, Kaira yang mendengar kalimat Leinard yang tingkat kepedeannya yang melambung tinggi, jadi mual.


"Narsis, banget!" sahut Kaira. Ia meringis sendiri membayangkan kepedean suaminya di atas rata-rata.

__ADS_1


Leinard yang melihat mimik muka Kaira, yang kurang setuju dengannya langsung saja mengutarakan pendapatnya.


"Ish, mukanya kok kayak gitu? Lah emang beneran seperti itu kenyataan nya, Sayang." Kata Leinard tidak terima. Lagian tidak seterusnya juga, sifat narsisnya keluar. Hanya saat bersama Kaira saja dirinya seperti ini, bahkan lebih manja. Dan menurut Leinard, itu tidak berlebihan. Wajar saja, seorang suami bermanja-manja sama sang istri.


"Wah, enggak bener itu, Deddy! Nak, jangan sampai meniru kelakuan Bapakmu yang tidak baik, yaa!" kata Kaira. Ikut mengelus perutnya. Leinard yang mendengar itu, terkekeh geli. Kalau di pikir-pikir sih emang bener, kelakuan Bapaknya, banyak yang tidak baik.


Leinard sama sekali tidak tersentil dengan omongan Kaira, malah di dalam hatinya ia mengaminkan ucapan Istrinya. Semoga anaknya kelak, tidak mengikuti langkah nya.


Leinard memperbaiki posisi duduk Kaira, lalu ia berdiri. Otomatis begitu pun dengan Kaira. Ia menggendong sang istri di bagian depan. Kaki mulus istrinya mengalung di pinggang kerasnya, layak nya bayi koala yang digendong ibunya. Imut sekali!.


"Akhhh...." teriak Kaira karena terkejut, karena suaminya yang tiba-tiba saja langsung berdiri. Tanpa memberi tahunya terlebih dahulu. "Mau kemana? Emang pekerjaan, Mas Leinard sudah selesai? Kalau belum, ayo kerjakan lagi!" kata Kaira mulai cerewet. Karena ia tak mau sampai pekerjaan suaminya terbengkalai gara-gara ajakannya tadi. Sungguh, dia masih kuat untuk menahan perutnya yang sebentar lagi aakn di demo oleh para cacing.


"Dasar buaya! ketahuan banget kalo hoby ngegombalin anak perawan orang." Cecar Kaira pada Leinard.


"Ya Allah, kok salah lagi sih, Sayang? Aku itu, jujur tahu. Mana ada Aku ngegombalin anak orang, Enggak ada waktu." Jawab Leinard jujur.


"Iyadeh, yang gila kerja." Sahutnya mengalah.


"Hmm, itu lebih baik!"

__ADS_1


"Suka ya, bikin istrinya jantungan? Kamu mau ganti istrinya lagi ya, Mas?" ujar Kaira kesal. Mood nya tiba-tiba saja langsung berubah. Ketika membayangkan Leinard yang mau nambah istri lagi.


"Yah, kok gitu! enggak lah Baby. Kamu itu, tiada duanya. So, jangan berfikiran negatif, okey." Pinta Leinard kepada sang istri.


"Ish..ish, ngaku aja, Mas." Sahut Kaira lagi. Bukannya ia takut, malah mau mancing-mancing amarah suaminya, yang sudah lama tidak menjelma.


"Jangan, mancing-mancing, Baby! Kamu tidak akan berani jika melihat iblis jelmaanku nantinya." Jawab Leinard dingin.


Deg.....


Nyali Kaira langsung menciut, mendengar nada bicara Leinard. 'Apa Aku sudah kelewatan, ya?' batin Kaira. Sembari menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Leinard. Karena Ia begitu takut, melihat perubahan wajah sang suami.


"M-maaf..." cicitnya pelan, tak terasa bersamaan dengan itu, bulir air mata terjun bebas dari pelupuk matanya. Sangat terasa di kulit leher Leinard, tetes demi tetes yang jatuh mengenai kulitnya. Bahu Kaira mulai bergetar. Sedangkan Leinard, tak mengeluarkan suara apapun. Ia mengelus pundak yang mulai bergetar.


Untung saja mereka sudah sampai di meja makan, Leinard pun segera mendudukkan Kaira di salah satu kursi itu. Tanpa membantah, Kaira menurut saja dengan perlakuan Leinard. Ia hanya mampu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Leinard yang melihat itu, Ia pun berjongkok menyamakan tinggi nya dengan Kaira. Kemudian ia menarik dagu Istrinya agar tidak menunduk lagi, pandangan mata mereka bertemu. Seketika hatinya tersayat melihat buliran bening yang meluncur dari kedua bola mata indah milik istrinya.


Tangannya terulur, menghapus air mata itu. "Sayang, jangan menangis lagi. Okey, Aku minta maaf sama kamu. Aku tahu, salah. Jadi maafin Aku ya?" pinta Leinard penuh sesal. Ia memilih untuk mengalah, daripada tambah membuat Kaira semakin marah. Karena Leinard juga tahu, mood wanita hamil sering berubah-ubah.


*****.....*****

__ADS_1


__ADS_2