Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 12. Bertemu Kembali


__ADS_3

"Kay, kamu udah baca belom chat di grup? Teman-teman ngajak ke cafenya Raina. Udah lama juga kita nggak bareng!" terang Kaira.


"Handphone ada di tasku, Kamu tahu sendiri kan! Aku ada tugas tambahan. Mana sempat megang benda kesayangan itu." ujar Kanaya.


"Ya udah, nanti sore jangan lupa." ucap Kaira melenggang meninggalkan Kanaya,


yang masih duduk manis di kursi pantry.


"Okeh..!" sahut Kanaya.


Tanpa berlama-lama, Kanaya juga segera beranjak dari tempatnya. Jangan sampai ia kena semprot sang kepala rumah sakit, gara-gara menunggu Kanaya. Hari ini Kanaya akan mendampingi Sean, ia membantu Sean yang akan melakukan operasi kepada pesiennya.


Leinard duduk di kursi kebesarannya, ada beberapa berkas yang harus ia tandatangan. Sebelum dirinya pergi meeting.


Menit berlalu, tumpukan berkas itu sudah selesai. Dia beranjak dari kursi, niatnya akan ke ruang meeting, tapi setelah melihat seseorang yang ia benci duduk menunggu kedatangannya. Iaenghentikan langkahnya. Tepat di di ruang tunggu Laura duduk dengan nyaman menunggu mantan kekasihnya. Laura berharap bisa kembali lagi ke pangkuan Leinard seperti sebelumnya.


Laura yang melihat Leinard keluar dari ruang kerja, wajah yang semula di tekuk langsung berbinar. Ia yakin pasti Leinard bisa memaafkan kesalahannya seperti kemarin-kemarinnya. Laura berdiri dari tempat duduknya, melangkah kan kakinya tepat ke hadapan Leinard.


"Ngapain kamu disini? Aku sudah peringatkan dirimu, jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di hadapanku! Karena perempuan gampangan seperti kamu tak pantas untuk itu. Camkan itu *****!" melihat wajah Laura dirinya sungguh tak sudi. Apalagi wanita ular ini terus saja mengganggu Dia. Membuat kepalanya tambah pusing saja!.


"Leinard tolong berikan aku kesempatan! Aku nggak akan lagi kayak gitu. Aku itu cuma cinta sama kamu, cuma kamu yang ada di dalam hati aku." rayu Laura. Dengan mata yang berkaca-kaca. Air mata buaya yang di tumpahkan Laura, berharap bisa merubah keputusan Leinard.


"Kau, tak pantas mengucapkan kata cinta Laura! Dan satu lagi, air mata buaya mu tak bisa merubah keputusan ku. Mengerti..!" ujar Leinard dingin. Tatapan tajam yang di layangkan Leinard mampu membungkam mulut Laura yang akan menimpali ucapan Leinard. Sehingga ia urungkan kalimat sanggahan yang sudah tersusun rapi di dalam otaknya.


Lainard melanjutkan langkahnya yang tertunda menuju ruang meeting, karena bertemu Laura. Wajah dingin dan tegas nya, membuat orang yang ada diruangan itu hanya mampu terdiam tak bersuara, mereka takut hanya melihat wajah beringas Leinard.

__ADS_1


Ruangan meeting tambah mencekam, hanya derap langkah kaki Leinard lah yang mereka dengar.


Juno yang melihat raut wajah Tuannya tak bersahabat, ia langsung menyuruh salah satu dari mereka untuk memulai rapat penting ini. Jangan sampai Leinard menunggu dan terjadi hal-hal yang tak diinginkan.


Setelah satu jam berlalu, akhirnya rapat yang membosankan menurut Leinard usai. Semua yang ikut rapat bisa bernafas lega, setelah kepergian Boss mereka.


"Benar-benar menakutkan." ujar salah satu diantara mereka. Mereka langsung ikut membubarkan diri setelah Leinard dan Juno tak terlihat lagi.


"Langsung berangkat apa tidak?" tanya Juno.


"Langsung aja, ini udah lewat 10 menit. Gue juga kangen sama Zalfa. Zalfa ngegemesin gitu, jadi kangen kan." Leinard membayang kan wajah cute nya Zalfa. Mengingat anak imut itu, membuat ia ingin segera menghalalkan dokter cantik itu.


Mereka berjalan ke arah mobil, Juno langsung mengambil alih duduk didepan. Sedangkan Leinard duduk di bangku penumpang. Juno menyalakan mesin mobil, lalu menginjak pedal gas tersebut. Mobil pun melesat ke jalanan.


Sahabat double K itu berjalan melewati koridor rumah sakit, mereka tampak cantik dan elegan dengan busana yang tertutup. Orang-orang pun tampak begitu kagum dengan keduanya. Begitu pun dengan laki-laki yang berjalan di belakang mereka. Sean tak bisa mengalihkan pandangan matanya dari Kanaya.


"Kalian mau kemana? Tidak langsung pulang saja." Sean tak bisa menutupi ke kopoannya kepada wanita yang berdiri di depannya.


"Kami mau ke cafe Loren'Z pak!" ucap Kanaya. Ia menundukkan pandangan ketika berbicara kepada Sean. Kaira diam saja di sebelah Kaira. Dirinya memperhatikan Sean dan Kanaya. 'Ya Allah, jika mereka memang berjodoh,dan baik untuk dunia dan akhiratnya. Mudahkan lah yaa Rabb, jalan mereka. Agar menyatu dalam satu naungan halal mu' batin Kaira.


"Oh, kalian ikut saya aja. Kita searah! Motor kamu di titip di sini aja." ujar Sean sembari berlalu ke mobilnya. Mereka belum sempat mengiyakan kata-kata Sean, orangnya sudah hilang di pandangan mereka. Kaira dan Kanaya hanya mematung di tempatnya. Mana berani mereka satu mobil dengan atasan, sungguh segan.


Tiiitt.....tiiittt.


Bunyi klakson mobil Sean. Kedua wanita itu tak beranjak barang selangkah pun. Sean yang melihat itu, menurunkan kaca mobilnya.

__ADS_1


"Kalian jadi pergi apa tidak? Jangan hanya berdiri disitu. Buang-buang waktu saja!" sarkas Sean. Ia sengaja menaikkan suaranya, agar mereka cepat masuk ke dalam mobil. Kanaya yang mendengar perkataan Sean jadi jengkel. Ia segera menarik tangan Kaira masuk ke dalam mobil, tanpa membantah ucapan si pemilik.


Setelah Kaira dan Kanaya duduk di bangku penumpang. Ia tak segan lagi berkomentar.


"Kalau tidak ikhlas, mendingan tidak usah memberikan tumpangan!"


Sean tak menghiraukan ucapan Kanaya, dia langsung menyalakan mobil, lalu keluar dari rumah sakit.


Menit berlalu, mereka sampai di cafe Loren'Z. Tak lupa mereka mengucapkan terimakasih kepada si pemberi tumpangan ke tempat ini. Setelah itu, mereka langsung melangkah kan kaki masuk ke dalam cafe. Mereka langsung di hadiahi lambaian tangan sahabatnya yang ada di meja paling pojok, disana sudah ada para bestie duduk dan berbincang ria.


Leinard yang melihat Kaira keluar dari mobil orang yang paling ia kenal, jadi uring-uringan di tempatnya. Apalagi saat melihat wajah ceria Sean, membuat dirinya berfikir yang macam-macam. Sean duduk tepat di depan Leinard. Ia tak tahu saja, temannya ini mengeluarkan tanduk iblisnya. Yang siap untuk menyemprot dirinya. Para pengunjung di sana memuja kaum Adam yang duduk di meja yang lebih mojok dari bangku Kaira dan teman-temannya. Terlebih lagi kaum hawa, tak mengalihkan tatapan ingin memiliki dari mereka barang sedikit pun.


'Kita bertemu lagi Dear, memang jodoh tak akan kemana' pikirnya. Menyunggingkan senyuman penuh arti. Tetapi saat ia ingat bahwa sahabaynya ini satu mobil dengan gadisnya. Membuat senyuman itu hilang seketika dari bibirnya.


"Kamu cari mati yaa! Ngapain kamu satu mobil dengan gadis itu hah! Bosan hidup?. Dengar Sean meskipun kamu sahabat ku, Aku pastikan kamu lenyap ditangan ku. Jika mengusik gadisku." ai cemburu yang ada di dalam diri Leinard, membuat dirinya kalap.


"Calm down Bro, gue nggak nikung loe kok. Gue ngincar yang sebelahnya. Mana berani aku nikung gang kamu. Gue masih sayang sama nyawa, satu-satunya ini." Sean hanya nyengir, melihat Leinard yang kebakaran jenggot. 'Kapan lagi?' pikirnya.


Berselang dari kegaduha kecil yang di buat Leinard, tampaklah Leon yang menggendong putrinya di ambang pintu cafe. Dia yang melihat teman-temannya sudah ada disana, membuat dirinya segera mendekat ke arah sahabatnya.


"Unya....!"


Leon menghentikan langkah kakinya, ketika anaknya menyebut kata 'Unya'.


"Siapa sayang? Kok manggil Unya?" ujar Leon melihat buah hatinya.

__ADS_1


*****.....*****


__ADS_2