Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 90. THSM


__ADS_3

"Hmm, nggak apa-apa kok Bi. Lagian aku nanti juga bareng sama Raina, jadi kamu tenang saja. Aku tahu kok, siang nanti kamu ada operasi kan?" Kanaya bertanya, karena dia pun juga tahu jadwal dinas suaminya.


"Iyaa, Maaf ya Umi, Abi merasa nggak enak deh. Tapi, lain kali kita jalan-jalan deh, kalau Abi tidak sibuk lagi." Janji Sean, karena takut Kanaya kecewa padanya. Pasalnya, akhir-akhir ini ia sangat sibuk! Hingga tidak memiliki waktu bersama sang istri. Dan Sean sangat bersyukur, memiliki istri yang sangat pengertian seperti Kanaya.


"Beneran, janji kan Bi? Nggak di goasting lagi kan aku." Sahut Kanaya dengan senyuman yang merekah sempurna, membuat kadar kecantikan sang istri berkali-kali lipat. Jika saja, dirinya tidak memiliki jadwal operasi! Maka dia memilih untuk membawa istri nya kedalam kamar dan mengurung nya.


Sean sangat tak rela, senyuman manis itu dilihat orang lain. "Sayang, kenapa kamu cantik sekali? Aku jadi nggak rela kamu pergi." Dengan berat hati, Sean harus mengizinkan istrinya. Sean pun tidak mau, sampai mengekang sang istri.


"Abiii," panggil nya manja.


"Kenapa, hemm?" tanya Sean lembut.


"Kok sudah berubah pikiran, belum ada lima menit loh!" ujar Kanaya penasaran. Apa yang membuat suaminya ini berubah pikiran secepat itu. Padahal, baru saja sesaat ia mengizinkan dirinya.


"Karena kamunya terlalu cantik!" akunya dengan jujur, sedangkan Kanaya yang mendengar itu tertawa dengan keras, karena kekonyolan Sean.


"Aneh, tapi aku suka Abi. Soalnya lucu," seru Kanaya, sembari menangkup wajah Sean dan mencium suaminya dengan penuh cinta. Sementara Sean, sangat senang mendapatkan hadiah spesial dari Kanaya. Kapan lagi coba, istrinya memiliki inisiatif sendiri seperti saat ini.


Tring....


Bunyi pesan masuk, ke handphone genggam Kanaya. Ia pun segera merogoh ponsel nya. "Abi, Raina sudah ada di bawah," ujar nya memberi tahu. Setelah melihat pesan singkat dari sahabat nya. Lewat aplikasi hijau itu.


"Ooh," tanggapan Sean biasa saja.


"Cuma?" Kanaya tak rela mendengar, respon suaminya yang hanya mengucapkan kata sebatas itu.


"Lalu?" tanya Sean, sembari menaik turunkan kedua alisnya.


"Ihh, Abi mah! Yaudah aku pamit dulu. Kasian Raina menunggu di bawah kelamaan. Assalamualaikum Abi," Kanaya seraya mengecup punggung tangan suaminya, dan begitu pun Sean. Mencium kening Kanaya begitu dalam.


"Waalaikumsalam," balas nya, setelah melepaskan ciuman dari wanita pujaan nya. Senyuman manis tak pernah luntur, dari bibir indahnya.


Kanaya pun turun, ia melihat mobil sahabat nya. Lalu segera masuk ke dalam.


" Hai, Assalamualaikum..." salam Kanaya setelah duduk dengan nyaman di sebelah Raina.


"Waalaikumsalam," jawab nya sambil cupaka-cupiki. Biasalah kalau sahabat bertemu, selalu rame dan ada aja kelakuan mereka.

__ADS_1


"Gimana kabarnya?" tanya Raina kepada sahabatnya itu.


"Alhamdulillah, baik kok. Kalau kamu sama dede bayi gimana?" Kanaya bertanya balik tentang keadaan Raina.


"Alhamdulillah, juga!" balas nya sembari tersenyum manis.


"Syukur lah, kalau begitu." Mereka pun, mengobrol sepanjang perjalanan. Sehingga perjalanan panjang pun tak akan terasa.


*****


Mobil yang membawa Kaira dan Leinard pun, sampai di pelataran mansion nya. Leinard turun terlebih dahulu, lalu memutari mobil dan membuka pintu mobil Kaira.


"Ayo Sayang!" ujar Leinard, sembari mengulurkan tangannya.


"Makasih, Mas." Dengan senang hati Kaira menerima uluran tangan suaminya.


"Sama-sama sayang," mereka pun berjalan beriringan masuk kedalam. Sedangkan Juno membawa barang-barang dari mobil.


"Assalamualaikum...." salam mereka berjamaah, setelah sampai diruang tamu. Dimana semuanya berkumpul, termasuk putra yang sangat ia rindukan.


"Alhamdulillah, Mommy." Jawab nya, sembari menduduk kan diri disofa tepat di samping mertua.


"Ma syaa Allah, Baby Athaf," takjub nya Kaira melihat ketampanan sang putra, yang berada di dalam gendongan ibu mertuanya.


"Kenapa Sayang?" tanya Leinard yang kepo dengan kekaguman istrinya.


"Baby Athaf, Mas! Dia sangat tampan." Sahutnya, sembari mengelus pipi halus nan lembut sang putra.


"Ya, iyalah! Dia tampan. Deddy nya mau dikemanakan? Gen ku tak pernah mengecewakan." Jawab nya membanggakan diri.


"Ish, kebiasaan. Percaya dirinya bisa dikurangin nggak sih? Tidak boleh loh sombong." Peringat Kaira, kupingya terasa gatal mendengar ocehan Leinard yang tak berfaedah.


"He... He... He...! Ya maaf! Kan emang bener," kata Leinard semambari merajuk manja. Para tetua yang melihat itu, hanya menggelengkan kepala. Tak habis pikir dengan kelakuan absurd Anaknya.


"Oek... Oek... Oek..." tangis Baby Athaf pecah, karena terganggu oleh mereka.


"Cup... Cup... Sayang! Kok nangis sih, pasti gara-gara Deddy ya?" Kaira menenangkan sang putra yang sudah berada di dalam gendongan nya.

__ADS_1


"Maaf kan Deddy ya, Baby Athaf! Deddy tidak sengaja," tuturnya sembari mengelus lengan mungil anaknya.


"Nak, mendingan kamu bawa ke kamar aja. Tidurin di sana," Mommy Ranti memberi kan saran. Karena dia tahu, cucunya jiga pasti kehausan.


"Iya, Mommy. Kalau begitu, Kai ke kamar dulu ya." Pamit Kaira.


"Iya, Nak." Kaira pun segera pergi ke lantai dua, begitupun dengan Leinard mengekor di belakang istrinya.


DIsinilah mereka bertiga, Baby Athaf sudah terlelap beberapa menit yang lalu. Namun, sesuatu yang membuat Kaira kesal, karena sedari tadi sang suami masih terus mengusik tidur putra nya.


"Mas, udah iihh! Kasian tahu Baby nya sedari tadi di ganggu. Nanti kalau bangun gimana?" peringat Kaira kesekian kalinya, tapi sayang nya! Sang suami hanya mendengar lewat telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri.


"Yah, gimana sayang? Habisnya Mas gemes banget sama Baby Athaf. Bawaan nya pengen ngejailin Baby nya." Jawab Leinard, dengan pandangan yang masih tertuju kepada sang buah hati.


"Ohh, jadi nggak mau ngedengerin nih, ceritanya! Okeh." Kata Kaira, dengan sikap andalan nya ini. Leinard tak akan mampu menolak.


'Satu... Dua... Ti...'


"Sayaaang!" sesuai dugaan, Leinard tak akan mampu dengan ancaman sang istri.


"Kenapa?" tanya Kaira cuek. Kini dia sedang menata pakaian nya.


"Sayaaang!" panggil nya lagi tak kalah manja, untuk menarik perhatian sang istri. Leinard memeluk tubuh istrinya dari belakang, lalu kepalanya ia sandarkan dibahu sang istri.


Tak tahan dengan sikap manis Leinard, Kaira pun membalikkan tubuh nya menghadap kearah suaminya. Lalu menangkup wajah tampan Leinard.


Cup!


"Hadiah spesial, untuk suami tercinta!" ujarnya setelah melepaskan kecupan manisnya.


"Makasih banyak! Seperti nya aku juga nggak akan sabar menanti hadiah spesial lainnya." Gumam nya dengan wajah berbinar.


"Maunya Mas aja," ujarnya sembari memeluk sang suami dengan, Leinard pun tak kalah erat memeluk sang istri.


"Ha... Ha... Ha..." tawa Leinard pecah, mendengar penuturan sang istri.


*****

__ADS_1


__ADS_2