Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 51. Kaira Hamil.


__ADS_3

"Ihh,,,lagi mikirin apa coba. Awas saja ya! Kalau sampai memikirkan sesuatu yang buruk! Nanti aku kawin lari sama pak supir security aja." ujar Raina menatap ke arah Juno.


Juno yang mendengar Raina mengancam dirinya, di buat langsung naik pitan. "Kalau berani! Kamu lihat saja. Aku langsung buat di misah dengan kepalanya." kata Juno penuh penekan di setiap ucapannya. Membuat teman-temannya mendelik kan mata, kenapa Juno sampai seperti itu. Jangan sampai hal yang mereka tutupi terbongkar sebelum waktunya.


"Maksudnya gimana Mas Leinard?" tanya Kaira yang melihat wajah mereka langsung berubah pias, seperti ada yang ditutupi.


"Ekhem...ekhem!" Sean pura-pura batuk, agar pikiran mereka teralihkan. Bukannya sesuai yang di inginkan, tapi Kanaya malah semakin curiga dengan gelagat Suaminya.


"Abi, aku tambah curiga deh sama kamu! Mukanya aja ngedukung banget." Kaira ikut mengangguk membenarkan ucapan Kanaya.


"Enggak yang! Kamu jangan mikir yang aneh-aneh begitu. Enggak baik tahu, mendingan kita makan. Kami udah mmebelikan nih." kata Sean tersenyum sembari memperlihatkan dua kantong plastik yang ia pegang di tangan kiri dan kanannya.


Enggak mau berdebat lagi Kaira, di tambah perut yang lapar karena melewatkan makan siang tadi. Membuat ia mengangguk antusias.


Mereka merasa lega, karena para betina tidak mempertanyakan lebih lanjut tentang pembicaraan barusan. "Yaudah ayo makan." ajak Kaira dengan wajah yang berbinar melihat kantong plastik yang berisi penuh makanan.


Lalu mereka merapat semua, sesuai dengan mahrom masing-masing. Mereka memenuhi satu set sofa yang ada di dalam ruangan Kanaya. Kaum hawa mulai mengeluarkan makanan satu per satu dari dalam kantong plastik. Setelah itu mereka membuka makanan dan berdo'a bersama.


Kaira mulai memakan roti rasa coklat miliknya, dimana itu rasa kesukaannya. Dan pada gigitan pertamanya, bau roti membuat perutnya bergejolak tak nyaman. Namun sebisa mungkin ia tahan, dia berusaha menelan roti itu.


Sampai pada akhirnya ia tak mampu. Kaira segera berdiri berlari ke arah kamar mandi. Leinard yang melihat sang istri tergesa-gesa berlari ke kamar mandi, sontak ikut berdiri.


"Mau ngapain ikut berdiri? Urusan pribadi Bos!" tanya Sean kepada Leinard. Yah, meskipun halal. Tapi harus tahu tempat juga yang mesra-mesraan gaiss.


"Apaan sih, aku tuh khawatir tahu. Otak kamu aja yang terlalu kotor." cibir Leinard. Tapi tetap dirinya tidak duduk. Dan sampai pada akhirnya ia mendengar Kaira yang muntah. Ia langsung berlari ke arah kamar mandi dengan perasaan yang cemas.


"Uwwek....Uwwek...." Kaira muntah di dalam kamar mandi. Leinard mengetuk pintu kamar mandi dengan tidak sabaran.


Tok...! Tok...! Tok...!

__ADS_1


"Sayang! Buka pintunya!" pinta Leinard sembari mengetuk pintu kamar mandi.


Ceklek...!


Kaira membuka pintu kamar mandi, sudah lengkap menggunakan masker kembali. Wajahnya pucat di balik masker, tak lama pun penglihatannya ikut memburam.


Hap...


Leinard sigap merengkuh tubuh kecil Kaira. Untung saja ia menghampiri sang istri, coba saja enggak! Pastinya Kaira sudah mencium kerasnya lantai ruangan Kanaya.


"Astaghfirullahal adzim...." sahabat Kaira langsung berdiri dari tempat duduknya masing-masing. Melihat temannya yang pingsan.


"Kaira kok bisa pingsan...?" tanya Alina. Leinard menggeleng karena tidak tahu.


"Bawa ke kamar aja!" suruh Kanaya. Dia lekas membuka kenop pintu, lalu Leinard masuk dengan Kaira yang berada dalam gendongan sang suami. Ia dengan hati-hati membaringkan Kaira, lalu melepas masker sang istri. Kanaya buru-buru mengambil alat medisnya, Lalu Kanaya masuk ke dalam.


Sementara Raina dan Alina menempati sisi ranjang satunya. Mereka khawatir sekali dengan keadaan Kaira. Lalu Leinard melepas kaos kaki sang istri, serta mengusapkan minyak angin.


"Tidak...aku pengen menemani istri aku!" ucap Leinard tidak mau. Mendengar itu, Kanaya hanya bisa pasrah saja. Lalu ia segera memeriksa sahabatnya. Selesai pemeriksaan, Kanaya melihat ke arah Leinard untuk menjelaskan diagnosa dari pemeriksaannya.


"Pak Leinard, apa Kaira telat dalam menstruasi? Atau tanda-tanda seperti gejala mual? Atau juga emosi yang tidak stabil?" tanya Kanaya memberondong Leinard.


Leinard yang tidak melihat istrinya seperti yang di tanyakan Kanaya, hanya menggelengkan kepala tidak tahu sama sekali. "Astagfirullah Pak, anda memperhatikan istri enggak sih?" tanya Kanaya tak percaya, pasalnya Leinard terkenal bucin kepada sang istri.


Karena saya juga enggak mel...." belum selesai Leinard meneruskan kalimatnya, Mereka sudah melihat pergerakan Kaira yang sepertinya sudah sadar. Kaira mengerjapkan kedua bola matanya, "Mas Lei..."


"Apa sayang! Aku disini hmm..." sahut Leinard.


"Aku kenapa?" tanya Kaira, kok tiba-tiba saja ia berada di kamar Kanaya.

__ADS_1


"Kamu tadi pingsan bestie,,," sahut Raina.


"Kamu kalau sakit, atau enggak enak badan bilang ke kita!" ucap Alina yang duduk menyamping ke arah Kaira. Semua orang di sana khawatir sekali dengan keadaan Kaira yang tidak biasa seperti itu.


"Aku baik-baik aja tahu, kalian aja yang terlalu khawatir. Aku cuma pusing dikit-dikit doang" ujar Kaira sembari tangannya di angkat menekan ujung jari telunjuk dengan jari jempol, menegaskan perkataan sedikitnya.


"Yeah, kamu mah Kai! Lagi sakit masih sempat bercanda."


Kanaya langsung ikut duduk di samping Kaira. "Kai kamu telat datang bulan ya? Atau mual gitu?" tanya Kanaya lagi.


"Tungu-tunggu,,,tadi pagi aku mual-mual saat menghirup bau menyengat. Pas kayak nya iya deh, aku udah lewat dua minggu dari biasanya." jawab Kaira sembari mengingat kejadian tadi pagi.


Spontan wajah Kanaya berubah bahagia, "benaran! Berarti kamu hamil dong." kata Kanaya semangat.


"Alhamdulillah...." syukur Kaira, ia tak mampu lagi meneruskan kalimatnya.


"S-sungguh....ha-hamil." kata Leinard tergagap dari saking shock mendengar kabar bahagia itu. Leinard langsung mencium kening istrinya bahagia, air mata pun ikut menetes haru penuh syukur. Meskipun teman-teman Kaira melihatnya. Untuk sekarang ia tak peduli, yang Leinard mau sekarang mengekspresikan kebahagiaannya. Sahabat Kaira ikut bahagia! Sangat.


"Biar lebih akurat dan tahu waktunya sudah berapa minggu! Kamu cek lagi ke dokter kandungan ya!" tutur Kanaya.


"Iya...makasi ya Kay." ucap Kaira tulus.


"Apaan sih! Sama bestie juga. Enggak boleh sungkan-sungkan, kita ini keluarga." ujar Kanaya.


"Selamat ya Kai, akhirnya kamu akan menjadi seorang ibu. Kami turut bahagia mendengar kabar itu!" ucap Raina.


"Makasih banyak girls..." sahut Kaira tersenyum.


"Oh iya! Kamu harus makan. Perut kamu kosong loh." peringat Kanaya.

__ADS_1


"Siap-siap bu dokter! Pasti aku jaga pola makan dan kesehatan kok! Kamu tenang saja." jawab Kaira.


"Pak Leinard, tolong istrinya tambah di perhatikan ya! Anda harus lebih ekstra lagi. Jangan sampai Kaira stres atau kecapean, karena itu bisa berakibat fatal. Kehamilan yang masih awal biasanya rentan keguguran, jadi anda harus betul-betul memperhatikan." nasihat Kanaya kepada Leinard. Leinard manggut-manggut mendengarkan nasihat Kanaya seksama.


__ADS_2