Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 92. THSM


__ADS_3

!!!!!


Ceklek...


Pintu terbuka, tampak lah tiga wanita yang cantik-cantik dengan pakaian syar'i mereka, yang tak lain para sahabat nya. Dialah Zahra, Kanaya dan Raina. Senyum manis terpancar dari bibir indah mereka, ikut bahagia dengan Alina. "Assalamualaikum, Calon pengantin!" salam mereka berjamaah. Tanpa menunggu jawaban salam dari Alina, mereka masuk ke dalam kamar pengantin yang sudah di hias dengan indah.


"Waalaikumsalam... Wah! Bestie bestie ku." Ucap Alina begitu semangat, melihat kedatangan mereka. Senyuman manis pun tampak terbit dari bibirnya. Semakin membuat aura kecantikan nya terpancar.


"Ma syaa Allah, bidadari bumi begitu cantik." Raina takjub melihat kecantikan Alina, yang natural.


"Ish! Alina yang anggun dong!" peringat Raina tang melihat calon pengantin mereka yang bar bar sekali.


"Hehe... Ya maaf! Aku kelepasan." Sahut Alina dengan cengiran khas darinya. Alina pun duduk kembali di tempat sebelum nya. Sedangkan teman-teman nya, duduk di pinggir ranjang, sembari menanti Alina yang akan di berikan sentuhan terakhir yaitu menyematkan mahkota cantik yang ditaburi dengan berlian, di hijab nya. Sehingga membuat Alina berkali-kali tampak cantik dan elegan.


"Sangat cantik..." puji Zahra dengan senyuman manisnya, melihat Alina yang sudah siap.


Alina berjalan mendekati sahabat nya, lalu memandang satu per satu wajah cantik sahabat nya, Dan tiba-tiba gurat kesedihan tampak dari wajah cantik nya. Meskipun di poles secantik apa, tetap saja! Wajah sedih kentara sekali dari mimik mukanya.


"Loh, mukanya kok gitu banget?" tanya Raina yang melihat perubahan dari wajah Temannya ini, seharus nya calon pengantin begitu bahagia di hari pernikahan mereka. Tapi yang dia lihat, Alina tampak sedih.


Kanaya pun menepuk ruang di dekatnya, agar Alina duduk disana. Alina yang paham dengan itu, dia pun langsung menduduk kan dirinya di samping Kanaya.


"Kenapa? Perasaan tadi kelihatan bahagia banget?" tanya Kanaya pada akhirnya dengan pelan dan lembut.


Fyuuh...


Alina menghembuskan nafas pelan, lalu membuka suaranya. "Aku sedih banget, karena Kaira tidak bisa datang di hari bahagiaku." Aku nya dengan sendu.

__ADS_1


Mendengar itu, mereka pun saling menatap satu sama lain, dan mengerti dengan perasaan Kaira. Bagaimanapun, Kaira sudah merek anggap seperti saudara sendiri.


Dengan perlahan, Kanaya menggengam tangan Alina dengan lembut. "Alina... Kami tahu apa yang Kamu rasakan sekarang, tapi apapun itu, jika kamu sedih seperti ini, pasti Kaira juga ikutan sedih. Dia tidak akan mau melihat sahabat baiknya sesedih ini, di hari bahagianya. Jadi, kita doakan saja Kaira cepat sembuh dan berkumpul lagi bersama kita." Tutur Kanaya memberi pengertian kepada Alina.


"Iya nih, masa ada calon pengantin sedih seperti ini... Nanti bisa jadi viral, karena mempelai wanitanya sedih nelangsa seperti ini..." canda Raina, sehingga membuat mereka tersenyum dibuat nya.


"Nah gitu dong, kan cantik kalau tersenyum..." timpal Zahra saat melihat senyuman manis kembali terbit dari bibir cantik Alina.


"Ish... Kalian bisa aja," ucap Alina dengan salah tingkah. Karena dirinya terus saja digoda. Meski begitu, dia tampak bersyukur sekali, karena dikelilingi sahabat dan orang-orang baik seperti mereka.


Tak berapa lama pun, rombongan mempelai pria pun datang, di ruangan yang di dekorasi begitu indah, tempat dimana akan dilangsungkan acara ijab kabul. Zeo dan keluarganya pun, langsung menempati tempatnya, karena bapak penghulu pun sudah sedari tadi menunggu.


Senyuman tipis, Zeo berikan kepada bapak penghulu yang ada di depan nya. Sedangkan para teman-temannya duduk tak jauh dibelakang nya. Tak ketinggalan dengan Leinard dan Kaira, pasangan itu kelihatan serasi sekali, apalagi dengan baju couple yang mereka kenakan. Membuat mereka mencolok sekali. Yah, Kaira tidak langsung naik menemui Alina, karena dia yang datang berbarengan dengan rombongan Zeo, dan pada akhirnya dia dan suami ikut dalam rombongan.


"Bagaimana saudara Zeo, apakah Anda sudah siap?" tanya bapak penghulu.


Kevin yang melihat Bosnya, tak segan menggoda sang atasan. Kapan lagi, coba? Dia bisa melihat raut muka yang tidak pernah Zeo tampakkan kepada siapapun. Meskipun itu, akan bertarung dengan musuh nya pun, dia tidak pernah terlihat seperti sekarang ini.


"Tuan, kalau Anda gugup, mendingan saya ganti saja." Kata Kevin berbisik dengan pelan di samping telinga Zeo, sehingga membuat Zeo pun mendelikkan matanya tajam, kearah sang asisten yang tidak punya akhlak itu. Bisa-bisanya dia mau nikung di saat-saat yang seperti ini.


Sedangkan yang diberikan delikan mata, hanya tersenyum mani tanpa merasa bersalah.


"Awas saja kalau berani...!" tekan Zeo dengan sangar.


"Bagaimana, Tuan?" tanya Bapak penghulu sekali lagi, karena meski dapat jawaban tadi, Zeo masih tampak sibuk berbicara dengan tangan kanannya.


"Baik, Pak. Saya siap."

__ADS_1


"Bisa-bisa nya, Zeo masih berunding dengan asisten nya. Ini kan hari penting nya, dia tampak bodoh sekali," cibir Sean yang melihat mereka.


"Kamu kayak orang tidak pernah menikah saja, pasti dia tampak gugup sekali." Juno menimpali apa yang mereka bicarakan.


Setelah mendapatkan persetujuan, acara pun di mulai. Acara demi acara mereka lewatkan. Sampailah pada acara yang dinanti-nanti yaitu pengucapan aja kabul.


Bapak penghulu mengulurkan tangannya, untuk berjabat tangan dengan Zeo. " Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Zeo Keanu Maksum bin Fatah Maksum dengan saudari Alina Alviana dengan maskawinnya berupa uang tunai sebesar Rp 30 Miliar, tunai.”


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Alina Alviana binti Sutomo(alm) dengan mas kawin tersebut, tunai.”


"Bagaimana para saksi..."


"Sah...." ucapa mereka bersamaan. Sungguh momen yang mengharukan itu, membuat airata Zeo meleleh, dia tak kuasa menahan kebahagiaan nya. Pencapaian terbesar dalam hidupnya memiliki Alina sebagai istrinya.


Setelah itu, pak penghulu pun membacakan doa untuk kedua pengantin.


Setelah itu, Kaira beranjak dari tempat duduk nya, menemui Alina dan sahabat-sahabat nya. Dia pun tampak haru sekali. Kamar yang Alina tempati terlihat terbuka, dia melihat sahabat nya berpelukan.


"Assalamualaikum... Wah aku kok tidak diajak," rajuk Kaira , lalu menghambur ikut berpelukan.


"Waalaikumsalam..." jawab mereka dan mengeratkan pelukan mereka. Tangis haru pun tak bisa dihindarkan, merek berharap keluarga Alina sakinah mawaddah warahmah.


"Haish,,, kok jadi melo begini sih?" ujar. Zahra sembari menghapus air matanya. Mereka pun tersenyum, meanggapi ucapan Zahra, karena dia sendiri pun ikut mengeluarkan air mata.


"Yaudah, kita Mendingan keluar gih, kasian tahu Suami Alina nungguin dari tadi." Ajak Kaira, yang teringat kesini untuk memanggil pengantin perempuan nya. Mereka pun mengangguk kan kepala, tanda setuju. Lalu berjalan keluar dari kamar pengantin beriringan. Mereka pun membantu Alina memegang ujung gaun pengantin milik Alina.


*****.....

__ADS_1


__ADS_2