
Selesai shalat subuh, Zahra keluar. Ia ingin melihat putrinya.
"Apakah masih tertidur," Zahra memegang gagang pintu lalu memutarnya. Ia melihat putrinya sudah membuka kedua mata indahnya. Menggeliat kekanan dan kekiri. Zalfa tersenyum bisa melihat wajah bundanya di pagi hari, penampakan yang tak pernah ada di pagi-pagi sebelumnya.
"Unya," paggil Zalfa dengan suara seraknya, khas orang baru bangun tidur. Zahra mendekat ke arah puritinya, membelai pucuk kepala dab mencium kening Zalfa penuh kasih sayang.
"Bangun yuks! Kita jalan-jalan pagi ke taman kota. Mau..?" kata Zahra lembut. Zalfa mengangguk setuju dengan ucapan bundanya.
"Yaudah, ayo mandi dulu. Biar Unya bantu." Zahra menarik selimut, ia menggendong tubuh mungil itu ke kamar mandi.
10 menit berlalu, Zalfa selesai mandi. Waktunya bagi Zahra memakaikan pakaian untuk Zalfa. Zalfa mengenakan celana dan baju sport anak. Ia juga menguncir rambut indah Zalfa.
"Afa juga mau pakai yang seperti ini Unya!" tunjuk Zalfa pada hijab yang di kenakan Zahra.
"Tentu boleh sayang, malah anak Bunda nanti tambah cantik." kata Zahra sembari memuji Zalfa. Leon yang di ambang pintu bisa melihat dan mendengar keduanya, dia sangat bahagia! Leon yang melihat interaksi kedua nya, tak henti-hentinya bersyukur. Walaupun dia tak menjalankan kewajibannya dengan baik, tetapi Allah SWT begitu menyayangi Leon dan semua hambanya. Ia bertekat akan belajar lagi, dan menjalankan kewajiban nya dengan baik
"Udah siap sayang?" memeluk tubuh ramping Zahra dari belakang. Tubuh sang istri menegang, karena dia yang tak terbiasa.
"Mas, lepasin! Ada Zalfa. Tolong tanganmu diturunin, nanti hijab Zalfa miring. Jangan ganggu lagi!" kata Zalfa. Pria di belakangnya ini benar-benar tidak tahu malu, masa ada anak di depannya tetep nyosor aja ke istri.
"Deddy, jangan peluk! Ini Unya nya Afa." tegas sang putri. Zalfa tidak mau Bundanya di ganggu terus sama Deddy.
"Iya-iya, enggak lagi deh. Jangan cemberut gitu dong princess Deddy, Unya milik Afa sama Deddy kok." ucapnya tersenyum cerah.
"Nah udah selesai,,,ayo! Entar keburu siang, nanti panas." ajak Zahra. Mereka turun bersama-sama dengan pancaran wajah yang bahagia.
Mbok Imah yang melihat itu pun ikut senang.
"Alhamdulillah, Tuan sudah mempunyai keluarga yang utuh sekarang." gumam Mbok Imah.
"Assalamualaikum Mbok," sapa Zahra.
__ADS_1
"Waalaikumsalam nona," jawab Mbok Imah.
"Mbok enggak usah masak pagi ini, nanti kami sarapan di luar aja. Oh Iya Mbok, tidak usah panggil Nona, Zahra aja. Saya kurang nyaman dengan panggilan itu Mbok." ujar Zahra.
"Iih, si Non mah bisa aja. Itu sudah sewajarnya." kara Mbok Imah.
"Kalau gitu, kami berangkat dulu Mbok. Assalamualaikum." tutur Zahra, berlalu dari hadapan Mbok imah.
"Udah sayang" tanya Leon.
"Iya mas, mau naik apa mas? Dari sini kan, cukup lumayan jalannya."
"Yaudah, naik mobil aja." jawabnya
"Enggak deh, lebih seru naik motor kayaknya! Mendingan pakai motor yang itu aja." tunjuk Zahra pada sebuah motor yang terparkir di garasi.
"Okeh, sesuai keinginanmu sayang." Leon bergegas nngambil sepeda motor, menghidupkan motor lalu keluar dari garasi.
Ia berhenti tepat di depan Zahra yang menggendong putrinya.
"Sama Unya aja," jawab Zalfa. Zahra mendudukkan Zalfa di tengah antara dirinya dan Leon. Double Z, sama-sama melingkarkan tangan mereka memeluk si pengendara. Leon yang mendapatkan pelukan itu tersenyum hangat.
"Tidak buruk," ucapnya. Dia lantas melajukan sepeda motor, ke arah taman kota. Ini kali pertama ia tidak bekerja di hari libur, biasanya dia lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
Hari libur untuk mereka yang kerja kantoran, tai tidak dengan dokter. Mereka baru saja menyelesaikan operasi, yang di pimpin langsung dokter Sean.
"Kay, aku balik keruanganku dulu yaa," ujar Kaira. Setelah mereka keluar dari ruangan operasi.
"Iya, istirahat yang cukup, Bestie." ujarnya sembari memeluk sahabatnya.
"Kamu juga, istirahat yang cukup. Assalamualaikum." salam Kaira sembari mengurai pelukan.
__ADS_1
Dokter Sean berdiri di sebelah Kanaya.
"Capek ya?"
"Tidak juga sih, udah terbiasa juga kan. Yaa jadinya biasa aja!" kata Kanaya, ia mengambil ancang-ancang segera pergi dari tempat itu, namun sayang, hanya tinggal harapan saja. Sean yang tahu Kanaya menghindar dari dirinya. Segera menarik ujung hijab instan dari belakang yang di kenakan Kanaya.
"Iih,,,bisa enggak sih jangan narik-narik hijab, jadi penyong kan." ujarnya sinis sembari membenarkan letak hijabnya kembali. Sean hanya terkekeh geli, mendapatkan omelan Kanaya.
"Diih, malah ketawa. Emangnya ada yang lucu? Buruan ngomong! Ada apa emangnya sampai narik-narik kayak gitu" memasang wajah jutek nya.
"Kamu tambah imut deh kalau jutek kayak gitu, gemes tau! Aku tuh mau ngajak kamu jalan-jalan aja. Pasti penat kan habis ikut operasi?" kata Sean.
"Bapak sean yang terhormat, Anda menghina atau menghibur saya! Lagian yah, mana mau saya jalan-jalan sama Anda. Kita itu tidak mahrom bapak Sean." ujarnya tegas.
"Lah emang kenyataannya kok, kamu cantik. Kalau gitu kita harus ke Pak KUA dulu, buat ngehalalin kamu. Terus, baru deh jalan-jalannya. Gimana mau?"
"Bapak kalau bicara seenak jidatnya ya, emang ada nikah kayak gitu. Bukan mie instat kali Pak!" sinis Kanaya, dia tak mau lago ngeladenin bos tukang marah-marah dan suka memerintah seenaknya.
"Denger ya, saya ini bukan Bapak kamu. Dan satu lagi, kamu harus menghormati atasan kamu sebagai mana mestinya! Kamu harus mau dan tidak boleh nolak." finalnya
"Bos gila, tukang paksa!!!" sungutnya. Dia berjalan cepat mendahului Sean. Sean merasa puas, akhirnya ia bisa memiliki waktu berdua sama Kanaya.
Di sudut lorong itu ada wanita yang kebakaran jenggot, melihat keakraban orang di depannya. Dialah dokter Eva. Dokter spesialis anak, dari dulu ia begitu tergila-gila sama Sean. Namun karena Sean yang dingin tak tersentuh, membuat dirinya tidak mempunyai celah merayu Sean.
"Awas saja kamu Kanaya! Tidak ada yang boleh ngambil Sean dari gue. Termasuk kamu wanita ******. Yang sok baik di bawah hijab murah mu itu." dia begitu marah, sampai-sampai bisa menumbuhkan tanduk setan di kepalanya. Dia akan melakukan berbagai cara, supaya keinginannya tercapai.
Sean dan Kanaya memasuki mobil. Ia enggan untuk berbicara kepada si pengemudi, karena di buat kesal tadi. Tanpa di tanya Sean memutuskan memberitahu tempat menjadi tujuan mereka.
"Kita akan pergi ke taman kota, di sana suasananya menyenangkan. Apalagi hari libur begini, pasti banyak makanan kuliner di sana." kata Sean. Pastinya kalau soal makanan, Kanaya tak akan melewatkannya. Ia menikmati jajanan pedagang kaki lima disana.
"Hmm,,," jawabnya cuek.
__ADS_1
"Kamu lagi sariawan ya? perasaan dari tadi tidak ngomong."
"Enggak kok, biasa aja." jawab Kanaya sekenanya. Sean menghidupkan mobil, melajukan mobilnya membelah jalanan.