
"Hush-hush! Udah jangan di ledek terus. Nanti enggak selesai-selesai makannya." tegur Zahra.
Alina pun, membaca do'a sebelum makan. Setelah itu, ia mulai memakan bubur yang dibawakan Kaira. Mulai menyendokkan bubur itu ke dalam mulutnya, mengunyah dan meresapi rasa makanannya. "Tidak buruk," nilainya.
"Kay, bagaimana perkembangan Alina? Udah mulai baikkan?" tanya Kaira melihat ke arah Kanaya yang berada tepat di sampingnya.
"Iya Kai, dia udah lebih baik kok. Tapi, tetep aja! Enggak boleh banyak gerak." ujar Kanaya.
"Awas aja lho!" ujar Kanaya lagi melihat ke arah Alina yang masih sibuk dengan makanannya. Sedangkan, yang di sindir-sindir acuh saja.
"Ihh, kasian tahu! Masa iya orang sakit di ancem-ancem begitu?" ujar Raina membela Alina.
"Hahaha ... Maaf ya, emang niat banget." sahut kanaya tertawa, emang ya ketengilan mereka tak pernah pudar. Bisa aja, membuat ruangan Alina ramai terus.
"Wah, mulai enggak bener nih Kanaya..." kata mereka sembari geleng-geleng kepala, heran sama temannya yang bisa-bisa nya bergurau disaat-saat seperti itu.
"Maaf-maaf bestie, aku cuma bercanda doang kok!" sahut Kanaya salah tingkah, karena mereka melihat ke arahnya. Membuat Kanaya bergidik ngeri, dengan tatapan yang di layangkan mereka.
"Yaudah, jangan di ajak bercanda terus Alina nya! Nanti enggak kelar-kelar makannya." ucap Kaira.
Mereka pun diam, setelah mendengar perkataan Kaira. Tiba-tiba, Leon datang menghampiri sang istri. Ia berdiri di samping nya, lalu mengenggam tangan kanannya "Yang, ayo pulang. Di cariin sama anaknya lho!" ajak Leon saat ia berada tepat di samping Zahra.
"Oh, iya yah! Maaf sampai lupa sama Si kecil." ucap Zahra merasa bersalah, karena melupakan putri kecilnya.
"Enggak apa-apa, jangan merasa bersalah seperti itu! Namanya juga kita lagi kena musibah. Zalfa pasti mengerti kok, dia kan anak yang pandai." kata Leon.
Setelah Leon berhasil mengajak Zahra, ia pun kembali ke menemui sohib nya untuk pamitan. Begitu pun dengan Zahra, "Alina, maaf ya aku harus balik duluan. Kasian sama Afa di rumah sama Bibi," ujarnya tak enak hati. Tapi, mau bagaimana lagi? Ia juga punya tanggung jawab sebagai ibu dan juga istri yang baik untuk anak serta suaminya.
__ADS_1
"Iya, makasih ya bestie. Aku udah mendingan kok! Enggak usah khawatir, tinggal nyembuhin lukanya aja. Terima kasih ya, udah kesini." ujar Alina tulus.
Zahra yang mendengar omongan Alina, sedikit tak suka. "Bilang apa tadi? Makasih, mau di cubit?" tanya Zahra sembari menunjukkan jarinya yang seperti capit kepiting siap untuk menjepit mangsanya.
"Iya-Iya, saudara!" ucapnya nyengir memperlihatkan gigi putih nya.
"Gitu dong, yaudah deh, Aku pulang ya. Cepat sembuh Alina..." ujar Zahra. Lalu ia salaman dan berpelukan dengan sahabat-sahabat nya, untuk segera pulang dengan sang suami. Zahra menghampiri Leon yang sudah berdiri di depan pintu.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarkatuh..." salam pasangan suami istri itu.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarkatuh..." jawab mereka bersamaan.
Ceklek...
Pintu ruangan Alina di buka oleh Leon, mereka pun segera keluar dari ruangan Alina, serta menutup kembali pintu ruangan itu.
"Yaudah, kita juga keluar saja, supaya Alina bisa cepat istirahat." ujar Raina.
"Siap-siap, Aku juga udah pengen cepat-cepat pulang! Disini tidak enak, bau obat-obatan." keluh Alina pada mereka yang masih setia menemani nya.
"Makanya lekas sembuh, supaya cepat pulang." ucap Kanaya.
"Mau nya sih, seperti itu! Tapi, ini kan bukan mie instant." katanya lagi.
"Hahaha,,,Iya juga ya! Kok aku ikutan oon sama kamu Na." ujar Kanaya sembari meringis membayangkan dirinya yang tiba-tiba bodoh.
"Enggak gitu kali, mana ada Aku bodoh? Yang ada mah pintar banget malah." balas Alina menyombongkan diri.
__ADS_1
"Kalian ini, mau cerita apa istirahat? Data tadi ngobrol mulu, enggak selesai-selesai." tutur Raina.
"Kebabblasan Neng..." sahut mereka sembari tertawa jumawa, yang membuat kecantikan wanita-wanita muslimah itu lebih kentara.
Kaira membaringkan Alina di brangkar nya, lalu menarik selimut sampai batas dada nya. "Cepat sembuh ya Na! Biar kita bisa ikut nebeng ke Bali. Ngacauin orang bulan madu," kata Kaira sembari menaik turunkan kedua alisnya yang memiliki bulu hitam legam.
"Okey, Kaira. Aku tunggu ya tiketnya!" ujar Alina sembari melirik ke arah Raina yang digoda.
"Sembuh dulu, baru Ikutan." timpal Kanaya.
"Niat banget mau ikutan! Enggak bawak orang sakit." balas Raina pada Alina.
"Yeah, besok juga udah sembuh kok." kata Alina tak terima.
"Yaampun Kalian ini, enggak kelar-kelar ngomong nya. Udah-udah, kita keluar! Okey." ucap Kaira sembari menarik pergelangan tangan Raina dan Kanaya. Membawa mereka keluar, membiarkan Alina istirahat dengan nyaman, tanpa di ganggu ocehan keduanya. Begitu istri mereka keluar, para suami pun mengikuti langkah mereka.
Mereka semua masih berdiri, di depan pintu ruangan Alina. "Nah, sekarang Alina kan lagi istirahat! Jadi enggak apa-apa kalau mau balik duluan." ujar Kanaya membuka pembicaraan di antara mereka.
"Tapi Kay, nanti yang jagain dia siapa dong? Kalau kita pada balik?" tanya Kaira pada mereka.
"Ya ampun Kai, kamu tenang aja lagi. Ada Aku sama mas Sean kok disini, kalian tenang saja. Aku tahu kok,aku kalian juga pasti capek! Pengen istirahat, apalagi kalau pengantin baru! Pastinya pengen cepat-cepat pulang..." kata Kanaya sambil melirik ke arah Raina.
Raina yang di saat mode serius, masih tetep di goda, apa kabar kalau saat bercanda?.
"Kok bisa-bisanya nya bercanda, orang pada serius juga!" kesel Raina.
"Hehehe,,,Maaf! Lagian kalian mukanya tegang-tegang banget." sahut Kanaya, tak mau di salahkan. Yah, walaupun sebenarnya memang dia yang salah.
__ADS_1
"Yang...." peringat Sean, pada sang istri.
"Enggak lagi..." jawabnya takut-takut, mana berani dia melawan kalau sudah seperti ini. Suaminya sudah bertindak untuk memperingati dirinya. Ia tidak mau melihat suaminya keluar tanduk, yah, kayak banteng dong memiliki tanduk yang kuat. Canda...wkwkwkwk.