Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 48. Raina Sakit.


__ADS_3

Karena sudah baikan dengan sang istri, membuat Leinard lega. Tidak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka.


"Mas, Aku mau ke ruang pasien ku dulu ya! Soalnya tadi aku tidak sempat ngecek mereka, karena sedari tadi tidak keluar sama sekali.


"Yaudah ayo! Aku ikut. Aku pengen disini dulu, nemenin kamu." ujar Leinard kepada sang istri.


"Enggak usah, mendingan mas Leinard kembali bekerja aja ya. Kan Mas Leinard pemilik perusahaannya, masa memberi contoh yang tidak baik sama karyawannya." kata Kaira. Ia tidak mau mengganggu pekerjaan suaminya, lagian mereka kan sekarang baik-baik saja. Jadi tidak perlu di temani pikir Kaira.


"Jadi...kamu ngusir mas! Kamu kok tega sih yang! Aku udah bela-belain enggak kerja loh! Supaya bisa nemenin kamu, lagian aku juga jarang banget kok bolos kerjanya. Bisalah sekali-kali." rajuk Leinard kepada Kaira, agar ia bisa menemani istri tercintanya bekerja.


"Jadi mas Leinard nyalahin aku karena tidak bekerja!" tunjuk Kaira pada dirinya sendiri. Dia langsung mencebikkan bibirnya, karena kesal dengan suaminya.


"Ck! Salah lagi, bukan begitu maksud aku Baby. Masa enggak ngerti sih!" ujar Leinard, dia sedikit heran dengan sikap Kaira yang mudah berubah-ubah. Perasaan tadi, sudah tersenyum menawan kepadanya. Pas, beberapa menit kemudian sudah sangat terlihat kesal. 'Sabar-sabar Leinard, daripada tidak di kasih asupan malam nanti kan berabe.' batin Leinard.


Kaira tambah kesal di buat Leinard, lalu ia mengambil map berisi riwayat pasien dan segera pergi dari ruangannya. Dia bad mood, melihat Leinard. Namun sang suami terus mengikuti Kaira yang berjalan ke ruangan yang dituju.


"Sayang! Jangan ngambek dong," pinta Leinard kepada Kaira yang mengekor di belakang sang istri.


Fyuh....


Kaira menghembuskan nafas nya pelan dan berhenti berjalan di ambang pintu ruangan pasien. Ia berbalik melihat ke arah Leinard, yang sudah memasang tampang menggemaskan menurutnya.


"Iya-iya aku maafin," ucap Kaira lalu membuka pintu ruangan pasien. Leinard tersenyum bahagia, lalu ikut masuk ke dalam.


Karena penasaran, dan tidak ingin membuat tamu menunggu. Alina segera berjalan ke arah pintu. Tanpa berfikir lagi, ia langsung membuka pintu. Terlihat laki-laki yang tampan memiliki postur tubuh yang atletis. Dengan kisaran tinggi 193 cm, menjulang di hadapan Alina.

__ADS_1


Alina terpaku melihat wajah tampan yang tidak asing baginya, tapi entah dimana ia mereka bertemu. Sungguh ia tidak ingat sama sekali. Alina tersadar dari keterpanaan yang menghampiri dirinya.


"Selamat sore, Maaf! Anda cari siapa ya?" tanya Alina kepada oranga asing yang berdiri di depannya. Karena takutnya orang berdiri tegak ini beda agama dengannya.


"Selamat sore juga, saya cari Raina. Apakah dia ada di dalam?" tanya Juno sopan. Walaupun sebenarnya ia pengen cepat-cepat menerobos masuk ke dalam, dari saking mengkhawatirkan Raina. Tapi sopan santun wajib di junjung tinggi, Juni menahan diri agar tidak langsung masuk ke dalam apartemen Raina.


"Raina ada, tapi dia kurang enak badan. Anda ada keperluan apa mencari sahabat saya..?" tanya Alina. Ia takut nantinya ada sesuatu yang tidak di inginkan.


"Ohh! Dia sakit. Pantesan aja tidak pergi bekerja." gumam Juno kepada dirinya sendiri setelah mendengar perkataan sahabat Raina.


Alina yang kurang jelas mendengar gumaman Juno, ia pun bertanya lagi. "Anda berbicara sesuatu?" ucap Alina.


"Emm,,,saya bisa masuk menjenguk Raina tidak? Kamu tenang aja! Saya bukan orang jahat kok. Saya calon suaminya." ujar Juno percaya diri mengatakan dialah yang akan menjaga Raina kelak.


"Hah? Anda tidak membodohi saya kan!" kata Alina yang terperangah mendengar jawaban orang di depannya. Juno jadi geram, karena Alina yang menuduh ia mengada-ngada.


"Kamu ngapain kesini?" tanya Raina yang terkejut melihat Juno di depannya.


"Ya ngapain lagi! Kalau bukan menjenguk kamu." kata Juno, lalu duduk tepat di depan Raina yang menyender di sofa.


"Kamu tidak usah repot-repot jenguk aku!" ucap Raina ketus kepada Leinard. Alina yang melihat temannya kesal seperti itu malah ketawa. Alina langsung berlalu ke dapur mini milik Raina untuk membuat minuman untuk tamu Raina. Yah, Alina ingat mereka bertemu di pernikahan Sean dan Kanaya. 'Jadi dia naksir sahabat gue, bagus deh kalau gitu. Biar tidak jadi jomblowati yang hakiki' ujar nya terkikik dengan pemikiran sendiri.


"Malahan wajib lah bagi aku menjenguk kamu, ingat yah! Kamu calon istri aku. Jadi, berhak dong menjenguk kamu." kata Juno menatap ke arah Raina.


"Terserah kamu!" ujar Raina pasrah. Ia tidak bisa mengelak dengan perkataan Juno tentang pernikahan mereka. 'Bismillah aja deh, Allah swt itu ngasih yang terbaik kok untuk hambanya.' batin Raina. Ia pun menetralkan emosinya.

__ADS_1


"Tapi kamu tahu kan! Kalau di agamaku itu harus se agama." ucap Raina lagi pelan, tapi masih jelas terdengar di telinga Juno yang super peka dengan sekitarnya.


"Aku tahu kok, kamu tenang aja kita itu satu kepercayaan. Tapi, aku sangat jauh dari sang pencipta." ujar Juno jujur.


Juno menyunggingkan senyuman nya, mendengar perkataan Raina yang menerima dirinya. "Emang tidak salah pilih." gumam Juno senang.


...Tak lama kemudian, Alina datang dengan nampan yang sudah berisi jus mangga dan kue coklat kering di dalam toples kaca bening. Lalu ia menata gelas yang berisi jus mangga dan toples di atas meja. ...


"Kamu mau kemana?" tanya Raina yang melihat Alina berbalik ke arah dapur lagi.


"Mau naruh nampan ini." ujar Alina sembari menunjukkan nampan yang ia pegang.


Yaudah sana, cepat kembali ya." ucap Raina. Kerena merasa tak nyaman duduk berdua saja dengan Juno, meskipun terhalang dengan meja.


"Siap besti! Sabar yaa." kata Alina, lalu berlalu pergi kembali ke dapur.


"Ehm,,,silahkan di minum." ucap Raina menyodorkan minuman. Juno mengangguk dan meminum minuman itu. Selesai minum, ia menaruh kembali gelas ke meja.


"Ayo kita kerumah sakit!" ajak Juno kepada Kaira.


"Hah? Tidak usah. Cuma masuk angin doang kok." tutur Raina.


"Tidak, kita ke rumah sakit. Kamu mau nunggu parah dulu baru mau ke rumah sakit!" kata Juno tegas tidak terbantahkan.


"Mulai lagi deh! Yaudah iya-iya." ujar Raina memutar bila mata jengah. Juno tersenyum tipis karena Raina tidak menolak ke rumah sakit.

__ADS_1


*****.....*****


__ADS_2