
"Jadi, Kamu mau dong! Nambah adek buat Baby Athaf?." Tanya Leinard sembari menaik turunkan kedua alisnya, menggoda sang istri. Rona merah yang timbul karena godaan sang suami pun, menambah kecantikan sang istri, membuat ia tak bisa memalingkan pandangan dari Kaira. Hilang sudah suasa haru yang tercipta, karena ucapan Leinard yang konyol menurut Kaira. Alhasil, sang istri menghadiahi sang suami dengan cubitan pedasnya.
"Mas..." rengek Kaira.
"Kenapa sayang? Kan bener! Tapi, Aku kok di kasih cubitan sih?" dengan tampang polos nya, ia berujar tidak terima.
"Mas sih, nggak tahu sikon. Lagian, Baby Athaf juga baru lahir, kasian dong. Nanti perhatian untuk nya kurang. Dan Aku mau memberikan Asi eksklusif untuk nya. Ish,,,dasar Deddy petakilan."
"Iya, Sayang! Aku paham kok. Nambah adeknya nanti saja, kalau Baby Athaf berumur 3 atau 5 tahun." Sanggah nya.
"Ish, maunya Mas..." serunya dengan mencebikkan bibir nya.
"Emang kamu nggak mau?" goda Leinard lagi. Karena Ia senang sekali, melihat istrinya merajuk.
"Ck! Katanya suruh istirahat. Tapi, kok sedari tadi ngajak ngomong mulu?" memandang wajah suaminya dengan intens.
"Hehehe...ya maaf!" jawab nya tanpa dosa. Lalu menarik selimut Kaira yang melorot, membenarkan seperti semula. Lalu Ia mengelus kepala sang istri penuh cinta, tak lama kemudian Kaira pun tertidur dengan nyenyak.
*****
Sedangkan di markas Black Eagle, Zeo sudah berhasil menagkap Luna. Dan langsung membawa wanita itu, kepenjara bawah tanah.
"Hei, kenapa kalian menangkap Aku?! Lepaskan brengsek...!" Luna sedari tadi terus memberontak.
Zeo yang sudah geram dengan suara berisik Luna sedari tadi, membuat dirinya hilang kesabaran. "Diam wanita ular!!! Perbuatanmu sendiri lah yang membawa kamu berada ditempat ini. Jadi, nikmati buah dari apa yang kau lakukan." Sarkas Zeo dengan geram, sambil mencekik leher Luna dengan erat.
Karena cekikan Zeo yang kuat, membuat Luna kehilangan pasokan udara, dengan kekuatan yang tersisa, Ia menarik tangan Zeo agar terlepas dari lehernya.
__ADS_1
Zeo yang melihat wajah Luna yang memerah dan terengah-engah, segera melepaskan cekalan tangannya. Luna terbatuk-batuk.
"Uhuk...uhuk!" Dirinya pun menghirup udara dengan rakus.
"Dasar Iblis...." makinya lagi, setelah menetralkan nafas nya.
"Ha...Ha...Ha..." tawa Zeo menggelegar, mendengar makian yang dilontarkan Luna kepadanya.
"Kenapa? Kamu baru tahu? Telat wanita bodoh. Kamu sudah salah memilih lawan, maka nikmati lah nerakamu...!" ujarnya lagi dengan nada mengejek. Malas meladeni Luna, Zeo pun memerintahkan anak buahnya untuk membawa Luna pergi dari hadapannya.
"Bawa Dia pergi! Biarkan Leinard yang mengurus sisanya." Titah Zeo, dua pengawal yang sedari tadi memegang Luna segera melaksanakan tugas yang diberikan Zeo.
"Baik, Tuan." Jawab mereka patuh.
Zeo hanya mengangguk kan kepalanya, lalu ia beranjak pergi, ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan wanita pujaan hatinya. Sudah beberapa hari mereka tidak bertemu, karena Zeo ditugaskan untuk menangkap Luna.
"Menambah pekerjaan saja." Gumam nya, lalu lekas pergi dari tempat itu.
Suara notif pesan masuk ke handphone milik Leinard. Ia pun segera mengambil handphone nya yang diletakkan di atas nakas. Lalu melihat pesan masuk, ia menyunggingkan senyum devil nya, membuat siapapun yang melihat pasti takut.
"Kerja bagus... Baiklah, ayo kita bermain-main. Pastinya menyenangkan bukan?!" gumamnya tersenyum. Jiwa iblis nya, langsung meronta-ronta melihat mangsa.
Melihat wajah damai sang istri, membuat hati Leinard menghangat. "Sayang, aku akan membalas perbuatan wanita licik itu." Kata Leinard pelan, walaupun ia yakin Kaira tidak akan mendengar ucapannya.
Leinard berdiri, mencodongkan tubuhnya kedepan, lalu mengecup kening Kaira sekilas. "Tidur yang nyenyak, Sayang." Gumamnya. Lalu, pergi keluar meninggalkan ruangan Kaira.
Ceklek!
__ADS_1
Leinard membuka pintu, tampak lah keluarga nya yang menunggu dengan setia. "Nak, kamu mau kemana?" tanya Mommy Ranty, yang melihat gelagat sang putra.
"Mom, Aku titip Kaira ya! Leinard mau keluar sebentar, ada pekerjaan mendadak yang tidak bisa Aku tinggal." Kata Leinard, menjawab pertanyaan sang Mommy.
"Loh, kamu gimana sih! Istri baru melahirkan kamu mau pergi begitu saja." Protes Mommy Ranty, apalagi disini masih ada besannya, membuat sang Mommy merasa sungkan saja kepada mereka.
"Bukan begitu Mom. Hanya saja, pekerjaan Leinard kali ini tidak bisa di wakilkan,Leinard cuma sebentar kok. Leinard janji!" Ucap nya untuk meyakinkan sang Mommy. Ia sudah tidak sabar lagi, ingin segera memberikan pelajaran bagi Luna. Melihat sang Mommy tidak memberikan tanggapan, ia pun mencoba meminta bantuan dari sang Deddy. Sedangkan yang diberi kode, hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Tapi, tatapan memohon yang dilayangkan sang anak, membuat Deddy Evan mau tak mau harus membantunya.
"Mom, biarkan saja Anak ini pergi. Lagian, Ia jug berjanji akn sebentar, Mommy pasti tahu kan sifat putra kita seperti apa?. Jadi, kalau menurut Deddy, ini pasti pekerjaan yang sangat penting." Tutur nya memberikan pengertian kepada sang istri, yang kekeh pengen anaknya disini saja.
"Tapi..." belum sempat Mommy Ranty melayangkan protesnya, Umma sudah memotong pembicaraan mereka.
"Nggak apa-apa, loh Jeng. Kita bisa kok menjaga Kaira dan cucu kita bersama. Lagian ya, kalau Deddy nya pergi, kita bisa puas menggendong cucu kita." Umma berbicara dengan pelan, disamping besan nya. Mendengar kata terakhir itu, membuat Mommy Ranty tersenyum bahagia. Ia langsung saja, memberikan izin kepada Leinard.
"Iya udah, Kamu boleh pergi Nak! Tapi ingat, kalau pekerjaan kamu selesai segera kembali." Kata sang Mommy.
"Iya Mommy yang Cantik! Leinard titip Kaira dan Baby Athaf ya, Mom." Ujar nya sekali lagi.
"Hemm, kaya sama siapa saja? Dia itu menantu dan cucu kesayangan Mommy. Tanpa kamu mintapun, Mommy akan menjaga nya sepenuh hati." Kata wanita paruh baya itu, membuat hati menantu mana yang tidak meleleh. Begitupun dengan Kanaya, yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia tanpa ikut andil dalam percakapan mereka.
"Yaudah, kalau begitu, Leinard pamit ya. Assalamualaikum...." tak lupa dirinya mencium takzim punggung kedua orang tua serta mertuanya.
"Hati-hati, di jalan Nak!" peringat Umma pada sang menantu.
"Iya, Umma! Leinard akan hati-hati." Sahutnya, lalu ia benar-benar melangkahkan kakinya pergi.
Leinard sudah mengirim pesan kepada sang asisten, agar menunggu nya di depan pintu keluar rumah sakit. Agar mereka langsung berangkat. Juno yang mendapat pesan, langsung menjalankan perintah Leinard.
__ADS_1
Saat melihat Leinard berjalan ke arahnya, Juno pun turun untuk membukakan pintu jok belakang untuk Tuannya.
"Silahkan Tuan." Juno mempersilahkan Leinard masuk, setelah itu ia langsung menutup pintu mobil. Dan kembali duduk, di tempat semula. Lalu menginjak pedal gas, meninggalkan kawasan rumah sakit.