
Sesampainya mereka di kamar, Leinard mendudukkan Kaira di tepi ranjang. Melepaskan sandal yang di pakai Kaira.
"Jangan...biar Kai aja mas!" seru Kaira saat Leinard hendak melepaskan sandalnya.
"Tidak apa-apa, sayang! Lagian mas senang kok bisa bantu kamu. Ini kan cuma lepas sandal." ujar Leinard tersenyum kepada sang istri.
"Ma-makasi ya Mas!" kata Kaira tulus. Ia bersyukur banget, meskipun dengan pertemuan tak mengenakkan. Awalnya Kaira menganggap Leinard, hanya orang datar dan tukang maksa. Sekarang pandangan itu mulai berubah, dengan perlakuan manis Leinard yang di berikan untuk istrinya.
"Enggak perlu makasi..." Kaira tersenyum mengangguk.
Mereka sama-sama terdiam,
"Emm,,,sayang gimana kalau di kamar atau lagi sama aku, kamu tidak usah pakai kain penutup ini." pinta Leinard memegang cadar yang di kenakan Kaira. Tanpa bersuara, Kaira mengangguk patuh atas permintaan sang suami. Ia banyak diam, karena terlalu gugup. Irama dari detak jantungnya begitu cepat. Leinard untuk sekarang, tak akan menggoda Kaira. Ia takut Kaira merasa tak nyaman dengannya.
Leinard membuka cadar Kaira, tangannya gemetar ikut nervous saat membuka penutup wajah itu. Dia tak menyangka, dirinya mendapatkan istri cantik dan sholehah. 'Makasi ya Rabb, engkau anugrahkan hamba untuk memperistri wanita sholehah' ucap syukur Leinard dalam hati.
Leinard tertegun, melihat keindahan di balik cadar. Ia sampai merasa ini seperti mimpi.
"Sangat cantik!" pujinya. Yang di puji hanya menunduk malu, saat wajah ayu nya di pandangi sang suami.
"Kamu mau istirahat dulu? Apa mau langsung mandi?" tanya Leinard.
"Mendingan mas aja duluan, Kai mau istirahat sebentar ngilangin capek nya dulu!" pinta Kaira.
"Baiklah sayang! Seperti yang kamu inginkan." kata Leinard. Ia berdiri mengecup kening sang istri. Sebelum ia berlalu ke kamar mandi. Leinard begitu bahagia, Allah swt sayang kepadanya memberikan perempuan yang sempurna menurut Leinard.
Setelah Leinard, benar-benar masuk ke kamar mandi, ia pun bergegas ke depan cermin. Membuka pernak-pernik yang melekat di hijabnya, ia mengganti baju dengan daster rumahan yang lengannya panjang. Lalu memakai hijab instant.
Kaira menyiapkan baju ganti untuk suaminya, karena adzan maghrib sebentar lagi berkumandang. Dia memilih pakaian shalat untuk di kenakan Leinard. Ia menyimpan baju di atas ranjang.
Tak lama pun, Leinard keluar kamar mandi. Hanya menggunakan handuk saja, yang menutupi di bawah pusar sampai lutut. Guratan otot terpampang dengan jelas, perut sixpack dengan kulit yang mulus berkilau.
Kaira langsung merona melihat pemandangan itu, meskipun bukan yang pertama kali ia lihat. Malah ia sering melihat bagian tubuh pasiennya saat operasi. Ia segera memalingkan wajah ke arah lain, yang penting jangan melihat objek di depannya.
Melihat istrinya yang memalingkan muka, Leinard segera mendekap Kaira. Ia tak suka di acuhkan seperti itu.
__ADS_1
"Jangan palingkan wajah mu dariku! Aku tak suka itu." kata Leinard berbisik di telinga istrinya.
Kaira tak bergeming di tempat, tubuhnya menegang saat Leinard berbicara di telinganya. Susah payah ia menelan salivanya. "Ma-maaf,,,Kai tak bermaksud seperti itu." ujarnya gagap.
'Ingat Kai! Dia itu suami kamu!' pikirnya mengingatkan diri sendiri.
"Iya di maafkan, tapi Jangan di ulangi lagi!" pinta Leinard.
"Iya mas, kalau gitu aku mandi dulu ya. Aku udah siapin baju mas Lei di atas ranjang." tunjuk Kaira pada baju koko dan sarung yang terlipat rapi di atas kasur. Kemudian ia berlalu ke kamar mandi.
Leinard baru saja selesai mengancingkan baju koko yang ia kenakan. Terdengar ketukan pintu dari luar kamar.
Tok...tok...tok.
Krieet....
Pintu terbuka, Abba berdiri dengan pakaian rapi di sana.
"Nak, ayo kita ke masjid!" ajak Abba kepada menantunya.
"Sayang, aku ikut Abba ke masjid ya!" ujarnya.
"Ia mas." sebelum meninggalkan Kaira, tak lupa ia mencium kening Kaira, pipi kanan dan kiri. Ia menahan diri agar tak melahap bibir marah bak cherry milik istrinya. Ia memilih hal lain dulu, sebelum mengambil ciuman pertama Kaira.
"Aku pergi dulu sayang! Jatah nya nanti malam saja!" kata Leinard menggoda Kaira.
"Iyaa..." jawab Kaira malu-malu.
"Iya apa..?"
"Ih,,,mas Lei buruan sana. Di tunggu mertua tuh di depan." usir Kaira kepada suaminya.
"Jawab dulu! Iyain yang mana?" tanya Leinard tak sabar.
"Semuanya..." jawab Kaira pasrah. Leinars tersenyum lebar mendengar itu. Ia berlalu dari hadapan Kaira.
__ADS_1
"Enggak boleh ingkar..." ujar Leinard sembari melangkah ke luar kamar.
'Dasar suami pemaksa! Astaghfirullahal adzim. Ikhlas Kai, dia itu suami kamu.' batinnya. Dia menghembuskan nafas, lalu berjalan ke arah lemari untuk mengganti baju.
"Umma ini lauknya," Kaira memberikan piring yang berisi lauk untuk santapan makan malam. Shalat isa sudah usai, Kaira membantu Umma menata makanan yang mereka masak tadi. Saat ini mereka hanya menunggu kedatangan Abba dan suaminya.
"Assalamualaikum..." ucap Abba dan Leinard ketika berada di depan dua wanita yang beda usia itu.
"Waalaikumsalam..." jawab mereka. Lalu berjalan ke arah suami, mencium punggung tangannya.
"Ayo makan!" ajak Kaira. Lalu menarik Leinard untuk duduk di kursi. Begitupun juga dengan Abba. Umma dam Kaira melayani suaminya masing-masing. Mereka berdoa sebelum makan, meja makan senyap hanya bunyi dentingan sendok yang beradu dengan piring mengiringi kegiatan makan mereka.
Menit berlalu begitu cepat, kini mereka kembali ke kamar. Sejak awal masuk, Kaira sudah grogi. 'Kamu pasti bisa Kai...semangat' pikirnya.
Fyuhh...
Hembusan nafas Kaira. "Bismillah..." ujarnya.
"Kamu kenapa sayang! Kalau mang belum siap, aku tidak akan maksa kok." ujar Leinard. Dia tahu ketakutan yang melanda istri kecilnya.
"Ti-tidak mas! Aku hanya peru ke kamar mandi sebentar." kata Kaira. Ia bergegas ke kamar mandi, tak lupa Kaira membawa salah satu kado dari sahabatnya.
"Sayang! Sudah lima belas menit ini. Kamu kok belum keluar! Lagi ngapain sih di dalam? Kok lama banget." teriak Leinard di depan pintu kamar mandi.
Ceklek....Kaira menampakkan dirinya di depan suami. Leinard di buat melongo, akibat penampilan Kaira yang sangat 'Waw...'
"Mas ambil wudhu dulu gih, kita shalat sunah dua rakaat dulu." suruh Kaira kepada suaminya. Tanpa membantah, dia langsung melakukan apa yang dinginkan sang istri.
Selesai shalat, Kaira melipat mukena dan sajadah yang ia dan Leinard gunakan. Ia menggantung di hanger, lalu di letakkan di belakang pintu. Leinard memeluk mesra Kaira dari belakang, "sayang aku sudah tak tahan.." ujarnya. Ia langsung membawa Kaira ke atas ranjang.
"Mas! Berdoa'a terlebih dahulu." ucapnya mengingatkan. Leinard lantas membaca do'a, di amiinkan Kaira.
Terjadilah, ibadah yang di nantikan Leinard. Ibadah yang membuat mereka mencapai kenikmatan surga dunia.
*****....*****
__ADS_1