
Setelah pamitan Zahra turun dari mobil, dia berdiri di tempat sampai mobil Leon tidak terlihat lagi. Baru di beranjak masuk ke rumah Kanaya.
Di rumah Kanaya, orang tampak ramai. Baik dari tim MUA yang melakukan tugas nya untuk mendokarasi kediaman Kanaya. Sampai para tetangga pun ikut andil untuk membantu mempersiapkan acara untuk besok.
Zahra terus berjalan melewati beberapa manusia yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Membuat ia teringat saat waktu nikah dulu, boro-boro ada kegiatan seperti ini. Dirinya kan langsung di bawa ke tempat masjid, dimana ijab qabul akan dilangsungkan serta unsur pemaksaan yang begitu dominan yang ia dapat. Meskipun begitu, Alhamdulillah keuarganya rukun semua.
Karena pintu rumahnya yang terbuka lebar-lebar, jadi dia langsung masuk saja.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarkatuh..." salam Zahra kepada penghuni rumah ini.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarkatuh..." jawab merek kompak, terlebih lagi jawaban salam bestie nya yang sangat semangat menyambut kedatangan Zahra.
"Ini dia nih nyonya Adipati! Baru nongol lu bestie." celetuk Alina di tengah keheningan omongan mereka saat selesai menjawab salam Zahra.
Zahra yang merasa namanya di panggil, hanya tersenyum pepsodent. Memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Yaiyalah baru nongol, aku kesini juga itu ya harus dapet izin si Tuan lah. Masa iya main gas aja kesini, kan enggak mungkin. Aku kan di anterin suami juga ke sini. Makanya lumayan telat, maaf ya bestie!" seru Zahra kepada sahabatnya itu.
"Iya enggak apa-apa santai aja loh! Lagian ini nyonya Mahmud juga belum dateng. Mendingan kita duduk di sofa dulu dan bercerita, Aku rindu banget tahu saat-saat kita ngumpul bareng seperti dulu." sahut Raina kepada sahabatnya.
"Yaudah! Kapan-kapan aja agendakan gimana? Setuju enggak. Kita have fun dan shopping bareng, tapi kalau kalian ada izin sih dari si jantan." Ujar Kanaya menimpali omongan sahabat nya.
"Siap-siap! Harus dapet izin dulu dong baru agendakan. Biar kita aman!" kata Zahra.
Di ambang pintu, sudah ada Kaira yang salim kepada suaminya yang akan pergi bekerja. Pemandangan itu pun, tak luput dari mata para sahabatnya.
"Ihhh, Kaira mah bikin iri aja..." kata Alina menetap bahagia melihat sahabatnya bahagia.
"Nikah deh buruan, biar enggak ngiri. Punya suami itu...enaknya 5 persen sih, Tapi 95 persennya enak bangettt tahu!" ucap Zahra mengompori sahabat nya yang masih single.
"Tapi sayangnya enggak ada yang mau sama kita..." kata Raina lesu.
"Yaa,,,enggak mungkin lah! Tapi belum dateng aja jodoh kalian. Mangkanya banyak berdoa'a gih, minta jodoh yang terbaik menurut Allah swt." seru Kanaya membenarkan omongan pesimis dari sahabatnya.
__ADS_1
"Paham bu ustadzah yang budiman..." ucap mereka tertawa renyah dan enggak jaim-jaim. Kalau emang sablek ya,,,mereka apa adanya gitu, lain halnya kalau sama yang lebih tua dari mereka. Mereka sangat-sangat menghormati yang lebih tua.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarkatuh bestie..." salam Kaira sembari salaman ala mereka.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarkatuh..." jawab mereka serempak.
"Kalian ini yah,,,ketawa tidak ngajak-ngajak!" kata Kaira mendrama, dua menampilkan suaranya yang sendu.
"Enggak gitu juga,,,ngajak kok, tapi nanti!" celetuk Alina. Mereka pun berhambur memeluk Kaira bersamaan.
"Ahh,,,Aku rindu banget sama kalian. Ini nih bestie itu." ujar Kaira sembari tertawa bahagia dan mengeratkan pelukan mereka.
"Mendingan kita ke kamar Kanaya deh, cerita-cerita di sana aja gimana?" tanya Raina.
"Boleh banget tuh, kita friend's time nya di kamar pengantin. Tapi jangan lupa cemilan ya bu capeng (calon pengantin)..." seru Kaira.
"Siap...kalau cemilan mah aman! Kalian duluan aja deh, aku ke dapur dulu. Menyiapkan permintaan tuan putri pade yah!" sahut Kanaya.
"Ihh,,,belum juga kali..!" sahut Kanaya.
"Kan Otw jadi nyonya Sean..." Timpal Raina. Sedangkan Kanaya berjalan ke arah dapur sembari tersenyum. Dia menahan malu, karena tiada henti di goda, apalagi banyak orang seperti ini! Tambah membuat dirinya malu.
Keempat sahabat itu, segera beranjak pergi ke kamar pengantin yang sudah di dekor sedemikian rupa. Tapi tak ada kelopak bunga mawar yang di jadikan bentuk hati di tengah-tengahnya.
Mereka duduk di karpet yang terhampar di lantai kamar, karena tak mau merusak tatanan penutup kasur dan bedcover yang sudah terpasang.
Kanaya pun masuk ke dalam kamarnya, dia membawa makanan dan minuman permintaan sahabat nya.
"Loh! Kalian kok duduk di bawah. Kenapa tidak di atas saja?" tanya Kanaya yang melihat mereka semua duduk melantai.
"Tidak apa-apa! Disini lebih nyaman kok. Dan duduk seperti ini lebih mengasikkan." seru Kaira.
"Baiklah, terserah saja! Ohh...iya Rai, yang mau pakai henna nya kapan?" tanya Kanaya.
__ADS_1
"Nanti aja, sudah tidak sabar yaa! Mendingan kamu makan-makan aja dulu. Kalau sudah pakai henna, kamu tidak boleh banyak gerak loh." sahut Raina.
"Okey-okey,,,aku nurut! Aku mau mengisi perut dulu kalau begitu, soalnya aku belum makan apapun." kata Kanaya.
"Sebegitu dag dig dug jederr ya! Kalau jadi pengantin. Sampai lupa makan!" ucap Alina.
Kanaya hanya tersenyum, melihat Alina yang antusias seperti itu. "Nanti kalau kamu sudah bertemu jodoh! Kamu juga akan merasakan apa yang Kanaya rasakan juga, So sebelum masa itu datang. Kamu have fun aja, nikmatin waktu kesendirian kamu dengan ikhlas. Sampai Allah swt, menyatukan kalian dalam ikatan suci pernikahan." papar Kaira.
"Kelihatannya yang single ini kebelet nikah deh!" kata Zahra.
"Yeee,,,enak aja. Biasa aja kok! Ya kan Raina?" jawab Alina mencari dukungan dengan orang yang senasib dengannya.
"Iya deh,,,kamu benar." pasrah Raina setuju dengan Alina.
"Iya deh yang senasib!" goda Kanaya.
"Nyebelin...! Mentang-mentang mau nikah" ketus Raina karena sedari tadi yang jomblo terus di gojlok terus-menerus.
"Sorry-sorry! Enggak lagi deh ayang!" ucap mereka bertiga merayu dua orang yang pura-pura ngambek. Mereka pun berpelukan dengan erat dan sama-sama tersenyum bahagia.
Kruyuuk...Kruyuuuk, bunyi perut si calon pengantin.
"Uda ah! Aku mau makan dulu, kalian ikut enggak?" Kanaya melepaskan pelukan itu, karena perutnya yang berbunyi.
"Enggak! Kami udah makan kok. Kami ngabisin cemilan ini aja." balas Zahra. Kanaya pun berjalan ke dapur, untuk mengisi asupan. Karena perutnya yang tak bersahabat lagi.
"loh mantennya kok keluyuran sih!" tegur ibu Kanaya. Kanaya cengengesan mendapat teguran dari ibunya, dia pun memberikan isarat dengan mengusap-ngusap perut nya.
"Kay laper bu, anak sendiri juga di lupain. tidak ditawari makanan sama sekali." adu Kanaya manja.
"Utuk-utuk kasian nya, calon pengantin. yaudah ayo makan, biar ibu yang nyiapin." seru ibu Kanaya, lalu langsung membawa anaknya ke meja makan.
*****.....*****
__ADS_1