
Keluar dari masjid, Leon langsung memboyong Zahra ke mansionya. Di sepanjang perjalan Leon terus tersenyum.
Zalfa tertidur di pangkuan zahra, sedangkan sang istri bungkam dari tadi. Sesekali ia melihat wajah suaminya.
Setengah jam berlalu, mereka sampai di mansion mewah milik Leon. Para maid berjejer rapi menyambut kepulangan tuan rumah. Supir pribadinya membukakan pintu, Leon membuka pintu mobil, mencodongkan tubuhnya. Ia ingin menidurkan sang putri, namun urung saat melihat gelengan kepala istrinya.
"Biar saya saja, takutnya malah kebangun kalau pindah." Ujarnya. Leon hanya mengangguk pasrah. Ia tak bisa menolak apa yang di katakan istrinya ada benarnya juga. Leon menegakkan tubuhnya kembali, ia menaruh tangan nya di di pinggiran atas mobil, supaya kepala Zahra tidak terbentur.
"Terimakasih!" ucap Zahra setelah berhasil keluar dari mobil.
"Hhmmm..." lantas Keinard mengekor di belakang Zahra. Para maid membungkuk kan badan sedikit saat Zahra dan Leon melewati mereka.
"Kamar Zalfa ada dimana?" sekarang Zahra bingung harus memanggil suaminya itu dengan sebutan apa. Ia tak menyebut apapun langsung berbicara ke intinya saja.
Leon yang mendengar itu, langsung berjalan di depan Zahra yang menggendong Zalfa. Mereka menggunakan lift naik ke atas, selang dua menit. Mereka sampai di depan pintu warna coklat.
Ceklek....
Leon membuka pintu kamar Zalfa.
"Ayo masuk!" ajak Leon. Zahra mengangguk saja, tetap mengikuti Leon. Zahra membaringkan Zalfa pela-pelan di kasur, takut ia terbangun. Zahra berbalik, betapa terkejut dirinya. Leon berada tepat di depannya dengan jarak lima jengkal.
"K-kamu ngapai masih disini?" tanya Zahra.
"Kenapa emangnya? Disini kan kamar Zalfa. Oh ya, berhenti berbicara formal. Kita itu suami istri! Masa iya bahasanya begitu." Leon menghapus jarak mereka, membuat tubuh Zahra terpentok ke dinding. Nafas Zahra rasanya tercekat, menghadapi sistuasi seperti ini. Gugup bukan kepalang, membuat semburat merah muncul di kedia pipi Zahra. Leon suka melihat itu, membuat dia semakin gencar menggoda Zahra.
"A...ku h-harus panggil apa?" tanya Zahra dengan wajah polos bersemu itu.
Leon menarik senyum simpul di bibirnya, melihat tingkah menggemaskan istrinya.
__ADS_1
"Menurutmu, istri harus memanggil apa buat suaminya! Tentu dengan panggilan yang mesra bukan!" ucap Leon. Mengikis jarak mereka, nafas hangat terasa di muka Zahra membuat gadis itu menutup mata erat-erat. Bibir mungil bak cherry, membuat Leon tak bisa menahan diri. Ia mengecup mesra bibir istrinya, tubuh Zahra menegang seketika. Ia tak bisa menghentikan ini, karena memang hak suami nya.
Niat awal mau menggoda! Eeeh,,malah Leon yang tergoda oleh istrinya. Ia tak mampu menahan diri.
"Aku menginginkan mu!" dengan nafas memburu.
Zahra mengangguk, setuju dengan permintaan sang suami.
"Tapi aku mau kita melaksanakan shalat dua rakaat dulu" ucapnya menundukkan kepala. Ia tak sanggup melihat wajah suaminya. Dari saking malunya. Leon melebarkan senyumannya mendengar itu.
"Baiklah...!" Leon menggenggam tangan mulus nan halus sang istri, membawa ke dalam kamarnya.
Dari pertemuan waktu itu, Leinard mendapat kan persetujuan dari Abbanya Kaira. Tapi sampai saat ini, dia tak mendengar kata apapun dari Kaira. Di terima atau ditolakkah dirinya. Ia tak sanggup di gantung seperti ini. Sehingga membuat dirinya kembali menapaki lantai rumah sakit, dengan tujuan yang sama pula.
Leinard mendapatkan informasi dari pengawalnya, bahwa Kaira sudah sampai beberapa menit yang lalu. Ia langsung saja menuju ruangan Kaira, namun nihil. Orang yang di cari tak ia temukan.
"Kemana dia?" tanyanya pada diri sendiri, karena saat ini Juno tak ikut serta. Ia memiliki tugas dari Leinard.
Drt...drt...
Panggilan terhubung,
[ Dimana dia? ]
[ Dia lagi ngecek kondisi pasien yang ia tangani. Dia akan kembali sebentar lagi! ]
[ Hmmm...]
Selang beberapa menit, orang yang di tunggu-tunggu, menampakkan diri. Tak ada orang yang bisa membuat seorang Leinard menunggu, meskipun itu orang penting sekalipun. Namun Leinard memberikan Kaira pengecualian, ia menebalkan rasa sabarnya demi Kaira. Perubahan yang luar biasa bukan!.
__ADS_1
Kaira memutar handle pintu, melangkah masuk ke dalam ruangannya. Ia mendapati seseorang duduk dengan tenang, di sofa yang ada di ruangan itu.
"Astagfirullahal adzim! Kamu ngapain berada di ruangan saya?" dengan wajah terkejutnya. Karena kecerobohan Kaira, ia lupa untuk mengunci pintu tadi saat mau keluar.
"Tidak usah ekspresi gitu juga! Saya itu bukan hantu, jadi tak usah terkejut. Saya kesini ada perlu sama kamu." Leinard yang biasanya irit bicara, jika dia bertemu Kaira maka itu tak berlaku.
"Ada perlu sama saya," tunjuk Kaira pada dirinya sendiri.
"Iya, jawaban yang harus anda berikan, saat pertemuan kemarin. Abba menyetujui hal itu, karena Abba ingin mendengar jawaban darimu. Tapi jawabanmu hanya satu, katakan iya menikah denganku." kata Leinard. Leinard tak bohong Abba memberikan lampu hijau buat Leinard, untuk meneruskan niat nya menikahi Kaira. Setelah berbicara dengan Abba Farukh, dia langsung setuju dengan niat baik Leinard.
"Kenapa anda memaksa saya? Jika tidak ada pilihan mengapa masih bertanya?" sungut Kaira, ia tak lagi segan dengan Boss nya yang suka memaksa ini.
"Bagus, pilihan yang tepat nya Mahmud." ujar Leinard berdiri, ia segera pergi dengan wajah penuh kepuasan. Apa yang ia harapkan tercapai juga.
"Dasar tukang paksa..!" ucap Kaira.
Subuh menyapa, dua insan yang terlelap mesra membuka mata dengan binar bahagia. Dahaga Leon selama 4 tahun terbayar dengan indah. Leon terbangun terlebih dahulu, senyuman terukir cerah di bibirnya. Leon memindahkan kepala Zahra hati-hati ke bantal. Ia menggerakkan lengannya yang terasa kaku. Ia menoleh ke arah sang istri.
"Kamu luar biasa sayang! Aku mencintaimu." kata Leon sembari mengecup mesra kening Istrinya. Zahra terbangun merasakan benda kenyal yang menempel di dahinya. Zahra melihat suaminya yang tersenyum hangat kepadanya. Seketika bayangan tadi malam melintas di benaknya, ia sangat malu. Segera ia menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Leon yang melihat tingkah menggemaskan itu, ingin melahap habis istrinya.
"Kenapa di tutup?" tanyanya.
"Malu..!" ucap Zahra, suaranya tidak terdengar jelas, karena tertutup selimut.
"Enggak usah malu sayang, lagian aku sudah merasakannya kok. Mendingan kita cepetan mandi, keburu subuh habis. Ayoo!" Leon berdiri, lalu menggendong tubuh istrinya ke kamar mandi. Mereka mandi bersama untuk mempersingkat waktu.
selesai mandi, mereka berpakaian lengkap. Tak lupa Zahra menyiapkan alat shalat untuk suaminya. meskipun dia begitu lelah, tapi tugasnya sebagai seorang istri harus tetap ia kerjakan.
"Mas, ayo cepetan! kita shalat berjamaah, keburu siang nanti." teriak Zahra, yang tak mendapati suaminya keluar dari walk in closet.
__ADS_1
"Tunggu sebentar sayang, Aku datang!" ujar Leon.
*****.....*****