Tambatan hati sang Mafia

Tambatan hati sang Mafia
Part 63. Alina Siuman.


__ADS_3

Ia menepuk-nepuk bahu kekar sahabat nya, yang tidak terlihat seperti dirinya.


"Hmm,,,kalau gitu gue nitip Alina ya! Aku mau bersih-bersih dulu." ucap Zeo. Lantas ia berdiri dari tempat duduk nya.


"Di ruangan gue, ada baju ganti buat kamu!" jawab Leinard, sebelum Zeo benar-benar pergi dari pandangan mereka.


Ceklek...


Zeo pun hilang di balik pintu, Kaira dan Zahra lantas berdiri. Menghampiri sahabat nya yang terbaring lemah tak berdaya. Mereka berdiri di samping brangkar Alina. Selang infus terpasang di punggung tangan mulus Alina, tetesan demi tetesan cairan masuk ke pembuluh darah nya.


Leinard duduk kembali ke sofa panjang yang ada di ruangan itu, dimana ada Leon duduk bersender dengan muka datar nya. Mereka sama-sama menghembuskan nafas berat, bingung dengan langkah apa yang harus mereka ambil. Jelas saja, jika memakai cara mereka sendiri sedikit banyak pasti memakai jalan dan cara mereka sebelumnya.


Leon menggeser duduk nya, lebih dekat dengan Leinard yang memangku dagunya. Seperti nya sahabat yang satu ini, banyak sekali pikiran.


"Hei..." senggol Leon setengah berbisik ke kuping Leinard. Agar tidak kedengeran oleh dua wanita yang masih setia berdiri di samping temannya yang terbaring lemah tak berdaya.


'Ya Allah, hamba harus bagaimana? Untuk mengkhiri permusuhan di antara kami. Karena tidak mungkin ia mau di ajak dengan jalur damai.' batin Leinard kembali saat mengingat Xaron yang memiliki dendam dengan nya.


Panggilan dari Leon, mampu mengalihkan atensi Leinard yang memikirkan cara yang bisa dia ambil untuk menghentikan musuh-musuh nya yang mengintai dirinya dan juga orang-orang yang di sayangi.


"Hmm..." sahut Leinard sekenanya.


"Kamu kenapa? Kok kelihatannya banyak pikiran?" tanya Leon serius.


"Xaron..." jawab Leinard singkat.

__ADS_1


"Ohhh, kalau mau membicarakan itu jangan disini. Kita lebih baik bertemu langsung di markas saja dan membicarakan lebih detail lagi. Karena mereka kan tidak tahu!" ujar Leon sembari menunjuk kedua wanita itu dengan dagu nya.


"Hmm, kamu benar juga. Aku takut mereka tahu yang sebenarnya, dan tidak bisa menerima itu." sahut Leinard pelan yang hanya mampu di dengar Leon.


"Daripada kita menerka-nerka, tanggapan apa yang akan mereka katakan nantinya, lebih baik kita jujur. Agar tidak selalu merasa was-was dan takut ketahuan. Heran ya! Kok seeprti pencuri yang takut ketahuan saja." ucap Leon ikut serius.


"Iya, saran kamu memang benar. Tapi tidak untuk saat ini, apalagi situasinya seperti ini. Aku bakalan kasih tahu kok, tetapi tidak untuk sekarang. Aku mau nyelesaikan semuanya terlebih dahulu." jawab Leinard.


"Oohh, lebih cepat lebih baik Bro." ujar Leon.


"Aku berharap begitu..." gumam nya pelan.


"Alina,,,cepat bangun! Masa kamu terus tiduran seperti ini sih, emang enggak capek?" ucap Kaira berurai air mata, ia mengajak Alina berbicara, semoga saja dia cepat sadar dari pingsan berkepanjangan yang di alami.


Zahra hanya diam, memperhatikan keduanya. Ia mengelus-ngelus bahu Kaira yang bergetar karena tangisnya yang kembali pecah. Zahra pun sama, menangis tanpa suara. Bulir bening yang turun dari kedua kelopak matanya lah yang menjadi saksi ia dan juga Kaira sangat sedih, dengan keadaan sahabat nya.


Ceklek...


"Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarkatuh..." salam mereka berbarengan.


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarkatuh..." jawab mereka tak kalah serentak nya. Raina dan Juno pun masuk, menaruh makanan yang mereka bawa di atas meja kaca itu.


Setelah menaruh makanan, Raina langsung menghampiri kedua sahabat nya. "Hei, teman-teman..." sapa Raina dengan senyum yang di paksakan merekah di bibir ranum nya. Tapi tetap saja, air mata itu turun. Membasahi kedua pipi yang putih mulus bak porselen itu.


Mereka tersenyum ke arah Raina, yang sudah berganti pakaian dengan gamis abaya berwarna milo di padu dengan hijab pashmina hitam. Sangat cantik! Meskipun wajah sedih lebih dominan dari raut mukanya.

__ADS_1


"Makan yuk? Kalian lagi hamil muda loh, tak baik. Lagian kalian belum ngisi makan apapun ke dalam perut, uhh kasian sekali keponakanku harus kelaparan!" kata Raina memelas. Karena ia tahu, Kaira dan Zahra tidak akan mau makan.


Melihat raut muka sahabatnya yang seperti itu, bukannya kasihan! Malah mereka tersenyum. Membuat kedua sudut bibir kedua temannya terangakat, yah walaupun sudut bibir Kaira tak terlihat. Namun, mereka masih bisa merasakan itu.


"Yaudah yuk Kai, kita makan dulu. Kasian sama usaha pengantin baru ini, sudah capek-capek demi calon keponakannya agar tidak kelaparan." ajak Zahra, kasian juga calon buah hati mereka.


Rasa-rasanya Kaira berat ingin beranjak dari kursi yang ia duduki, "Tenang saja, teman kita tuh orang yang kuat. Pasti sebentar lagi dia siuman, Alina kan tidak kuat lama-lama tidur seperti ini. Pasti dia tidak kuat menahan rasa kangennya sama kita!" kata Raina lagi meyakinkan.


Kaira Mencob melihat ke arah Alina lagi, dan dia rasa apa yang dikatakan teman-temannya ada benarnya juga. Kaira pun menghapus air Matanya, "ayo kita makan!" ajak Kaira lalu berdiri dari tempat duduk nya. Mereka menghampiri para lelaki yang langsung berhenti berbicara, ketika merka datang. Dan itu mampu membuat pertanyaan besar dalam benak masing-masing. Tapi, mereka tak bertanya lebih lanjut. Bukannya abai, tapi situasi dan kondisinya tidak memungkinkan.


Meraka pun pura-pura acuh dengan perkataan yang sekilas tadi didengar. Wajah-wajah para kaum adam itu sedikit tegang dan gugup. Seperti orang yang ketahuan mencuri, benar apa yang di katakan Leon barusan, benar-benar membuat senam jantung karena takut. Pikirnya.


"Uhuk...uhuk..." Juno pura-pura terbatuk, untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka. Mereka pun langsung mengubah raut muka yang tegang, mereka tersenyum sampai mempertahankan deretan gigi yang putih berbaris rapi di tempatnya.


"Sayang, sini." ujar Leinard sembari menepuk-nepuk sofa kosong di sebelahnya. Entah kapan Leon pindah dari sampingnya, ia pun tak peduli.


Kaira mengangguk tanda setuju, ia langsung duduk di samping suaminya, begitu pun juga dengan para sahabat nya. Langsung mengambil tempat di sofa yang kosong.


Leinard langsung mengambil makanan untuk sang istri, ia ingin menyuapi istrinya tercinta. Namun, Kaira tak mau. Karena di sana bukan hanya mereka saja, tapi ada juga sahabat nya. Leinard pun tak memaksa, ia membiarkan Kaira makan sesuai dengan keinginannya.


Mereka pun membaca do'a sebelum makan, setelah itu, mereka makan dengan khidmat tanpa bersuara.


Ceklek...


Tanpa mengetuk puntu terlebih dahulu, Zeo langsung membuka pintu. Ia langsung masuk, teman-teman yang semula fokus dengan makanan langsung melihat ke arahnya dengan pelototan mata dari Leinard. Yang di pelototin pun hanya nyengir saja, "Assalamualaikum..." salam nya tersenyum. Lalu, Zeo mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang ia cintai. Yah, dia sudah yakin dengan pilihan dan tambatan hatinya.

__ADS_1


Kedua bola mata Zeo membulat dan fokus ke arah Alina. Dimana sang gadisnya, mengerjap-ngerjapkan kedua bola mata indah nya. Tanpa mendengar jawaban salam dari teman-temannya, ia langsung menghampiri Alina.


*****.....*****


__ADS_2