Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB98: Godaan Abraham


__ADS_3

Elena membulatkan matanya, menatap Bryan yang memalingkan wajahnya karena ulah tangannya.


"Sialan! kau sudah mulai berani ya sekarang, hm?" Bryan memegangi pipi nya yang nampak memerah, akibat tamparan dari Elena. Berani sekali dia menamparnya. Padahal tidak ada seorang pun yang berani melakukan itu padanya, tapi sekarang? hanya gadis ini lah yang melakukan itu padanya.


Menelan salivanya kasar. "Maaf Dok sa-saya gak sengaja," balas Elena menggigit bibir bawahnya, gugup. Hey! ia benar-benar tidak berniat menampar pria di hadapannya ini tapi tangannya refleks begitu saja ketika Bryan mengatakan hal itu. Jadi siapa yang salah disini?


"Maaf Dok. Sakit ya?" Tanpa permisi, Elena segera menyentuh pipi Bryan yang terkena tamparan nya. Mengelus nya lembut. Jujur ia jadi merasa bersalah.


Deg!


Bryan terdiam. Merasakan elusan hangat dari tangan Elena. Tubuhnya seketika menegang. Jantungnya mendadak berpacu dengan cepat. Sungguh, Bryan benci sekali jika sudah berada di posisi ini. Kenapa? dirinya hanya tidak kuasa menahan gejolak di tubuhnya. Entah kenapa gairah Bryan selalu memuncak jika gadis itu menyentuhnya. Huh! apa karena obat perangsang itu?!


Tanpa sadar Bryan mengangguk kan kepalanya pelan, menatap manik mata Elena yang juga menatapnya. Terlihat ada rasa ke khawatiran disana.


Melihat anggukan itu, Elena pun berinisiatif meniup pipi merah Bryan pelan, sembari mengelusnya. Kali saja kemerahan itu hilang setelah ia tiup. Kali saja.


Tubuh Bryan kembali meremang ketika Elena melakukan hal itu. Gelayar aneh seketika terasa di dalam tubuh nya.


"Dok?"


"Hm?" balas Bryan, masih menatap sendu wajah Elena.


"Dokter!"


Bryan membuyarkan lamunannya, ketika mendengar suara sentakan dari Elena. Ia lantas melihat Elena yang sudah terduduk di kursi nya lagi, dengan tatapan datar. Bryan mencoba untuk menghilangkan rasa aneh di dalam jantungnya.


"Ck! Apa?!"


Mendengar nada tak kalah keras dari suaranya tadi membuat Elena melotot. Kenapa pria ini malah jadi seperti ngajak dirinya berantem?


"Itu udah lampu hijau," ujar Elena. Membenarkan posisi duduknya kembali sembari Menunjuk lampu lalu lintas di hadapannya.


Bryan lantas segera mengalihkan tatapannya. Menatap lampu merah yang ada di hadapannya. Dan benar saja, sekarang lampu itu sudah berubah menjadi warna hijau. Yang artinya kendaraan sudah boleh melanjutkan perjalanannya.


Tin..Tin..


Tak lama suara klakson terdengar dari arah belakang mobil Bryan. Membuat Elena segera mengalihkan tatapannya menatap arah belakang.


"Jalan Dok," lanjut Elena. Memberitahu.


Melihat Bryan yang diam saja daritadi membuat Elena menatap Bryan. "Dokter! Jalan! itu kasian yang belakang."

__ADS_1


Bryan sekilas menatap Elena lalu kembali pada setirnya. Ia jadi binggung sendiri akan melakukan apa sekarang! dengan sisa-sisa kesadarannya Bryan segera menyalakan mobilnya, dan mulai menjalankan mobil nya lagi.


Elena yang melihat perubahan di wajah Bryan hanya termenung. Pria ini sebenarnya kenapa sih? ia jadi pusing sendiri.


Tak ingin memikirkan hal lainnya, Elena kembali menunduk. Menatap makanannya yang belum habis dan melanjutkan makanan nya lagi.


Lain dengan Bryan. Pria itu nampak mulai sibuk menyetir dan melihat jalanan di hadapannya. Tapi sesekali matanya terlihat menatap Elena di sampingnya.


Mengelus wajahnya kasar. Bryan mengerang pelan. Entah kenapa pikirannya jadi melayang. Kenapa dirinya jadi salting seperti ini?!


...---...


Beberapa menit kemudian, akhirnya mobil Bryan terlihat mulai masuk ke dalam sebuah perkarangan rumah yang cukup besar.


Setelah memarkirkan mobilnya, Bryan pun segera mematikan mesin mobil itu. Tanpa berkata apapun lagi, ia mulai keluar dari dalam mobilnya diikuti Elena.


Menutup pintu mobil. Elena melihat Bryan yang mulai berjalan terlebih dahulu di depannya, melangkah menuju pintu rumah di hadapannya. Meninggalkan nya yang masih berada di samping mobil.


Sebenarnya pria itu kenapa sih?!


Elena hanya binggung. Sedari tadi Bryan hanya diam saja di dalam mobil. Elena heran dengan perubahan sikap pria itu. Apa jangan-jangan Bryan masih marah akibat tamparannya tadi?


Tidak ingin memikirkan apapun lagi, Elena segera berjalan. Menyusul Bryan yang sudah berjalan jauh di depannya.


Keduanya kini berjalan beriringan. Masuk ke dalam rumah. Keadaan disini dipantau cukup senyap. Entah kemana semua orang.


"Kau ke kamar saja duluan. Aku ada urusan sebentar," Bryan menatap Elena. Menyuruh perempuan itu untuk ke kamar terlebih dahulu.


Mendengar itu Elena pun mengangguk.


Setelahnya Bryan terlihat berjalan menjauh dari tempat Elena. Elena yang melihatnya hanya menaikkan bahunya. Entah mau kemana pria itu, Elena tidak tau dan tidak mau tau.


Meregangkan tangannya sebentar. Elena melanjutkan langkahnya, menaiki tangga, menuju lantai dua, untuk pergi ke kamarnya. Badannya masih terasa cukup pegal. Ia akan istirahat di kamar nya nanti setelah tiba disana.


...----...


Bryan berjalan dengan wajah datarnya. Melangkah menuju ruangan khusus yang ada di pojok rumah ini.


Sampai ditujuan nya, Bryan segera masuk ke dalam ruangan itu. Tanpa mengetuk.


"Ckckck kau tidak di ajarkan sopan santun apa? masuk sembarangan ke ruangan orang! tidak tau malu!"

__ADS_1


Menatap malas pria yang berbicara tadi, Bryan segera melanjutkan langkahnya. Duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan ini.


"Jadi usul Papah apa?" Bryan mengeluarkan suaranya. To the point. Menatap sosok pria yang sekarang duduk tepat di hadapannya.


Ya, ruangan ini adalah ruangan milik Abraham. Bisa di bilang juga ruang kerjanya. Bryan sebenarnya masih malas bertemu sang Papah, tapi urusan ini membuatnya harus menemui orang tuanya ini.


"Santai sedikit anak muda. Kau tidak mau bercerita tentang kejadian tadi, hm?" Abraham menyilangkan kakinya, sembari menaikkan kedua alisnya. Menggoda Bryan.


"Tidak usah mengalihkan topik." Benar bukan? Bryan sudah menebak pasti sang Papah akan menggodanya seperti ini. Membuatnya malu saja!


Tertawa renyah. Abraham melihat wajah Bryan yang berubah. Haha, dirinya sudah tau mengapa pria ini tidak mau menjawab pertanyaan tadi. You know lah.


"Apa usul Papah? aku tidak ingin wanita ku sampai tau soal masalah ini." lanjut Bryan. Ia hanya memikirkan perasaan Elena nanti. Jika tau soal ini.


"Sudah jadi wanita mu ya.." lagi-lagi Abraham menggoda Bryan. Membuat Pria itu mengumpat seketika.


"Ck! Bryan serius!"


Tertawa kembali. Entah kenapa Abraham senang menggoda anak pertamanya ini.


"Kau tenang saja. Papah akan urus semuanya." Abraham nampak mengeluarkan sebuah kertas dari dalam sakunya dan menaruhnya ke meja hadapan Bryan.


Menaikkan sebelah alisnya. "Untuk apa itu?" tanya Bryan, ketika melihat sebuah tiket yang di berikan Abraham.


"Untuk wanita mu." Abraham menyeringai. "Anggap saja sebagai hadiah dari ku untuk pernikahan kalian."


Dahi Bryan mengerut. Pernikahannya sudah beberapa bulan yang lalu, kenapa Papah nya malah memberikannya sekarang?


"Dia akhir-akhir ini terlihat murung. Mungkin sedikit jalan-jalan akan membuat menantuku senang."


Bryan menatap tiket itu lalu terdiam. Benar juga kata Papah nya ini. Mungkin sedikit jalan-jalan akan membuat hati Elena senang. Kenapa dirinya tidak kepikiran untuk melakukan itu?


"Kau itu tidak peka. Peka lah sedikit jadi laki-laki! Wanita mu itu butuh refreshing. Ajak dia pergi kemana yang dia mau." balas Abraham, seakan tau apa yang ada di pikiran anaknya.


"Hm." Bryan menatap malas Abraham. Sebenarnya Papahnya ini sedang memberinya saran atau malah meledek nya?


"Aku akan mengurus semuanya selagi kalian pergi." Abraham menaikkan kedua alis nya.


Bryan tersenyum singkat. Ingat ya, hanya singkat. "Terimakasih."


Abraham mengangguk. "Ya ya ya, hitung-hitung kalian bulan madu juga bukan?" ia lantas menyeringai penuh maksud. "Hah! aku jadi tidak sabar melihat cucu ku, kira-kira cucu pertamaku laki-laki apa perempuan ya?"

__ADS_1


__ADS_2