Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB32: Sarapan pagi


__ADS_3

HAPPY READING GUYS😽


Setelah mandi dan memakai baju handuk Elena pun segera berjalan melangkah keluar dari kamar mandi.


Ia menatap sekitaran kamar didepannya. Bryan nampak sibuk dengan duduk di sofa sembari memainkan ponsel ditangannya.


Mengingat insiden tadi membuat Elena harus lebih waspada. Ia harus menjaga dirinya baik-baik dari sekarang.


Sampai didepan lemari, Elena langsung membuka lemari tersebut untuk mengambil pakaian miliknya yang akan dikenakan-nya hari ini.


"Eh?" Elena melihat jika baju-bajunya tidak ada disana. Lantas ia menatap arah sekitaran untuk melihat apakah ada lemari lagi disini atau tas miliknya namun setelah melihat-lihat sayangnya hasilnya nihil, disini tidak ada lemari ataupun tas miliknya.


"Baju saya dimana Dok?" tanya Elena menatap Bryan yang masih asik duduk disofa.


"Sudah ku buang."


Mata Elena seketika melotot. "Apa?!"


"Ck! bajumu itu sudah ku buang semuanya." ucap santai Bryan tanpa mengalihkan pandangannya pada ponsel didepannya.


"Di-dibuang?"


"Iya, baju-baju mu itu jelek, jadi aku membuangnya."


Elena segera berjalan mendekati Bryan. Ia lalu duduk disamping pria tersebut dengan raut wajah penuh kesal. Baju-bajunya itu hasil kerja kerasnya sendiri, tapi Bryan malah dengan gampang membuangnya. Dirinya tau jika baju itu tidak sebagus wanita-wanita diluar sana namun tidak bisakah Bryan menghargai barang miliknya?


"Kalo baju saya dibuang saya pakai baju apa Dok?" Elena tak habis pikir dengan ulah suami yang tak diinginkannya ini.


Bryan melirik sekilas Elena lalu kembali menatap ponsel didepannya. "Bukan urusanku."


Apa katanya? bukan urusannya? padahal jelas-jelas Bryan yang telah membuang pakaiannya jadi ini semua karna ulah pria ini bukan?!


"Tapi-kan Dokter yang buang baju-baju saya. Ini juga berarti ada urusannya sama Dokter." ucap Elena mencoba agar pria itu berpikir bagaimana dirinya bisa memakai pakaian. Dirinya sekarang masih memakai baju handuk dari dalam kamar mandi.


"Aku tidak peduli." singkat Bryan.


Lagi-lagi jawaban yang dilontarkan Bryan membuat Elena jengkel. Entah harus marah atau kesal pada pria disampingnya ini. Dirinya ingin sekali melawan namun ia cukup sadar diri karna pasti Elena akan tetap kalah dengan kekuatan milik Bryan.


Tok!tok!tok!


Elena menatap arah asal suara itu. Disana terdengar suara ketukan dari arah pintu depan ruangan ini.


"Masuk." sahut Bryan dengan pandangan yang masih asik menatap layar ponsel.


Beberapa maid tiba-tiba saja masuk dan berjalan mendekat kearah Elena dan Bryan berada.


Elena yang melihat itu hanya terdiam dengan menatap para maid tersebut yang membawa sebuah tas kertas yang entah apa isi didalamnya.


"Ini Tuan. Pesanan yang Tuan mau." ucap sopan salah satu maid.


"Hm. Taruh saja dimeja." dingin Bryan tanpa menatap arah lawan bicaranya.

__ADS_1


Maid itu lantas mengangguk. "Baik." mereka pun menaruh tas yang dipegangnya diatas meja yang berhadapan dengan Tuannya ini. "Kalo begitu saya permisi. Tuan, Nona." setelahnya berpamitan para Maid tersebut mulai berjalan keluar dari kamar ini.


Elena tersenyum ketika para Maid itu berpamitan. Ia tidak menyangka orang-orang disini ternyata baik-baik padanya.


"Buka tas itu."


Mendengar Bryan yang berbicara kembali membuat Elena mengalihkan tatapannya dan menatap pria disampingnya itu.


"Tas yang mana?" tanya Elena. Para Maid tadi meletakan banyak tas dimeja didepannya. Jadi 'tas' yang dimaksud Bryan itu yang mana?


"Yang mana saja."


Elena lantas segera menatap tas-tas yang berbeda dihadapannya. Bryan sedari tadi fokus pada ponsel yang dipengangnya, mungkin pria itu sedang sibuk jadi Elena mencoba untuk tidak lagi menganggunya.


Elena segera memilih tas yang akan ia buka. Setelah menemukannya Elena pun membawa tas tersebut kedalam pangkuannya dan melihat isi didalam tas tersebut.


Mulut Elena seketika membulat, tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"I-ini baju buat siapa Dok?" Elena mengangkat dan mengeluarkan sebuah baju yang berasa dari tas dipangkuannya.


Bryan yang sedari fokus pada benda pipihnya pun segera mematikan ponsel tersebut dan meletakannya diatas meja yang kosong didepannya.


"Untuk-mu." ucap Bryan menatap Elena.


Senyuman diwajah Elena seketika terbit. "Ini beneran buat saya?" tanya sekali lagi Elena untuk memastikan.


"Hm."


Tapi tak lama wajah senang Elena berubah menjadi tatapan sendu. "Tapi saya gak bisa nerima ini Dok."


Elena segera menurunkan baju yang ia genggam tadi lalu memasukannya kedalam tas yang tadi lagi. "Saya gak enak sama Dokter, utang saya udah banyak masa Dokter beliin baju baru buat saya."


"Anggap saja itu kado ulang tahun dariku, aku tau lusa kemarin adalah hari kelahiran-mu."


Elena tersentak kaget ketika mendengar ucapan itu. Bagaimana pria ini bisa tau jika lusa kemarin adalah hari kelahirannya? "Dokter tau darimana kalo tanggal 15 mei kemarin ulang tahun saya?"


Ya, Elena lahir Tepat ditanggal 15 Mei dihari kamis tepat jam 12 malam, itu yang diceritakan mendiang Ibunya saat beliau masih hidup.


"Aku tau darimana saja itu bukan urusanmu." Bryan menatap Elena dengan pandangan serius. "Yang jelas, aku tau semua tentangmu dan keluargamu itu."


Tak disangka Elena malah tersenyum kembali. Ia tidak pernah mendapatkan kado seperti ini, dirinya jadi terharu dengan semua pemberian Bryan.


"Makasih banyak ya Dok untuk semua ini." Elena menatap Bryan dengan pandangan bahagia dan berbinar.


Mendapat tatapan itu membuat Bryan malah dibuat gugup. Bryan segera mengalihkan tatapannya dari Elena dan memilih menatap kearah yang lain. "Yasudah kau pakai sana. Hari ini aku akan kerumah sakit, kau ingin ikut atau tetap berada dirumah?" tanya Bryan tanpa menatap Elena disampingnya.


"Saya ikut Dok."


Elena segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kearah kamar mandi untuk memakai pakaian. Ia sudah berencana akan kerumah sakit sekarang, mumpung Pak Dokter ini menawarkan tumpangan Elena-pun memilih berangkat bersama dengan Bryan.


___

__ADS_1


Setelah dirasa sudah rapih dan siap, Elena dan Bryan pun segera keluar dari kamar mereka dan berjalan menuju arah tangga. Keduanya menuruni tangga tersebut lalu melangkah mendekati meja makan yang letaknya tak jauh dari tangga tadi.


Sampai di ruang makan, Elena tersenyum menatap kedua adik iparnya yang sudah terduduk dan menyantap makanan didepan mereka.


"Selamat pagi Kakak Ipar." sapa hangat Aiden dengan tersenyum manis menunjukan kedua lesung pipinya.


Elena hanya membalas ucapan itu dengan mengangguk singkat dan senyuman.


Chaca yang sedang makan sembari memegang ponsel ditangannya hanya menatap acuh kehadiran Elena didepannya. Gadis itu nampak cuek dengan keadaan sekitar dan memilih fokus kepada benda yang dipegangnya.


"Eh Pagi juga Kak Bryan." lanjut Aiden. Ia lupa jika ada kakak kandungnya disini.


"Hm," Bryan menarik kursi didepan Aiden lalu duduk disana.


Elena yang Melihat itu ikut menarik kursi didepannya lalu duduk disana. Posisi mereka berempat sekarang adalah saling berhadapan dengan Elena yang duduk disamping Bryan sedangkan Chaca berada disamping Aiden.


Elena menatap makanan yang sudah disediakan didepannya. Ia tidak mengenal makanan-makanan didepannya itu. Entah bagaimana rasanya Elena tidak tau.


Beberapa menit mereka duduk tiba-tiba saja dari arah belakang ruang makan terlihat sesosok pria dewasa dengan wanita cantik disampingnya. Mereka berdua nampak berjalan mendekati meja makan diruangan ini.


Elena menatap kedatangan kedua mertuanya itu. Senyuman dibibirnya tidak pernah luntur dari wajahnya, Elena harus tetap sopan disini.


"Wah pagi-pagi udah pada ngumpul aja nih," Meldi tersenyum dengan menarik kursi untuk suaminya dan juga untuk dirinya.


Abraham segera duduk dikursi awal. Ia lantas menatap Bryan dengan tersenyum miring, yang ditatap-pun hanya acuh dengan pandangan itu.


Pandangan Abraham berganti menatap Elena yang duduk disamping anak pertamanya. Ia menatap gadis itu dengan pandangan dari atas sampai bawah.


"Elena?"


Panggilan itu membuat tatapan Elena teralihkan dari makanan didepannya. Ia menatap asal suara tersebut yang mengarah pada Abraham.


"Iya?" Elena menatap mertuanya itu dengan pandangan penuh tanya.


"Kau semalam tidur berdua dengan anak itu?" Abraham menatap Bryan mengode jika yang dimaksud 'anak itu' adalah Bryan.


Yang lainnya hanya diam. Mereka hanya fokus melihat dan mendengar interaksi disini.


Elena melirik sekilas Bryan. Ia sendiri pun binggung semalam tidur dimana. Mendapat tatapan kode dari Bryan membuatnya langsung mengangguk saja sembari kembali menatap Abraham. "Iya."


"Kenapa Papah tidak melihat bekas apa-apa di tubuhmu."


Byur!!


Chaca yang sedang meminum-minumannya langsung tersedak dan menyemburkan air yang berada dimulutnya kedepan. Ia kaget mendengar ucapan yang dilontarkan sang Ayah.


"Jorok lo!" Aiden menatap Chaca sembari menggelengkan kepalanya dengan mengambil tisu dan mengelap tangan yang terkena semburan dari Adiknya itu.


Chaca pun ikut mengambil tisu di depannya lalu mengelap bibirnya. "Maap kali! gue kan kaget."


"Pah! jangan ngomong gitu didepan anak-anak." Meldi menatap tajam sang suami lalu menatap Elena yang duduk tak jauh darinya. "Maaf ya Na."

__ADS_1


Elena mengangguk singkat dengan tersenyum bingung. Maaf untuk apa? lagian juga Elena tidak paham bekas apa yang dimaksud. Elena segera menatap tubuhnya dari atas sampai bawah. Tidak ada yang aneh, menurutnya. Lalu maksud Tuan besar Atmaja itu apa?


Tbc


__ADS_2