
Aku kembali lagi! gimana? ada yang kangen sama ceritanya? maaf baru up lagi.🙆🖤
Sebentar lagi yukk, happy reading!!
Elena berlarian. Masuk menuju ke dalam rumah. Meninggalkan semua yang ada di taman. Sedih? pasti, kecewa, iya. Ternyata selama ini ada fakta di balik kehidupan dirinya. Kenapa Bapaknya menutupi semuanya darinya? setelah sekian lama? kenapa Elena baru diberitahu sekarang?
Berlarian menyusuri tangga, Elena naik ke lantai atas. Saat sampai pada tujuannya, Elena membuka pintu itu dan masuk kedalamnya. Tak lupa juga ia menutup pintu itu rapat-rapat agar tidak ada yang masuk. Sunguh, ia ingin menyendiri sekarang. Mengeluarkan segala kesedihannya.
Ya, Elena sekarang ada di kamarnya. Gadis itu mendekat ke arah ranjang, dan duduk di tepiannya.
Air matanya tak kunjung usai. Wajahnya nampak sudah tidak karuan, mungkin wajahnya sudah seperti zombie akibat make-up yang ia pakai luntur oleh air matanya. Namun Elena tidak peduli.
Membuka laci di samping ranjang, Elena mengambil sesuatu disana. Dua amplop berwarna berbeda. Elena mengambil kedua amplop itu, dan membawanya ke dalam tangannya.
Menatap amplop tersebut dengan mata yang sembab. Elena mencoba untuk tetap tegar. "Jadi itu yang di maksud sama surat yang Bapak kasih ini buat Elena? kenapa Bapak nyembunyiin semua ini dari Elena. Hiks, kenapa Bapak gak jujur sama Elena? maafin Elena Pak, Bu. Karena Elena keluarga kalian hancur."
...---...
Aiden tersenyum. Menatap kepergian Putri yang di seret oleh kedua polisi yang sebelumnya sudah ia hubungi saat sebelum acara di mulai. Ya, dirinya yang memanggil polisi itu. Semua bukti yang dirinya dan Chaca dapatkan, ia berikan kepada polisi tersebut dan akhirnya ini lah yang terjadi. Semuanya terbongkar. Membuat Aiden senang, karena rencananya berhasil.
Dengan bangga Aiden berjalan mendekati Kakaknya yang nampak mematung di tempatnya. Ia melangkah lalu berdiri tepat di samping Bryan.
"Kak?" ucapnya dengan nada terselubung maksud.
Dengan tatapan datarnya Bryan menatap Aiden. "Hm?" balasnya.
"Aiden udah buktiin kan kalo gue bisa selesain permainan ini?" lanjut Aiden, ambigu.
"Iya."
Aiden menatap Bryan kesal. "Iya doang gitu?"
"Makasih."
Menghembuskan nafasnya pelan. Dari nada bicaranya saja Aiden tau pasti Bryan sedang tidak mood. Maklum, pasti karena kakak iparnya yang begitu saja pergi dari sini, membuat kakaknya ini khawatir. Mungkin.
"Jangan makasih doang, perjanjiannya gimana?" kesal Aiden.
Melihat wajah tak enak dari adiknya membuat Bryan sedikit terkekeh. Ingat ya hanya sedikit.
"Iya," meraih saku celananya, Bryan mengeluarkan sesuatu dari sana. Ia lantas melemparkan benda tersebut pada Aiden dan di sambut dengan tangkapan dari tangan adiknya itu. "Thanks karena telah membantu." lanjut Bryan, menepuk pundak Aiden pelan.
Aiden mengangguk gembira. "Udah tugas Aiden jaga sama bantu Kakak dan kakak ipar."
"Cih, tugas mana yang minta perjanjian imbalan." ledek Bryan yang langsung membuat Aiden terkekeh. "Yasudah, permintaanmu sudah ada di depan. Kau liat saja sana," setelah mengatakan itu, Bryan melangkah pergi menjauhi Aiden yang nampak membulatkan matanya.
Tak lama dari arah kejauhan datang seorang gadis cantik. Gadis itu mendekati Aiden yang masih diam di tempatnya.
Melihat wajah senang dari sang Kakak, membuat Chaca menaikkan salah satu alisnya. Heran. "Seneng gitu mukannya. Dapet gebetan baru disini ya?!"
Mendengar suara dari arah sampingnya membuat lamunannya buyar. Aiden lantas mengalihkan tatapannya pada Chaca. "Lebih dari seorang gebetan!" matanya nampak bahagia.
__ADS_1
Bingung. Chaca kembali bertanya. "Lebih? berarti dapet calon istri?"
"Bukan!" kesal Aiden, namun tak berlangsung lama. "Eh Lo pernah nanya kenapa gue mau banget selesain kasus ini kan?"
Chaca dengan sigap mengangguk.
"Kalo mau tau ikut gue ke depan."
"Mau ngapain?" dahi Chaca mengkerut. Tak paham.
"Udah ikut aja, entar Lo tau alesannya. Ayok." ajak Aiden dengan berjalan terlebih dahulu. Chaca yang melihat itu langsung terburu-buru mengikuti langkah dari sang Kakak. Untuk melihat apa yang di maksud dengan pria itu.
...---...
Bryan berjalan menyusuri rumahnya. Entah bagaimana keadaan di taman sekarang jadinya, yang jadi pikirannya sekarang hanya satu. Yaitu Elena. Walau dia ingin menyendiri, tetap saja Bryan khawatir padanya.
Bagaimana tidak coba? Bryan takut jika perempuan itu tiba-tiba menggantung diri di kamar karena tidak menyangka dengan fakta semua ini. Bukan berpikir negatif. Tapi siapa tau saja bukan?
Berjalan menuju sebuah pintu coklat. Bryan melangkah mendekati pintu itu lalu membukanya. Untung saja ternyata pintunya tidak terkunci.
Melangkah masuk ke dalam. Cahaya di kamar ini nampak redup. Hanya ada cahaya yang berasal dari balkon ruangan ini. Ya sekarang Bryan sudah ada di kamarnya dan juga Elena. Walau gelap, Bryan masih bisa melihat keadaan disini. Sama seperti sekarang, dirinya dapat melihat punggung seorang perempuan yang ada di tepi ranjang, menghadap ke arah balkon.
Dengan perlahan ia mendekati ranjang. Lebih tepatnya mendekati gadis itu.
Setelah sampai, Bryan langsung mendudukan tubuhnya di samping gadis yang nampak sedang menunduk dengan memegangi dua amplop di tangannya.
Merasakan ada sesuatu di sampingnya, reflek gadis itu langsung mendongakkan wajahnya, menatap sesuatu itu yang tak lain Bryan.
"Dokter ngapain disini? saya kan udah bilang mau menyendiri dulu. Dokter gak bisa apa biarin saya sendiri dulu?" Elena menatap Bryan, di tengah cahaya yang remang-remang di ruangan ini.
Elena memajukan bibirnya kesal. Menghapus jejak air matanya di pipi. Ia hanya ingin sendiri. "Kalo Dokter gak ada keperluan apapun lagi, Dokter silahkan keluar dari sini."
Membulatkan matanya tak percaya. Bryan menatap Elena. "Kau mengusirku? ini kamarku! enak saja mengusirku."
Elena terdiam. Iya sih ini kamarnya, tapi kan dirinya ingin- ah. Sudahlah.
"Yaudah kalo Dokter gak mau pergi, biar saya aja yang pergi." berniat bangkit dari duduknya, tiba-tiba Elena merasakan ada sesuatu yang menahan nya. Ya, siapa lagi jika bukan tangan Bryan?
"Ck! mau kemana heh? sudah duduk saja disini."
Elena kembali duduk di kursinya. Posisi keduanya saling berhadapan satu sama lain. Di tepi ranjang.
"Saya mau keluar Dok. Saya mau menyendiri dulu." Sekuat tenaga Elena menahan air matanya untuk keluar lagi. Ia tak mau menangis di depan Bryan.
Melihat tatapan sayu membuat Bryan kasihan pada Elena. Dengan perlahan ia mulai memeluk tubuh gadis di hadapannya ini.
Tubuh Elena menegang. Walau bukan sesekali Bryan memeluknya, tetap saja jantungnya kembali berpacu dengan cepat!
"Aku tau sulit untuk mu menerima ini semua. Tapi menurutku menyendiri tidak akan membuat perasaanmu lega. Ada aku disini, lebih baik kau keluarkan semua yang ada di dalam tubuhmu, padaku. Okay?"
Tubuh Elena seketika meluluh. Tanpa berbicara apapun lagi dirinya langsung mengeluarkan air matanya dalam pelukan Bryan. Membalas pelukan dari pria itu.
__ADS_1
...---...
Matanya membulat, mulutnya menganga lebar. Chaca tak percaya dengan pemandangan yang ada di hadapannya.
"Kak Aiden?" Chaca menatap Aiden dengan pandangan yang masih tak percaya.
Aiden tersenyum senang menatap sebuah mobil mewah di depannya.
"AAAA! KAKAK DIBELIIN MOBIL SAMA KAK BRYAN?!" Chaca menatap mobil mewah di depannya. Mungkin ia tidak tau berapa harga mobil ini namun di lihat-lihat pasti harganya fantastis!
Aiden mengangguk singkat. "Keren kan!"
"Keren banget." Chaca menatap senang mobil itu.
"Yaiyalah, gue gitu. Gue sama Kak Bryan bikin perjanjian, kalo gue bisa nyelesain kasus ini, gue bisa dapet mobil keinginan gue," merentangkan kedua tangannya menghadap mobil yang menjadi miliknya. Aiden benar-benar bahagia.
Chaca mengalihkan tatapannya pada Aiden. Wajahnya mendadak kusut. "Ih, kan Chaca yang nyelesain kasus ini! kok yang dapet hadiah malah Kak Aiden. Seharusnya ini mobil buat Chaca dong? kan Chaca yang beresin kasusnya!" kesalnya. Seharunya hadiah itu di berikan padanya bukan?
Aiden menatap Chaca. "Siapa yang punya ide kasus ini coba?"
Terdiam. Ya, Chaca tau jika ide rencana kemarin itu adalah rencana Aiden. Tapi-kan dirinya yang menjalankan nya?
Wajah Chaca kusut. Membuat Aiden tertawa. Melihat kesedihan adiknya ini sedikit menjadi kesenangan baginya.
"Heh, lagian juga gue minta nih mobil karena Lo! Lo tau mobil yang kecelakaan itu mobil siapa?!"
Chaca mengangguk. "Mobil Papah kan."
Pletak!
"Ish! sakit Kak!" Chaca memegangi jidatnya. Sedikit meringis akibat sentilan tangan Aiden.
"Itu mobil gue!" Aiden menatap Chaca tak senang. Ya, itu adalah mobil Papahnya yang sudah lama diberikan padanya. Tapi karena Aiden jarang menggunakan mobil itu, alhasil mobil itu ia berikan pada supir untuk di pergunakan siapa saja. Tapi saat mendengar Kakak Iparnya kecelakaan dan Aiden mengecek tempat kecelakaan itu, ia terkejut karena plat mobil itu adalah plat mobil dirinya. Entah dia harus kesal atau sedih saat itu. Karena mobil kepunyaan dirinya hancur dan tidak bisa lagi di gunakan. Tapi akhirnya ia mendatangi Bryan, berbincang tentang masalah mobil itu dan alhasil Bryan memberikan perjanjian, jika dirinya bisa menyelesaikan kasus ini, Bryan akan ganti rugi dan membelikan mobil baru untuknya. Dan seperti sekarang! Mobil yang ia inginkan sudah dipenuhi Bryan, walau berbeda merek dengan mobil yang kecelakaan itu, Bryan tetap mau membelikan untuknya. Padahal harganya jauh berbeda dengan mobil miliknya dulu.
Chaca mengerucutkan bibirnya. "Kan Chaca gak tau. Lagian juga Chaca yang beresin semua ini. Chaca juga harus dapet hadiah dong! eh-" Chaca terdiam, saat sesuatu melintas di pikirannya. "Kak Aiden bilang, Chaca boleh sebutin satu barang yang mau Chaca beli kan?!"
Aiden mengangguk dengan malas. Adiknya ini ingat saja tentang itu, padahal dirinya sudah lupa. Bukan, lebih tepatnya melupakan ucapan spontan itu.
"Chacha udah tau, Chaca mau apa!" ucap gembira Chaca.
"Yaudah sebutin." balas Aiden.
"Ma-"
Sebelum Chaca melanjutkan ucapannya, tiba-tiba Aiden memotong.
"Ets! tapi gak boleh lebih dari lima puluh ribu."
Mata Chaca kembali membulat. Apa kata Kakaknya ini? tidak boleh dari lima puluh ribu?
__ADS_1
"Lima puluh ribu? Tas kw juga mana ada yang harganya di bawah segitu!"
Jangan lupa bantu like, vote dan komennya yaa^^