
HAPPY READING GUYS❤
Jangan lupa like, vote dan komennya ya! Itu sangat berarti untuk authornya.
↔↔↔
Bryan berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan tangan yang masih menggenggam erat lengan Elena.
Elena hanya diam dengan mengikuti setiap langkah pria dihadapannya. Sebenarnya Dokter ini ingin mengajaknya kemana? ia jadi merasa tidak enak pada Kakaknya-Putri karna meninggalkannya ditempat tadi sendirian.
Tiba-tiba Bryan pun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Elena. Ia menatap gadis yang sekarang berada dihadapannya dengan pandangan sulit diartikan.
Merasa ditatapi seperti itu membuat Elena langsung menunduk. Tatapan Bryan membuatnya sedikit grogi.
"Aku itu berada dihadapanmu bukan dibawahmu. Naikkan kepalamu." dingin Bryan.
Mendengar tuturan itu membuat Elena mendongakkan wajahnya menatap pria itu namun ia segera mengalihkan pandangannya agar tidak menatap Bryan. Entah kenapa ketika menatap Dokter itu membuat jantungnya bergetar hebat, mungkin ia masih sedikit takut dengan pria itu.
"Wanita tadi siapa?" tanya Bryan. Sebenarnya ia tau karna pernah melihat wajah wanita itu disebuah bingkai yang berada dirumah Elena.
Tatapan Elena pun segera menatap wajah pria dihadapannya. "Kakak-ku. Seharusnya dokter tidak membawaku kesini, kan kasian Kak Putri jadi sendirian disana."
"Ck! seharusnya kau berterima kasih karna aku telah menyelamatkanmu dari perbuatan wanita itu tadi." Bryan kesal mengapa Elena malah merasa kasian pada Kakaknya, padahal jelas-jelas tadi Bryan melihat sendiri jika tangan milik Elena digenggam kasar oleh wanita itu.
"Menyelamatkan a-apa?" gugup Elena. "Memangnya Kakak-ku berbuat apa tadi? lagian tidak ada yang perlu Dokter khawatirkan, aku baik-baik saja. Kak Putri juga baik padaku." lanjutnya.
"Cih, memangnya aku tadi tidak melihat apa yang diperbuat wanita itu padamu?!"
Elena menunduk. Ya, pastinya Dokter ini tau apa yang diperbuat sang kakak padanya karna tadi tangan Bryan menghempaskan tangan Kakaknya darinya. Ia jadi merasa bimbang harus berterimakasih atau tidak padanya.
Bryan bertambah kesal melihat Elena yang kembali menunduk. Wanita ini tidak pernah menatap wajahnya lama, memangnya ada apa dengan wajahnya sehingga Elena tidak mau menatapnya?
__ADS_1
Tidak mendapatkan jawaban Bryan pun menghela nafasnya pelan lalu mundur dan berjalan berbalik meninggalkan Elena yang masih menunduk terdiam.
Elena masih menunduk dengan pandangan kearah bawahnya. Sepertinya Bryan marah padanya? karna dirinya tidak mendengar suara lagi setelah ucapan yang dilontarkan tadi. Ia nampak menghirup nafas dalam-dalam.
"Yasudah aku berterima-" saat pandangan Elena terangkat, ia sama sekali tidak melihat seseorang didepannya.
Kemana pria itu?
Wajah Elena mengkerut. Jadi sedari tadi ia menunduk sendirian begitu? kenapa Dokter itu tidak mengatakan jika dia akan pergi? untung saja lorong ini sepi jadi tidak ada yang melihat Elena menunduk sendirian.
"Dokter itu yang mengajakku kesini tapi dia juga yang meninggalkan ku, mau Dokter itu apa sih?" gumam pelan Elena.
Padahal tadi dirinya akan berterimakasih pada Bryan tapi melihat pria itu yang sudah pergi meninggalkannya, jadi Elena memutuskan untuk tidak perlu lagi mengucapkan terimakasih padanya.
___
Putri berjalan keluar dari rumah sakit, ia sedikit merasa iri pada Elena yang bisa dekat dengan Dokter seperti Bryan. Lagian juga ia heran, kenapa mereka bisa dekat seperti itu? jelas-jelas wajah Elena jauh dari wanita-wanita yang digosipkan dekat dengan Bryan, tapi kenapa Bryan mau berdekatan dengan Adiknya yang menurutnya tidak ada cantik-cantiknya sama sekali?
"Ck! ngapain juga gue mikirin gadis itu." gumam Putri dengan berjalan menuju mobilnya yang berada diparkiran rumah sakit ini.
Putri masuk kedalam mobilnya dan menyalakan mesinnya untuk pergi dari tempat ini.
Brum..Brum..
"Hah! yang penting sekarang gue bebas dari anak itu." Ya, Putri sudah tidak mau berhubungan lagi dengan adiknya-Elena tapi tidak untuk sang Bapak. Putri sebenarnya cukup peduli dengan Dimas namun ia mengingat masa lalunya yang membuatnya jadi seperti ini pada Dimas. Jika dulu saja Dimas tidak peduli dengannya untuk apa sekarang dirinya peduli pada pria tua itu? Apalagi dengan Elena. Ia sama sekali tidak suka jika gadis itu memanggilnya Kakak, ia sama sekali tidak menganggap Elena sebagai Adiknya karna memang gadis itu bukan Adiknya. Penyebab dirinya bersikap seperti ini juga karna gadis itu, jadi Putri sangat-sangat tidak meyukai Elena.
Mobil Putri pun melaju keluar dari rumah sakit ini untuk kembali pulang kerumahnya.
___
Elena berlari menuju kearah dimana tempat ruang pendonor tadi. Sampai disana ia sama sekali tidak melihat seseorang yang dicarinya.
__ADS_1
"Kak Putri?" panggil Elena mencoba mencari dimana keberadaan sang Kakak, namun sayangnya ia tidak melihat wujud Putri.
Elena menghela nafasnya. Padahal ia berharap Putri masih disini menunggunya untuk sama-sama menemui sang Bapak, namun sepertinya Kakaknya itu pergi dari sini.
Mengingat Bapaknya akan segera dioprasi membuat Elena segera berjalan menuju arah ruang rawat Dimas. Ia berdoa semoga saja ini adalah operasi terakhir sang Bapak dan setelah itu Bapaknya akan sembuh seperti sedia kala.
Sampai didepan ruangan Bapaknya, ia menatap sudah ada beberapa suster yang bersiap untuk membawa Dimas keruangan operasi.
Brankar yang ditiduri Dimas pun berjalan keluar dari ruangannya. Elena berada di samping tempat tidur itu dengan mengelus kepala Bapaknya.
"Bapak yang kuat ya Pak, Elena yakin Bapak kuat." gumam pelan Elena menatap Dimas dengan tersenyum lebar.
Ia yakin Bapaknya akan sembuh namun itu semua ia serahkan pada yang diatas. Semoga saja doa yang ia panjatkan untuk kesembuhan Bapaknya dikabulkan.
Sampai didepan ruangan operasi Elena menghentikan langkahnya karna dihadang oleh suster yang membawa Bapaknya tadi.
"Mbaknya harap tunggu disini ya, kami akan melakukan semampu kami untuk kesembuhan pasien," setelahnya suster itu pun menutup pintu ruangan operasinya membuat Elena terdiam.
Elena harap Bapak bisa sembuh, Elena sayang banget sama Bapak.
Saat pandangannya menatap pintu didepannya tiba-tiba saja Elena merasakan ada seseorang yang sedang berjalan menuju kearahnya.
Ia menatap kearah sampingnya dan menemukan pria yang tadi meninggalkannya sendirian dilorong rumah sakit itu sedang berjalan mendekatinya.
Bryan melangkahkan kakinya mendekat kearah Elena dengan pandangan dingin. Dibelakang tubuh pria itu juga terlihat beberapa Dokter yang mengikutinya.
Sampai didekat Elena, Bryan pun hanya diam menatap wanita itu namun tak lama ia langsung membuka pintu ruangan operasi lalu masuk kedalamnya tanpa berbicara sata katapun.
Elena yang melihatnya hanya binggung sekaligus heran. Apa pria itu benar-benar marah padanya? tapi Elena tidak peduli. Yang dirinya pedulikan saat ini hanyalah kesembuhan sang Bapak dan untuk urusan dengan Dokter itu ia belakangkan.
↔↔↔
__ADS_1
Terimkasih sudah membaca❤
Nextt? jangan lupa suportnya ya!