
HAPPY READING❤️
Sebelum Bryan melangkah keluar, ia terlebih dahulu menatap bunga yang berserakan di atas ranjang.
"Bunga itu untukmu."
Elena memalingkan wajahnya menatap arah pandang Bryan. Ia lupa jika tadi Bryan memang membawa bunga.
"Untuk saya?" tanya Elena. Entah kenapa hatinya tiba-tiba merasakan ada sesuatu.
"Iya."
Wajah Elena seketika memerah. Pipinya merasa panas sekarang. Tumben sekali Bryan membawakan bunga untuknya?
Tak terasa senyum lebar tercetak di wajah Elena. Bryan yang melihat senyuman itu lansung berdekhem. Kenapa ia jadi gugup melihat senyuman gadis itu?
Elena segera duduk kembali di tepi ranjang dan mengambil bunga itu, membawanya kedalam kedua tangannya.
"Tumben Dokter beli bunga, beli dimana Dok?" tanya Elena dengan menatap bunga ditangannya. Cukup indah, menurutnya.
"Aku mengambilnya dipinggir jalan."
Mata Elena membulat mendengar itu. Dipinggir jalan? mengambilnya?
"Aku tau pasti seumur hidupmu belum ada yang memberikanmu bunga. Jadi aku memberikan itu untukmu. Kau harus berterimakasih soal itu." lanjut Bryan dengan datar.
Elena mengangguk. "Terimakasih ya Dok." jawabnya dengan mengulas senyum manis.
"Aku tidak mau lagi mendengar kata cerai di bibirmu," Bryan menatap dalam Elena, setelah itu ia pun berbalik keluar dari ruangan ini lalu menutup pintu kamarnya dari luar.
Elena terdiam melihat kepergian Bryan. Pria itu menampakkan raut wajah seperti orang yang sedang emosi. Ada apa dengan pria itu?
Hembusan nafas terdengar di bibir Elena. Ia binggung, untuk apa hubungan ini dipertahankan tanpa ada alasannya? Bapaknya sudah pergi. Jadi tidak ada alasan bukan untuk mempertahankan status ini?
___
"Woy!"
__ADS_1
"Eh ayam," Chaca mengelus dadanya perlahan. Ia kaget dengan suara yang tiba-tiba muncul dibelakangnya. Ia pun dengan segera menengok, menatap orang yang mengagetkannya.
"Lo bisa gak sih jangan ngagetin gue?! kalo jantung gue copot gimana?!" kesal Chaca.
Aiden cengengesan. Ya, yang mengagetkan Chaca adalah dirinya. Ia kepo dengan Chaca yang berdiri di depan pintu Bryan, sedang apa adiknya ini?
"Habisnya Lo ngapain disini? wah jangan-jangan Lo lagi nguping ya? gue bilangan Kak Bryan loh." ancam Aiden.
Chaca bedecak sebal. "Siapa juga yang nguping! gue itu cuma lagi ngepoin Kakak sama perempuan itu."
"Sama aja itu nguping! mau tau urusan orang lain aja Lo, dasar netizen." sinis Aiden yang langsung di tatap tajam oleh Chaca.
"Enak aja! nguping sama kepoin itu beda jauh ya!"
Aiden menaikkan alisnya binggung. "Beda dari mananya coba?"
"Nih ya," Chaca mengalihkan tubuhnya menatap Aiden. Sekarang keduanya saling berhadapan satu sama lain. "Nguping itu artinya kita dengerin orang lain yang lagi bicara, kalo kepoin itu artinya kita lagi-" Chaca nampak berfikir.
"Apa hayo?" Aiden menekukkan kedua tangannya di pinggang, menunggu jawaban dari gadis didepannya.
"Ya- ya itu lah! pokoknya nguping sama kepoin itu beda! titik, gak pake koma." kesal Chaca.
"Beda, beda, beda Kak!" lanjut Chaca tak terima.
"Sama aja Chaca."
"BEDA!"
"Ekhem."
Keduanya sontak terdiam mendengar suara dekheman itu. Chaca dan Aiden pun dengan perlahan mengalihkan tatapan mereka ke asal suara itu.
"Eh Kak Bryan." Chaca cengengesan menatap Bryan yang sekarang berada tepat di hadapannya.
Aiden menatap datar kedua adiknya ini. "Kalian sedang apa disini?"
Chaca melirik Aiden dan menyenggol lengan pria itu pelan. Ia mengode Kakak keduanya untuk menjawab ucapan dari Bryan.
Aiden yang melihat Chaca menatapnya seperti itu pun mengubah wajahnya menjadi binggung. Kenapa jadi dirinya yang disuruh menjawab? padahal kan adiknya ini yang duluan berada disini.
__ADS_1
"Em, itu apa-" Aiden melirik kembali Chaca. Ia menatap adiknya dengan wajah penuh tanya.
Bryan menaikkan salah satu alisnya. "Itu apa?"
"Itu, kita lagi mau turun ke bawah iyah, mau turun tapi Kak Aiden malah ngajak Chaca ngobrol disini. Gitu Kak Bryan hehe." sambung Chaca, berbohong. Ia kembali menatap Aiden. "Ya, kan Kak?" lanjutnya menaikkan kedua alisnya, mengode.
Aiden mengerutkan dahinya. Chaca dengan segera memplototi Aiden membuat pria itu langsung mengangguk, meng-iyakan ucapan adiknya.
"Iya Kak, tadi kita ngobrol sebentar disini, tebak-tebakkan menu makan besok pagi apa." lanjut Aiden.
Chaca yang mendengarnya mengelus dadanya pelan. Untuk apa Aiden menjawab seperti itu? jika saja disini tidak ada Bryan, mungkin ia akan memberi pelajaran pada Kakak Keduanya itu.
Bryan hanya menatap kedua adiknya dengan pandangan heran sekaligus tak percaya, namun tak lama ia pun menaikkan kedua bahunya acuh lalu berbalik, berjalan menjauh dari kedua orang itu.
Melihat Bryan yang mulai menjauh, Chaca dan Aiden pun menghembuskan nafas mereka pelan. Keduanya lagi-lagi menatap satu sama lain dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kak Aiden ngapain ngomong begitu?! pake acara ngomong main tebak-tebakkan. Itu tuh alasan yang gak masuk akal tau gak." kesal Chaca dengan memajukan bibirnya kedepan.
"Lah Elu, bukannya ngomong jujur aja kalo Lo disini lagi nguping Kakak Ipar sama Kak Bryan dikamar." jawab Aiden, membela dirinya sendiri.
"Bukan nguping ya! gue itu lagi kepoin Kak Bryan. Kak Aiden tau gak sih tadi Kak Bryan bawa bunga banyak, terus dibawa masuk kedalam kamar? Chaca tuh kepo soal bunganya." ya, Chaca tadi memang melihat Bryan masuk kedalam kamar dengan membawa bunga yang cukup banyak. Dirinya hanya heran saja untuk apa bunga itu.
Aiden membulatkan matanya tak percaya. "Hah? Bunga?"
___
Bryan berjalan menuruni tangga dengan raut wajah yang sedikit kesal sekaligus kecewa. Entah kenapa kata 'cerai' yang diucapkan Elena berpengaruh besar pada hatinya.
Dengan langkah lesu, Bryan berjalan menuju taman belakang. Melihat gadisnya memakai pakaian itu membuatnya hilang fokus, tubuhnya spontan merasa panas.
"Huh!"
Sampai di taman belakang rumahnya, Bryan pun melangkah mendekat kearah kolam renang.
Pikirannya kacau sekarang. Hatinya meradang, mendengar tuturan Elena. Tidak, Bryan tidak akan melepaskan gadisnya begitu saja. Dirinya tidak mau berpisah dengan Elena.
Dirinya menatap kolam renang yang sudah berada di depannya. Dengan cepat ia membuka pakaiannya hingga menyisakan celana pendeknya saja. Badan tegap serta perut sixpack nya pun nampak jelas ditubuhnya.
Dengan tatapan dingin dan raut wajah datar, Bryan mulai menurunkan tubuhnya ke dalam kolam renang dan memulai apa yang ia ingin lakukan.
__ADS_1
TBC