Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB46: Rumah Sakit (2)


__ADS_3

HAPPY READINGšŸ–¤


Merlin menyenderkan punggungnya pada dinding di lorong rumah sakit ini. Ia menghembuskan nafasnya pelan mendengar ucapan suster yang sempat ia temui tadi di depan pintu ruangan Dimas.


Flasback On


Merlin berjalan dengan senyum mengembang menyusuri lorong rumah sakit. Ia sudah beberapa hari tidak menjenguk Pak Dimas dan hari ini adalah hari dimana ia akan menjenguk tetangga sekaligus orang yang sudah ia anggap sebagai Bapaknya sendiri.


Sampai di depan sebuah ruangan, Merlin melihat ada sesosok suster yang baru saja keluar dari ruangan yang ia tujui.


"Sus." sapanya ramah menatap Suster ber-tag Prita.


Suster itu pun membalas dengan senyuman hangat. "Iya, ada yang bisa saya bantu mbak?"


"Em saya mau jenguk pasien yang di dalam atas nama Pak Dimas. Dia bisa dijenguk kan ya Sus? kebetulan saya tetangganya." ucap Merlin dengan nada halus.


"Maaf Mbak, pasien atas nama Pak Dimas sudah di pindahkan ke ruangan ICU. Kondisinya kritis sehingga perlu penanganan intensif dari dokter. Untuk saat ini pasien belum boleh di jenguk."


Deg!


Merlin terdiam. Padahal ia selalu berdoa dan berharap Pak Dimas bisa sembuh. Saat itu Elena pernah berbicara tentang kondisi Bapaknya yang hampir sembuh namun kenapa sekarang malah kembali kritis?


Flasback Off


"Ya Tuhan, semoga kondisi Pak Dimas cepat membaik." gumam Merlin pelan menatap pintu di depannya yang diatasnya tertulis ruangan ICU.


Merlin pun sudah menelpon Elena tentang ini. Entah kemana gadis itu, Merlin tidak tau. Lagian ia juga sudah lama tidak melihat Elena di rumahnya. Kemana gadis itu? Merlin sempat berfikir mungkin saja Elena tinggal bersama sang Kakak-Putri namun Merlin ragu jika Putri memperbolehkan Elena tinggal di sana, mungkin ia akan menanyai ini nanti pada Elena.


_____


"Kamu mau kemana Na?" Meldi mendekat dan mengelus pelan puncuk kepala Elena.


Mata Elena sudah memerah. Ia sudah tidak kuat lagi menahan kesedihan sekaligus ke khawatirannya namun ia tetap mencoba untuk tidak menangis. "Bapak, Bapak kembali kritis. Aku harus cepat-cepat kesana." lirihnya.


Seakan mengerti Meldi pun mengangguk. "Biar supir yang nganter kamu ya? nanti Mamah sama yang lain nyusul kesana." jawabnya. Ia mungkin akan menjenguk besannya itu dan mengecek bagaimana kondisinya. "Tapi kondisi tubuh kamu juga udah gak sakit kan Na?"


Elena menggeleng pelan. "Aku udah gapapa kok ma-mah." dengan cepat ia mengambil tas ranselnya yang ia taruh hp lalu menatap Meldi dan yang lainnya.


"Aku pamit dulu," Elena terdahulu menyalami tangan Meldi dan Abraham. Tatapannya pun teralih pada Chaca, ia sedikit menunduk lalu kembali menatap orang yang masih berada disini. "Permisi."


Setelahnya Elena melangkahkan kakinya keluar dari kamar Bryan. Ia harus cepat-cepat kerumah sakit untuk bertemu sang Bapak. Jujur ia takut. Ia takut jika kondisi Dimas kembali seperti ini, ia tak sanggup membayangkan hal buruk terjadi pada orang tua satu-satunya itu.


Meldi menatap kepergian menantunya. Ia sebenarnya turut kasian dengan kondisi kesehatan yang menimpa besannya.


"Cha?" panggil Meldi menatap anak ketiganya yang masih berdiri tak jauh dari pintu. "Kamu ikut sana sama Kakak Ipar kamu. Kasian dia." lanjutnya.


Chaca memutar bola matanya malas dengan tangan terlipat di dada. "Gak deh. Males kalo ke rumah sakit. Chaca gak suka nyium baunya."

__ADS_1


Abraham menatap malas anaknya itu. Ia sudah tau tabiat Chaca yang memang tidak suka pergi ke rumah sakit karena tak suka menyium suasananya. Padahal menurutnya suasananya biasa saja, tetapi anak itu tetap saja keukeuh tidak mau diajak pergi kerumah sakit. Ia pun tau Chaca sangat takut dengan hal-hal yang berbau darah dan suntikan, makannya jika sakit anaknya tidak mau diajak periksa kerumah sakit, takut disuntik katanya.


Meldi hanya menggelengkan kepalanya. Anak ketiganya memang susah sekali untuk diminta tolong.


____


Disepanjang jalan Elena tak henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan sang Bapak. Ia berdoa semoga Dimas cepat sembuh dan kembali seperti sedia kala.


Elena mohon Bapak yang kuat. Elena yakin Bapak gak mungkin ninggalin Elena sendirian disini. Cukup Ibu yang ninggalin Elena dulu, tapi Elena mohon Bapak jangan ninggalin Elena untuk saat ini. Elena sayang sama Bapak.


Semua orang pasti akan menemui ajalnya, Elena yakin hal itu tapi ia berdoa semoga Tuhan masih menakdirkan Bapaknya untuk tetap hidup bersamanya. Ia belum bisa membahagiakan Dimas, ia belum bisa membalas jasa-jasa Bapaknya sedari dulu. Walau jasa orang tua tidak bisa digantikan oleh apapun, setidaknya Elena ingin membahagiakan dan menuruti semua keinginan Bapaknya dengan hasil usahanya sendiri.


Mobil yang di kendarainya tak lama berhenti disebuah parkiran rumah sakit. Dengan tubuh yang mencoba tegar, Elena tersenyum menatap supir di depannya.


"Makasih ya Pak." sahut Elena.


Supir ber-kepala plontos itu mengangguk. "Sama-sama Nona."


Setelah pamit, Elena segera membuka pintu mobilnya dan turun. Dengan cepat ia melangkah menuju pintu masuk dan masuk kedalamnya. Ia akan langsung keruangan ICU. Dirinya tau dari Merlin, wanita itu mengatakan jika Dimas dibawa keruangan tersebut untuk mendapat perawatan intensif.


Tak jauh dari pandangannya, Elena sekilas melihat sesosok wanita sedang menunduk di kursi tunggu, dengan segera ia pun mendekat kearah wanita itu dan menyapanya.


"Mbak?" panggil Elena ketika sudah sampai di samping wanita itu.


"Eh Na, syukurlah kamu datang."


"Pak Dimas masih ada didalam Na, kondisinya kritis. Mbak juga gatau kenapa bisa Kritis." Merlin menampakkan wajah sedihnya. Ia ikut sedih mendengar kondisi kesehatan Dimas yang semakin memburuk.


Elena terduduk di kursi tunggu. Tubuhnya terasa lemas mendengar tuturan yang di lontarkan Merlin. Dokter Bryan bilang, Ayahnya sebentar lagi akan sembuh tapi kenapa sekarang malah kembali kritis?


"Bapak." lirih pelan Elena dengan mata yang mulai memerah kembali.


Merlin yang melihatnya langsung ikut terduduk di samping gadis itu. Ia mengelus pelan pundak Elena memberikan kekuatan untuknya menghadapi semua ini. "Kamu yang sabar ya Na, Mbak juga sedih tapi kita doakan saja yang terbaik untuk Pak Dimas."


Elena menatap Merlin sendu. Air matanya mulai berjatuhan satu demi satu. "Elena cuman takut Bapak-"


Merlin langsung memeluk Elena erat. Ia mulai mendengar suara tangisan di gadis yang dipeluknya. "Udah-udah. Kita berdoa saja semoga semoga Bapak kamu bisa sembuh dan sehat kembali. Mbak yakin kok Pak Dimas bakal kuat menjalani ini semua." Merlin mencoba untuk menenangkan Elena. Ia tau bagaimana rasanya yang dirasakan anak tetangganya ini.


Tak lama Elena melepas pelukannya. Dibalik air matanya yang masih turun deras, ia tersenyum menatap Merlin. "Makasih ya Mbak. Mbak selalu ada disaat Elena seperti ini." ucap Elena. Andai saja sikap Putri seperti Merlin, pasti ia akan sangat senang memiliki Kakak yang mampu membuatnya nyaman dan merasa kuat.


Merlin mengulas senyumnya dan mengelus puncuk kepala Elena pelan. "Sama-sama Na, Pak Dimas sudah Mbak anggap sebagai Bapak Mbak sendiri begitupun kamu. Mbak sudah anggap kamu juga sebagai Adik Mbak."


Elena tersenyum manis. Walau matanya sembab, Elena tetap tersenyum mendengar kalimat jika dirinya sudah dianggap sebagai Adik oleh Merlin, disaat Kakaknya sendiri tidak suka padanya namun tetap ada saja orang yang menyayangi nya walau bukan dari keluarga sendiri.


Sesosok pria muncul dari arah kejauhan membuat Elena bangkit dari duduknya. Ia menatap pria itu dengan pandangan yang penuh tanya.


Sampai disaat pria itu berdiri tak jauh darinya, Elena pun dengan cepat menghampirinya dan berdiri tepat di depannya.

__ADS_1


"Bapak saya sebenarnya kenapa Dok? kenapa Bapak saya kritis lagi?" Elena menatap dalam pria tinggi didepannya. Ia perlu meminta penjelasan jelas darinya.


Dokter ber-tag Wildan itu melirik sekilas orang yang terbaring lemah di balik jendela kecil yang ada diatas pintu lalu tatapannya kembali menatap Elena di hadapannya.


"Setelah diperiksa lebih dalam tumor diotaknya ternyata belum menghilang." Dokter itu terlihat menghela nafasnya pelan. "Tumornya sudah memasuki fase ganas, yang bisa disebut juga kanker otak."


Elena menutup mulutnya tak percaya Air matanya sudah kembali menetes. ia tak percaya separah itu penyakit sang Bapak.


"Apa Bapak perlu di operasi lagi?" tanya lagi Elena.


Dokter Wildan menggeleng pelan. "Bekas operasi kemarin pun belum sepenuhnya kering. Kami tidak mau ambil resiko jika harus melakukan kembali operasi."


"Tapi Bapak masih bisa sembuh kan Dok?"


"Berdoa saja. Kami tidak bisa menjamin soal itu, tapi kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien."


____


Sudah setengah jam lebih Elena duduk di kursi tunggu dengan wajah yang di tutupi kedua tangannya. Bapaknya belum bisa di jenguk juga, padahal ia ingin sekali menjenguk Bapaknya itu.


Sedangkan Merlin masih setia disamping Elena. Sesekali ia mengelus punggung gadis itu pelan untuk memberi kekuatan baginya. Dirinya sekilas menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, jam nampak sudah menunjukan pukul 1 siang.


"Na maaf, Mbak keluar sebentar gapapa? Mbak mau beli makanan buat kita, kamu pasti laper-kan?" tanya Merlin.


Elenan mengalihkan tatapannya menatap Merlin. Ya, padahal ia sudah diperingatkan agar jangan telat makan namun sekarang ia pun belum makan padahal jam makan siang sudah terlewat, dipikirannya sedari tadi hanyalah tentang kondisi Dimas, ia tidak peduli dengan kondisinya sendiri karna dirinya lebih mementingkan kondisi sang Bapak.


Elena mengangguk pelan. "Makasih ya Mbak."


Merlin mengulas senyumnya. "Sama-sama. Kalo begitu Mbak pergi dulu, kamu disini aja ya, jaga baik-baik Bapak kamu."


Lagi-lagi Elena menganguk.


Setelahnya Merlin bangkit dari duduknya. Elena menatap kepergian tetangganya itu dengan diam, ketika wanita itu sudah tidak terlihat di pandangannya lagi Elena kembali menunduk dan menutup semua wajahnya dengan kedua tangannya. Di dalam hatinya ia selalu berdoa untuk kesembuhan Dimas.


"Ekhem."


Suara dekheman membuat Elena mendongakkan kepalanya menatap asal suara tersebut. Ia menatap sekantung kresek yang diberikan seseorang di depannya.


"Agar asam lambung-mu tidak naik lagi. Kau makan ini dulu," Bryan memberikan kantung kresek putih yang berisikan bubur. "Aku tau kau belum makan siang hari ini." lanjutnya.


Elena menerima makanan itu. "Dok-dokter kok tau kalo asam lambung saya naik?" tanyanya heran.


Bryan segera duduk disamping Elena. Ia menatap gadis nya itu dengan pandangan datar. "Itu tidak penting, yang harus di pentingkan itu kondisi kesehatanmu sendiri. Walau kau sedang khawatir, kau tetap harus menjaga kesehatan tubuhmu."


Elena seketika mengulas senyumnya. Ia menatap isi didalam kantung tersebut. "Makasih ya Dok."


"Jangan terlalu khawatir memikirkan Bapakmu, tugasmu hanya berdoa semoga Bapakmu sehat kembali. Biar aku yang memikirkan bagaimana cara untuk menyembuhkan kondisi Pak Dimas nanti." Bryan menghela nafasnya pelan. "Aku akan mengerahkan dokter terbaik dari beberapa rumah sakit untuk Bapakmu, kau tenang saja. Aku akan memaksimalkan mungkin agar Bapakmu bisa sehat kembali. Pikirkan kondisi tubuhmu dulu, jangan sampai kau sakit. Aku tidak mau lagi melihatmu sakit seperti tadi pagi."

__ADS_1


TBC


__ADS_2