
Happy reading!
Bryan melangkah mendekati Elena. Ketika sedang berjalan tadi, berniat bertemu dengan seseorang, ia malah melihat sosok yang di kenalnya. Dan ternyata benar setelah sosok itu berbalik ternyata memang Elena, istrinya.
Cukup terkejut mengetahui istrinya ada disini. Untuk apa coba? berada di rumah sakit?
"Kenapa kau ada disini?" tanya sekali lagi Bryan ketika sudah berada di hadapan Elena.
Elena mendadak gugup, melihat suaminya sudah ada di depannya. Binggung, untuk apa Bryan disini? pasalnya rumah sakit ini bukan milik Bryan. Apalagi rumah sakit ini jauh dari kawasan Bryan, ataupun rumah. Lalu kenapa bisa dia ada disini? apa ada yang memberi tahunya tentang ia yang berada disini?
"Em- anu.." alasan yang sudah Elena susun, mendadak buyar begitu saja. Melihat tatapan datar Bryan. Jika sudah di tatap seperti ini, Elena sedikit takut untuk berbohong.
Ya Tuhan.. aku harus jawab apa?
"Anu apa?"
"Itu- anu.." Elena meremas rok yang ia pakai. "Itu em- kamu sendiri ngapain ada disini?" balik tanya Elena.
"Ditanya malah nanya balik."
Tak
"Aw!" Elena menyentuh dahinya, meringis ketika tangan Bryan menjitak keningnya. Tidak keras sih, tapi sakit. "Mas!"
Bryan terkekeh pelan. Melihat ekspresi Elena yang menurutnya lucu. "Sedang apa kau ada disini?" tanya lagi Bryan, namun kali ini wajahnya berubah tidak datar lagi. "Aku menelpon mu tadi, kenapa tidak kau angkat?"
"Itu- em ponsel ku mati." alasan Elena.
"Mati? tapi berdering?" menaikkan alisnya. Bryan menarik smrik melihat Elena yang seperti kebingungan. Jika ponsel nya mati, tidak mungkin panggilan menunjukkan kata berdering bukan?
Elena mengigit bibir bawahnya. Duh! ia jadi binggung kan! "Bukan mati deh, tapi gak denger kalo ada yang nelpon. Iya, ga denger pas kamu nelpon." tersenyum, mencoba meyakinkan Bryan. Padahal sudah jelas-jelas ia memang tidak ingin mengangkatnya.
Mendekati wajah Elena. "Yakin? hm?" Bryan menatap manik mata wanitanya ini.
Elena menelan saliva kasar, mengangguk pelan, ketika wajah Bryan sudah tepat ada di hadapannya. Maju sedikit lagi, nyentuh hidung nih!
Mencoba meyakinkan Bryan, Elena tersenyum, untungnya tak sia-sia. Tak lama dari itu Bryan pun menjauhkan wajahnya, kembali menegakkan tubuhnya.
"Terus kau sedang apa disini?" lagi dan lagi, Bryan melontarkan pertanyaan itu. Pertanyaannya yang kembali membuat Elena dilanda kebingungan.
"Memangnya aku tidak boleh ke rumah sakit?" alasan itu yang kini muncul di pikiran Elena. Entah lah, ia pusing. Akhirnya dirinya melontarkan saja ucapan itu.
"Tidak ada yang melarangmu, tapi ada keperluan apa? sudah tidak mengabari ku. Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" sinis Bryan. Membuat Elena dengan cepat menggeleng kan kepalanya.
"Aku- aku cuman memeriksakan tubuhku! itu aja.." Elena menatap arah pandang lain. Menghindari tatapan Bryan. Ia hanya takut tidak bisa berbohong jika menatap wajah Bryan!
"Aku tidak percaya."
"Ya--yaudah kalo gak percaya."
"Tatap lawan bicaramu jika sedang berbicara. Apa pemandangan lain lebih ganteng dariku?"
Elena menjulurkan lidahnya, dengan ekspresi malas. Pede sekali suami nya ini. Ia lantas menatap Bryan dengan tegap. Walau hatinya ketar-ketir tak karuan.
Berbohong dengan suami dosa tidak ya? ya Tuhan.. maafkan aku..
"Kau sedang sakit?" tanya heran Bryan.
Elena menggeleng. "Enggak."
"Terus untuk apa memeriksakan tubuhmu? lagian kau bisa menungguku pulang jika ingin diperiksa." Bryan hanya heran Elena pergi ke rumah sakit ini. Rumah sakit ini jauh dari rumahnya. Sebenarnya ada apa?
"Em-" Duh, Elena sungguh binggung harus menjawab apa sekarang!
__ADS_1
"Jangan bilang kau.."
Elena menatap Bryan dengan takut. Jangan bilang apa nih?!
Bryan berdesis sinis. "Jangan bilang kau ingin di periksakan dokter tampan disini? Jawab!"
Elena menganga. Dapat darimana pemikiran itu? mana ada ganteng! bahkan dirinya saja di periksa oleh dokter perempuan. Tapi tuturan dari Bryan membuat Elena tersenyum diam. Sepertinya ia tau alasan yang tepat untuk Bryan agar tidak bertanya lagi.
"Memangnya kalo iya kenapa?" tantang Elena.
Bryan mengubah ekspresi nya. Kali ini, bukan hanya datar tapi ada satu hawa terasa di benak Elena. Sepertinya Bryan mempercayai apa yang ia ucapkan barusan. Kenapa tiba-tiba ia jadi merinding?
"Kita pulang." Bryan dengan cepat meraih tangan Elena. Menggenggamnya erat, lalu menuntunnya berjalan dari lorong rumah sakit ini.
"Eh- eh!" mendapat tarikan membuat kaki Elena berjalan. "Pelan-pelan mas." Elena menatap kesal Bryan, tapi Bryan hanya acuh. Tak mengundurkan erat-annya sedikit pun pada Elena. Membuat Elena berjalan dengan sebal! ia melirik sebentar arah belakangnya. Tempat dimana ia menendang pemberian dokter tadi padanya.
Test pack ku hiks.
Gagal sudah untuk mengechek.
...---...
Sampai pada mobil. Keduanya lantas masuk kedalam. Bryan duduk di kursi pengemudi dan Elena duduk di sebelahnya.
Merasa suasana mulai tidak enak. Elena berdekhem sebentar. Lalu membuka suaranya. "Bercanda Mas. Aku cuman periksa biasa aja kok, gak ada yang lain."
Tanpa menatap Elena. Bryan hanya berdekhem. Lalu mulai menyalakan mesin mobilnya.
Elena masih menatap Bryan. "Mas dokter cemburu ya?!" sontak pertanyaan itu membuat Bryan menatap Elena.
Dengan tatapan acuh, Bryan menunjukkan ekspresi malas. "Cih, siapa yang cemburu. Aku tidak cemburu."
Tersenyum mengejek. "Halah, bilang aja Mas cemburu, ayo ngaku!"
"Tidak. Aku tidak cemburu! tidak ada kata cemburu di kamus ku!"
"Tidak!"
"Iya! cemburu bilang aja!"
"Sudah ku bilang aku tidak cemburu."
"Terus kenapa diem aja."
"Hey kau tidak lihat aku memegang setir? aku bergerak ini lihat." jawab Bryan, yang mengundang kekesalan Elena.
"Kalo cemburu bilang aja mas, gak usah gengsi." sebal Elena. Merebahkan punggung nya pada kursi mobil.
"Siapa juga yang gengsi." Bryan mulai melajukan mobilnya, pergi dari lobi rumah sakit.
"Terus kalo gak gengsi, kenapa tadi mukanya kayak gitu?" Elena kembali menatap Bryan.
"Aku hanya.." Bryan mulai binggung untuk menjawab pertanyaan Elena.
"Hanya apa?"
"Hanya-" Bryan menggeleng kan kepalanya. "Sudahlah! kau diam saja. Aku sedang fokus menyetir. Jangan bertanya lagi. Menganggu konsentrasi ku saja."
Mendengar tuturan itu membuat Elena memajukan bibirnya. Mengelus perut nya yang rata, lalu menatap arah depannya. Dengan raut sebal Elena menggerutu dalam hati. Kenapa jadi dirinya yang di marahi?!
...---...
Tak berlangsung lama akhirnya mobil sampai pada perkarangan rumah Bryan. Setelah memarkirkan mobil. Keduanya turun. Berdiri saling berdampingan.
__ADS_1
Elena menatap Bryan di sampingnya. Bryan pun sama.
Elena hanya diam, menatap suaminya itu masih dengan wajah sebal. Ia masih kesal prihal Bryan yang memarahinya tadi. Membuat mood nya buruk seketika.
Tanpa berbicara apapun, Elena berjalan terlebih dahulu. Masuk ke dalam rumah mewah di depannya. Mendahului Bryan.
Bryan yang melihat itu mengerutkan dahinya. Bingung. Apa Elena marah padanya?
Sampai di dalam, Elena dengan cepat melangkah menuju tangga. Naik ke lantai atas, berniat pergi ke kamarnya.
Bryan pun ikut berjalan cepat mengejar Elena. Sepertinya memang benar perempuan itu marah padanya.
Sampai pada kamar, Elena segera masuk ke dalamnya, lalu menutup pintu, mengunci nya dari dalam.
Bryan hanya mampu mengejar Elena sampai pada pintu kamarnya, karena istrinya itu sudah terlebih dahulu menutupnya.
"Hey? apa kau marah?!" ucap Bryan, menatap pintu coklat yang tertutup rapat di depannya. Ia mencoba membuka pintunya namun sayang, sepertinya Elena mengunci dari dalam. Sehingga ia tidak bisa masuk.
"Hey buka! kenapa kau jadi marah?!"
Di dalam sana Elena meremas sprei yang ada di atas ranjang. Pria itu masih mengatakan kenapa dirinya marah? apa dia tidak sadar dengan perlakuannya tadi?!
Bryan mendesah gusar di luar. "Buka tidak? atau aku dobrak pintu ini?!" ancam Bryan, membuat Elena menghentakkan kakinya.
"Dobrak aja kalo mau tidur di luar!"
Jawaban itu sontak membuat Bryan terdiam. Sial. Ia harus apa sekarang?
"Ck! yasudah tidak ku dobrak pintunya, tapi kau keluar."
"Tidak mau!"
Bryan menghembuskan nafas kasar. "Keluar. Aku minta maaf jika aku salah." Bryan mencoba menurunkan egonya. Walau ia merasa tidak bersalah sedikitpun.
Setelah mengatakan itu, tidak lagi terdengar jawaban. Membuat Bryan lagi-lagi berdecak.
"Hey! aku meminta maaf jika aku salah. Keluarlah." titah Bryan.
"Masa minta maaf kayak orang ngajak berantem sih?" teriak Elena dari dalam. Kesal. Ucapannya seperti ngajak berantem. Sebenarnya ikhlas tidak sih meminta maaf?
Bryan memejamkan matanya. Mencoba mengusir kekesalannya. Alias kecemburuannya tadi. "Huh!"
"Sayang.. aku minta maaf. Keluarlah."
Ceklek
Bryan tersenyum ketika melihat pintu mulai terbuka. Ia melihat Elena muncul, sembari memegangi sebuah bantal serta selimut. Membuat ia heran. Untuk apa itu?
"Sudah tidak marah kan?"
Ikut tersenyum. Elena mengembungkan pipinya. Dan memberikan bantal serta selimut yang ia pegang pada Bryan. "Hm. Nih."
Mendapati itu membuat Bryan binggung. "Untuk apa ini?"
"Buat mas nya tidur diluar! aku gak mau ngeliat wajah mas nya!"
Brak
Bryan menatap pintu di depannya yang kembali tertutup rapat. Sialan. Berani sekali dia mengusirnya dari kamar nya sendiri? Tapi ia tidak berani untuk kembali bersuara. Jadi? ya sudahlah pasrah saja. Tapi ia heran, kenapa Elena tiba-tiba berubah jadi pemarah? apa ucapan di mobil tadi memang menyakiti hatinya?
"Kak? ngapain berdiri disini? bawa bantal juga? mau ngungsi?"
Mendengar itu membuat Bryan melirik sebentar sosok yang berbicara tadi. "Diam kau."
__ADS_1
"Lah kok ngamok."
Aiden. Sosok yang berbicara tadi. Ia melihat sang Kakak yang sedang ada di depannya ini. Ia bertanya baik-baik, tapi apa yang ia dapati? jika saja tau akan mendapati jawaban tersebut, lebih baik ia tidak bertanya tadi!