
HAPPY READING GUYS😽
Bryan mengumpat dalam hati mendengar ucapan sang Papah tadi. Ia mengerti apa yang dimaksud Papahnya itu, dirinya kadang kesal pada Abraham yang suka asal bicara tanpa kenal tempat.
"Aku kan hanya bertanya sayang." sahut Abraham dengan menatap sang istri-Meldi lalu menatap rendah Bryan. Ia sepertinya tau apa yang terjadi sebenarnya.
"Tapi gak tanya itu juga." jawab Meldi dengan suara kecil. Wanita itu memilih menatap makanan didepannya daripada menatap suaminya itu.
Setelah bibirnya bersih Chaca pun ikut menatap Elena dari atas sampai bawah. Gadis itu menajamkan matanya menatap kakak iparnya ini.
Tak ada yang menarik, itu adalah kalimat yang terlintas dipikiran Chaca. Ia merasa aneh pada Bryan. Padahal jelas-jelas perempuan yang dulu dekat dengan sang kakak adalah tipikal wanita model dan cantik, sedangkan kakak iparnya ini? jauh dari ekspetasinya. Cantik sih namun gaya dan wajah polosnya membuat Chaca merasa tidak suka.
Tak lama Chaca kembali fokus pada makanannya. Ia lebih baik memandang makanan daripada Elena.
Mereka pun mulai sibuk dengan makanan mereka masing-masing. Abraham memang memberi peraturan jika sedang makan tidak boleh ada yang berbicara karna menurut dirinya itu tidak sopan.
Setelah sarapan pagi selesai mereka mulai berbicara singkat dengan menghabiskan minum mereka.
Drtttt!
Tiba-tiba terdengar suara telpon dari arah Abraham. Pria dewasa itu lantas mengambil ponselnya dan menatap layar benda pipih tersebut.
Melihat nama yang tertera dipanggilan membuat Abraham bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh dari meja makan.
Meldi hanya diam, mungkin ada telpon penting yang membuat Abraham terburu-buru mengangkatnya. Ia kembali menatap menantunya yang masih asik dengan piring didepannya.
"Na? habis ini kamu mau kemana?" tanya Meldi.
Mendengar namanya dipanggil membuat pandangan Elena teralihkan. Saat hendak menjawab tiba-tiba saja ada suara yang mendahuluinya.
"Elena akan ikut bersamaku kerumah sakit." singkat Bryan dengan memainkan ponselnya diatas meja makan.
"Kamu gak istirahat dulu Na? Mamah takut kamu masih cape." lanjut Meldi.
"Saya gak cape kok Mah. Lagian saya juga mau jagain Bapak dirumah sakit." jawab Elena. Ia merasa senang mendapatkan perhatian dari mertuanya ini, dirinya jadi teringat dengan almarhum sang Ibu.
Meldi menganggukan kepalanya mengerti. Ia lupa jika Elena mempunyai Ayah yang membutuh sosoknya dirumah sakit. "Yaudah kalo gitu." Meldi pun bangkit dari duduknya dan berjalan entah kemana.
"Sudah?" Bryan melirik sekilas Elena disampingnya.
"Sedikit lagi Dok." Ya, makanan Elena masih tersisa sedikit lagi. Sebenarnya ia kenyang namun dirinya tidak enak jika tidak dihabiskan.
"Yasudah habiskan, aku akan menunggumu diluar." Bryan bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruang makan.
Tersisalah tiga orang yang masih nampak nyaman duduk dikursinya masing-masing.
"Baru sehari tinggal disini udah main pergi-pergi aja. Kira-kira kedepannya gimana ya?" sinis Chaca dengan memainkan sendok yang ia genggam.
Elena terdiam mendengar ucapan itu. Nada yang dilontarkan Chaca terkesan sinis membuatnya jadi sedikit tidak enak.
"Padahal cewek-cewek yang deketin Kak Bryan itu banyak. Dari golongan artis sampai model papan atas, tapi sayangnya mereka semua kalah hanya dengan gadis model rakyat biasa kayak kakak ipar." lanjut Chaca menatap rendah Elena.
"Dasar netizen. Hobinya cuma nyinyir orang tanpa liat dirinya sendiri. Kakak ipar jangan kayak netizen ya, takut bibir kakak ipar melepuh karna sering nyinyirin orang." Aiden melirik tajam Chaca lalu tersenyum menatap kakak iparnya yang sedari tadi diam.
Merasa dikatai membuat Chaca menatap Aiden penuh kesal. "Hello? gue bukan netizen kali. Lagian apa yang keluar dari mulut gue itu FAKTA." jawab Chaca penuh tekanan diakhir kata.
__ADS_1
"Situ kesindir? padahal gue ngomongin netizen. Bukan ngomongin lo, tapi kalo lo kesindir ya berarti lo merasa kalo lo itu-" Aiden sedikit memberi jeda. "Tukang nyinyir!"
"Sialan lo bang!"
"Eh eh eh udah. Kok kalian jadi berantem." Elena membuka suaranya ketika kedua orang didepannya saling melempar tatapan tajam.
"Ini semua gara-gara lo tau!" Chaca mengalihkan tatapannya pada Elena dan menatapnya tajam namun tak lama Chaca pun segera bangkit dari duduknya dan berjalan menjauhi ruang makan.
"Kakak ipar jangan masukin kehati omongan Mak lampir itu ya. Chaca emang gitu anaknya, tapi lama kelamaan pasti anak itu bakal nerima kehadiran Kakak ipar kok." sahut Aiden tersenyum mencoba membuat Elena tidak merasa sakit hati mendengar lontaran pedas adiknya.
Elena tersenyum kecut. Ia cukup maklum dengan anak seusia Chaca, mungkin gadis itu masih belum menerima kehadirannya disini. Elena segera bangkit dari duduknya dengan mengenggam piringnya.
"Eh mau dibawa kemana piringnya Kak?" sahut Aiden.
"Kedapur," Elena mulai membereskan piring makan Bryan dan yang lainnya.
"Gak usah, biar Bibi aja yang beresin." Aiden tak menyangka Kakak Iparnya ini mau membereskan piring-piring disini.
"Gapapa, sekalian bantu kerjaan Bibi gak masalah kan?" Elena tau rasanya menjadi pekerja rumah tangga. Melelahkan, jadi Elena mencoba membantu pekerja disini dengan membereskan piring-piring kotor disini.
"Kak-"
Sebelum Aiden berbicara Elena sudah lebih dulu berjalan menuju dapur membuat Aiden menghela nafasnya pelan. Jika Ayahnya tau pasti para bawahan disini akan dimarahi habis-habisan, sang Mamah saja dilarang menyentuh alat masak apalagi Kakak Iparnya?
___
Setelah menaruh piring-piring kotor di wastafel, Elena pun segera melangkah berjalan keluar dari dapur dan berjalan menuju kearah luar. Ia terlebih dahulu berpamitan pada Aiden yang masih duduk dimeja makan. Sebenarnya Elena juga ingin berpamitan pada mertuanya namun sayangnya ia tidak menemukan keberadaan kedua orang itu jadi Elena memberi tahu saja pada Aiden jika ia ingin pergi sekarang.
Elena berjalan keluar dari rumah ini. Saat sampai didepan pintu utama ia melihat Bryan yang sedang berdiri sembari bersender pada pintu mobil. Dengan segera ia mendekat kearah suaminya itu.
"Maaf Dok." Jawab Elena dengan menyipitkan matanya menatap Bryan yang lebih tinggi darinya. Cahaya disini cukup terang membuat mata Elena sedikit perih.
Bryan hanya diam lalu masuk kedalam mobil. Elena yang melihatnya dengan cepat ikut masuk dan duduk disamping Bryan.
Tumben Dokter tidak menyuruhku menyetir mobilnya
Elena menatap Bryan. Pria itu tidak berbicara sepatah katapun sampai mobil menyala dan mulai melaju keluar dari rumah ini.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" sahut Bryan tanpa menatap Elena. Pria itu lebih fokus menatap jalanan didepannya.
Merasa tertangkap basah Elena dengan segera mengalihkan tatapannya dari Bryan. "Ti-tidak apa-apa."
"Aku tau pasti kau terpesonakan padaku? ya, aku tau itu."
Siapa juga yang terpesona!
Ingin sekali Elena mengatakan apa yang ada didalam hatinya itu, namun ia tidak berani mengatakannya. Elena lebih memilih mengatai pria disampingnya ini didalam hati agar Bryan tidak tau.
Beberapa menit perjalanan mobil yang ditumpangi Bryan dan Elena pun sampai didepan rumah sakit. Keadaan disini cukup ramai terlihat dari beberapa mobil yang keluar masuk lobi.
Bryan memakirkan mobilnya disisi rumah sakit lalu mematikan mesinnya. Ia menatap Elena sebelum turun dari mobil ini.
"Hari ini aku akan sangat sibuk. Kau akan berada dirumah sakit saja-kan?" tanya Bryan.
Dengan melepaskan pengaman ditubuhnya Elena pun mengangguk. "Iya, Saya akan seharian menjaga Bapak."
__ADS_1
Bryan mengangguk singkat lalu keluar dari mobilnya. Elena pun sama, ia keluar dari mobil ini dan berjalan menuju Bryan.
Keduanya berjalan saling beriringan. Sampai didepan pintu masuk, banyak pegawai disini yang mulai menunduk hormat dan sesekali menyapa Bryan.
Elena menatap arah depannya. Keadaan rumah sakit ini benar-benar ramai. Banyak keluarga pasien dan perawat berlalu lalang disini.
Tiba-tiba saja saat mereka mulai melanjutkan jalannya, Elena merasakan ada seseorang yang mengenggam tangannya. Ia segera menunduk untuk melihatnya.
"Dok?" ya, yang mengenggam tangannya tak lain adalah Bryan.
"Apa?" Bryan melirik sekilas gadisnya.
"Tangannya."
"Aku hanya tidak mau kau hilang," Bryan mulai melanjutkan jalannya dengan tangan yang menggenggam erat Elena.
Memangnya aku anak kecil!
Elena tau pasti Dokter ini ingin mengambil kesempatan untuk memegang tangannya, entah benar atau tidak namun Elena memilih untuk diam. Ia lebih baik mengikuti langkah Bryan daripada meladeninya.
Mereka mulai masuk lebih dalam kerumah sakit, baru beberapa langkah seketika Elena merasa seperti ada yang menatapnya, ia lantas segera mengedarkan pandangan ke segala sudut rumah sakit ini. Dan benar saja, banyak pasang mata yang menatap mereka sekarang membuat Elena sedikit tak enak.
Elena segera mensejajarkan langkahnya dengan Bryan. Ia sedikit mendekat kearah tubuh suaminya.
"Banyak yang liat Dok." bisik Elena pelan dengan sedikit menggerakkan tangan yang digenggam Bryan.
"Mereka itu punya mata, biarkan saja mereka melihatnya. Kau jangan pedulikan mereka semua." ucap Bryan dengan menatap Elena lalu kembali menatap jalan didepanya.
"Tap-" sebelum Elena berbicara tiba-tiba saja Bryan menghentikan langkahnya membuat dirinya pun ikut berhenti.
"Dok maaf, ada pasien yang ingin bertemu. Pasien sudah menunggu diruang Dokter."
Elena menatap seorang perawat cantik didepannya. Nampaknya wanita itu seperti terburu-buru.
Helaan nafas terdengar diwajah Bryan. Sebenarnya Bryan ingin mengantarkan Elena sampai ruangan Bapaknya namun sepertinya ada pekerjaan untuknya.
Bryan lantas menggeser tubuhnya untuk berhadapan dengan Elena dan melepaskan genggamannya.
"Aku tidak bisa mengantarkan-mu." ucap Bryan.
Elena segera mengalihkan tatapannya dari wanita itu dan menatap Bryan dihadapannya. Merasa mengerti ucapan Bryan, ia pun mengangguk. "Gapapa Dok, saya bisa jalan sendiri."
"Dok, pasien sudah sedari tadi menunggu." lanjut perawat itu.
Bryan melirik tajam yang berbicara tadi. "Ck! kau tidak liat aku sedang apa?" Entah kenapa dirinya mejadi tidak rela meninggalkan Elena sendirian.
Yang ditatap pun hanya menunduk. Perawat itu sebenarnya sedang terburu-buru karna masih memiliki banyak tugas namun ia terlebih dahulu harus pertemukan Dokter Bryan dengan pasiennya.
Bryan kembali menatap Elena didepannya. "Huh yasudah aku pergi dulu. Aku titip salam saja pada Bapakmu itu."
Sebelum Elena menjawab Bryan terlebih dahulu berjalan menjauh darinya membuat Elena yang melihatnya hanya diam menatap kepergian Bryan.
Syukurlah
Elena bernafas lega ketika Bryan sudah pergi. Sedari tadi ia menahan rasa gugupnya saat Bryan menggenggam tangannya erat. Apalagi ditambah tatapan para pengunjung disini semakin membuat dirinya gugup namun sekarang ia bisa berjalan dengan bebas tanpa ditatap oleh banyak orang.
__ADS_1
Tbc